Finding God in Daily Life

Delapan bulan telah berlalu sejak tulisanku yang terakhir (bisa klik di sini) yang dibuat pada awal pandemi covid-19 melanda Indonesia, awal bekerja dari rumah, awal dari pola hidup yang baru. Sungguh sangat naif pada waktu itu untuk berpikir bahwa kami hanya butuh bertahan selama 3 minggu dan setelah itu semua akan kembali normal lagi. Saat ini, 8 bulan kemudian dan pandemi masih terus berlangsung, jumlah kasus-kasus positif baru masih meningkat terus di seluruh dunia, dan manusia-manusia masih terus beradaptasi dengan keadaan normal yang baru.

Saya pun masih beradaptasi. Sepertinya perubahan telah terjadi dalam diriku, dalam cara berpikir, kemampuan mengatasi kesepian, kesendirian, ketidakberdayaan, dan membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan. Ya benar, saya menemukan pemahaman baru mengenai relasiku dengan Tuhan selama masa pandemi ini. Seperti apa itu bentuknya?

Sekitar bulan Mei, saya menemukan suatu pengumuman lewat WA grup mengenai suatu kegiatan retret yang diadakan oleh romo dan frater Jesuit. Keseluruhan kegiatan dilakukan lewat online dari rumah. Akan tetapi, jangka waktu keseluruhan kegiatan adalah 1 bulan, dan ini yang menjadi bahan pertimbangan yang cukup lama buatku karena ketidakyakinan untuk mampu melakukannya selama itu. Aku butuh waktu seminggu sebelum akhirnya membuat keputusan untuk mendaftar, dan itupun karena perkataan seorang teman yang seperti ini, “Justru karena kamu merasa tidak yakin bisa, maka itu bisa menjadi motivasi untuk malah mengikuti.” Mungkin kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi yah, kurang lebih demikianlah makna dari perkataannya yang aku tangkap, Bagi beberapa orang perkataan itu mungkin membingungkan, tapi aku langsung memahami apa maksud dari temanku, karena di dalam hati aku sebenarnya tahu apa alasan sebenarnya dari keraguanku. Tanpa aku sadari, perkataan temanku itu sebenarnya sudah memperkenalkan salah satu ajaran Santo Ignasius juga, yaitu agere contra.

Agere contra adalah konsep yang mengajarkan kita untuk melakukan hal yang kebalikan dari kelekatan kta. Bentuk kelekatan yang membuatku ragu untuk ikut retret selama sebulan sebenarnya adalah karena kebiasaan menonton film berseri melalui online setiap malam yang mulai kulakukan selama masa pandemi. Kurangnya kegiatan tapi juga menghindari munculnya rasa bosan membuat nonton film menjadi suatu pelarian. Ajakan dari temanku adalah untuk melakukan kebalikan dari rasa nyaman, atau lebih tepatnya keluar dari zona nyaman itu. Oleh karena itu, tanpa kepastian apakah bisa atau tidak, aku merasa terdorong untuk mendaftar. Ada ajakan dari dalam diriku untuk mendaftar dan ada semacam suara kecil yang mengatakan bahwa aku butuh retret itu. Mungkin ada bagian dari alam ketidaksadaranku yang mengetahui bahwa saat itu aku sedang berada dalam masa rawan, yaitu mulai perlahan merasa terpuruk secara emosional sebagai efek dari pandemi. Tuhan mengirimkan seorang teman yang mengatakan kata-kata di atas kepadaku. Kata-kata itu sungguh mengena sekali, dan oleh karena itu aku akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar.

Retret yang aku maksud di atas memang adalah Latihan Rohani yang diajarkan oleh Santo Ignasius, tapi bukan Latihan Rohani 30 hari yang biasanya ditawarkan di tempat-tempat retret secara tatap muka. Ini adalah Latihan Rohani bagi Pemula, disingkat LRP, yang modulnya dibuat khusus untuk dilakukan secara online. Modul LRP ini adalah modul yang diperkenalkan oleh Michael Hansen, SJ dari Australia, dengan bentuk yang sudah sangat terstruktur. Keseluruhan buku panduan LRP telah diterjemahkan oleh Romo Sumarwan SJ dan bersama dengan beberapa Frater Jesuit, merekalah yang menjadi pengurus LRP yang aku ikuti di bulan Mei-Juni 2020 itu.

