New Year’s Resolution

It’s the middle of January and I think it’s a perfect time to discuss about new year resolution, don’t you think? Have I started it? Checked! Have I struggled with it? Checked! Have I frustrated myself with it? Double-checked!

I usually don’t have a new year’s resolution. Not the type who follows it, actually. And the times when I did have one, they usually failed. But I think that is typical for a new year’s resolution. This time, I thought of starting one. It may sound simple and short, but it ain’t simple whatsoever, I can tell you that. I’m continuously reminded how difficult the process of doing it, maintaining it, and repeating it.

If I may reflect on the question why it has been difficult, the answer lies on the fact that my resolution involves other people. Even though it actually sounds like something that can be done alone, it doesn’t translate in real life situation as something that can be done alone. To successfully do it, I constantly will need other people. How so you may ask? I need other people by relating to them, making connection with them, reflecting on their response to me, hearing their feedback about me, and so on. And in doing so, I learn what I need to learn in order to accomplish my resolution.

I understand that this is a PROCESS. It needs time, and I may need more than a year to do this. This year just marks the beginning of me making a change in my life. Let’s hope that I can continuously do so. So far, the year 2017 has been going on for about three weeks, and I have been experiencing many ups and downs in relation to the new year resolution. I will continue to stick to it, no matter how painful it can be sometimes. God only knows how much I need to do this. Enough is enough with the past. I need to be better.

My new year’s resolution is short and straight-forward. My new year’s resolution is simple, but not so simple.

It is: To Love My Self Better.

love-myself-by-rudy-fransisco-2

 

Suara Kehidupan

Minggu pagi yang suram, segelap hati. Mendung, kelabu, tanpa ditemani sinar matahari yang biasanya menyapaku nyaring dari jendela kamar. Hanya air hujan yang tak kian berhenti menghantam bumi dengan gusarnya sejak subuh tadi. Hati ini mencari, walau tak yakin apa yang sedang dicari sebenarnya. Hanya mencari dan mencari saja yang akhirnya tidak membantu menyelesaikan rasa gelisah. Akhirnya aku memilih untuk duduk di depan laptop, menutup mata sejenak, dan mencoba meditasi.

Yah, meditasi. Sudah lama tidak melakukan ini. Hening, mencoba (dengan sangat) melepaskan pikiran-pikiran sampah busuk tadi. Pikiran-pikiran yang menjatuhkan, menyesatkan, menggelisahkan. Aku tidak butuh semua itu.

Anehnya, suasana sekelilingku bukanlah suasana yang kondusif untuk melakukan meditasi. Hari Minggu adalah hari untuk bersama keluarga. Tidak salah kan kalau aku berpendapat seperti itu? Mungkin aku saja yang tidak mengikuti tradisi itu karena situasiku, tapi tidak berarti orang lain tidak berhak melakukannya. Buktinya, tetangga belakang rumah sedari tadi sudah ribut dengan pekerjaan rumah tangga dan senda gurau mereka. Ada suara air berputar di dalam mesin cuci yang bertanding dengan suara guyuran air hujan. Ada suara anak kecil berteriak, mencari mamanya, diikuti dengan suara nyanyian dari…mungkin kakak perempuannya? Lagunya aku kenal..sering dengar di radio, cuma tak tahu judul dan penyanyinya. Oh, dan ada suara burung berkicau juga, walaupun hanya dari dalam sangkar.

Ada suara seseorang yang sedang memasak, gemerincing suara piring beradu dengan sendok, kaki kursi terseret di atas lantai, dan sekali lagi…teriakan girang seorang anak.

Semua suara itu kurekam di benakku, membawa senyum di pagi hari. Senyumku adalah senyum bahagia. Tak tahu kenapa. Senyum itu mestinya getir, bila aku ikuti suasana hatiku. Kali ini, tanpa aku sadari dari mana datangnya, aku merasakan ada suatu rasa keindahan saat aku benar-benar meresapi semua suara itu. Indah karena…itu adalah suara kehidupan. Suara harapan.

Walaupun kadang hidupku hening, tanpa suara, tidak berarti aku tidak mencari suara. Suara-suara itu hadir, tidak tanpa sebab. Kuteguk habis semuanya dengan lahap, karena tak tahu kapan lagi semua ini akan datang menemaniku. Kunikmati apa adanya semua yang akhirnya menginspirasi tulisan ini. Tidak rumit sebenarnya kalau ditelusuri lagi dari awal. Semuanya berawal dari suatu kegelisahan, tertuang dalam meditasi, terwujudkan dalam karya. Apa lagi yang harus kukeluhkan? Membuatku bertanya, adakah yang mengatur semua ini?

Sebentar, konsentrasi menulis lagi terusik. Intermission sejenak. Yang tadinya suara teriakan…sekarang beralih ke tangis. Suara tangisan si anak sepertinya mendorong suara si ibu yang memanggil si anak, mencoba menghibur. Kemudian ada suara lain lagi, suara si kakak menjelaskan mengapa adik menangis…dan seterusnya.

Ah, indahnya musik ciptaanMu, Tuhan. Sungguh, aku bersyukur.

Kurekam semua suara-suara itu, membawa senyum ke bibir, dan tak terasa, ada genangan air di sudut mata.

Terimakasih, Tuhan, aku masih engkau beri kehidupan.

 

combine-wallpapers-pack-16

Someday

39dfd6504a382d65612cb316a4420a6e-d1lbup3
Image is credited to xMegalopolisx, from Deviantart.com

Someday,
She will feel nothing
Emotions will evaporate
No longer a burden on her being

Someday,
She will care for no words
Words will lose its way
No longer have the power to hurt

Someday,
She will shed no more tears
Empty eyes, left to decay
But free from fears

Someday,
Her journey will cease
And she reaches the end
It is then when she discovers peace

It is then when…
she starts…
living

Antara Bayangan Waktu

bayanganmu selalu mengganggu langkah

namun hanya keheningan yang kau bentangkan di hadapanku

tak ada ruang untuk menyanggah

suaraku hilang ditelan lengang isi hatimu

 

deru angin menyentak senyapnya angan

bawa pesan bagi sang empunya hati

berbisik, sudah waktunya pulang

lepaskan pelukanmu terhadap sepi

 

kadang harapan harus terenggut sampai ke akar

untuk berikan ruang bagi penggantinya

wahai hati yang rapuh

tumbuhlah bebas dan indah

 

 

 

The Night Dance

She asked me once,

Have you ever met emptiness? Did you talk to it? What does it look like? How does it make you feel?
Have you ever looked at loneliness in the eyes? Stared through those eyes? What do you see behind them?
Have you ever cried so hard ’til your chest hurts, but at the same time,
You knew there’s no point in crying?

Why so, I asked back,
And she answered,

Because the world is not curious about you
Why should the world bother?
Only loneliness listens
In a devoted way
And quietly

Then she turns and walks away,

…..

So life continues
Night then turns to dawn
And soon, comes the night again
Over time, she learns the steps by heart
And she dances her part humbly so, with grace

Kerentanan: Suatu Opini

Tulisan ini adalah reaksi yang aku rasakan sesudah melihat video Brene Brown mengenai topik vulnerability, atau dalam bahasa Indonesianya adalah vulnerabilitas atau kerentanan. Essay ini sebenarnya sudah aku tuliskan sebelumnya dalam bahasa Inggris, tapi ada keinginan untuk kembali ke tulisan ini karena sekitar sebulan yang lalu, aku bertemu lagi dengan kata vulnerability dalam suatu lokakarya mengenai kepemimpinan. Pemimpin lokakarya saat itu membahas mengenai konsep vulnerability dan menjelaskan definisi vulnerability sebagai suatu keterbukaan, suatu keadaan di mana kita mau membuka diri dan menerima suatu perubahan. Pada saat mendengarkan itu, reaksi pertamaku adalah kurang setuju karena pemahamanku sebelumnya mengatakan bahwa vulnerability atau kerentanan itu memiliki konotasi yang agak negatif. Tapi pada saat lokakarya itu aku dipertemukan dengan pengertian baru mengenai kerentanan, bahwa rentan sebenarnya bisa memiliki arti positif. Keinginan untuk memahami lebih dalam lagi mengenai kerentanan membuatku kembali ke essay ini, tapi kali ini aku mengolahnya dalam bahasa Indonesia dan menerjemahkan ulang ke dalam bahasa Indonesia dengan disertai beberapa tambahan penjelasan baru. Tapi sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai kerentanan, aku ingin memberikan link untuk video dari Brene Brown. Mohon maaf sebelumnya kalau saya tidak memiliki versi bahasa Indonesia untuk video ini. Selamat menyimak dan membaca.

Transkrip dari video bisa dibaca di link di bawah ini untuk membantu saat mendengarkan.

 

“Mengapa kita manusia terus bergulat dengan yang namanya vulnerabilitas (vulnerability) atau kerentanan?” Itu adalah pertanyaan pertama yang dikatakan oleh Brene Brown. Ya, mengapa demikian? Aku pun melakukannya, meskipun hal-hal yang membuatku rentan mungkin berbeda dengan yang dialami orang lain. Seperti yang Brene Brown katakan dalam videonya, “Perasaan rentan atau vulnerabilitas adalah dasar dari rasa malu, ketakutan dan pergumulan kita untuk merasakan layak untuk diterima oleh orang lain…” Begitu banyak konsep dan terminologi yang kita dengarkan dalam video itu yang menurutku sangat membingungkan pada awalnya. Membingungkan tetapi masih masuk akal, sehingga memang butuh waktu untuk mencerna apa yang dibahas oleh Brene Brown dalam presentasinya.

Jika aku mencoba untuk meringkas isi video berdasarkan pemahamanku, kira-kira beginilah intinya.

Menarik menurutku bahwa Brene Brown mengawali pembahasannya dengan konsep kelayakan (worthiness). Kelayakan yang dimaksud oleh Brown dalam hal ini adalah kelayakan akan dua hal, yaitu kelayakan untuk diterima dan kelayakan untuk dicintai. Mereka yang merasa diterima dalam suatu kelompok – baik itu dalam keluarga atau melalui kerja/organisasi – dan mereka yang mampu mengalami yang namanya mencintai orang lain adalah orang-orang yang pada dasarnya berpikir bahwa mereka memang LAYAK untuk diterima dan dicintai. Jika mereka merasa tidak layak akan kedua hal tersebut (diterima dan dicintai), maka bisa saja timbul pergulatan dalam diri. Mereka mungkin mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, kesulitan untuk menjadi autentik atau menjadi diri mereka sendiri yang sebenarnya; dan dengan demikian, mereka juga menjadi sulit untuk merasakan yang namanya kerentanan. Karena untuk bisa berhubungan dengan orang lain, untuk mencintai, untuk dicintai kembali, dan diterima oleh orang lain, orang itu harus berani merasakan vulnerable atau rentan. Rentan untuk apa? Untuk merasakan yang namanya rasa sakit, kepahitan, kekecewaan, dan luka dalam hubungan/relasi dengan orang lain. Itu adalah salah satu isi dari materi yang diberikan oleh Brene Brown.

Kelayakan (worthiness) berarti adalah dasar dari kemampuan seseorang untuk merasa ia bisa diterima dan dicintai oleh orang lain. Dengan demikian, bagiku kelayakan untuk mencintai dan menjadi bagian dari suatu kelompok adalah suatu bentuk hak. Semua manusia berarti berhak untuk mengalaminya. Kebutuhan untuk dicintai yang berdampak kemudian pada kemampuan kita untuk juga bisa mencintai orang lain, dan kebutuhan untuk diterima dalam suatu kelompok yang berdampak pada kemampuan kita untuk merasakan kita memiliki suatu kelompok (belonging), suatu identitas, adalah dua kebutuhan yang sangat penting bagi setiap manusia untuk bisa bertahan hidup. Manusia adalah makhluk sosial. Kita lahir dengan kebutuhan sosial. Tujuan setiap bayi untuk menangis saat baru lahir pun menunjukkan arti lahiriah dari kebutuhan sosial kita, yaitu untuk diperhatikan, untuk dibantu. Manusia selalu membutuhkan orang lain, makhluk hidup lain. Kita tidak bisa hidup sendirian dalam jangka waktu yang panjang. Suatu saat kita pasti membutuhkan orang lain.

Akan tetapi, tidak semua orang mendapatkan kedua hal di atas. Banyak orang yang dalam hidupnya kurang mendapatkan kasih sayang, tidak mengalami yang namanya dicintai, sehingga kurang mampu juga mencintai orang lain atau menunjukkan rasa cinta pada makhluk hidup lain yang memberikan rasa aman dan stabil. Mereka juga mungkin akhirnya kurang mampu diterima di suatu kelompok atau kurang mampu menempatkan diri secara tepat di suatu kelompok. Dengan kata lain, mereka mungkin belum merasakan yang namanya memiliki suatu rasa belonging atau perasaan yang dirasakan saat menjadi bagian dari suatu kelompok. Kalaupun mereka akhirnya merasa menjadi bagian dari suatu kelompok, perlu diperhatikan apakah kelompok itu mampu memberikan pengaruh yang baik dan tepat baginya dan bukannya merusak.

Dengan kata lain, mereka tidak pernah merasakan menjadi bagian dari suatu kelompok yang bisa menerima mereka apa adanya, sehingga mereka bisa saja mengalami kesulitan untuk membangun rasa kelayakan yang dikatakan oleh Brene Brown. Mengapa? Misalnya saja ketika seorang anak merasa bahwa dia dicintai oleh kedua orangtuanya dan dengan demikian merasa bahwa dia adalah milik orangtuanya, dia kemudian dapat mengembangkan pemahaman bahwa dia layak untuk dicintai oleh orangtuanya. Ketika anak berpikir dia layak untuk dicintai, maka dia sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mendapatkan cinta dari orangtuanya. Dengan kata lain, kalau anak itu merasa layak, maka dia bisa menginginkannya, memintanya, dan menyadari bahwa cinta itu tersedia baginya. Terjadi asumsi dalam hubungan yang penuh cinta kasih itu bahwa cinta dan kasih akan miliknya, dan itu memberikan kenyamanan, rasa layak. Tapi bagaimana dia bisa belajar untuk menginginkan, bertanya, meminta cinta itu jika cinta itu tidak pernah diberikan atau ditunjukkan padanya sebelumnya? Masih banyak anak-anak di dunia ini yang lahir dan bertumbuh-kembang tanpa pernah merasakan yang namanya keutuhan rasa dicintai dan diterima, sehingga kekosongan itu ada dalam jiwanya. Kekosongan yang akhirnya membawa pada kerapuhan untuk menolak kerentanan, menolak mencintai, menolak dicintai. Kesimpulannya adalah walaupun kelayakan untuk dicintai dan diterima adalah suatu bentuk hak asasi manusia, tapi hak itu tergolong suatu bentuk hak yang istimewa atau privilege. Dikatakan privilege karena tidak semua orang memiliki akses untuk mendapatkannya, padahal sebenarnya semua orang seharusnya mendapatkannya, sama seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hidup di lingkungan yang aman.

