Finding Home with Najwa Zebian’s Words

Finding Home Through Poetry by Najwa Zebian.

“The biggest mistake that we make is that we build our homes in other people” ~Najwa Zebian.

This is my story of how words of a stranger can leave a mark on our soul, forever changed us. In this case, her words changed me to become better. I saw Najwa Zebian’s video a while ago on Instagram, and the first time I saw it, her words spoke to me immediately. Ever since I made a vow to write more (and if possible, daily), I knew that I would go back to her words again and blog it. The talk is about finding “home,” but not home as a ‘building’ or a house. It’s about finding our emotional home, a spiritual one.

I had to think hard about the true meaning of “building homes in other people” by connecting them into my own journey. I had to ask myself hard questions,

“Why do I keep on failing in relationship? Where in that relationship when I started to go down the wrong path, made a wrong turn, and then got lost? What were my expectations, and because I kept on failing, were my expectations always wrong then this whole time?”

Home. I keep going back to that word too.

“Have I been building homes in wrong places? If I am not supposed to build it in other people, where should I be building it?”

When I watched that video for the first time, I already knew the answer of where to build it. Mawlana Jawaharlal Rumi put it so well when he said (translated into English): “I searched for God and found only myself. I searched for myself and found only God.” God and I have never been separated throughout my life. I just pushed Him away many many times when I failed to build my home in Him. I should have built my first home there a long time ago. Better late than never reached this point.

Building my home in God is something that I continue to do. In that case, I should probably ask myself whether I am done then? I did, and I thought the answer was yes, but I still found myself still tripping over stones, falling down on my face. If building home in God is enough, then why I still got lost?

I think my work with God will not be enough if I, myself, have not put a lot of thought and effort to harvest the fruit of my faith. In other words, I have to build a home inside of me too —  me as my home —  in order to complete my home. Mind you, this part is the tough one. Several questions came to me, and they are not easy to answer.

  • Can I be comfortable in my own skin, with all of me? Strengths and fragility?

 

  • Can I rely on myself to make me stronger? Be my own cheerleader in times of strain, with God as my support?

 

  • Can I love myself that much? Love me enough so that I can call my “inner self” as home? Love me enough so that I can feel happy and comfortable when I am alone?

 

  • Can I forgive myself, especially after what I’ve done…to him? To them in the past?

 

These are all questions that I have to contemplate, on my own, in my own time, at my own pace. I need not hurry in doing it, just as along as I do it. Thank you, Najwa, for opening my eyes. It’s my task now too find my own way home.

****

Let It Be

“It’s not a matter of letting go — you would if you could. Instead of “Let it go” we should probably say “Let it be.” ~Jon Kabat-Zinn.

What can I write after a 17-hour work day? Yes, you read it right. It’s one of those days. So then I went back into my previous Instagram postings and a quote caught my attention. It’s the quote above, about Let it go and Let it be.

It says basically that let it be is better than let it go. Well, I did both. I tried to do the let-it-be thing. Not working. So I did my best. I let go. And in that process of letting go, I think I learn to let it be.

The difference between let it go and let it be is actually very subtle. My take up on the difference is that to let it go means to have it done, finish, whereas to let it be doesn’t always mean that it is over. At the end of last week, I did a let-it-go. I took a decision to end a relationship. I did it once (or maybe more than once) before, and I regretted it. The relationship has been rocky, gone through many trials, challenges. But this time around, I didn’t regret it. I took it that it was for the best because I had truly completely felt lost, confused, trapped against a wall and could not go anywhere unless I did something drastic. I felt like I was going mad. I had to do something, and because I felt trapped , I could only did the one thing that came to my mind: I forced myself to break free. So I let go. It hurt so much on that day, it hurt the next day, and the day after, and continues.

But as the day goes on, I discover that the pain subsides. I realize that the anger, the blaming, the feeling sorry for my self, are slowly decreasing, getting lighter. It is possible too that my heavy schedule for the past few days are helping because it takes my mind away from my pain. But whatever it is that is helping me, I am thankful. It could also be that discovering yesterday about my friend who is having a difficult time has made me realize of how fortunate I am. I have plenty to be thankful for.

Like I said earlier, I think in the process of letting go, I found the path to let it be. Instead of surrendering to the idea of wanting to go back to the relationship and reaching out to him, I instead tried to let it be. Just let it be. Just let time takes care of it. Let God take control. I learn to leave it to Him. There’s no hurry. In this process of learning, I then remember another quote.

if it comes let it - if it goes let it

Image taken from quotesndnotes.tumblr.com

I don’t know what will happen in the future, but I give up on trying to think about it because it may invite pain to arrive at the door again. And also, because right now, my brain is quite tired. So good night, good day, world. I bid you adieu for now. Until tomorrow.

