Hope · Journey · Struggles · Uncategorized

Antara Mengetahui, Memahami, dan Menyadari

IMG_20170128_142612_953.jpg

 

Pada akhir pekan ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tangan para malaikatnya untuk menemukan banyak pemahaman baru. Salah satu pemahaman baru itu adalah perbedaan antara mengetahui, memahami, dan menyadari, dengan mengetahui sebagai level yang terendah dan menyadari sebagai level kognitif yang tertinggi. Bila bertanya pada kamus Bahasa Indonesia, ketiga kata itu mungkin bisa menjadi sinonim antara satu dengan yang lain. Misalnya, kita bertanya pada Oom Google apa sinonim dari mengetahui, maka kata-kata yang akan muncul salah duanya adalah memahami dan menyadari. (Silakan dibuktikan sendiri).

Selama 3 bulan terakhir, saya menggumuli suatu kenyataan mengenai diriku yang menurut pemikiranku sebelum saya memulai pergumulan ini adalah sesuatu yang sudah selesai saya gumulkan dan gulati sampai jatuh bangun, keringat basah kuyup, babak belur selama bertahun-tahun dalam perjalanan hidupku. Oh, betapa dangkalnya pemikiranku. Ternyata, kenyataan yang pikirku sudah tuntas itu belum selesai. Paling tidak belum selesai sepenuhnya. Pada akhir pekan ini, Tuhan membimbing saya untuk menyadari bahwa level proses perubahan di pemikiranku itu mungkin hanya mencapai level memahami saja — belum sampai pada level menyadari. Kalau level mengetahui itu ibarat membaca suatu kutipan kata-kata mutiara yang sering kita lihat akhir-akhir ini di media sosial dalam bentuk foto atau gambar yang disertai dengan kata-kata yang membuat kita kagum dan menggumamkan, “Oh, bagus ini” sehingga tergeraklah jari kita untuk memencet Like di bawah foto itu, memahami atau mengerti itu adalah pemahaman yang menggerakkan kepala kita untuk manggut-manggut karena kita mampu mengaitkan apa yang kita baca itu dengan dunia sehari-hari kita. Mungkin saat membaca kata-kata itu kita mengingat suatu kejadian yang kita lihat atau alami, sehingga tergeraklah hati kita untuk men-sharingkan kata dan gambar itu di wall media sosial kita juga. Akan tetapi, sudah benar-benar sadarkah kita mengenai arti kata-kata itu? Akan menimbulkan perubahankah dalam hidup kita sekarang sesudah membaca kata-kata itu?

Menyadari dalam arti yang sesungguhnya bagi saya adalah saat seperti tertampar. Hari ini dan kemarin, wajah saya ditampar oleh suatu kesadaran yang bukan hanya membuatku manggut-manggut saja, tapi juga malu. Iya, malu. Malu karena baru menyadari betapa selama ini saya sudah mengetahui dan memahami semua yang baru saja saya sadari, tapi membutuhkanku waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) untuk akhirnya sampai pada tahap hidupku sekarang di mana aku baru bisa menggabungkan semua yang sudah aku dapatkan menjadi SATU pemahaman keseluruhan. Menurutku, inilah yang namanya level KESADARAN. Sadar sepenuhnya tanpa ada lagi keraguan, kebohongan terhadap diri sendiri, ketidakpastian, penyangkalan. Kesadaran dalam arti melihat keseluruhan kehidupanku dan diriku sendiri tanpa ada batasan lagi. Menelanjangi diriku sendiri, sampai semua bagian dari kepribadianku, tabiatku yang jelek, yang tidak kusukai, yang memalukanku, yang menghantuiku, kulihat semua. Tak ada lagi pembatas. Tak ada lagi denial, atau benteng-benteng yang lain. Ini adalah kesadaran yang tidak lagi membuat kita menunggu untuk kapan akan memulai perubahan. Ini adalah kesadaran yang dapat membuat kita segera melakukan tindakan untuk memulai perubahan. Agak sedih juga sebenarnya saat menyadari bahwa semua perjalan hidupku sampai ke tahap menyadari ini “hanya” membutuhkanku 44 tahun saja šŸ˜€ Yah, tapi lebih baik 44 tahun daripada tidak sama sekali.

Apa itu yang aku sadari bukan fokus dari tulisan ini. Setiap individu mempunyai “apa” yang perlu disadari. Bagian “apa” ini akan berbeda-beda antara satu sama lain. Bagian yang mau saya fokuskan adalah mengenai “bagaimana”. Yang pertama, seperti yang sudah saya lukiskan di atas, ini bisa dimulai dengan mencoba membayangkan seseorang yang sudah jatuh bangun beberapa kali, babak belur, dan keringat membasahi tubuhnya setelah berlari ke sana dan ke mari selama bertahun-tahun tanpa tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dikejar, dan akhirnya merasakan lelah yang luar biasa. Beberapa dari kita manusia di dunia ini mungkin sudah sangat beruntung untuk pernah mengalami skenario di atas. Berbahagialah dan bersyukurlah sudah pernah mengalaminya karena hanya dengan dorongan yang seperti itu — dan disertai keinginan dan harapan untuk teruas bertanya dan mencari dengan meminta bantuan Tuhan — saya yakin suatu saat kita akan sampai pada tahap menyadari ini. Dengan kata lain, jalannya mungkin akan panjang dan berliku, tapi dengan iman dan keinginan untuk mau selalu menjadi lebih baik lagi, semuanya akan ada waktu dan tempatnya untuk sampai ke tempat yang Tuhan sudah sediakan buat kita.

Yang kedua, ternyata selama ini saya tidak pernah sendirian. Kalau saya perhatikan secara seksama, Tuhan sudah menyediakan malaikat-malaikatnya untuk menemani dan menuntunku. Hanya saya yang buta selama ini. Waktunya juga tepat untuk kapan malaikat-malaikat itu datang dan masuk ke dalam hidupku. Saya yang belajar bahwa kehadiran malaikat-malaikat yang berwujud manusia itu memang datang tanpa saya sadari dan campur-tangan mereka juga terjalin dengan alaminya tanpa saya sadari. Itulah indahnya hidup ini menurutku. Semuanya diawali dengan ketidaksadaran, dan saat kita sampai pada tahap kesadaran, luar biasa tamparan itu. Kejutan itu memang mengagetkan, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang indah. Bagaikan mendapatkan hadiah yang selama ini kita impikan dan sekarang hadiah itu tiba-tiba ada di hadapan kita. Surprise!

Bagian “bagaimana” untuk sampai ke tahap kesadaran inilah yang menurutku sangat indah. It was worth it to wait all this time, to hope all this time. Jangan menyerah dalam harapan untuk bisa sampai pada tahap menyadari ini. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

Poem

Hello

Hello.
Hello to you walking in the garden. What a nice day to take a walk, isn’t it? Please give my regards to the grass under your feet, to the birds singing above you, to the bench you’re sitting on, and to that crispy air of January. Better keep your sweater on, sir. It’s still quite chilly out there. By the way, love that bike!

Hello.
Hello to you with coffee in your hand. My oh my, the pile is high, my friend. My sympathy to you. Looks like you need that cup of bliss. Have you been having enough rest? Don’t forget to go home. Your loved ones miss you. And don’t forget to smile to them, bro. Oh, and nice coffee. Can smell it from out here. Arabica isn’t it?

Hello.
Hello to you up there. It’s been so rare to see you lately. Something must be in the way for us to see you. Is it lonely there? What a burden it must be to carry on your shoulders. Oh forgive me, I mean what an honor it must be. All I know is that I miss you. Life has been pretty dark down here lately. Shall we dance? Yes, of course under you. So light us please. Stay wild!

Hello.
Hello to you, growling one. Look at you, how cute! Awww, and you know it too, don’t you? Catch! Oh, that is smart. Yeah? Again? Okay. Catch! That a boy! Now give me a five!

Hello.
Hello to you, tall ones. Nice shade you’re giving me. Feel that fresh air, thanks to you. I can feel all my senses are alive! Can’t help to feel at awe standing small underneath you. This is indeed a very humbling experience. So sorry we haven’t been giving you enough appreciation that you deserve. Instead, we’ve been taking advantage of you. How wrong have we been!

And hello.
Hello to you whom I really want to say hello actually. It’s been a while since I last heard your voice. What have you been up to? What I would do to hear your stories again, to be in your company. Has the world drowned you again? Life may beat you upside down again and you may fall, but prevail, my dear. Stay with me and I’ll stay with you. In there. Yes, inside you. You got it. I’ll be — where you need me.

 

extending-hand

**This writing has been inspired by a writing prompt about hello. The instruction was simple. Write a story or a poem that starts with “hello.” Got it!**

College Life · Essay · Feelings · Humility · Work

Keluar dari Zona Nyaman

Kesempatan untuk menyicipi suatu pengalaman baru yang sangat mengesankan muncul di depan mataku beberapa hari yang lalu. Beberapa mahasiswa di fakultasku membentuk suatu komunitas baru, yaitu komunitas teater. Mereka menamakan komunitasnya “Seniman 15 Menit.” Nama itu didapatkan karena pertama kali kelompok itu terbentuk (sebelum menjadi komunitas) adalah karena mengikuti lomba drama di suatu ajang perlombaan nasional antarfakultas psikologi se-Indonesia dan waktu yang diberikan untuk pentas adalah 15 menit. Jadilah inspirasi untuk nama Seniman 15 Menit. Kelompok ini awalnya tidak terlalu aktif. Beberapa bulan kemudian mereka sempat melakukan pentas kecil-kecilan di depan mahasiswa baru pada acara pengenalan kampus dengan tema perkuliahan di fakultas psikologi kami. Kelompok ini tidak pernah mengikuti latihan dan bimbingan teater, dan jarang sekali melakukan latihan sendiri karena tidak ada yang bisa melatih mereka. Untunglah, dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa, pada bulan Oktober 2016 mereka tergerak untuk membentuk suatu komunitas teater secara resmi karena kehadiran seorang pelatih yang mau membimbing mereka secara tidak resmi. Walaupun tidak resmi, tapi keberadaan sang pelatih ini dalam beberapa kesempatan yang tercipta sudah membantu banyak dalam membangun semangat dan motivasi mereka untuk berlatih secara teratur. Tantangan dan kesempatan untuk berkembang juga muncul saat mereka ditawarkan untuk pentas di hadapan masyarakat umum dalam suatu acara perayaan Natal yang diselenggarakan oleh RRI Surabaya. Nama naskah mereka adalah “Om Toleransi Om.” Suatu pengalaman yang luar biasa mengesankan buat mereka…dan bagiku juga. Aku rasa harapan bagi kami semua yang terlibat dalam acara itu sangat simple sebenarnya, bahwa kami berharap kesempatan pentas itu semoga menjadi suatu awal baru bagi komunitas Seniman 15 Menit yang dapat membangun kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa. Terimasih yang mendalam kepada pelatih mereka, Pak Retmono Adi (yang lebih akrab dipanggil Pak Didik), yang sudah mau memberikan waktunya untuk datang ke Surabaya dan melatih mahasiwa yang pentas. Tanpa dukungannya, kebersamaan dan keberhasilan di pentas Om Toleransi Om ini tidak dapat tercipta. Kesempatan bisa saja ada, passion dan keinginan bisa saja tinggi, tapi tanpa dukungan dan bimbingan, siapapun itu tidak akan mampu memberikan karyanya yang terbaik.

Aku belajar banyak dari apa yang aku lihat dan alami selama mendampingi para mahasiswa dalam proses persiapan pentas Om Toleransi Om barusan ini. Melihat proses perubahan dari awal latihan sampai saat pementasan itu sungguh luar biasa. Semangat, kegembiraan, kebersamaan, kesederhaan berpikir, kerendahan hati, dan ke-kreatifan yang saling mereka bagikan itu mengharukan. Terus terang, aku sendiri tidak menyangka bahwa mereka akan bisa melangkah sampai sejauh ini. Pemikiran seperti itu muncul bukan karena aku meragukan kemampuan mereka, tapi karena perubahan yang terjadi menurutku cukup cepat dan itu tidak terbayangkan sebelumnya olehku yang naif dan buta mengenai dunia teater. Sungguh tak menyangka perkembangan mereka bisa secepat itu. Kredit juga perlu diberikan kepada pelatih mereka yang mampu mendorong anak-anak untuk keluar dari zona nyaman mereka dalam waktu yang cepat. Dorongan yang diberikan oleh Pak Didik memang tegas, kadang keras kadang lembut, diselingi dengan banyak diskusi dan refleksi, dan kadang dilengkapi dengan shock therapy juga, tapi mungkin karena itulah perkembangan mereka bisa menjadi terlihat cepat.

