Infinity

pexels-photo-396158

 

Tulisan berikut adalah hasil penelusuranku dalam dunia infinity, walaupun untuk sesaat. Aku tidak berencana membuat hasil karya tulisan di bawah ini. Benar-benar kubiarkan pikiran dan jariku berjalan sendiri. Dan inilah hasilnya. Tulisan dibuat di sebuah warung kopi (dengan wifi tentu saja).

__________________________________________

Tidak sulit sebenarnya untuk menghilang secara emosional di tengah orang banyak. Bagiku, cukup dibutuhkan musik, headset, laptop atau buku. Tempat itu tidak perlu sebuah tempat yang sunyi. Bisa sebuah tempat umum, asalkan punya ruangan di mana aku bisa duduk sendirian — mungkin di pojok atau di tengah ruangan, tidak masalah, asalkan tidak ada yang mengganggu. Dan aku bisa melayang ke duniaku sendiri. di mana jari jemariku bebas menari dengan luwesnya di atas keyboard. Atau mataku bisa dengan santainya menelusuri baris per baris dalam sebuah dunia yang ditawarkan oleh buku di depanku. Untuk sementara, aku bisa menghilang ke dunia yang berbeda. Tak ada yang mencari, tak ada yang peduli. Bebas sendirian dengan pemikiran, keinginan, pilihanku. Aku bisa berbincang dengan pikiran apa saja yang muncul — memilah antara mana yang mau kutemani atau tinggalkan.

Seperti yang aku alami, kau pun pasti akan mendengarkan suara-suara lain di sekelilingmu. Bagaikan lebah, mendengung, mendengking, mencekik, seakan berjoget ria di atas kepalamu. Suara-suara yang lain itu…mereka menguntit, mengganggu, ingin masuk ke duniamu, tapi jangan biarkan. Karena duniamu adalah milikmu sendiri. Hari ini, saat ini, duniamu adalah milikmu, batasan antara nyata dan angan, garis ujung antara kewajiban dan kebebasan, pemisah antara dunia penuh beban dan dunia tanpa akhir. Dunia itu, saat ini, sayangnya akan berakhir suatu waktu. Maka nikmatilah saat ini itu, hasil ciptaanmu, sebelum berakhir.

Hanya satu saranku. Sambil menikmati, tetap waspada. Hati-hati untuk tak sampai terjebak terlalu dalam di dunia itu. Semakin dalam engkau melangkah masuk, semakin sulit buatmu untuk kembali. Tetaplah sadar bahwa walaupun melangkah ke dunia itu adalah suatu bentuk kenyamanan, yang di sana itu tidak nyata. Yang nyata adalah yang akan membangunkanmu esok pagi dari tidur yang panjang. Dunia itu memang nyaman, nikmat, AMAN. Hasil kreasi sendiri pasti aman. Tak ada rasa sakit, tak ada kritikan, beban. Tak perlu sampai berlinangan air mata. Indah memang…imaginasi itu. Tapi jangan terlalu terbuai.

Terletak kebebasan yang luar biasa memang dalam situasi itu, tapi juga kesedihan. Yah, sedih. Tidakkah kau lihat bahwa kau sendirian dalam dunia itu? Suara-suara yang lain itu, mereka ingin masuk tapi sebenarnya tidak bisa masuk. Sadarkah engkau bahwa dunia itu milikmu sendiri? Tak ada lain yang bisa masuk. Memang itu milikmu sendiri, engkau bebas ingin melakukan apa pun di situ…tapi sendirian.

Bila engkau siap, kembalilah. Telusuri jalan yang sama yang membawamu masuk ke situ. Kembalilah sebelum duniamu yang di sini, yang menantimu, telah berubah karena engkau pergi terlalu lama. Mereka yang mencintaimu, ada di sini, tak lekang oleh waktu, tetap mencintaimu. Tapi mereka juga punya hak untuk berubah, dan mereka memang telah berubah. Tak ada yang sama. Tak ada yang statis di dunia ini.

Pergi dan kembalilah. Jangan tersesat.

*****

Advertisements