A Prayer for Healing

Kusut. Tak tahu mau menulis apa, tapi aku ingat tekad yang sudah aku ikrarkan di awal minggu ini, yaitu menulis setiap hari. Maka, kubiarkan jemariku menari sendiri di atas tuts. Aku percaya pikiran akan melok dengan sendirinya.

Sejak siang tadi pikiran sudah kusut. Padahal aku ingat tadi saat bangun pagi terasa lebih ringan. Pertama kalinya dalam minggu ini merasa sedikit lebih enteng. Aku agak kecewa dengan diriku sendiri sebenarnya. Siang tadi mendapatkan kabar mengenai keadaan seorang teman yang ternyata sudah cukup lama sakit. Sakitnya mungkin sudah sebulan lebih, dan aku baru tahu siang tadi. Itupun secara tidak sengaja karena teman kerja yang lain mengatakan sesuatu mengenai teman kerja yang sedang sakit ini. Kami memang tidak bekerja di unit yang sama, dan malah tidak di lokasi yang sama walaupun saya cukup sering mengunjungi lokasinya teman itu. Tapi karena tempatnya berada di sisi gedung yang lain, kami akhirnya memang jarang ketemu. Sewaktu mendengar mengenai keadaannya, baru aku tersadar bahwa sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatnya di lokasi tempat kerjanya. Aku juga baru sadar bahwa di bulan Maret kemarin, tempat kerja kami mengadakan rapat kerja pimpinan dan mestinya dia juga ikut di raker itu. Waktu itu pikirku mungkin dia berhalangan yang bersifat biasa saja. Tidak menyangka bahwa dia mungkin sudah mulai sakit waktu itu.

Sebenarnya, ada alasan mengapa banyak yang tidak tahu-menahu mengenai keadaannya, termasuk aku juga. Berdasarkan sedikitnya informasi yang aku dapatkan, aku menangkap bahwa mungkin temanku ini awalnya sakit di fisiknya, tapi kemudian merambat ke psikisnya. Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti, tapi sepertinya merujuk ke depresi. Depresi itu juga mungkin saja membuat fisiknya bertambah lemah dan penyakitnya bertambah parah.

Tidak banyak yang tahu, termasuk rekan-rekan di unit kantornya. Aku dan rekan di unit kantorku mencoba untuk bertanya kepada beberapa orang di unitnya temanku itu. Hampir semuanya mengatakan tidak tahu. Aku harus bertanya ke salah satu atasan di kantor itu baru bisa mendapatkan sedikit jawaban. Dan aku sungguh kaget. Tidak menyangka kalau temanku ini sedang mengalami depresi yang ikut menggerogoti tubuh dan mentalnya. Ada bagian dari diriku yang menyesal kenapa tidak mengetahui perihal sakitnya lebih awal. Dan untuk  membuat moodku lebih menurun lagi, sorenya aku menerima update bahwa temanku sudah dibawa ke kota asalnya di luar kota yang berada cukup jauh dari kotaku, sehingga kemungkinan untuk menjenguk menjadi sulit. Padahal, aku dan beberapa orang sudah berencana untuk menjenguk di awal minggu depan.

Depresi. Kenapa aku harus dihadapkan dengan kata itu lagi? Kata itu seperti menamparku hari ini. Aku merasa ada sesuatu yang ironis di sini. Kami berdua sedang mengalaminya bersama, tapi tanpa saling mengetahui. Depresinya pastilah lebih parah kalau sampai ia sudah tidak bisa masuk kerja lagi. Bukan cuma tidak bisa masuk kerja, tapi juga menolak masuk kerja. Sudah tidak mampu lagi menghadapi dunia kerjanya. Episode depresiku kali ini aku tahu tidak separah episodeku yang sebelumnya, tapi aku ingat juga momen dalam hidupku di mana aku tidak bisa bekerja selama setahun. Tidak bisa mencari pekerjaan baru juga selama hampir setahun. Benar-benar tidak berkutik dan hanya mengurung diri di rumah. Keluar rumah hanya untuk mencari pertolongan ke terapis, ke gereja dan sekali-sekali ke supermarket untuk belanja makanan. Itupun kadang-kadang sambil menangis terisak sendirian di mobil selama perjalanan. Jadi aku tahu dan bisa membayangkan keadaan temanku saat ini. Bedanya adalah, saat ini temanku juga sedang sakit secara fisiknya. Dan itu yang membuat mentalnya juga drop. Sepemahamanku, dia juga sedang mengalami stres yang tinggi sebelum jatuh sakit.

Dan semua ini hanya menambah penyesalanku. Hanya penyesalan dan kesedihan yang aku rasakan. Sepertinya aku selama ini terlalu berfokus pada keadaanku sendiri dan melupakan orang lain. Aku terlalu berpusat pada kebutuhanku, keinginanku, keegoisanku, dan melupakan bahwa ada orang lain yang jauh lebih menderita dariku dan yang mungkin membutuhkan bantuanku.

