Penjungkirbalikan!

Girisonta, Sabtu Malam Paskah, 20 April 2019

Misa Sabtu malam Paskah di Girisonta malam ini dipimpin oleh Romo Priyo, SJ (Serikat Yesus, suatu ordo dalam agama Katolik). Terus terang begitu tahu bahwa Romo Priyo yang akan memimpin misa, saya sudah menunggu bagian homili ini, sehingga tidak heran kalau beliau memulai dengan sebuah cetar! Tidak sampai membahana, tapi cetarannya sudah sangat menggugah.

Homili atau kotbah di tengah misa diawali seperti biasa dengan membahas injil bacaan malam itu dari injil Lukas mengenai bagaimana dua malaikat memberi kabar kepada murid-murid Yesus bahwa Yesus telah bangkit. Tidak mungkin(!) pikir mereka. Sama seperti kita manusia jaman sekarang kalau diberitahu bahwa ada orang yang bangkit dari kematiannya, maka reaksi pertama mereka adalah tidak percaya. Mustahil! Dengan kata lain, pemahaman mereka, dunia mereka dengan seketika DIJUNGKIRBALIKKAN oleh para malikat itu. Apa yang terjadi pada murid-murid selanjutnya, apakah mereka kemudian percaya atau tidak, tulisan saya ini bukan berfokus pada itu. Mari kita lanjut.

Romo kemudian mengaitkan peristiwa penjungkirbalikan yang dialami oleh para murid dengan keadaan pasca-kebenaran di Indonesia saat ini, bagaimana fenomena memutarbalikkan, menjungkirbalikkan kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran, membuat berita bohong, sangat mudah terjadi. Tapi maaf, INI juga bukan fokus tulisan saya sekarang. Dan saya rasa ini juga bukan fokus dari homili malam itu. Wong yang hadir di misa itu orang-orang waras semua kok! Kami tidak perlu diingatkan mengenai keadaan pasca-kebenaran.

Tidak, masih bukan itu fokus tulisan ini. Jadi apa toh sebenarnya yang ingin saya fokuskan?

Setelah dua bagian di atas, Romo akhirnya masuk ke bagian yang menceritakan mengenai pengalaman pribadinya sendiri yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Romo menceritakan bagaimana dia mengunjungi sahabatnya, Romo Henk, SJ, yang waktu itu sedang diopname di salah satu RS. Romo Henk berusia 90 tahun dan saat ini adalah romo SJ tertua di Indonesia. Romo Priyo mempersiapkan diri untuk menemukan keadaan Romo Henk sesuai dengan apa yang banyak orang bayangkan bila seseorang dalam usia seperti itu dan sedang dirawat di rumah sakit. Yah, mungkin saya pun akan membayangkan orang itu akan terkapar di tempat tidur, lemah, tidak bersemangat, dll. Tapi apa yang dia lihat saat membuka pintu kamar Romo Henk?

Siulan lagulah yang menyambut kedatangannya saat dia membuka pintu itu. Siulan itu dikumandangkan oleh Romo Henk sendiri, yang sedang duduk di kursi roda, tak terlihat tanda-tanda seseorang yang sakit, lemah, tidak bersemangat, dll itu. Sebaliknya tersenyum, sehat, dan yah gitulah, tanda-tanda seseorang yang menikmati hidup! Tapi yang paling mengesankan bagi Romo Priyo adalah lagu yang disiulkan dan dinyanyikan itu. Sebelum selesai mengatakan judul lagunya di depan kami, Romo Henk — yang saat itu sedang duduk di depan gereja juga, tidak jauh dari Romo Priyo — sudah mulai mengumandangkan duluan lagunya cukup keras, yang membuat kami yang mendengarkan tersenyum.

Lagunya adalah Ibu Pertiwi. Tahu kan Anda semua lagunya?

 

Kulihat Ibu Pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini Ibu sedang susah

Merintih dan berdoa

 

Ini sebuah lagu yang sudah lama tidak kudengar, tapi tahukah Anda semua bahwa ini aslinya adalah lagu nasrani dengan judul What a Friend We Have in Jesus yang lirik lagunya diciptakan oleh Joseph M. Scriven pada tahun 1855 dan iramanya diciptakan oleh Charles C. Converse pada tahun 1868? Yah, saya juga baru tahu malam itu saat diberitahukan oleh Romo. Lagu itu asalnya adalah Christian song, sehingga tidak heran Romo Henk menyanyikannya saat itu, walaupun sebenarnya Romo Henk juga sudah lama di Indonesia. Malah mungkin hidupnya lebih banyak dihabiskan di Indonesia (daripada di tanah asalnya) sebagai romo misionaris dan sekarang sudah menjadi WNI .

Jadi pada saat itu, Romo Henk berhasil menjungkirbalikkan Romo Priyo dengan caranya menyambut Romo Priyo. Tapi sebentar, cerita ini belum selesai, saudara-saudaraku. Romo Priyo kemudian bercerita bagaimana dia menemani Romo Henk ke kegiatan pemulihan di suatu ruangan lain. Mohon maaf saya lupa detailnya pemulihan seperti apa, tapi intinya ada beberapa perawat dan ahli medis lainnya di ruangan itu yang biasanya mendampingi Romo Henk. Mungkin semacam physical therapy, tapi saya tidak yakin sepenuhnya mengenai itu.

Intinya adalah, saat mereka ke ruangan itu, Romo Priyo mengalami sekali lagi episode penjungkirbalikan! Semua ahli medis yang bekerja di ruangan itu menyambut Romo Henk dengan siulan lagu yang sama!

Mari sejenak kita bayangkan Romo Henk dengan keterbatasan fisiknya yang ‘mestinya’ sedang sakit, tapi masih mampu menyalurkan energinya, pengaruhnya, soul-nya kepada orang-orang lain di sekitarnya. Suka cita itu mengalir, tersalur dengan begitu indahnya kepada orang-orang lain. Dan saya yakin, hanya suka cita yang didasari oleh cinta kasih, semangat hidup, kerendahan hati, dan penerimaan apa adanya, yang bisa menjangkiti orang lain dengan mudahnya. Sungguh, tanpa disadari mata ini sudah berkaca-kaca. Sambil melihat ke arah Romo Henk, aku menelan ludah tapi tenggorokan terasa kering. Akupun merasa seperti tertampar. Usia 90, badan sudah mulai menunjukkan kejujurannya dalam mengutarakan kekurangan fisik seseorang yang berada di usia itu, maka mau tidak mau siapapun itu, pasti akan menyadari betapa dekatnya mereka dengan yang namanya akhir hidup.

TAPI…yang aku lihat dengan mataku sendiri, yang aku dengar dari kesaksian Romo Priyo, tidak ada tanda-tanda kegentaran dari Romo Henk. Maka, aku mengatakan sekarang, aku pun pantas untuk merasa dijungkirbalikkan juga.

Terima kasih sudah menjangkitiku dengan sukacitamu dan menjungkirbalikkanku, Romo Henk.

Terima kasih sudah berbagi kisah inspiratif, Romo Priyo.

Selamat Paskah, anak-anak Tuhan.

 

__________________________________________________________

Bagi yang ingin mendengarkan lagu What a Friend We Have in Jesus, saya berikan link youtube-nya  di sini. Selamat menikmati.

 

%d bloggers like this: