RePress dari Idenera.com: Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Berikut adalah tulisan saya terkait laporan hasil rembuk kerja gerakan yang peduli terhadap hubungan antaretnis di Indonesia, terutama terkait kelompok etnis Tionghoa. Selamat menyimak dengan meng-klik source di bawah.

 

Inti dari gerakan ini adalah penguatan jaringan dengan melibatkan institusi-institusi pendidikan, keagamaan, organisasi sosial lainnya demi terciptanya kegiatan-kegiatan di mana terjadi perjumpaan antara kaum Tionghoa dan non-Tionghoa, terutama bagi kaum muda.

Source: Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Advertisements

Berdoa Dalam Gerakan

Cara berdoa yang dideskripsikan dalam tulisan ini terinspirasi dari pelatihan psikodrama yang pernah saya ikuti. Silakan menyimak. Tulisan lainnya terkait psikodrama bisa diikuti di retmono.wordpress.com milik Retmono Adi. Terimakasih.

retmono

Pagi itu aku bangun dengan suatu misi. Ada suatu hal baru yang akan aku lakukan pagi itu. Persiapan mental sudah aku lakukan sebisaku, tapi pelaksanaannya sendiri masih suatu tanda tanya besar. Untungnya aku bisa tidur cukup nyenyak malam sebelumnya. Mungkin karena aku tahu bahwa lancar atau tidaknya kegiatan yang akan lakukan, aku berada dalam kelompok yang akan menerima semua apa adanya, sehingga tidak ada yang perlu dikuatirkan tapi malah sebaiknya dinikmati saja.

Setelah mandi dan rutin pagi lainnya, sayapun keluar dari kamar. Matahari dan kicauan burung langsung menyambut begitu aku membuka pintu kamar. Begitulah keadaan kamar-kamar di Girisonta, suatu tempat retret dan pembimbingan iman dari kaum religius Katolik yang berlokasi sekitar sejam dari Semarang. Sebuah pekarangan besar menyambut tamu saat masuk ke dalam lokasi retret. Pekarangan itu dikelilingi kamar-kamar tidur, ruang makan, ruang pertemuan, kantor dan sekretariat. Pekarangan itu menjadi fokus dari Girisonta. Bagiku sendiri, entah sudah berapa banyak renungan…

View original post 1,216 more words

Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Pelaksanaan (Bagian 2)

Bagian kedua dari pengalaman memberikan pelatihan dengan menggunakan teknik psikodrama. Bila bagian pertama lebih berfokus pada persiapan, tulisan kali ini lebih mengenai pelaksanaannya. Selamat menyimak. Bila ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai psikodrama, silakan membaca tulisan-tulisan yang lainnya di blog retmono.wordpress.com milik Retmono Adi.

retmono


Sedikit demi sedikit, siswa-siswa SMA peserta seminar mulai memasuki ruangan. Beberapa siswa cowok mengintip masuk ke aula dari balik pintu. Saya langsung mengenali salah satu dari mereka, anak dari atasan saya. Sungguh, pencerahan yang satu ini memang bisa dikatakan bukan kebetulan, tapi mestikah ini terjadi? Haruskah anak itu siswa kelas X di sekolah itu? (Doa bertambah kencang)

View original post 1,317 more words

Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Persiapan (Bagian 1)

Ulasan pengalamanku bersama beberapa mahasiswa memberikan pelatihan kepada siswa-siswi SMA dengan menggunakan teknik psikodrama.

retmono

Waktu menunjukkan jam 8 kurang. Masih agak terlalu pagi, tapi beberapa mahasiswa dari tim fasilitator sudah mulai hadir di tempat pelaksanaan. Saya sendiri datang sekitar jam 8 lebih sedikit. Begitu sampai di aula sekolah tempat pelaksanaan, saya melihat para mahasiswa fasilitator bergerombol di belakang, lengkap dengan jaket almamater mereka. Tidak ada yang duduk tenang di kursi. Semuanya berdiri, bercakap, bersenda gurau, atau hanya berjalan-jalan di ruangan. Kuteliti wajah-wajah mereka dan kutanyakan keadaan dan perasaan mereka. “Baik,” jawab mereka serentak, tapi beberapa menjawab dengan senyum tertahan atau tanpa senyum. Aku cuma bisa membayangkan apa yang berkecamuk dalam pikiran dan perasaan mereka. Mereka kukumpulkan dan kuajak berdoa bersama. Suaraku bertanding dengan suara musik yang sudah mulai dinyalakan, pertanda tidak lama lagi acara akan dimulai. Setelah berdoa, salah satu mahasiswa memimpin dengan yel-yel ringan sambil menyatukan tangan kami semua di tengah, dan akhirnya kami pun siap. Aku yakin tidak ada satupun dari kami…

View original post 1,141 more words

Adalah Seorang Perempuan

Adalah seorang perempuan muda, seseorang yang berani dalam menghadapi hidup. Sebagai seorang perempuan muda yang berasal dari luar pulau, bisa saja caranya menerjang tantangan hidup tanpa ragu ini adalah caranya untuk bisa terus bertahan. Ia juga berani berbicara. Malah mungkin kadang susah untuk dihentikan saat ingin berbicara. Pembawaannya serius, agak sedikit berkesan keras dan tomboy-ish tapi juga lembut, suatu kombinasi yang indah menurutku. Anak muda yang pintar, punya kesukaan untuk membaca buku. Buku-buku seperti dilahap habis secara cepat olehnya. Buku menjadi bantal tidurnya, menjadi pendamping hampir kemanapun ia pergi. Sebagai anak sulung, mungkin satu-satunya anak perempuan, pembawaan yang tegas dan mandiri sangat membantunya dalam hidup merantau, jauh dari keluarga inti. Hampir tak ada yang bisa menghalangi langkah anak muda satu ini, sang srikandi pembawa perubahan, si aktivis muda yang berani dan lincah. Pasti banyak srikandi muda lainnya yang semodel dengan yang satu ini, tapi entah mengapa, dia menarik perhatianku. Hanya doa dan harapan yang bisa aku panjatkan buatnya karena dengan potensi yang seperti itu, dunia terbuka lebar buatnya. Ia tinggal memilih ingin berkarya di mana.

Adalah seorang perempuan yang masih muda, tapi dewasa dan matang dalam usia dan kepribadian. Wataknya keras, namun bisa sangat lembut dan hati-hati dalam bertutur kata. Ia berani berbicara, malah bisa dikatakan tipe yang tidak akan tinggal diam bila melihat suatu ketidakadilan terjadi di depannya. Semakin didesak, maka akan semakin terlihat keras kepalanya. Namun satu hal yang pasti, apapun yang ia lakukan, diawali dengan niat yang baik. Pukulan demi pukulan ia alami dalam hidup dan dunia pekerjaannya. Pengorbanan untuk melepaskan apa yang ia impikan untuk masa depannya dengan berat hati ia lakukan, demi orang-orang yang ia cintai. Pengorbanan itu sempat membuatnya terjatuh sebentar, tapi karena rasa tanggung jawab yang sangat besar, ia akhirnya bangkit lagi dan melangkah terus. Banyak kekecewaan, tapi banyak pula hal yang patut disyukuri. Wanita yang satu ini memang tahan banting. Pantang menyerah dalam struggle-nya mengatasi demand dalam dunia kehidupan sehari-hari adalah ciri khasnya. Dan disitulah juga letak keindahan wanita ini. Hidup yang penuh tantangan ia jalani terus dengan senyum di wajahnya.

Adalah seorang perempuan muda lagi, mungkin yang paling muda dalam kelompok cerita ini. Pembawaannya ceria, banyak berceloteh, seakan hidup itu ringan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa langkah-langkah itu ternyata membawa beban yang cukup berat baginya. Masa lalu diwarnai dengan banyak kekecewaan, pernah menjadi korban perisakan pula. Hidup baginya selama ini berfokus pada pencarian. Apa yang dicarinya? Tidak lain adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis setiap manusia, yaitu diterima, diinginkan, menjadi bagian dari suatu kelompok. Proses pencarian dan penerimaan sosial itu terus menghantarnya pada hempasan yang berulang-ulang, sehingga yang namanya jatuh bangun pun menjadi suatu normalitas. Setiap kali jatuh, gadis muda ini tidak pernah punya pegangan untuk membantunya mencerna apa yang telah terjadi dan bagaimana harus memperbaiki. Dengan berjalannya waktu, yang terbentuk adalah suatu kepribadian yang selalu menoleh ke dalam dan menyalahkan diri sendiri setiap mengalami kegagalan karena tingginya kebutuhan untuk diterima. Ia semakin sering dipersepsikan sebagai “aneh” walaupun aku lebih memilih kata “unik”; apapun namanya, persahabatan menjadi sulit bagi gadis muda ini. Barulah pada masa perkuliahan, ia berhasil menemukan sedikit demi sedikit dukungan untuk beradaptasi dan mengenali lebih dalam lagi dirinya sendiri. Perjalanan ke depan memang tidak otomatis menjadi mudah dan gadis muda inipun masih sering jatuh bangun, salah langkah, kadang masih menerka-nerka apakah jalan di depannya sudah benar. Akan tetapi, satu hal yang pasti, ia tidak pernah satu kalipun menyerah.

Adalah seorang perempuan yang sudah dewasa dalam usia dan kepribadian, sekitar usia dewasa madya. Mungkin aku perlu memanggilnya ibu. Ibu yang satu ini sebenarnya secara diam-diam adalah role model-ku. Ibu ini memegang peran yang sangat penting dalam pekerjaannya, pintar, berpendidikan tinggi, dan seorang pemimipin. Tekanan dari pekerjaan dalam sekitar 6 bulan terakhir ini bisa dikatakan sangat sangat tinggi. Saya memang tidak melihat Ibu ini bergulat menghadapi semua itu setiap hari, tapi barusan ini kami sempat bertemu dan bercakap-cakap. Tanpa kami sadari kami duduk bersama saling mendengarjan selama berjam-jam. Waktu sepertinya melayang begitu saja dalam percakapan kami. Kuperhatikan sahabatku yang luar biasa kuat dan tegar ini (walaupun dia mungkin tidak akan menyetujui bahwa dirinya tegar karena kerendahan hatinya) mengeluarkan isi hatinya dan aku tidak bisa membayangkan bila aku berada dalam posisinya. Trenyuh melihat dan mendengarkan kisahnya. Tapi sama seperti srikandi-srikandi yang sebelumnya, yang namanya ‘menyerah’ tidak ada dalam pikirannya. Sebaliknya, yang dia pikirkan hanyalah tanggung jawabnya sebagai seorang pemimipin dan orang-orang yang percaya dan bergantung padanya. Didorong oleh pemaknaan itu, ia berusaha sekuat tenaga mengalahkan semua pemikiran-pemikiran negatif yang menghampirinya, dibantu juga oleh iman yang kuat. Walaupun ada hari-hari tertentu yang lebih sulit dibanding hari yang lain, tapi Ibu ini terus melangkah keluar rumahnya setiap hari dan melakukan tugasnya. Setiap hari. One day at a time.

Adalah seorang perempuan tua, sudah lanjut usia. Ibu ini seorang ibu rumah tangga, tidak punya titel sarjana dan sejenisnya, tidak punya banyak keahlian selain keahlian seorang ibu rumah tangga. Ia sudah memasuki masa usia yang mestinya sudah perlu banyak istirahat. Akan tetapi, jangan berharap bahwa ia akan beristirahat. Tidak akan dan tidak bisa. Setiap pekerjaan di rumah masih ingin ia lakukan sendiri, walaupun sekitar 3 bulan yang lalu melalui suatu operasi besar. Ibu satu ini masih sibuk mengurusi banyak hal dan aktif di gereja. Ini adalah ibu yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam hidupnya, juga keras kepala, keras dalam pembawaan, tegar, dan berani, tapi sederhana dalam sepak terjangnya melakukan tugas. Tidak banyak yang bisa di-highlight dari ibu ini dalam hal keunikannya dibanding dengan perempuan-perempuan sebelumnya. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa saja. Tapi mungkin di situlah letak keindahannya. Dari suatu ketidakadaan, dari titik nol, dia bisa membuat suatu keberadaan yang patut disyukuri.

Cerita-cerita yang sangat singkat ini memang samar-samar, tidak lengkap, tidak jelas, karena wujud tokohnya tak bernama. Memang itulah tujuan penulisan ini. Mereka semua adalah wanita-wanita biasa, berdasarkan kisah nyata, tapi tak perlu bernama. Tua atau muda, ibu rumah tangga atau pekerja kantor, berpendidikan tinggi atau rendah, kaya atau miskin, tak peduli agama atau etnis mereka apa; siapapun mereka, mereka adalah orang-orang berharga, yang bergulat dengan seluk-beluk dan naik-turunnya jalan kehidupan setiap hari. Mereka adalah pahlawan, role-model dan sumber inspirasi yang bisa kita panuti. Mereka adalah buku berjalan, human books, penuh dengan cerita. Apakah kita sudah SIAP untuk mendengarkan cerita mereka?

Mereka adalah kartini-kartiniku.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2018

Hasil Refleksi Pribadi dari Bedah Buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”

Kita tidak pernah tahu pintu apa yang akan kita temui dalam hidup. Dan saat pintu itu kita buka, pemandangan seperti apa yang akan kita temui. Tuhan telah menakdirkanku untuk bertemu dengan salah satu dari sekian banyaknya pintu dalam hidupku belum lama ini.

Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia. Powerful title!

Saya masih ingat waktu pertama kali diajak untuk menjadi pembedah buku itu. Acaranya diadakan di universitas sendiri, jadi kenapa tidak? Sebelum ditawarkan kesempatan itu oleh rekan saya, Pak Adven Sarbani yang juga salah satu dari 70 lebih penulis di buku itu, saya memang sudah sempat melihat postingan-postingan mengenai acara bedah buku lainnya untuk buku yang sama di universitas lain dan tergelitik untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai buku dengan judulnya yang sudah menggugah hati. Tanpa menunggu lama, saya langsung mengiyakan tawaran itu. Sekalian pikirku ini kesempatan emas untuk bertemu dengan beberapa teman lama dan sahabat baru yang se-passion dengan tema-tema terkait keberagaman, kebhinnekaan, dan lintas agama/lintas etnis.

Waktu persiapan untuk membaca buku berhalaman sekitar 300an itu cuma dua minggu. Mencari kesempatan untuk membaca selama dua minggu penuh di sela-sela kesibukan kerja ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan buku itu. Akan tetapi, apa yang telah aku baca sudah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhiku.

Beberapa tema berhasil saya tangkap dan coba untuk dalami, seperti tema penderitaan, kemarahan, kekecewaan, ketidakadilan, diskriminasi, ketakutan, kecurigaan, kewaspadaan. Pendek cerita, tema kepahitan hidup. Tapi banyak juga tema positif seperti forgiveness, bangkit dari penderitaan, perjumpaan yang mengubah cara berpikir menjadi lebih positif, dan toleransi.

Ada satu cerita yang sempat membuatku kaget dan jantung berdebar-debar. Di situ sang penulis menjelaskan pengalaman pahit yang dialami keluarganya di kota kelahirannya yang sama dengan kota kelahiranku. Kejutan itu tidak berhenti di situ. Penulis kemudian mengatakan nama daerah tempat tinggalnya dan bagaimana tempat itu memang terkenal sebagai daerah rawan penghasil preman dan pembuat onar di kota itu. Saya rasa tidak perlu untuk saya jelaskan lagi mengapa daerah yang dituliskan itu sangat signifikan buatku dan membuat jantungku langsung berdebar kencang.

Intinya adalah saya merasa buku itu sedang berbicara denganku. Saat itu saya menyadari bahwa saya juga punya cerita, dan ceritaku perlu dikeluarkan. Ceritaku butuh pembaca, pendengar, witness. Ceritaku punya kekuatan yang bisa aku bagikan dan semoga bisa menyentuh nurani kaum yang masih dingin hatinya.

Cerita itu sebenarnya sudah pernah aku ceritakan kepada beberapa teman dekat. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat cerita dikeluarkan secara lisan dibandingkan dalam bentuk tulisan. Terjadi pendalaman yang lebih membekas lagi saat diresapkan dalam bentuk tulisan. Janji sudah aku berikan kepada editor buku, Gus Aan Anshori, untuk menyetorkan tulisan itu suatu saat di kemudian hari dan janji perlu ditepati.

Pada hari bedah buku dijadwalkan di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, sekitar 200 orang lebih menghadiri; angka akhir malah sudah mendekati 300. Angka itu cukup memenuhi harapan awal kami sehingga dari sudut pandang jumlah peserta bisa dikatakan acaranya berhasil. Akan tetapi, berhasilkah pesan-pesan kami diterima oleh khalayak ramai di ruangan itu?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti, tapi dengan harapan yang tinggi saya yakin pesan kami mengena pada audience. Saya bisa merasakan kehadiranNya dalam perasaan dan pikiran yang berkecamuk di ruangan itu, terlihat dari lontaran komentar dan pertanyaan dari peserta. Dan saya hanya bisa terus berharap bahwa paling tidak ada dari peserta yang tersentuh dan mau meneruskan pesan-pesan kami.

Saya hanya menuliskan di sini reaksi saya pribadi. Terus terang sampai pada saat acara dimulai, saya tidak mengetahui secara pasti bagian mana dari buku itu yang mau saya tanyakan atau fokuskan dan yang sesuai dengan bidangku. Memang ada bayangan apa yang mau dikatakan, tapi juga ada sedikit perasaan overwhelm. Saya merasa agak bingung sebenarnya. Ironis menurutku karena saya tahu saya juga punya banyak pengalaman pribadi yang bisa saya kaitkan dengan apa yang saya baca. Terlalu banyak malah! Dan mungkin di situlah letak jawaban mengapa saya merasa agak bingung dan tersesat, tak tahu pasti perlu mengatakan apa.

Setelah berkesempatan untuk merenungkannya lagi selama beberapa hari sesudah acara selesai, saya menyadari bahwa saya bukannya tidak tahu mau ngomong apa, tapi tidak tahu mau MULAI dari mana! Mau fokus ke kebingungan identitasku sendiri selama ini yang sering sampai membuatku merasa tersesat dan tidak merasa belong ke kelompok manapun sepanjang perjalanan hidupku? Atau mengenai keinginanku untuk selalu ingin diterima atau menjadi bagian dari suatu kelompok? Bagaimana penerimaan itu sangat penting bagiku? Dan struggle ini masih terasa sampai sekarang! Secara tidak sadar kebingungan identitasku yang sering tidak tahu pasti saya ini orang Indonesiakah, orang Manadokah, orang Makassarkah, atau orang Tionghoakah, telah menghantui perjalanan hidupku dan caraku membuat keputusan. Dan ini apalagi benar-benar saya rasakan waktu tinggal selama 21 tahun di AS di mana embel-embel identitas minoritas ditambah lagi dengan kata “imigran” dan “ras Asia”. Nah loh, tambah bingung toh?

Sewaktu bagianku berbicara di bedah buku itu, saya mencoba menerjemahkan apa yang bergumul di benakku yang terasa sangat penuh waktu itu. Saya berusaha mengeluarkannya dengan sangat hati-hati dan memilih-milih karena hanya Tuhan yang tahu betapa banyak sebenarnya yang mau keluar tapi tertahan. Kenapa saya tahan? Karena bukan tempatnya. Saya sudah melihat banyak dari pengalaman orang lain dan merasakan sendiri diperlakukan berbeda dan tidak adil karena warna kulit, kesipitan mata, warna rambut, bentuk hidung, tinggi badan, paspor, status kewarganegaraan, dan yang paling utama dan dominan…logat. Kalau saya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 1,000 saja untuk setiap pertanyaan, “Mbak/Ibu/Cici/Cece asalnya dari mana?” yang dilontarkan orang-orang sesudah saya mengeluarkan sepatah dua patah kata, itu sendiri sudah bisa menjadi penghasilan rutinku. Aku sudah bisa ngumpulin uang untuk pergi berlibur, tahu?!

Jadi yah, begitulah yang terjadi di bedah buku itu. Terus terang saya merasa belum memberikan yang sepenuhnya. Masih menahan diri waktu itu karena memang saya belum siap. Hal yang pasti bisa saya katakan, buku itu sudah membuka suatu pintu. Dan kadang ada pintu tertentu yang begitu ditemukan dan dibuka, susah untuk ditutup rapat kembali. Namanya juga pintu, yah fungsinya memang untuk dibuka tutup sesuai kebutuhan, bukan?

Kesimpulan dari hasil refleksiku, masih banyak ternyata dari diriku sendiri yang belum tereksplorasi. Pintu itu masih menunggu keberanianku untuk masuk ke sana.

Liburan Itu Ibarat Es Krim

madeline-tallman-44555.jpg

Image was taken by Madeline Tallman, from unsplash.com

Liburan itu ibarat es krim. Pasti pernah kan makan es krim?

Ada seorang anak muda yang mengatakan es krim itu tidak bisa bertahan lama, harus segera dimakan karena meleleh dengan cepat. Penafsiran yang sepertinya lebih mengarah ke pemahaman es krim sebagai suatu objek yang harus segera dikonsumsi. Ada sedikit unsur keimpulsifan dalam penafsiran itu, bahwa es krim harus segera dimakan. Maklum yang mengatakan itu juga masih seorang muda. Hidup bagi kaum muda memang cenderung lebih mengarah ke memakai, mengonsumsi apa yang ada di hadapannya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu karena cukup sesuai dengan kebutuhan perkembangan yang masih berpusat pada mencari sesuatu (looking for something). Sesuatu yang dimaksud itu bisa mengenai masa depan, kesuksesan, nilai yang bagus, teman “spesial”, atau bahkan, jati diri.

Penafsiran itu berbeda dengan apa yang sebelumnya sudah sempat terpikirkan olehku saat dalam perjalanan pulang dari kerja. Benak penuh dengan pemikiran bagaimana menghabiskan liburan ini seproduktif dan seefektif mungkin dan mampu merasa puas di finish line seminggu kemudian saat liburan berakhir.

Kebalikan dari penafsiran di atas mengenai es krim, saya malah bertanya trick apa yang bisa saya pakai untuk menikmati es krim itu sepelan mungkin supaya bisa merasa puas sesudah selesai. Saya yakin banyak orang akan setuju bahawa es krim itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Akan tetapi, ironisnya, semua kenikmatan hanya bersifat sementara. Semua kenikmatan pasti akan berakhir. Dan, kalau kita tidak belajar untuk menikmati kenikmatan dan keindahan itu, maka dalam sekejap, kenikmatan dan keindahan akan berakhir tanpa sempat meninggalkan bekas yang mendalam, tanpa sempat memberikan kepuasan.

Tapi es krim memang akan cepat meleleh. Pertanyaannya, dengan demikian, bagaimana caranya untuk makan es krim tanpa berlama-lama dan tetap merasa puas di bagian akhir?

Selama seminggu terakhir ini, saya beruntung sekali bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan beberapa relawan sosial di suatu daerah di kota Surabaya. Kami saling berbagi cerita mengenai banyak hal. Cerita dari mereka kebanyakan mengenai kasus-kasus yang harus ditangani, keadaan penuh stres yang sering berada di luar  kemampuan mereka untuk mengontrol hasil akhir keadaan itu. Saya kemudian menawarkan kepada mereka pengertian mengenai mindfulness. Konsep ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk berada pada “here and now“. Artinya kurang lebih mengenai kemampuan kita untuk benar-benar menyadari keberadaan kita di mana pun kita berada, dan menghargai saat itu, mensyukuri apa yang dimiliki pada saat itu. Untuk mencapai itu, konsep mindfulness mengajarkan pentingnya “letting go” atau melepaskan. Apa yang dilepaskan? Semuanya, sehingga yang tersisa hanyalah diri kita sendiri dan keberadaan kita sekarang.  Hal-hal duniawi lainnya, yang di luar jangkauan kontrol kita, mengenai orang lain, semuanya kita lepaskan. Sebagai gantinya, kita berfokus ke dalam diri kita sendiri, berfokus pada pemikiran kita, pada pernapasan kita, pada apa yang sedang kita lakukan. Kalau sedang meditasi, kita berfokus ke pernapasan dan apa yang panca indera kita rasakan saat bermeditasi. Bila sedang berjalan, kita berfokus pada apa yang ditangkap oleh panca indera kita dan pijakan di bawah telapak kaki, rumput, pasir atau tanah, angin yang berdesir sepoi-sepoi meniup rambut dan daun telinga kita. Dan bila sedang makan, kita berfokus pada makanan yang masuk ke mulut, rasanya seperti apa, sadari proses seperti apa yang makanan itu sudah lalui untuk akhirnya sampai ke mulut kita, tangan dan keringat siapa yang telah membantu untuk akhirnya kita bisa makan makanan itu, dan menyukuri semua karunia itu.

Being mindful therefore, is to be aware.

Untuk menjadi mindful, kita harus lebih menyadari, peka, dan terbuka terhadap sekeliling kita. Meditasi, berjalan, makan hanyalah beberapa contoh saja bagaimana manusia bisa mengaplikasikan konsep mindfulness dalam hidup sehari-hari. Mindfulness membantu berkembangnya kesadaran diri dan kepekaan terhadap sekitar.

Kembali lagi ke topik es krim, memang es krim butuh dimakan dengan cepat. Kita tidak bisa berlama-lama memakan es krim, tidak seperti meminum segelas wine, atau secangkir kopi, yang memang sebaiknya dilakukan sambil berbincang-bincang dengan orang lain. Sebenarnya tidak sulit untuk bisa menikmati es krim dan merasakan kepuasan sesudahnya. Tidak sulit juga untuk menghindari kecenderungan untuk kemudian merasa bersalah karena telah memakan makanan yang dikategorisasikan kurang sehat bagi tubuh, atau junk food. Mindfulness bisa dilakukan dengan memikirkan jerih-payah dan upaya orang-orang yang sudah terlibat dalam pembuatan es krim itu — mulai dari pemerahan susu dari sapi, pengolahan susu sapi, pembuatan kemasan yang siap untuk dipasarkan, pembuatan branding, pemasaran, pemesanan, pengantaran produk, dan seterusnya. Bisa juga dengan berfokus pada nikmatnya rasa es krim di lidah, sensasi dingin dan manis yang dirasakan, atau mungkin sempat terasakan tekstur dan rasa lain yang mungkin tidak pernah tertangkap sebelumnya karena kita terlalu terburu-buru untuk menghabiskan. Misalnya, ada rasa sedikit asin (dan memang es krim sebenarnya ada sedikit rasa asinnya karena membutuhkan garam untuk pembuatannya). Kadang kita bisa merasakan lebih dari satu rasa karena diberi buah atau kacang. Sudah pernahkah anda memakan es krim dan benar-benar meresapi semua rasa yang memungkinkan untuk dirasakan? Itulah salah satu contoh mindfulness. Hasil dari proses itu jauh lebih memuaskan dibandingkan makan secara terburu-buru. Hasil dari proses mindfulness itu juga memungkinkan kita untuk mengurangi makanan karena sebenarnya bukan kuantitas yang berujung ke kepuasan, tapi kualitas.

Lalu mengapa kita berfokus pada es krim, padahal judul artikel mengatakan liburan? Semoga dengan membawa anda dalam esai dengan judul yang agak mengecohkan ini tidak menjadi suatu “torture” untuk pikiran anda sehingga membuat anda akhirnya secara tidak sadar (atau sadar) berjalan ke arah kulkas, membuka dengan harapan akan melihat secuil something yang dapat memuaskan tenggorokan sejenak. Tidak, bukan itu tujuan saya, tapi mohon maaf bila itu yang terjadi.

Saya ingin mencamkan bahwa liburan itu memang ibarat es krim! Bila ingin merasa puas di akhir liburan, kita harus benar-benar meresapinya, menjalaninya secara penuh kesadaran, bersyukur, memanfaatkannya seefektif mungkin. Dan ini kita lakukan tidak secara terburu-buru.

Kita juga harus BERHATI-HATI terhadap fenomena liburan, apalagi liburan panjang. Sama seperti es krim yang mempunyai konsekuensi yang harus dibayar sesudah memakannya (baca: penambahan lemak di tubuh), liburan juga mempunyai konsekuensi unik. Ada tumpukan pekerjaan yang menunggu di awal reuni bersua kembali dengan kantor, pekerjaan yang hanya tertunda sebentar. Namun percayalah, kesetiaannya untuk menunggu kita kembali sudah tak teragukan.

*****

Topik tulisan di atas sebenarnya adalah sebuah topik yang pernah saya tulis setahun yang lalu menjelang libur panjang di akhir tahun. Hasil karya tulisan di atas ini adalah sebuah penulisan ulang yang telah saya revisi di beberapa tempat. Selamat menikmati.

Dan juga, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan. Mari kita selalu menjaga kerukunan antarkepercayaan yang berbeda-beda di tanah air tercinta Indonesia ini. Semoga hari raya ini bisa dirayakan oleh umatnya di seluruh dunia dalam kebersamaan yang ditandai oleh rasa damai dan cinta kasih di dalam hati.

gambar ketupat kartu ucapan lebaran idul fitri 2015.png

 

Order Does Exist within Chaos

Chaos, messy, isn’t that part of life? Who never experienced chaos before?

Well, I am in the middle of a change right now, trying to send chaos away, packing it in a suit case, and hopefully chaos never returns again. But perhaps chaos may come back in a different form in the future. Who knows. But at this moment, I’m ready to send one away.

Days that I hope will be more in an order will start in a month. A life with a full time teaching position will soon be in the past for me. Still teaching, but possibly in a different form, and definitely not full time. I’m not too worried about how I’m going to adjust, although I’m starting to feel the emotional aspect of going through another phase of change and adaptation. Life is about learning and learning is a life-long process. And therefore, I would think the same goes with teaching. I can still teach, but in a different way. Teaching is a form of sharing, and so no doubt, I can still do it one way or another.

But for now, I am ready to let go one type of chaos out of my life.

 

PhotoGrid_1496931772820

 

A view like this in my house always marks the ending of a semester. Each stack is from a class, so there is a total of 5 classes. All I can chant now, “I’m ready to let you go.”

 

PhotoGrid_1496924266415

 

The stack of chaos shown above occupies another desk. This time it is at my desk in the office. Same meaning with the previous stacks, it only means the end of a semester. “I’m ready to let go of you, chaos,” I said convincing myself.

Order does exist within chaos.

PhotoGrid_1496931833967

And this … this one, I swear to you, there is an order in the seemingly chaos depicted here. Imagine this is a stack of stones that are seen in many outdoor pictures. What kind of feeling do those pictures usually attempt to arouse?

Well, hell, there is an inner calmness definitely in that picture too. It’s obvious.

Unfortunately, I can’t claim ownership of the stack of inner calmness, because it’s not my creation. I can only claim ownership of the picture. This inner calmness, by the way, managed to stay strong like this for many days. Order does exist within chaos.

*****

 

Daily Post Weekly Photo Challenge: Order