Jujur, temanku yang satu ini bisa dikatakan bukanlah teman yang dekat sekali denganku. Bukan sosok teman yang mungkin akan aku cari pertama untuk curhat mengenai masalahku. Bukan seperti itu. Kami juga baru menjadi dekat belum sampai setahun. Sebelumnya, aku cuma tahu namanya dan di bagian mana unit kerjanya. Tapi, aku yakin kita semua pernah bertemu dengan orang-orang yang sejak pertama kita ketemu, langsung klik. Spirit-nya itu langsung terasa cocok. Terasa seperti bisa saling menyambung saat berbicara dan saling mengerti. Itulah sosok temanku. Rendah hati, humoris, baik hati, dan memperhatikan. Hatinya juga peka, peduli pada orang lain, taat dalam beragama, dan punya iman yang kuat.

Hatinya sepertinya memang peka dan sensitif. Itu aku tahu sejak pertama mengenalinya. Dia tidak mungkin menjadi orang yang sangat ringan tangan dalam membantu orang lain kalau bukan seseorang yang hatinya sensitif. Pelayanannya kepada masyarakat sangat tinggi. Dan sekarang, setelah aku mengingat-ingat lagi, mungkin dalam kepekaan itulah tersimpan bibit-bibit yang memungkinkan dia sampai mengalami depresi berat yang mungkin ia alami sekarang. Karena tidak semua orang yang mengalami apa yang ia alami akan sedemikian berat pengaruhnya terhadap keadaan psikisnya. Kecuali kalau yang ia alami sekarang bukan hanya depresi saja tapi juga masalah neuropsikologis lainnya yang belum diketahui.

Maafkan aku yang kurang memperhatikan, yang egois berfokus pada diriku sendiri. Semoga Tuhan melindungi dan memberkati temanku. Semoga dia kuat menanggung beban dan deritanya. Semoga imannya terus diteguhkan sehingga dia kuat dan tabah menanggung sakitnya. Berkah Dalem, Pak.

earth has no sorrow that heaven cannot heal.jpg

Defense Wall of Depression

I found out from my experience that most people don’t feel comfortable when facing a person who has a depression or a melancholic person. I first discovered this long time ago. Those who I have came out to about my depression and they still managed to stand there listening to my story (instead of running away) were actually a few friends who have psychological background or friends who happen to be mature enough to accept it. They were not that many though. For most people, they still looked uncomfortable when I mentioned about it. One person, whom I did not even tell about the depression but somehow managed to guess it, said that I have “self-pity.” And from then on, whenever I disagreed or got angry a little bit at him, those two words would show up. It got to be comical, really. I actually thought perhaps I have gained a new nickname. How did he manage to guess it? Who knows. Something in the way I carry myself, the way I talk, my thought process, whatever clue it was, I honestly don’t really know for sure. I guess we humans have a tendency to think that we know other people better than they know themselves. That is how assumption is made. We assume we know.

If I have to put myself in those other people’s shoes, I understand why they would feel uncomfortable. Depression is the most common mental illness out of all mental illnesses, but it’s the least talked about. Why is that? Because the stigma is still there, felt by us who have experienced depression. We feel embarrassed. We feel ashamed by having it. We feel that we may become a burden to others. We are afraid that people will look down on us for having it. We think that people will not understand us, or it. We fear that we will have repercussion as a result of coming out with the fact that we have a mental illness. I know what I don’t like the most. I don’t like it when people would then look at me with a sympathy look on their face after I told them about it. A part of me thinks that that look is like a form of sarcasm actually, not a real sympathy. I’m fully aware that I’m not being fair by saying that the sympathy look and statement are not genuine because they may actually be genuine. But it’s because my defensive wall is up and preventing me from taking it kindly.

Please do understand, just like with all physical illnesses out there, a person’s body automatically enters a defensive zone mode whenever a bacteria enters the body or an old virus is acting out again. The same with us who suffer from chronic mental illness with an episode that comes and goes, when we think our old “ghost” is back, we mentally goes into a defensive mode too. We search around us for who are the people that we can trust to tell our problem and who we should stay away from. We become better at that over time. We pick carefully who we can open up to. I, myself, have experienced this and have seen the same phenomenon with people who have come to me to share their stories. They came to me NOT because they knew I have dealt with a mental problem before too, but they must have seen something in me that they thought they could open up to. It’s their defense radar who did the work.

And that is what I meant by having that defense wall up. We will know if the sympathy statement is genuine or not. The wall is up in order to protect us, to recognize the genuine people whom we can trust over the ones who may cause us more harm–whether intentionally (using our mental illness to bully us) or unintentionally (saying stupid, wrong, or insensitive things accidentally). The wall is up because we don’t want to crumble in front of a wrong person, or at a wrong time and place. The example of “that’s self-pity” or “that’s self-pity again” statement is what I consider as unintentional. I’m positive that the person saying it did not mean any harm to me, but at that time, those short statements hurt. Whether they were true or not, they still hurt. In actuality, I admit that they were true. I do have the self-pity, and it is something that I struggle with until now. It is not something that will go away in a short time. Needless to say, after the very first time I was called “self-pity,” I entered into a restless sleep later that night with a disturbing dream that woke me up in tears.

We never know how our words will affect others, even though those comments may be true. I’m positive that I’ve been guilty of saying the wrong things to other people many times too. I just hope that we all can forgive each other as much as we forgive try to forgive ourselves.

And so the road to healing and the stories continue… God bless.

Fighting Depression

pexels-photo-207247.jpeg

Image taken from pexels.com

 

An old enemy is back, officially. Is it an enemy or a friend? Actually, I’m not too sure, but the most important thing is, it is back. It has a name. It’s called depression. I’ve known it well. Had met it before, a few times.

A friend or a foe, whatever it is, I am fighting it. It’s crippling for sure. It’s trying to take me down. Sorry, bud. You are still a foe, an enemy, I think. Because then why would I have to fight you?

Perhaps my angel is keeping an eye on me, because an old friend sent me a video yesterday. I watched it today and it was about fighting depression. Coincidence? Serendipity? I don’t think so. Things happen for a reason. The video is about a drug that can possibly be used to PREVENT depression and PTSD. Prevent! Instead of waiting for the enemy to come back, it can be prevented from showing up at all. But hold on the excitement, it will still take years for it probably to be available because it was just recently discovered. Oh well.

Here is the link to the video titled “Could a Drug Prevent Depression and PTSD?

This essay is also a testimony for something that I admit I have, that this thing has a way to creep into my daily life once in a while. I would like to say that it is okay to have it. It’s something that I have accepted, although I know it doesn’t come without a fight. It’s a debilitating thought process, but I know I can get through it. And for my readers and friends out there, I want you to know that there are things we all can do to manage depression. You can find many videos that talk about this.

For me and what I can do in this fight against depression, I would like to share some of my writings in the future that may touch on this issue, particularly about the process of debilitating thinking process that is often experienced in cases of depression. Depression is about a thinking process that can go out of control and lead to decisions and actions that may cause more suffering in the end. Depression is a mental illness, it needs to be paid attention to, but we don’t have to succumb to it. That debilitating thinking process can be recognized and handled, although it will take plenty of practices, many failures, before mastering it.

God bless you, God bless us all.

 

Perjalanan Penyair Amatir

moon light at night

Image taken from shutterstock.com

 

Malam masih muda, matahari barusan terbenam sejam yang lalu. Seperti biasa, perempuan itu terlihat melakukan kebiasaannya di malam hari. Sambil berjalan tanpa tergesa-gesa, ia terlihat benar-benar meresapi ketenangan suasana di perumahan tempatnya tinggal. Keheningan hanya kadang-kadang terusik oleh suara tawa dan jeritan dari anak-anak yang sepertinya masih sedang bermain. Untungnya suara itu datangnya dari gang di sebelah. Ia bisa menikmati kesendiriannya dengan aman.

Jalan-jalan malam memang indah, apalagi kalau sesekali ditemani oleh sang empunya malam di atas sana, seperti malam ini. Dan memang, sosok itu bagaikan seorang malaikat jelita yang duduk dengan anggunnya di singgasananya, sosok malam yang selalu ia nantikan setiap bulan. Harapan untuk mendapatkan langit yang lengang dari awan, bersih dari hambatan pandangan apapun, sehingga mendapatkan kesempatan untuk melihat pesona itu sangat langka.

Tapi malam itu, dahaganya terpuaskan. Tak pernah sekalipun ia merasa dikecewakan setiap kali bisa menatap bulatan cahaya itu. Keberadaan sahabatnya terlihat kokoh, megah, tak gentar terhadap angin malam, berani menghadapi alam sendirian. Setiap kali melihat sosok menawan itu, napasnya seperti berhenti. Ada keinginan untuk berbagi perasaan yang memuncak itu kepada siapa saja setiap kali bertatapan dengan paras elok itu, namun hanya helaan napas yang terdengar dari mulutnya. Andaikan ia punya kamera jutaan rupiah yang bagus dan lensa yang kuat, pasti sudah akan ia awetkan pemandangan di depannya. Sayangnya, semua itu hanya mampu ia rekam dalam ingatan saja.

Tapi sebentar, sepertinya sedang terjadi suatu perubahan pada perempuan itu. Lihat, betapa wajahnya tiba-tiba menjadi berseri-seri. Tampak ia berlari-lari kecil kembali ke dalam rumah. Selang beberapa detik kemudian, ia sudah muncul lagi dengan kertas dan pulpen di tangan. Tanpa membuang waktu, ia duduk di depan rumah sambil menengadah untuk melihat sosok sahabat setianya itu sejenak sebelum seluruh perhatian kembali terfokus ke kertas kosong di hadapannya. Tapi kertas itu tidak berlanjut kosong dalam waktu yang lama. Perempuan itu terlihat menulis sesuatu dengan penuh semangat, tenggelam dalam konsentrasi tingkat tinggi.

Ternyata yang ia tulis adalah sebuah puisi; puisi tentang keindahan yang sedang mengorek batinnya itu, puisi tentang seorang sahabat lama. Namun, terlebih lagi, keindahan itu kali ini ia kaitkan dengan seseorang yang sedang berada dalam pikiran dan hatinya, seseorang istimewa, seseorang yang mulai menempati suatu ruang khusus dalam nuraninya. Kali ini, ia memang memiliki seseorang untuk berbagi! Betapa pas! Kalau itu digambarkan dalam bentuk suara, mungkin yang akan terdengar adalah pekikan anak-anak seperti yang terdengar dari gang sebelah sebelumnya.

Akhirnya, setelah beberapa jam, puisi itu selesai. Dibutuhkan waktu beberapa jam karena revisi yang dilakukan berulang-ulang, kemudian semua tulisan itu ditransfer ke dalam foto bulan purnama yang juga sempat ia ambil tadi menggunakan kamera sederhana di hapenya. Gambar yang ia ambil memang terlihat kurang bagus. Dahinya sempat berkerut sebentar tadi melihat hasil foto itu, tapi tidak apalah pikirnya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, puisi singkat dan sederhana miliknya akhirnya ia masukkan ke dalam gambar itu. Dengan langkah ringan dan senyum di wajah, siapapun bisa melihat kalau bukan foto jepretan yang menjadi sumber kebahagiaannya malam itu.

Sambil menunggu waktu untuk mengabarkan hasil karyanya kepada seseorang yang istimewa itu, ia menyibukkan diri dengan rutinitas malam lainnya. Perut perlu diisi, rumah perlu diberesi, tugas-tugas kecil menunggu di sekeliling rumah, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa fokus perempuan itu bukan pada tugas di tangannya. Setelah selesai semuanya tibalah waktunya untuk menghubungi doi lewat WA.

Pembicaraan berjalan dengan baik dan lancar di awal. Menahan detak jantung yang berdebar-debar, akhirnya perempuan itu memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu mengenai puisinya dan kemudian menawarkan untuk mengirim foto itu. Tak terasa ia telah menahan napas selama beberapa detik. Tiba-tiba terbersit keraguan akan tindakannya. Wajahnya sempat memerah sebentar. Sudah sangat lama sejak terakhir ia melakukan hal seperti ini. Bisa dikatakan tindakannya ini mungkin sudah agak lancang dan berani. Tapi sudah terlambat, doi pasti sedang melihat gambar itu, beserta puisi sederhananya. Apa gerangan yang akan dia katakan?

Dan kemudian, mengalirlah respon yang ia nantikan. Belum pernah sebelumnya ada yang memberikan masukan tentang puisi hasil karyanya kepada si penulis amatir itu. Selama ini, puisi adalah sebuah proses pembelajaran otodidak baginya. Tapi malam itu, ia mendapatkan sistem pembelajaran baru, pembelajaran yang luar biasa besar dampaknya. Namun saat itu, perempuan itu belum menyadari kedalaman dan goresan jejak dari dampak itu. Saat itu, ia hanya mampu merasakan.

Puisi telah selamanya berubah makna baginya sejak malam itu.

Ajaib (2)

Perlahan kami berdua keluar dari balik pintu depan gedung. Jalan terlihat sepi tapi tidak jelas apakah aman atau tidak. Samar-samar kami mendengar suara dari jarak jauh, suara teriakan seseorang. Bukan teriakan lagi sebenarnya, lebih mirip suara menjerit yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarkan pasti berdiri. Seluruh tubuhku merinding. Yang lebih sulit diatasi sebenarnya detak jantung yang seperti sedang berlari sprint. Aku sendiri kurang yakin apakah kaki ini masih bisa diajak bekerja sama untuk membawaku pergi dari tempat ini secepat mungkin. Teman yang di sampingku ini juga aku ragukan bisa melakukan hal yang sama, tapi kami tidak punya pilihan lain. Aku tidak tahu siapa dia atau siapa namanya, wajahnya pun tidak aku kenal, walaupun sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi tidak masalah siapapun dia dan identitasnya. Yang penting, sekarang tinggal kami berdua, dan mau tidak mau kami harus saling membantu sebisa mungkin.

Dengan beringsut-ingsut, kami mulai bergerak ke arah jalan kecil di depan rumah makan sambil terus menengok kanan dan kiri. Seluruh kemampuan pendengaran kami sepertinya sedang dalam posisi siap siaga. Suara sekecil apapun, bahkan dengingan dari kepakan sayap kecoa pun bisa kami dengarkan saat itu.

“Ayo cepetan!” desisku kepada teman di belakangku, agak tidak sabar melihat caranya yang menurutku terlalu pelan.

“Kita harus bergerak cepat dan lari begitu sampai di jalan,” bisikku sekali lagi, yang dibalas dengan anggukan samar-samar darinya.

Aku sempat menangkap tatapan matanya, dan tak ada satu kata yang perlu ia katakan. Tatapan itu sudah cukup. Kami berdua bisa membaca pikiran masing-masing. Warna muka kami berdua mungkin sudah sama dengan cat putih tembok rumah yang sekarang menjadi latar belakang kami. Tanpa banyak tanaman di sekeliling, sebenarnya kami memposisikan diri di tempat yang rawan, terlalu mudah terdeteksi….tentu saja bila mereka bisa melihat. Namun berdasarkan apa yang kami lihat tadi, mereka sepertinya lebih bergantung pada penciuman. Penciuman terhadap apa? Tidak jelas juga, mungkin penciuman terhadap rasa takut? Apakah itu dari keringat, atau deru napas kami yang menderu-deru, entahlah. Pokoknya, mereka tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui lokasi kami tadi. Tidak bisa dipungkiri lagi, mereka tidak bergantung pada penglihatan. Dengan muka tercabik-cabik seperti itu, kami yakin tidak melihat satu bola mata pun pada setiap wajah (kalau itu masih bisa dikatakan wajah) yang mengejar kami tadi.

“Siap?” tanyaku sambil memberikan isyarat melalui tatapan mata.

Temanku cuma bisa mengangguk. Akupun memberi kode dengan jari, 1, 2,…3! Dan dengan secepat kekuatan seekor kijang yang penuh ketakutan kamipun melesat lari ke arah yang berlawanan dari datangnya suara jeritan tadi. Lari, lari dan lari. Cuma itu yang bisa kami lakukan. Tak ada lagi yang ada dalam pikiran kami kecuali lari secepat mungkin ke tempat yang kami harap lebih aman. Sambil berlari kucoba memasang pendengaranku. Apakah ada langkah-langkah lari mengikuti di belakang kami? Apakah kami masih sendirian? Ada keinginan untuk menoleh, tapi hati sudah tak kuat lagi. Kami harus mencapai tujuan kami, tapi entah kenapa, tujuan itu sudah menjadi tak jelas lagi. Kami hanya tahu bahwa kami harus terus berlari dan berlari.

________________________________________

Cuplikan skenario di atas hanyalah suatu bagian kecil saja dari keseluruhan mimpi yang kualami semalam. Yah, hanya sebuah mimpi memang. Sebuah mimpi dengan kekuatan dahsyat, cukup untuk membuatku terbangun dalam keadaan seperti tidak pernah tidur sedetikpun. Dan itu cuma cuplikan yang ringan saja. Bagian-bagian yang penuh lumuran darah tidak perlu saya jabarkan di sini. 

Ada yang bisa tebak itu mimpi apa? Benar, mimpi mengenai zombie. Seumur hidupku belum pernah mengalami mimpi yang terkait dengan zombie. Jangankan mimpi, yang namanya bacaan atau film terkait zombie pun bukan sesuatu yang aku sukai, apalagi saat sendirian.

Mimpi, dalam dunia ilmu psikologi, adalah indikasi suatu bentuk pemikiran atau keinginan yang terjadi di alam bawah sadar dan terbawa dalam mimpi, sehingga ada yang namanya interpretasi mimpi. Terbangun dalam keadaan ketakutan, tanpa berpikir panjang (karena memang masih kusut dari bangun tidur yang penuh gejolak itu), aku langsung mencari Oom Google untuk bertanya tentang makna mimpi zombie. Demi tujuan berbagi, ini beberapa yang aku dapatkan mengenai arti mimpi zombie dalam bahasa Inggris.

Zombies in dreams are a sign that you are not thinking independently or objectively. It also suggests that you are giving up your ability to make independent choices because a person or situation has you in a “trance.” Someone or something else is influencing your decision making. To dream of running away from zombies represents your wish to avoid a person or situation that you feel is jealous of what you have. Avoiding an annoying follower. You may fear losing what you have to someone else’s jealousy. You may also fear losing something special because someone jealous is desperate to pull you down with them. (http://www.dreambible.com/search.php?q=Zombies)

To dream that you are attacked by zombies indicate that you are feeling overwhelmed by forces beyond your control. You are under tremendous stress in your waking life. Alternatively, the dream represents your fears of being helpless and overpowered. (http://www.dreammoods.com/dreamdictionary/z.htm)

Zombie symbolizes aggressive and unwelcome intrusion into your psyche, your soul. There is such a concept as “zombieing”. Perhaps someone is trying to program and zombie your mind to manipulate you for own purposes. You need to analyze your circle of contacts, to identify these people, and to protect yourself from their presence in your life. It is possible that together with the revival of the dead, revived your fears and complexes, unpleasant situations, bad habits, negative emotions and stress. A dreaming about zombies is a sign that in real life you take a step back, returning to the forgotten period that was long time forgotten. One of the unfinished business and troubles may suddenly reappear and remind about itself. If you dream as if zombies attack you, it bodes that you will once again go through the previous errors. It is too bad if you have started new business in reality, because a dream about zombies limits its potential. It would seem like someone forcibly takes away all your power and energy. (http://globe-views.com/dreams/zombie.html)

Interpretasi mana yang paling tepat menurutku sendiri untuk menjelaskan arti mimpiku? Itu adalah tugas refleksi malam ini. Tapi yang pasti, ini adalah suatu pengalaman baru. Aku ingat bahwa sempat terungkap di posting blog sebelumnya keinginan untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman ‘ajaib’ sebagai bahan ide untuk menulis blog, tapi tidak pernah menduga ini jawabannya. Semoga pengalaman ajaib berikutku tidak seheboh ini lagi. 

Seingatku, mengalami mimpi di mana aku dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan baru terjadi dua kali. Pertama kalinya itu terjadi saat aku barusan pindah tempat tinggal ke suatu negara lain dengan pengalaman proses adaptasi ke budaya baru yang termasuk sulit, tapi bukan dikejar oleh zombie dalam mimpi itu. Mengapa di kali kedua ini yang dipilih oleh otakku adalah zombie, itu masih belum sempat aku dalami lagi. Untuk saat ini, sudah cukup banyak yang perlu aku cerna. Mengapa misalnya aku bermimpi seperti ini? Ada apa dengan diriku sekarang? Dan seterusnya… 

Terimakasih sudah menyimak. Selamat malam, selamat beristirahat, dan selamat bermimpi.

Ajaib

Suatu hal yang aneh terjadi hari ini. Aku mengulurkan tangan–bukan untuk memberikan bantuan tapi untuk meminta bantuan–kepada seseorang yang selama hidupku baru kali ini aku lakukan. Saking butuh dan kusutnya aku mungkin pada saat itu, sehingga melakukan sesuatu yang tak terduga.

Waktu itu siang, menjelang sore. Sebenarnya sedang mau bersiap-siap untuk ke gereja dan barusan menyelesaikan sebuah puisi. Entah kenapa, mungkin ada unsur baper dari menulis puisi itu, tiba-tiba perasaan sedih yang sangat dalam menusukku perlahan. Mulainya pelan, diawali dengan munculnya perasaan tidak nyaman yang langsung bisa kurasakan di perut. Perut terasa agak terlilit. Aku mulai merasa gelisah dan berjalan mondar-mandir di dapur sambil mencoba melawan pemikiran-pemikiran negatif yang muncul bersamaan. Entah mereka datangnya dari mana tapi tiba-tiba menyerbu bersamaan seperti sudah janjian sebelumnya, sambil bergandengan tangan lagi, hadoh! Lalu perlahan muncul isakan yang kemudian bertambah kencang, sampai menjadi sedu sedan yang sudah tak terbendung lagi. Kegelisahan juga bertambah terus. Kemudian ada suara denting di hape. Sempat kutengok sebentar dan melihat ada pesan yang masuk di Whatsapp, yang ternyata dari kakakku. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sempat heran juga kenapa aku bisa menyempatkan diri untuk menengok hape di tengah-tengah kehebohanku? Sampai sekarang aku juga tidak bisa mengerti mengenai itu.

Pesan itu benar dari kakakku. Kalau ada yang mengenal keluarga kami dengan dekat, pasti sudah mulai tergelitik di bagian ini. Seumur hidupku, aku tidak pernah dekat dengan kakakku. Mungkin baru di satu atau dua tahun terakhir ini kami mulai perlahan menjadi dekat, tapi belum sampai pada tahap di mana aku meminta pertolongannya. Dan terlebih lagi, pertolongan untuk…curhat. Aku? Curhat? Ke dia? Mungkin ini karena unsur U(sia)? Mbuh.

Tapi mungkinkah juga karena campur tangan Tuhan? Pesannya di WA masuk pada saat yang tepat. Perlu diketahui, kakakku ini juga bukan…lebih tepatnya, kami berdua bukan tipe yang saling mengabari, berbincang, berdiskusi langsung, apalagi lewat hape, sehingga kemungkinan kami saling mengirimi pesan di WA itu juga masih tergolong langka. Tapi kenapa pesannya masuk pada saat itu? Di saat aku sedang kesulitan bernapas karena dilanda rasa duka yang datangnya bertubi-tubi, saat aku hampir kehilangan pikiran warasku, bergumul dengan pemikiran yang ingin ‘menyerah’ (atau lebih tepatnya bagaimana rasanya kalau semua rasa sakit itu bisa berhenti saat itu juga), pesan dari kakakku itu sepertinya sedang berusaha meraihku. Di situlah terjadi suatu keajaiban. Aku kemudian merasakan tarikan yang luar biasa untuk menghubunginya. Sebuah perdebatan sempat terjadi di pikiranku,

“Benarkah ini yang tepat untuk aku lakukan?” sahut suatu suara.

“Tidak, saya bisa tahan kok. Sudah pernah aku lakukan sebelumnya, masak tidak bisa saya atasi sendiri?” jawab suara lainnya.

“Tapi saya sudah tidak kuat lagi,” kembali ke suara pertama.

“Tunggu sebentar aja, pasti juga akan lewat kok. Kan biasanya juga begini?” sahut balik si suara kedua.

“Sungguh! Sakit sekali rasanya. Saya butuh berbicara dengan seseorang sekarang. Saya butuh keluarkan ini!” balik ke suara pertama lagi, dan seterusnya.

Tidak menunggu lama, mungkin cuma satu atau dua menit saja, akhirnya salah satu dari kedua tim debat di atas menang juga akhirnya, yaitu tim debat yang mewakili sudut hati yang membutuhkan seseorang. Dan aku pun menelpon kakakku akhirnya. Selebihnya tak perlu diceritakan, cukup untuk dicatat karena sudah menjadi sejarah.

Ingat, perlu dicatat! Hari ini menjadi hari bersejarah! Si dua bersaudara yang dari kecil pernah dipanggil Tom dan Jerry (nggak usah pusing deh mana yang Tom dan mana yang Jerry, pokoknya kucing dan tikus yang tak pernah akur!), akhirnya membuat lembaran hubungan yang baru. Kalau diingat-ingat sekarang, aku sebenarnya kasihan juga dengan kakakku. Dia mungkin sama shocknya denganku saat kuputuskan untuk menelpon. Dari nada suaranya bisa kubayangkan bagaimana heboh dan bingungnya dia juga di sana menerima telpon dari sang adik ter-kritis (bukan karena aku tipe orang yang kritis, tapi karena lebih sering mengkritiki dia).

Suatu keanehan memang terjadi hari ini, suatu keajaiban yang patut disyukuri. Masih banyak lagi yang bisa direfleksikan dari kejadian ini. KaryaNya, campur-tanganNya memang sering mengejutkan dan tak terduga, tapi tidak apa. Semakin banyak hal ajaib yang terjadi semakin bagus. Paling tidak, bisa dipakai untuk ide menulis setiap hari. Thank You, Lord! Dan Berkah Dalem untuk kita semua.

Akhir

20170511_171000-1.jpg

 

Kisah ini berawal di suatu hari yang cerah….

Kubuka dua hadiah pagi itu–kedua mataku
dan kaupun melangkah masuk
sadarkah kau tajamnya matamu telah membelahku, meniadakanku
jalanku berbelok arah mengikuti angin sejak itu

Kubuka sebuah hadiah lain pagi itu
juga dari Bapaku–untukmu
masih merah, mentah, tersentak bangun dari tidur yang panjang
terkoyak godaan sebuah keinginan, harapan

Namun sang pemimpi bertopengkan angan melawan kerapuhan
dengan berkendara waktu, berserah pada angin sebagai penentu arah
akhirnya terdampar di suatu tempat di mana lelah mencabik luka lama
dan mata pun mau tak mau berserah, tak lagi kuat

…..dan berakhir di suatu hari yang cerah juga.

Hai Kawan (2)

Kenangan

Ibarat sebuah lukisan
dengan kuas yang sudah disiapkan oleh Sang Pencipta
setiap kali kau menyapa fajar,
lukisan seperti apa yang ingin kau hasilkan
di atas kanvas putih hati yang baru?

Pasti ada cerita di balik setiap gambar,
mungkin lukisanmu ternoda kekecewaan atau tangisan getir
atau kuasmu tergerak tawa dan canda
apapun itu, lukislah dengan hati
bukti kau pernah menapakkan jejak di dunia ini

##Kenangan