Dengan menyadari semua itu, kita juga perlu jeli dalam menyadari bahwa yang namanya kelayakan untuk dicintai dan diterima itu sebenarnya menjadi suatu bentuk kerentanan dengan sendirinya. Seolah-olah setiap manusia butuh bergantung pada cinta dari orang lain, pada penerimaan dari orang lain, pada hubungan dengan orang lain agar merasa diri kita ini layak untuk dicintai dan diterima. Ini seperti suatu lingkaran. Kelayakan seseorang akan berdampak pada rasa kelayakan orang lain, dan seterusnya. Ini mungkin mengapa kita sebagai makhluk sosial tidak pernah bebas dari konsep kerentanan. Akan selalu ada masalah, situasi, dan orang-orang yang membuat kita rentan. Mengapa? Karena kita mengasihi dan mencintai orang-orang itu dan karena kita menjadi bagian dari kelompok itu. Dan apa yang membuat kita rentan sekarang mungkin tidak sama dengan apa yang membuat kita rentan di masa depan atau di masa lalu. Kita selalu melalui perubahan dalam hidup, bertemu dengan orang baru, bahkan mengalami rasa sakit atau kekecewaan yang bisa membuat kita menjadi rentan. Kerentanan kita tidak pernah lepas dari orang lain. Kerentanan kita memiliki aspek sosial.

Kerentanan menurutku juga adalah suatu proses, yang berarti memiliki bagian awal, tengah dan akhir. Aku rasa apa yang membuat kita merasa rentan tidak selamanya sama sepanjang hidup. Akan ada akhirnya. Kita bisa memilih untuk keluar dari apa yang membuat kita rentan, tapi itu tidak berarti bahwa kita tidak akan pernah menemukan kerentanan yang sama atau yang berbeda di masa depan. Seberapa lama kita akan merasa rentan atau sebagaimana cepat kita mampu keluar dari perasaan rentan tersebut bergantung juga pada seberapa banyak dukungan yang kita terima dari orang lain dalam bentuk – dan di sinilah kita kembali ke awal lingkaran – rasa cinta dan diterima, kedua aspek kelayakan yang dikatakan oleh Brown.

Topik kerentanan ini sangat menarik bila dikupas, tetapi memang kompleks. Apa yang saya bahas di atas hanya sebagian kecil saja dari lebih banyak aspek lagi yang menjadi bagian dari topik kerentanan. Banyak hal-hal lain yang menjadi bagian dari pengulasan kerentanan, seperti misalnya rasa malu dan takut. Aku menyadari setelah menulis esai ini bahwa ketika kita menghadapi momen rentan, apakah itu karena kita berhadapan dengan suatu situasi, bertemu orang-orang baru, atau mengalami perubahan dalam kebutuhan dan prioritas hidup kita, semuanya itu sebenarnya adalah berkat dan karunia. Berkat karena memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan suatu perubahan, untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih baik, selama kita bisa melawan dan mengatasi rasa malu dan takut yang mempengaruhi kita untuk menolak merasakan kerentanan tersebut dari awal. Di bagian akhir videonya, Brown mengatakan hal berikut tentang kerentanan, “… bahwa [kerentanan] sebenarnya merupakan tempat kelahiran sukacita, kreativitas, perasaan diterima dan menjadi bagian dari sesuatu, dan cinta.”

Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang membuat kita merasa rentan? Siapa yang membuat kita rentan? Apa ketakutanmu? Kerapuhan?

 

To Love a Shadow

one day she ask, how to love
a shadow?
why you ask, I say
but she answer none

so then I offer these words,

don’t love a shadow
but find the light
the only one that could pull the shadow out from his cocoon
the one that dances with him, anytime
under the night canopy

don’t love a shadow
but find its master
the one with a face and eyes

stare into those eyes
shine light on them
find what you’re looking for
and if you find it
then you can love the shadow

why the question, I ask again,

because on some days
shadow is the only one I have, said she