Momen paling menyenangkan bagiku adalah pada malam terakhir sebelum hari pentas. Sore itu mereka barusan kembali dari gladi bersih di Ruang Auditorium RRI Surabaya dan lanjut dengan latihan lagi sebelum ditutup dengan makan malam bersama di kantorku. Saat duduk makan malam bersama, kami mengobrol dengan hangatnya. Mereka bercerita tentang pengalaman gladi bersih siang tadi, suka duka dari pengalaman persiapan dan latihan selama ini, dan seterusnya. Sebagaimana biasanya ruang rapat, meja-meja diatur dalam keadaan melingkar sehingga kami semua bisa saling melihat.

Di tengah-tengah perbincangan itu, salah satu dari mahasiswa secara iseng mengambil gelas aqua di depannya. Sejenak dia melihat gelas aqua itu sedemikian rupa seakan mempelajarinya, memutar-mutar gelas aqua itu di tangannya, dan kemudian memeragakan sesuatu dengan memakai gelas aqua itu sebagai alat peraga. Beberapa mahasiswa lain kemudia menebak apa yang diperagakan. Hahaha…mereka berbagi tertawa bersama karena apa yang diperagakan itu memang lucu. Tidak ingin kalah, mahasiswa yang di sampingnya kemudian mengambil gelas aqua yang sama dari mahasiswa sebelumnya dan memeragakan sesuatu juga, diiringi dengan teriakan tebakan dari yang lainnya dan tawa lepas. Untunglah waktu sudah di atas jam kerja (sudah jam 6 malam lewat), sehingga tidak ada satu manusiapun lagi di kantor yang sedang bekerja. Suasana mulai menghangat. Gelas aqua itu kemudian bergilir dari satu orang ke orang berikutnya, termasuk aku.

Pertamanya aku tidak bisa berpikir apa-apa. Kepala ini rasanya kosong, dan juga, ada sedikit rasa malu dan sungkan karena aku tidak terbiasa melakukan hal demikian di depan orang lain. Aku memang tipe orang yang kaku dan sering merasa sungkan saat seperti ini, yaitu saat melakukan sesuatu yang membutuhkan kreativitas dan keluar dari zona nyamanku memainkan peran tertentu di depan mahasiswaku. Aku sudah terbiasa dengan suatu peran dan untuk memerankan peran lain butuh upaya untuk masuk ke situ. Gelas aqua itu akhirnya aku oper dulu ke orang berikutnya di giliran pertama, tapi begitu sampai pada giliran kedua, mahasiswa menolak untukku melakukan hal yang sama. Setengah memaksa šŸ™‚ Tapi anehnya, di dalam hatiku sebenarnya sudah terjadi konflik. Di satu sisi, rasa sungkan dan tidak nyaman itu cukup kuat, tapi ada bagian dari dalam diriku juga yang ingin ikut berpartisipasi. Aku merasa penasaran sebenarnya karena ada keinginan untuk berbaur, tertawa bersama. Akhirnya secara sadar, aku melawan perasaan dan pemikiran takut dan cemasku. Aku mencoba akhirnya.

Awalnya terasa canggung, kagok, tidak nyaman, tapi setelah putaran kedua, ketiga, mulai terasa okay. Aku teruskan. Saat susah mendapatkan suatu ide untuk berbuat apa dengan gelas aqua itu, aku berhenti sebentar dan mencoba mengambil waktu untuk mencari ide. Aku tidak ingin menyerah. Aku beranikan diri untuk memperagakan hal-hal yang sedikit lebih sulit, yang membutuhkanku untuk berdiri dari tempat duduk, dan ternyata aku bisa. Iya, aku bisa. Muncul perasaan senang dan puas, walaupun masih tersisa perasaan canggung. Namun, aku juga perlahan-lahan sadar, bahwa sebenarnya mungkin tidak ada yang tahu, atau tidak ada yang peduli, kalau aku merasa canggung. Cuma aku saja yang peduli sebenarnya. Merekapun mungkin juga merasa canggung, dan aku mana tahu itu? Pemikiran itulah yang akhirnya mendorongku untuk terus saja melakukan, biarpun kadang yang lain tidak bisa menebak apa yang aku peragakan, seperti saat aku memeragakan topi melayang di cerita Harry Potter. Toh ini bukan mengenai kemampuan memeragakan untuk bisa ditebak secara tepat. Ini mengenai bermain bersama, berbagi suatu momen yang indah bersama, tertawa bersama. Dan memang, pengalaman indah itu sungguh sangat menancap di dalam hatiku. Bertahun-tahun kemudian mungkin aku tidak dapat mengingat secara pasti kejadian malam itu, tapi aku akan selalu bisa mengingat perasaan nyaman dan indah yang aku rasakan bersama mereka.