LRP ini sudah berjalan 3 kali dan pada batch ketiga saya diajak untuk ikut lagi oleh Frater Craver yang menjadi fasilitatorku di batch pertama, tapi kali ini berperan sebagai fasilitator memimpin kelompok kecilku sendiri. Kembali lagi saya dihadapkan dengan pilihan di depanku, apakah akan aku iyakan ajakan ini atau tidak? Pikiran ragu-ragu muncul, bisakah saya yang belum pernah mengikuti LR 30 hari menjadi seorang fasilitator? Bisakah saya melakukan tugas dan peranku dengan baik? Bagaimana kalau saya salah membuat keputusan dan malah melakukan kesalahan kepada orang lain dan memperburuk keadaan orang itu? Tapi akhirnya saya mengiyakan ajakan itu karena setelah saya perhatikan, sepertinya ada gerakan dari dalam diriku yang memang mendorongku untuk mencoba.

LRP batch ketiga saat ini sudah selesai. Kami para fasilitator sedang dalam proses melakukan evaluasi, dan saya sendiri juga sedang dalam proses melakukan refleksi pribadiku. Tulisan ini adalah bagian dari proses refleksiku. Ada satu hal penting yang terjadi setelah batch ketigas sudah berakshir. Saya diberi kesempatan untuk mengikuti satu webinar/diskusi mengenai Latihan Rohani bersama Romo Nano SJ dari Girisonta yang juga menjadi romo pembimbing para Novis di Girisonta. Topik webinar itu berpusat pada peran fasilitator/pendamping dalam Latihan Rohani. Ternyata apa yang saya ketahui mengenai LR masih sangat sedikit. Masih banyak yang perlu dipelajari dan semua ini semakin memperdalam refleksiku juga. Dengan pemahaman baruku mengenai peran fasilitator dalam LR, aku menyadari bahwa walaupun aku tidak melakukan kesalahan dalam tugas dan peranku sebagai fasilitator, tapi betapa mudahnya untuk melakukan suatu kesalahan. Juga, betapa mudahnya perasaan bangga yang berlebihan, atau lebih tepatnya perasaan sok tahu, untuk tumbuh. Saya bersyukur dipertemukan dengan materi yang diberikan oleh Romo Nano karena materi itu mengingatkanku bahwa aku masih belum punya apa-apa dalam hal LR. Perjalananku masih jauh.

Kesimpulan yang bisa saya buat saat ini adalah keputusan untuk ikut LRP sebagai peserta di batch pertama dan kemudian sebagai fasilitator di batch ketiga sudah tepat. Tidak ada penyesalan yang muncul sama sekali. Bahkan kebalikannya, saya merasa positif dan senang dengan apa yang sudah saya putuskan dan dapatkan. Malah bila ada yang perlu saya cermati dan waspadai adalah perasaan kepercayaan diri yang berlebihan. Dan satu kesimpulan lagi yang bisa saya buat di akhir tulisan ini adalah saya merasakan kehadiran Tuhan yang selalu menemani dalam langkah-langkahku. Dalam webinar bersama Romo Nano saya sempat bertanya mengenai arti “perjumpaan dengan Tuhan,” tapi untuk menjelaskan arti perjumpaan dengan Tuhan, ini bisa menjadi tulisan yang panjang dan lebih baik menjadi tulisan tersendiri di kemudian hari. Intinya sejak saya dipertemukan dengan LRP, saya merasa perjalanan hidupku telah dituntun oleh Tuhan, termasuk keputusan untuk mengiyakan ajakan menjadi fasilitator, pemikiran untuk memperkenalkan LRP kepada kaum muda di Surabaya, dan yang terakhir, kesempatan untuk mendengarkan materi LR dari Romo Nano. Saya memaknai semua itu sebagai bagian dari rencana Tuhan. Saya merasa ditemani oleh Tuhan, merasa tenteram dan damai juga.

It is as if everything fits, pernah merasakan perasaan seperti ini juga?

%d bloggers like this: