Gembala yang Tahu di Mana Harus Mencari Dombanya

Suatu senja, terlihat seorang laki-laki berjalan menelusuri jalan setapak di tengah padang rumput tandus yang luas. Sejauh mata memandang, tak banyak kehijauan yang terlihat. Hanya rumput dan ilalang kering yang terlihat tumbuh dengan liarnya di daerah itu, saling tumpang tindih, berdesakan, bersaing dengan bebas untuk menyebarkan tanah cengkamannya tanpa ada batasan. Kalaupun ada pepohonan, pohon-pohon itu terlihat lusuh, kering, layu, mungkin karena sudah lama tak dikunjungi oleh air hujan. Hujan memang langka di daerah tandus itu. Sebagian besar isi dari pohon-pohon itu hanyalah ranting-ranting saja. Namun, laki-laki itu terlihat tekun mengamati sekitarnya, seperti mencari sesuatu.

Seorang laki-laki lain, berpakaian rapi dan bersahaja, sedang mengendarai sepedanya melewati padang itu juga, tapi dari arah yang berlawanan. Saat bertemu si pejalan kaki, pengendara sepeda itu menyapanya.

“Apa yang sedang engkau cari, kawanku?” tanya si pengendara sepeda.

“Saya, tuan?” jawab si pejalan kaki, terpengarah karena tak menyangka akan disapa oleh bapak itu. “Saya hanya seorang penggembala domba, tuan, jadi siapa lagi yang akan saya cari selain domba saya?,” jawab orang itu ringkih.

“Hmm…saya datangnya dari arah yang sedang anda tuju. Sepertinya dari tadi tak terlihat seekor dombapun di daerah ini, kawan. Ini daerah tandus, rumputnya sedikit. Domba-domba biasanya tak suka datang ke sini. Yakinkah anda sudah mengambil arah yang tepat?” tanya si pengendara sepeda lagi.

“Oh, tak apa,” jawab gembala itu. “Saya tahu saya berada di jalan yang tepat untuk mendapatkan domba saya,” kata si gembala.

“Baiklah kalau begitu,” kata tuan sambil perlahan mulai berpaling untuk pergi. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba kemudian ia membalikkan badannya lagi dan bertanya, “Tapi kawan, mohon maaf, saya tidak mengerti. Bagaimana anda bisa begitu yakin untuk mengambil jalan ini? Kan sudah saya katakan tadi kalau tidak ada tanda-tanda seekor dombapun yang terlihat dari arahku tadi. Dan juga, tidak akan ada yang menarik baginya untuk datang ke daerah ini.”

“Yah, yang satu ini memang agak unik, Pak. Lain daripada yang lain memang. Tapi saya yakin dia lewat sini,” bersikeras si gembala.

“Tapi bagaimana anda bisa tahu itu? Bahwa dia lewat sini? Itu yang saya maksud,” tanya si tuan lagi.

“Karena saya mengandalkan penciumanku.”

“Penciuman?”

“Iya, tuan. Inilah tempat kesukaan dia. Jangan tanya saya mengapa dia menyukai padang tandus ini, tapi saya tahu, kalau dia nyasar kemungkinan besar dia akan nyasar ke sini.”

Lanjut si gembala, “Samar-samar saya juga mencium bau domba saya, jadi saya tahu domba saya itu melewati jalan ini.”

Tak bisa membalas lagi jawaban gembala itu, bapak pengendara sepeda cuma bisa terdiam sebentar. Sementara itu, si gembala pamit untuk melanjutkan pencariannya.

“Tunggu sebentar, kawan,” panggil bapak itu. “Bila memang demikian menurutmu, maka ambillah ini,” sambil mengeluarkan sebotol air minum.

“Jalan di depan penuh rintangan, kawan. Kering, tandus, dan anda akan haus. Maka bawalah persediaan sederhana ini. Tapi minumlah sedikit demi sedikit, jangan langsung semuanya, karena jalan setapak ini masih panjang. Dan di depan sana anda tidak akan menemukan jalan setapak lagi. Mungkin anda harus membuat jalan setapak sendiri. Di ujung jalan itulah rumah saya. Dalam perjalanan pulangmu sesudah menemukan dombamu, singgahlah untuk beristirahat sejenak di rumahku.”

 

 

Advertisements