Malam itu, aku keluar dari zona nyamanku. Aku menyalurkan ideku, mengerahkan otak kananku — sesuatu yang mungkin karena tuntutan kerja menjadi sangat jarang untuk aku lakukan. Dan untuk itu, aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengalaminya. Lebih bersyukur lagi, aku mau untuk keluar dari zona nyamanku dan masuk ke zona baru. Pengalaman yang mengesankan. Bahagia itu memang sederhana kok.

Essay · Faith · Human Connection · Journey · Life

Keberadaanmu, Keberadaanku

makna kehidupan.jpg

Hidup memberikan kita banyak kesempatan untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Kesempatan itu datang biasanya dalam situasi-situasi terkait perkembangan kehidupan, misalnya kelahiran seorang anak, upacara pernikahan, atau kematian. Malam ini aku mengikuti upacara agama Katolik untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan seorang Romo yang dikenal dengan nama Romo Senti. Romo Senti meninggal dua hari yang lalu secara tiba-tiba.

Misa requiem atau misa arwah untuk mendoakan kepergian Romo Senti dilakukan di kapel kecil di asrama seminari tempat para frater yang dibimbing oleh Romo tinggal. Banyak umat Katolik yang berdatangan dari banyak tempat, bukan hanya dari Surabaya saja, karena Romo Senti sudah pernah berkarya dan melayani umat di beberapa tempat di Jawa Timur. Seminari malah tidak menyangka akan kedatangan sebegitu banyak umat, sehingga pada menit-menit terakhir kursi-kursi dari ruang kelas dan kamar para fraterpun dikerahkan.

Aku duduk di suatu sudut dan mengamati semua yang berlangsung di sekelilingku. Terlintas suatu pikiran kagum atas karya dan pelayanan Romo Senti sehingga banyak yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir baginya. Tak terhindari, terlontar beberapa pertanyaan di benak, bagaimanakah nanti pada saat waktuku untuk pergi dari dunia ini? Apa yang aku inginkan terjadi saat kepergianku nanti? Akankah sebegini banyak orang yang hadir juga? Apa yang ingin aku tinggalkan untuk diingat oleh orang-orang di sekitarku yang mengenaliku? Pemikiran-pemikiran seperti ini sebenarnya cukup logis. Banyak orang menurutku yang berpikiran demikian saat menghadiri acara-acara seperti ini, apapun upacara agama yang dipakai untuk mengiringi kepergian seseorang.

Aku tidak kenal Romo Senti sebenarnya. Mungkin ada yang bertanya mengapa aku datang bila demikian? Apalagi aku datang sendirian, tanpa ada yang menemani. Aku mencoba merenungkan beberapa kesempatan sebelumnya di mana kami berdua (saya dan Romo) pernah saling berpapasan. Sebenarnya, kami saling bertemu itu hanyalah saat berada dalam…lift. Iya benar, lift. Kami berdua bekerja dalam satu institusi pendidikan. Beliau mengajar di Fakultas Filsafat dan aku di Fakultas Psikologi. Kantor kami cuma berbeda 1 lantai saja; beliau di lantai 8 dan aku di lantai 9, sehingga waktu kami untuk bertemupun hanyalah di lift selama ini. Saling berpapasan, mata bertemu, saling menyebar senyum dan ucapan salam yang hangat, ditutup dengan anggukan dan kadang jabatan tangan. Sudah. Itu saja. Waktu mendengar bahwa beliau meninggal, aku malah harus mengingat-ingat yang mana orangnya. Saat melihat pengumuman misa dan fotonya, baru aku tersadar. Kawan se-liftku ternyata. Cukup kaget juga, karena memang kepergian beliau terjadi secara tiba-tiba.

Saat di misa arwah tadi, aku melihat semua frater (calon romo) yang menjadi anak-anak didikan beliau. Aku kenal sebagian besar frater itu karena banyak dari mereka yang pernah aku ajar juga dalam kelas psikologi yang wajib diikuti oleh mereka. Kuucapkan salam belasungkawa karena Romo Senti adalah dosen pendidik dan bapak pendamping bagi mereka. Saat menyetir mobil sepulangnya dari misa, sempat terpikir bagaimana perasaan para frater itu. Kehilangan figur yang banyak menemani pergulatan dunia studi dan panggilan mereka untuk menjadi romo pastilah bukan sesuatu yang mudah. Sempat terasakan suatu perasaan sedih juga. Jangankan mereka sebagai frater yang bertemu dengan Romo Senti mungkin tiap hari, aku yang bertemu dengan Romo hanya di lift saja sudah (anehnya) merasa sedikit rasa kehilangan.

Memang aneh menurutku karena aku tidak tahu beliau, tidak pernah berbicara dengannya. Romo Senti menurutku adalah seseorang yang pendiam, terlihat sedikit pemalu, tipe orang yang lebih banyak bekerja di belakang layar, bukan yang berada di depan, sehingga dia bukan tipe yang banyak berbicara. Kami tidak pernah bertukar pikiran. Kami hanya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sering berbagi waktu dan ruang di lift kecil gedung kami, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa ada sesuatu yang hilang dengan kepergiannya.

Bila direfleksikan lebih mendalam lagi, sungguh luar biasa sebenarnya bagaimana tanpa kita sadari kita mungkin telah menyentuh hati orang lain hanya dengan keberadaan kita. Kehadiran kita, tanpa memerlukan kata-kata, sudah cukup untuk memberikan suatu dampak tertentu bagi orang lain. Dampak itu mungkin tidak langsung dipahami oleh orang itu. Kesadaran itu mungkin baru akan muncul di kemudian hari saat kita tidak ada lagi. Kehadiran kita, keberadaan kita, senyum, sapaan, anggukan kecil, sudah cukup untuk memberikan sesuatu bagi orang lain — apakah itu rasa keakraban, kebiasaan, kenyamanan, atau rasa bahwa kita bersama-sama menjadi bagian dari suatu kelompok. Apapun itu, jangan pernah memandang enteng keberadaan kita.

Hari ini…Tuhan mengingatkanku mengenai itu melalui Romo Senti. Terimakasih, Romo. Terimakasih akan kehadiranmu selama ini di hidup banyak orang, di hidupku. Beristirahatlah dengan tenang. Biarkan kami yang meneruskan membawa cahaya bagi orang lain. Semoga karyamu terus berlanjut di kehidupan selanjutnya. Amin.

Essay · Journey · Life

New Year’s Resolution

It’s the middle of January and I think it’s a perfect time to discuss about new year resolution, don’t you think? Have I started it? Checked! Have I struggled with it? Checked! Have I frustrated myself with it? Double-checked!

I usually don’t have a new year’s resolution. Not the type who follows it, actually. And the times when I did have one, they usually failed. But I think that is typical for a new year’s resolution. This time, I thought of starting one. It may sound simple and short, but it ain’t simple whatsoever, I can tell you that. I’m continuously reminded how difficult the process of doing it, maintaining it, and repeating it.

If I may reflect on the question why it has been difficult, the answer lies on the fact that my resolution involves other people. Even though it actually sounds like something that can be done alone, it doesn’t translate in real life situation as something that can be done alone. To successfully do it, I constantly will need other people. How so you may ask? I need other people by relating to them, making connection with them, reflecting on their response to me, hearing their feedback about me, and so on. And in doing so, I learn what I need to learn in order to accomplish my resolution.

I understand that this is a PROCESS. It needs time, and I may need more than a year to do this. This year just marks the beginning of me making a change in my life. Let’s hope that I can continuously do so. So far, the year 2017 has been going on for about three weeks, and I have been experiencing many ups and downs in relation to the new year resolution. I will continue to stick to it, no matter how painful it can be sometimes. God only knows how much I need to do this. Enough is enough with the past. I need to be better.

My new year’s resolution is short and straight-forward. My new year’s resolution is simple, but not so simple.

