Awal dari Peziarahan Batin Selama 3 Minggu ke Depan

Keputusan untuk menutup tempat kerja dan bekerja dari rumah pun akhirnya sampai ke tempat kerjaku. Saya bekerja di suatu universitas. Perkuliahan untuk mahasiswa memang sudah dipindahkan ke online semua minggu ini dan mahasiswa sudah dilarang untuk datang ke kampus, tapi kami para dosen dan karyawan masih masuk kerja minggu ini untuk menyelesaikan beberapa hal. Namun, instruksi terakhir dari pimpinan universitas hari ini akhirnya adalah kerja dari rumah tanpa pengecualian dan kampus akan ditutup selama minimum 3 minggu ke depan (sampai Paskah).

Saat ini mendekati jam 5 sore. Semua kerjaan sudah selesai untuk hari ini dan mestinya saya juga sudah pulang. Tapi saat sedang berkemas-kemas untuk pulang, di tengah-tengah kesibukan memikirkan apa saja yang perlu dibawa pulang untuk kerja 3 minggu ke depan, tiba-tiba terasa suatu serbuan emosi yang sedikit memaksa untuk diperhatikan. Sambil terduduk menatap layar komputer sebelum dimatikan, kusempatkan sebentar untuk mengenali perasaan apa itu yang muncul. Dan akhirnya, tulisan ini pun terciptalah.

Ada perasaan kehilangan yang pasti kurasakan. Apa yang hilang itu, aku juga belum tahu pasti. Butuh waktu biasanya untuk mengetahui ini. Mungkin rasa kehilangan ini muncul karena akan hilangnya kebiasaan rutin yang biasanya aku lakukan setiap hari dan mulai minggu depan tidak bisa lagi aku lakukan? Ataukah yang terasa hilang itu adalah kebebasan? Kehilangan kebebasan apa? Kebebasan ruang lingkup untuk bergerak? Kehilangan kebersamaan?

Sedih, itu yang sedang kurasakan. Sedih karena situasi di Indonesia akhirnya sampai ke keputusan yang dibuat oleh universitas hari ini, walaupun aku paham dan mendukung mengapa keputusan harus dibuat. Ini juga belum total lockdown. Aku tidak bisa bayangkan total lockdown itu seperti apa. Sempat juga terpikirkan betapa rendahnya posisi kita manusia bila dihadapkan dengan kenyataan alam yang Tuhan ciptakan.

Ah, itu dia satu lagi perasaan yang kurasakan, perasaan tak berdaya.

Tapi perasaan tak berdaya kurang membantu saat ini karena bila perasaan tak berdaya terus bertambah, bisa perlahan mengarah ke depresi ringan ke depannya. Perlu waspada terhadap perasaan yang satu ini.

Mungkin yang lebih baik adalah mengubah perspektifku untuk melihat keadaan sekarang ini sebagai cara Tuhan untuk menyapa kita umat manusia, bahwa sebanyak-banyaknya perencanaan yang kita lakukan, setinggi-tingginya keinginan yang kita inginkan, di atas semua itu masih ada kuasa Tuhan. Bayangkan betapa banyak perencanaan dari umat manusia yang sudah batal dalam dua bulan terakhir dan beberapa bulan ke depan. Kita diingatkan, saya diingatkan, bahwa saya bisa merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.

Hari ini, Jumat 20 Maret, 2020, adalah hari terakhir untuk masuk kerja sebelum masuk dalam tahap kerja dari rumah selama 3 minggu. Tiga minggu ini juga hanyalah sebuah perencanaan. Apakah hanya akan sampai 3 minggu atau perlu lebih? Kita lihat juga apa yang akan terjadi dalam 3 minggu ini.

Saya belum pernah tinggal di dalam rumah sendirian, seharian, tanpa aktivitas bekerja selama 3 minggu. Ini tantangan besar buatku. Bagaimana saya akan melalui semua ini? Entahlah. Apakah saya akan keluar dari masa ini sama seperti sebelum saya yang sebelumnya atau berbeda?

Pemikiranku, perasaanku, waktunya untuk lebih mawas diri. Olah raga, olah rasa, olah pemikiran, olah iman…inilah retretku selama minimum 3 minggu ke depan. Inilah peziarahanku untuk berani masuk ke dalam diriku sendiri karena aku yakin, 3 minggu adalah waktu yang sangat sangat sangat panjang untuk melakukan soul searching.

Sertailah aku dalam peziarahan internalku ini, Tuhan. Amin.

One thought on “Awal dari Peziarahan Batin Selama 3 Minggu ke Depan

Comments are closed.

%d bloggers like this: