Liburan Itu Ibarat Es Krim

madeline-tallman-44555.jpg

Image was taken by Madeline Tallman, from unsplash.com

Liburan itu ibarat es krim. Pasti pernah kan makan es krim?

Ada seorang anak muda yang mengatakan es krim itu tidak bisa bertahan lama, harus segera dimakan karena meleleh dengan cepat. Penafsiran yang sepertinya lebih mengarah ke pemahaman es krim sebagai suatu objek yang harus segera dikonsumsi. Ada sedikit unsur keimpulsifan dalam penafsiran itu, bahwa es krim harus segera dimakan. Maklum yang mengatakan itu juga masih seorang muda. Hidup bagi kaum muda memang cenderung lebih mengarah ke memakai, mengonsumsi apa yang ada di hadapannya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu karena cukup sesuai dengan kebutuhan perkembangan yang masih berpusat pada mencari sesuatu (looking for something). Sesuatu yang dimaksud itu bisa mengenai masa depan, kesuksesan, nilai yang bagus, teman “spesial”, atau bahkan, jati diri.

Penafsiran itu berbeda dengan apa yang sebelumnya sudah sempat terpikirkan olehku saat dalam perjalanan pulang dari kerja. Benak penuh dengan pemikiran bagaimana menghabiskan liburan ini seproduktif dan seefektif mungkin dan mampu merasa puas di finish line seminggu kemudian saat liburan berakhir.

Kebalikan dari penafsiran di atas mengenai es krim, saya malah bertanya trick apa yang bisa saya pakai untuk menikmati es krim itu sepelan mungkin supaya bisa merasa puas sesudah selesai. Saya yakin banyak orang akan setuju bahawa es krim itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Akan tetapi, ironisnya, semua kenikmatan hanya bersifat sementara. Semua kenikmatan pasti akan berakhir. Dan, kalau kita tidak belajar untuk menikmati kenikmatan dan keindahan itu, maka dalam sekejap, kenikmatan dan keindahan akan berakhir tanpa sempat meninggalkan bekas yang mendalam, tanpa sempat memberikan kepuasan.

Tapi es krim memang akan cepat meleleh. Pertanyaannya, dengan demikian, bagaimana caranya untuk makan es krim tanpa berlama-lama dan tetap merasa puas di bagian akhir?

Selama seminggu terakhir ini, saya beruntung sekali bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan beberapa relawan sosial di suatu daerah di kota Surabaya. Kami saling berbagi cerita mengenai banyak hal. Cerita dari mereka kebanyakan mengenai kasus-kasus yang harus ditangani, keadaan penuh stres yang sering berada di luar  kemampuan mereka untuk mengontrol hasil akhir keadaan itu. Saya kemudian menawarkan kepada mereka pengertian mengenai mindfulness. Konsep ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk berada pada “here and now“. Artinya kurang lebih mengenai kemampuan kita untuk benar-benar menyadari keberadaan kita di mana pun kita berada, dan menghargai saat itu, mensyukuri apa yang dimiliki pada saat itu. Untuk mencapai itu, konsep mindfulness mengajarkan pentingnya “letting go” atau melepaskan. Apa yang dilepaskan? Semuanya, sehingga yang tersisa hanyalah diri kita sendiri dan keberadaan kita sekarang.  Hal-hal duniawi lainnya, yang di luar jangkauan kontrol kita, mengenai orang lain, semuanya kita lepaskan. Sebagai gantinya, kita berfokus ke dalam diri kita sendiri, berfokus pada pemikiran kita, pada pernapasan kita, pada apa yang sedang kita lakukan. Kalau sedang meditasi, kita berfokus ke pernapasan dan apa yang panca indera kita rasakan saat bermeditasi. Bila sedang berjalan, kita berfokus pada apa yang ditangkap oleh panca indera kita dan pijakan di bawah telapak kaki, rumput, pasir atau tanah, angin yang berdesir sepoi-sepoi meniup rambut dan daun telinga kita. Dan bila sedang makan, kita berfokus pada makanan yang masuk ke mulut, rasanya seperti apa, sadari proses seperti apa yang makanan itu sudah lalui untuk akhirnya sampai ke mulut kita, tangan dan keringat siapa yang telah membantu untuk akhirnya kita bisa makan makanan itu, dan menyukuri semua karunia itu.

Being mindful therefore, is to be aware.

