Hari Ini Aku Gagal

Gagal lagi yang kesekian kalinya.

Hari ini aku meledak. Emosi mengambil alih kontrol, meluap, dan berwujud dalam bentuk sebuah reaksi. Setelah sekian lama belajar untuk mencoba merespon, kegagalanlah yang kutemui hari ini.

Sakit hati timbul karena merasa pekerjaanku diremehkan oleh seorang rekan kerja. Entah mengapa kata-kata yang kuterima hari ini dari rekan kerjaku itu terasa seperti memandang enteng tugas-tugasku. Tanpa perlu mengatakannya langsung, kumaknai kata-kata yang dia pakai hari ini sebagai: Ah, apa artinyalah pekerjaanmu. Dan, semua yang sudah aku bangun susah payah selama ini terasa seperti melorot jatuh. Dengan pahit harus kuterima kenyataan bahwa ada teman kerja (mungkin lebih dari satu) di tempat kerjaku, yang sudah kuanggap teman dan bahkan keluarga sendiri, tidak menghargai jerih payahku. Atau mungkin mereka tidak akan pernah menghargaiku karena berbagai alasan pribadi mereka.

Aku sadar bahwa tanggapan atau pemikiran orang lain bukan sesuatu yang bisa aku kontrol, tapi tetap, rasa sakit itu terasa. Rasa sakit itu semakin terasa karena, kalau dipikir-pikir, rekan kerja yang satu ini selama ini tidak pernah terpikirkan olehku sebagai seseorang yang akan sebegitu mampunya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kenyataan bahwa selama ini berarti kemungkinan besar dia tidak memiliki kepedulian terhadap jerih payahku terasa berat untuk diterima. Mestinya aku sudah tahu mengenai ini. Tanda-tanda dari sikapnya kepada orang lain yang mengarah ke karakter tertentu sebenarnya sudah terlihat. Akan tetapi, yah, di sinilah terletak perbedaan karakterku dengan dia. Mungkin aku yang terlalu naif dan bodoh juga untuk berpikir bahwa dia punya rasa peduli terhadap pekerjaanku. Atau mungkin aku punya pengharapan terlalu tinggi akan karakternya.

Kenapa aku gagal? Kenapa aku membiarkan seorang manusia egois untuk sekali lagi memporak-porandakan tempat kediamanku yang sudah kujaga selama ini untuk siap menghadapi badai apapun yang datang. Aku bisa sebenarnya untuk tidak bereaksi. Apakah keadaanku yang memang sedang stres menghadapi suatu projek saat ini, atau keadaan biologis badanku yang sedang kurang fit yang membuat bentengku agak menurun? Atau apakah memang selama beberapa minggu terakhir ini sudah terbangun semacam rasa tidak senang terhadap sikap rekan kerjaku tapi kucoba untuk menahan, menyimpan, menimbunnya, tapi hari ini, terlalu meluap sehingga membludak? Memang kalau ditelusuri lagi, hari ini adalah hari yang penuh dari pagi sampai sore, sampai makan siangpun untung-untungan berhasil kulahap dalam 5 menit. Bila semua faktor digabungkan, memungkinkan memang untuk akhirnya kehilangan kontrol dan bereaksi terhadap suatu tambahan tekanan yang tak terduga.

Mau tidak mau aku kembali kepada kemampuan diri untuk mengatur emosi. Ternyata sangat tidak mudah. Aku baru akan tahu benar-benar batas kemampuanku mengatur emosi itu saat benar-benar terjebak di suatu sudut, dan masalahnya, aku belum bisa melakukan dugaan di sudut mana aku bisa terjebak. Suatu kejadian di luar dugaan bisa melontarkanku untuk merasa tersudutkan, seperti apa yang aku alami hari ini.

Tapi kemudian aku menganalisa lagi kejadian dengan rekanku itu. Sebenarnya, apakah memang benar apa yang terjadi itu di luar dugaanku ataukah sebenarnya bisa aku prediksi? Kalau dipikir-pikir, mungkin bisa aku prediksi sebelumnya. Hanya saja, yang tidak aku prediksikan adalah fakta bahwa dia mengatakan beberapa hal tidak sensitif yang membuatku merasa terjebak itu.

Kenapa aku tidak bisa memprediksikan dia mengatakan hal-hal tersebut? Yah, sepertinya kembali lagi ke kenaifan dan keluguanku, merasa orang-orang di sekitarku terlalu baik, merasa rekan kerjaku ini tidak akan sampai sebegitu rendah level karakternya untuk bisa mengatakan hal-hal demikian. Setelah aku pikirkan lagi, sebenarnya ada kemungkinan besar malah aku dipergunakan olehnya untuk mencapai suatu misi tertentu. Sempat timbul suatu hipotesis bahwa konflik antara kami memang sudah dia inginkan supaya ini menjadi alasan buatnya untuk keluar dari tanggung jawab perannya yang menjadi alasan konflik kami. Aku merasa dia tidak melakukan tugasnya dengan baik dan hasil dari tugasnya itu melibatkan aku, dan dia melemparkan tanggung jawabnya dengan menyalahkan orang lain. Walhasil, akhirnya dia melakukan juga tugasnya, tapi dengan cara menekanku sehingga meledaklah aku. Dengan adanya konflik ini, apalagi dengan reaksiku, dia kemudian mengatakan sesuatu yang kumaknai sebagai berikut: kalau ada yang tidak suka dengan caranya bekerja dan merasa dia perlu dilepaskan dari tanggung jawabnya, maka silakan saja melakukan itu karena dia juga tidak apa-apa kalau dibebaskan dari tugas itu. Saat membaca tulisan itu, aku merasa dipergunakan, dan lebih parah lagi, aku melangkah masuk ke dalam jebakan itu dengan mudahnya.

Seharusnya aku bisa menyadari lebih awal semua itu. Dan mungkin itulah mengapa aku merasa sangat gagal hari ini. Bukan hanya karena aku gagal menahan emosiku, tapi karena aku merasa menjadi pion dalam sebuah permainan catur orang itu. Dan aku marah, tapi tidak tahu mau mengarahkan kemarahanku ke mana atau siapa.

Dan dalam saat-saat seperti ini, kesendirian terasa sangat menggigit. Saat inilah baru benar-benar terasa apa arti kehilangan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kuajak berbagi lagi. Namun demikian, aku harus bisa menjalaninya dengan kuat. Ini pilihanku sendiri, demikian pula konsekuensinya.

*****

Advertisements

2 thoughts on “Hari Ini Aku Gagal

  1. Kalau masalahnya seperti itu harusnya curhat ke atasan mbak, orang yang berkuasa dan mengatakan yg sebenarnya agar kita mendapat dukungan secara moral. Tapi entahlah karena saya sendiri tidak pernah kerja kantoran dan tidak tahu aturandi dalamnya. Hanya sebatas pemikiran saja.

    Liked by 1 person

  2. Makasih atas sarannya, Mas. Atasan sudah tahu dan mereka mendukung. Semoga tidak terulang lagi hal yang dilakukan rekan kerja saya ini dan tidak ada lagi orang yang terkena hal yang sama. 🙂

    Like

Comments are closed.