Mencari Sahabat

Bersahabat dengan waktu, mungkinkah itu?

Entahlah. Akhir-akhir ini aku terus bergulat dengan topik ini. Apakah itu waktu yang terus mengejarku — setidaknya terasa seperti itu — atau apakah sebenarnya aku yang mengejar-ngejar waktu karena waktu sepertinya selalu berlari jauh lebih cepat di depan. Kenapa aku dan waktu tidak bisa berjalan bersama, selevel, seperti dua kawan lama yang berjalan sambil mengobrol? Kenapa selalu perlu ada acara kejar-kejaran?

Anehkah buatku untuk bertanya mengenai ini? Tapi aku memang akhir-akhir ini merasa level stresku bertambah, merasa seperti selalu lelah, tidak tenang, selalu ada yang perlu diingat, dilakukan, dan masalahnya, kadang yang perlu dilakukan itu harus segera pula dilakukan. Jangan tanya mengapa aku memakai kata ‘harus’ di sini, tapi yah untuk saat ini, itulah kenyataannya.

Lantas, mengapa aku hidup seperti ini?

Mungkin lebih tepatnya, mengapa aku merasa terjebak di tempat ini? Tahukah aku dulu saat membuat suatu keputusan besar dalam hidupku bahwa aku sedang memilih hidup yang seperti ini? Penyesalankah ini yang sedang berbicara?

Sebenarnya tidak. Ini bukan penyesalan yang berbicara, tapi keingintahuan. Ingin tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Tapi yah dalam hidup kadang kita memang tidak akan selalu tahu apa yang akan terjadi di masa depan, iya kan?

Bagaikan seorang pengelana di padang gurun yang sedang sangat kehausan, aku haus sekali akan kesempatan untuk hening. Hening itu tidak mesti berarti kesendirian, karena sebenarnya aku punya cukup waktu untuk sendirian setiap hari, tapi lebih kepada kondisi atau keadaan di mana aku bisa merasakan…yah seperti yang aku katakan di atas, berjalan selevel bersama dengan waktu.

Akan tetapi, saya juga ingin mengingatkan diriku sesuatu supaya tidak membuat keputusan yang mungkin kurang tepat hanya karena mengikuti suara/keadaan hatiku saat ini, bahwa aku sudah pernah mengalami keadaan-keadaan di mana aku diberi kesempatan untuk hening itu. Dan tahu apa yang terjadi? Keheningan itu malah membuatku tidak tahan. Keheningan itu malah sangat mengusik, tidak nyaman, malah membuatku kesepian dan gelisah. Bagaimana tidak gelisah kalau dihadapkan dengan titik-titik kelemahan?

Dengan kata lain, berada di sisi yang berlawanan dari keadaanku sekarang ini belum tentu sebenarnya akan membantu atau membuatku lebih bahagia. Belum tentu. Bisa saja sesampai di sana aku malah ingin kembali ke sini. Rumput tetangga memang selalu lebih indah ya? Apakah kita manusia memang selalu tidak merasa puas? Saya tidak ingin juga terjebak di keadaan hati yang seperti itu, selalu tidak puas. Pasti tidak nyaman.

Kalau begitu, apa yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini?

Saya sebenarnya ingin menjadi manusia yang lebih mampu menerima, lebih ikhlas, rendah hati. Ada bagian dari diriku yang memang selalu ingin sesuatu yang lebih untuk hal-hal tertentu yang menjadi kelemahanku. Yah, aku rasa semua orang juga mengalami hal ini — kodrat kita sebagai manusia — yaitu punya kelemahan dan menginginkan sesuatu. Saya ingin lebih bisa memahami kelemahanku itu, apa yang aku inginkan, rindukan dan kemudian menerimanya, bahkan berteman dengannya. Saya tidak ingin dikuasai oleh kelemahan itu.

Tapi sebentar, kenapa bisa sampai ke sini yah pembicarannya? Bukannya tadi diawali berbicara mengenai si waktu? Loh, lantas kemana si waktu ini? Kok ini bukan lagi ngomong mengenai waktu?

Ah, ternyata ujung-ujungnya ini mengenai diriku sendiri toh? Sorry yah, waktu, ternyata ini bukan mengenaimu. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, maafkan aku. Ini ternyata mengenaiku. Aku yang perlu berteman dengan diriku sendiri.

Amin.

tumblr_o6eodtWh351qcvheoo1_540
I’m still learning to love the parts of me that no one claps for.” 
Rudy Francisco

Art by the amazing Kate Louise Powell, taken from http://theglasschild.tumblr.com/post/143611893134/im-still-learning-to-love-the-parts-of-me-that

 

%d bloggers like this: