Gembala Beraroma Domba: Sebuah Refleksi Singkat

Kerendahan hati tidak hanya dibutuhkan untuk melayani. Kerendahan hati ternyata juga dibutuhkan saat belajar sesuatu yang baru, saat kemampuan kita untuk mengakui betapa masih banyak yang belum kuketahui dan masih banyak yang perlu dibenahi. Ini terbukti dalam 5 hari terakhir ini.

Sebagai peserta lokakarya mengenai kepemimpinan Paus Fransiskus dalam memimpin Gereja Katolik, pengetahuanku, pemahamanku, kesadaranku, kerendahan hatiku, semuanya ditantang oleh Paus Fransiskus. Kami peserta yang terdiri dari romo, suster, frater, bruder, dan beberapa kaum awam, termasuk saya sendiri, mendengarkan dan meresapi apa yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Lokakarya diberikan oleh Romo Kris, seorang romo Jesuit, di tempat retret Girisonta, Jawa Tengah (dekat Semarang).

Isi tulisan ini tidak bermaksud untuk menyimpulkan apa yang sudah dipelajari dalam 5 hari terakshir ini, tetapi untuk merefleksikan beberapa bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul dalam 5 hari terakhir ini.

Pemikiran awal yang sempat muncul di benakku pada hari pertama adalah sebagai berikut. Paus Fransiskus adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Sejak awal, saya sudah sudah memperhatikan sepak terjangnya, dan semakin lama semakin meningkat kekaguman itu. Terus terang saya kagum akan keberaniannya, terutama keberanian untuk menampilkan sesuatu yang baru, untuk membuka jalan, dan tidak takut akan pendapat orang lain–sesuatu yang saya mengalami kesusahan sejak dulu. Beberapa tindakan yang sudah beliau lakukan dan diberitakan di media massa dalam bentuk video ataupun tulisan yang kebetulan saya dapatkan, sudah saya lahap habis semuanya, walaupun semua itu ternyata terbahas ulang lagi di lokakarya ini. Paus Fransiskus bukan hanya tokoh yang saya kagumi, tapi sudah ada sedikit bagian dari diriku yang mengidolasikannya. Saya menyadari pemikiran itu sedikit berbahaya, tapi sebelum mengikuti lokakarya ini, itulah pandangan awalku mengenai beliau. Dengan demikian, salah satu pemikiran yang muncul di benakku di awal lokakarya sebenarnya adalah, bisa dikatakan, suatu bentuk kekawatiran. Kawatir mengenai apa? Kawatir akan mendapatkan pengetahuan mengenai kelemahan-kelemahan dari Paus Fransiskus, pahlawanku, my role model, sehingga akan mengurangi rasa kekaguman saya terhadap beliau. Sebagaimana bentuk kekawatiran-kekawatiran lainnya, kekawatiran yang ini ternyata tidak memiliki landasan yang tepat. Semakin berjalannya lokakarya saya malah makin menyadari betapa manusiawinya beliau, dan itu malah makin menambah rasa hormatku pada beliau.

Akan tetapi, hari ini, di tengah-tengah kelas lokakarya, saya menemukan suatu pemikiran baru. Ternyata, ada suatu bentuk ketakutan lain. Ketakutan mungkin suatu kata yang terlalu kuat. Ini bisa lebih tepat dikatakan kekawatiran juga. Kekawatiran yang baru ini lebih mendalam lagi, tapi baru saya temukan hari ini. Kekawatiran itu tidak lain adalah mengenai diri saya sendiri, bahwa bukan hanya kenyataan mengenai (the truth about) Paus Fransisku yang saya temukan, tapi juga kelemahan, kekurangan, dan kemiskinan saya sendiri.

Hari ini, saya disadarkan mengenai my own humility, kerendahan hatiku sendiri. Aku diingatkan oleh Tuhan Yang Maha Rahim, melalui Romo Kris sebagai narasumber dan melalui contoh-contoh tindakan dan perkataan Bapak Paus Terkasih bagaimana masih miskinnya saya dalam hal pemahaman diri saya sendiri. Betapa masih miskinnya saya dalam hal kerendahan hati. Betapa masih miskinnya saya dalam hal pendalaman iman dan dalam hal pelayanan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Masih banyak tindakan-tindakan baru yang perlu saya lakukan. Hidupku sendiri masih semrawut dan perlu dibenahi untuk supaya saya bisa melayani orang-orang di sekitarku dengan lebih baik, giat, dan ikhlas, dan menjadi gembala yang mengenali domba-dombanya. Masih banyak yang belum aku lakukan.

Di satu sisi saya juga merasa agak sedikit bingung karena tidak tahu mau memulai dari mana, mau melakukan apa dulu yang pertama. Ada sedikit rasa gelisah juga karena semangat untuk berubah sudah muncul dari dalam diri tapi disertai dengan rasa bingung yang tidak tahu pasti ingin memulai dari mana. Tapi, saya cuma bisa mengingatkan diriku sendiri mengenai suatu pembelajaran dari hari ini. Lokakarya ini belum selesai. Masih ada sekitar 4 hari lagi, sehingga saya juga diingatkan dengan salah satu ajaran Paus Fransiskus, yaitu mempercayai proses, pelan-pelan saja, tidak perlu tergesa-gesa. Tidak ada rumus yang akan menuntun saya dalam melakukan apa yang perlu saya lakukan, tapi saya sebaiknya mengawali di suatu tempat dan berkembang dari situ. Ikuti prosesnya, resapi pengalaman itu. Hal yang penting untuk diingat adalah keluar dari zona nyaman sendiri, berani mengambil risiko dalam bertindak, dan mawas diri. Dalam hal apapun, selalu melakukan semuanya itu dengan kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa melayani dengan belas kasih. Itulah ajaran-ajaran yang saya camkan dari pembelajaran selama ini.

“Be a shepherd with the smell of sheep. ~Pope Francis.

Advertisements