It is: To Love My Self Better.

love-myself-by-rudy-fransisco-2

 

Essay · Hope

Suara Kehidupan

Minggu pagi yang suram, segelap hati. Mendung, kelabu, tanpa ditemani sinar matahari yang biasanya menyapaku nyaring dari jendela kamar. Hanya air hujan yang tak kian berhenti menghantam bumi dengan gusarnya sejak subuh tadi. Hati ini mencari, walau tak yakin apa yang sedang dicari sebenarnya. Hanya mencari dan mencari saja yang akhirnya tidak membantu menyelesaikan rasa gelisah. Akhirnya aku memilih untuk duduk di depan laptop, menutup mata sejenak, dan mencoba meditasi.

Yah, meditasi. Sudah lama tidak melakukan ini. Hening, mencoba (dengan sangat) melepaskan pikiran-pikiran sampah busuk tadi. Pikiran-pikiran yang menjatuhkan, menyesatkan, menggelisahkan. Aku tidak butuh semua itu.

Anehnya, suasana sekelilingku bukanlah suasana yang kondusif untuk melakukan meditasi. Hari Minggu adalah hari untuk bersama keluarga. Tidak salah kan kalau aku berpendapat seperti itu? Mungkin aku saja yang tidak mengikuti tradisi itu karena situasiku, tapi tidak berarti orang lain tidak berhak melakukannya. Buktinya, tetangga belakang rumah sedari tadi sudah ribut dengan pekerjaan rumah tangga dan senda gurau mereka. Ada suara air berputar di dalam mesin cuci yang bertanding dengan suara guyuran air hujan. Ada suara anak kecil berteriak, mencari mamanya, diikuti dengan suara nyanyian dariā€¦mungkin kakak perempuannya? Lagunya aku kenal..sering dengar di radio, cuma tak tahu judul dan penyanyinya. Oh, dan ada suara burung berkicau juga, walaupun hanya dari dalam sangkar.

Ada suara seseorang yang sedang memasak, gemerincing suara piring beradu dengan sendok, kaki kursi terseret di atas lantai, dan sekali lagiā€¦teriakan girang seorang anak.

Semua suara itu kurekam di benakku, membawa senyum di pagi hari. Senyumku adalah senyum bahagia. Tak tahu kenapa. Senyum itu mestinya getir, bila aku ikuti suasana hatiku. Kali ini, tanpa aku sadari dari mana datangnya, aku merasakan ada suatu rasa keindahan saat aku benar-benar meresapi semua suara itu. Indah karenaā€¦itu adalah suara kehidupan. Suara harapan.

Walaupun kadang hidupku hening, tanpa suara, tidak berarti aku tidak mencari suara. Suara-suara itu hadir, tidak tanpa sebab. Kuteguk habis semuanya dengan lahap, karena tak tahu kapan lagi semua ini akan datang menemaniku. Kunikmati apa adanya semua yang akhirnya menginspirasi tulisan ini. Tidak rumit sebenarnya kalau ditelusuri lagi dari awal. Semuanya berawal dari suatu kegelisahan, tertuang dalam meditasi, terwujudkan dalam karya. Apa lagi yang harus kukeluhkan? Membuatku bertanya, adakah yang mengatur semua ini?

Sebentar, konsentrasi menulis lagi terusik. Intermission sejenak. Yang tadinya suara teriakanā€¦sekarang beralih ke tangis. Suara tangisan si anak sepertinya mendorong suara si ibu yang memanggil si anak, mencoba menghibur. Kemudian ada suara lain lagi, suara si kakak menjelaskan mengapa adik menangisā€¦dan seterusnya.

Ah, indahnya musik ciptaanMu, Tuhan. Sungguh, aku bersyukur.

Kurekam semua suara-suara itu, membawa senyum ke bibir, dan tak terasa, ada genangan air di sudut mata.

Terimakasih, Tuhan, aku masih engkau beri kehidupan.

 

combine-wallpapers-pack-16

Poem

Someday

39dfd6504a382d65612cb316a4420a6e-d1lbup3
Image is credited to xMegalopolisx, from Deviantart.com

Someday,
She will feel nothing
Emotions will evaporate
No longer a burden on her being

Someday,
She will care for no words
Words will lose its way
No longer have the power to hurt

Someday,
She will shed no more tears
Empty eyes, left to decay
But free from fears

Someday,
Her journey will cease
And she reaches the end
It is then when she discovers peace

It is then when…
she starts…
living