Untuk menjadi mindful, kita harus lebih menyadari, peka, dan terbuka terhadap sekeliling kita. Meditasi, berjalan, makan hanyalah beberapa contoh saja bagaimana manusia bisa mengaplikasikan konsep mindfulness dalam hidup sehari-hari. Mindfulness membantu berkembangnya kesadaran diri dan kepekaan terhadap sekitar.

Kembali lagi ke topik es krim, memang es krim butuh dimakan dengan cepat. Kita tidak bisa berlama-lama memakan es krim, tidak seperti meminum segelas wine, atau secangkir kopi, yang memang sebaiknya dilakukan sambil berbincang-bincang dengan orang lain. Sebenarnya tidak sulit untuk bisa menikmati es krim dan merasakan kepuasan sesudahnya. Tidak sulit juga untuk menghindari kecenderungan untuk kemudian merasa bersalah karena telah memakan makanan yang dikategorisasikan kurang sehat bagi tubuh, atau junk food. Mindfulness bisa dilakukan dengan memikirkan jerih-payah dan upaya orang-orang yang sudah terlibat dalam pembuatan es krim itu — mulai dari pemerahan susu dari sapi, pengolahan susu sapi, pembuatan kemasan yang siap untuk dipasarkan, pembuatan branding, pemasaran, pemesanan, pengantaran produk, dan seterusnya. Bisa juga dengan berfokus pada nikmatnya rasa es krim di lidah, sensasi dingin dan manis yang dirasakan, atau mungkin sempat terasakan tekstur dan rasa lain yang mungkin tidak pernah tertangkap sebelumnya karena kita terlalu terburu-buru untuk menghabiskan. Misalnya, ada rasa sedikit asin (dan memang es krim sebenarnya ada sedikit rasa asinnya karena membutuhkan garam untuk pembuatannya). Kadang kita bisa merasakan lebih dari satu rasa karena diberi buah atau kacang. Sudah pernahkah anda memakan es krim dan benar-benar meresapi semua rasa yang memungkinkan untuk dirasakan? Itulah salah satu contoh mindfulness. Hasil dari proses itu jauh lebih memuaskan dibandingkan makan secara terburu-buru. Hasil dari proses mindfulness itu juga memungkinkan kita untuk mengurangi makanan karena sebenarnya bukan kuantitas yang berujung ke kepuasan, tapi kualitas.

Lalu mengapa kita berfokus pada es krim, padahal judul artikel mengatakan liburan? Semoga dengan membawa anda dalam esai dengan judul yang agak mengecohkan ini tidak menjadi suatu “torture” untuk pikiran anda sehingga membuat anda akhirnya secara tidak sadar (atau sadar) berjalan ke arah kulkas, membuka dengan harapan akan melihat secuil something yang dapat memuaskan tenggorokan sejenak. Tidak, bukan itu tujuan saya, tapi mohon maaf bila itu yang terjadi.

Saya ingin mencamkan bahwa liburan itu memang ibarat es krim! Bila ingin merasa puas di akhir liburan, kita harus benar-benar meresapinya, menjalaninya secara penuh kesadaran, bersyukur, memanfaatkannya seefektif mungkin. Dan ini kita lakukan tidak secara terburu-buru.

Kita juga harus BERHATI-HATI terhadap fenomena liburan, apalagi liburan panjang. Sama seperti es krim yang mempunyai konsekuensi yang harus dibayar sesudah memakannya (baca: penambahan lemak di tubuh), liburan juga mempunyai konsekuensi unik. Ada tumpukan pekerjaan yang menunggu di awal reuni bersua kembali dengan kantor, pekerjaan yang hanya tertunda sebentar. Namun percayalah, kesetiaannya untuk menunggu kita kembali sudah tak teragukan.

*****

Topik tulisan di atas sebenarnya adalah sebuah topik yang pernah saya tulis setahun yang lalu menjelang libur panjang di akhir tahun. Hasil karya tulisan di atas ini adalah sebuah penulisan ulang yang telah saya revisi di beberapa tempat. Selamat menikmati.

Dan juga, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan. Mari kita selalu menjaga kerukunan antarkepercayaan yang berbeda-beda di tanah air tercinta Indonesia ini. Semoga hari raya ini bisa dirayakan oleh umatnya di seluruh dunia dalam kebersamaan yang ditandai oleh rasa damai dan cinta kasih di dalam hati.

gambar ketupat kartu ucapan lebaran idul fitri 2015.png

 

Advertisements