Mendung

pexels-photo-147469

Sejak pulang dari kerja tadi, mendung sudah mengikuti sepanjang perjalanan. Sempat merasa iba terhadap si bulan yang sudah hampir purnama di atas sana. Ia sepertinya ingin menunjukkan dirinya, namun harus terus menghindar dari buntalan-buntalan hitam di sekelilingnya. Ah, awan-awan itu … memang tak mengenal lelah. Mereka sangat giat mengikuti. Kenapa? Mengapa tak bisa pergi sejenak atau datangnya nanti saja bersamaan dengan malam. Paling tidak, malam bisa menutupi, menjadi kedok.

Hati juga ikut terusik jadinya. Pikiran tak lagi terasa tenang seperti sebelum pulang kerja tadi, ikut tergoda akhirnya untuk memasuki dunia yang berwarna gelap itu. Jangan, jangan dulu, sebuah suara lain menyela. Dilawan! Mari saya temani. Apapun itu, jangan masuk ke sana, kata bisikan itu.

Tapi setiap kali mata menerawang keluar ke arah mendung, walaupun cuma sebentar saja, terasa seperti ada suatu tarikan yang sangat kuat untuk masuk ke kegelapan itu. Bagaikan magnet! Tarikan yang terasa familiar, seperti sudah sangat dikenal sebelumnya, sudah terbiasa, dan karena biasa, terasa nyaman — tapi nyaman yang bersamar. Di balik kenyamanan itu, ada jerat sehingga membuat langkah tetap berat untuk mengikuti. Bahkan helaan napas pun mulai terasa berat.

Dengan sekuat tenaga hati melawan. Pikiran dikerahkan untuk berpaling, mencari jalan keluar dari sedotan angin yang menarik ke arah yang berlawanan itu. Semua cara sudah dicoba, tapi tak kunjung usai juga perdebatan di kepala ini. Konflik terus berlangsung dengan serunya di dalam batin bagai deru ombak yang saling berkejaran di tepi pantai saat air pasang. Semakin gelap memasuki malam, semakin liar mereka berkejaran. Kepala seperti terasa ingin meledak.

Dan tanpa disadari, airmata pun bertumpah ruah. Tak mampu terkendalikan lagi. Ada kekuatan yang mendesak air bah itu untuk keluar dari dalam ulu hati, ingin melepaskan sesuatu.

Mungkin mendung memang tak kan selamanya hadir. Tapi saat hadir, ia menunjukkan kekuasaannya.

Dan saat mendung hadir, bayangan itu juga ikut hadir, menghantui. Dengan terpaksa, dengan berat, seluruh tubuh pun akhirnya bertekuk lutut. Tak ada jalan lain selain …

… berserah diri.

*****

 

Advertisements

Storm

shy_by_lolli_chan

Image is titled Shy by Lolli Chan from DeviantArt

a knock
awaken him from a deep slumber
he opened the door
to a moon face
pale looking, frail
standing against door frame
blocking the yellow gleam from the street
spellbound by her presence
lulled by her voice
he invited her in
oblivious to what followed behind her
for it was the most powerful storm
he would ever face
oh, poor guy
trying clumsily to keep it together
the last thing he remembered
before the storm took over
was those eyes
glistened with emptiness
he could see through them
and witness her storm

how unprepared he was
the poor guy

____________________________________________

I’m having one of those days, lacking motivation to be creative. Writing prompts and challenges are not helping today. So, I grabbed an old poem that I created about 6 years ago with no knowledge whatsoever about poetry. These words were inspired by the powerful image above. Those eyes…are haunting, if not daunting — it all depends on your perception.

*****

Aku dan Senja

john-towner-192621

Image by John Towner from unsplash.com

Ada sesuatu yang selalu mengusikku saat bertatapan langsung dengan senja. Aku dan senja, seperti dua orang yang saling menginginkan, merindukan, tapi tidak akur bila bertemu. Bisa dikatakan, senja denganku memiliki love and hate relationship.

Sebenarnya aku punya kisah cinta juga nih. Mungkin suatu waktu bisa dibuat cerpen. Siapa tahu laku, terus jadi pilem. Judulnya AADS: Ada Apa Dengan Senja?

No? Kurang kreatif? Ya udah, batal.

Tapi entah mengapa, melihat nuansa di sekeliling menjadi kuning kejingga-jinggaan seperti suasana di sekelilingku sekarang ini…sangat menoreh hati. Bagiku, warna kuning itu memberi kesan sudah waktunya untuk melepas beban, lelah, untuk masuk ke kandang, mundur, meringkuk. Warna itu menandai waktuku untuk menunggu, dan akhirnya, semuanya akan reda juga, selesai.

Senja adalah saatnya untuk hati berkuasa.

Saat senja, aku merasakan keinginan untuk menarik diri yang sepertinya sedang berkonflik dengan keinginan lain, yaitu keinginan untuk hari terus berlanjut, belum waktunya usai. Dalam genggaman tangganku, kupegang erat semua kesibukan, kegembiraan, keberadaan, kebersamaan yang terjadi hari itu. Belum sudi kulepaskan kenangan hari itu. Belum ikhlas, sehingga akhirnya semua kenangan itu hanya menggigit tanganku, merambat ke seluruh badan. Saat sampai di hati, sudah terlanjur, tidak bisa kubalikkan kembali. Maka perasaanpun akhirnya menguasai, mengambil alih kendali dari pemikiran yang kupakai seharian. Senja adalah saatnya untuk hati berkuasa.

Senja memang berbeda dengan pagi hari. Cakrawala yang berubah dari gelap ke terang saat fajar, memberi kesan bersemangat untuk memulai sesuatu yang baru. Fajar memberi harapan, walaupun sebenarnya fajar kadang hanya bermain dengan harapan kita itu. Warna fajar juga berbeda dengan senja. Yang pasti, bukan kuning yang kurasakan saat fajar, tapi bukan hitam pula. Gelap saat sebelum mentari menunjukkan diri itu berbeda dengan gelapnya malam yang digotong senja. Aku melihat warna biru saat fajar, yang kemudian berangsur-angsur menjadi semakin pudar karena bercampur putih dengan berjalannya waktu. Kesan biru yang cerah itu, dengan membayangkannya saja, sudah mampu merekah senyum di wajah. Indah nian memang.

Sore tidak merekahkan senyum bagiku; kebalikannya, mengusir pergi. Hal ini sudah kurasakan sejak kecil. Setiap mengingat bagaimana kuhabiskan sebagian besar masa kecilku di sore hari, perasaan yang sama sudah melekat sejak saat itu ternyata. Sore bagi masa kecilku identik dengan selalu berada di rumah, berpisah dari teman-teman sekolah, menjalani rutinitas di rumah. Suatu catatan kaki unik dalam kisah cintaku dengan senja, senja adalah waktu untukku kembali berkutat dengan kesendirian. Masa kecilku di rumah lebih sering kuhabiskan berjalan sendirian di dalam isi kepalaku, walaupun ada orang-orang lain yang tinggal di sekelilingku.

Skenario demi skenario kususun dengan rapi. Selalu sebuah drama, dengan aku salah satu pemainnya tentu saja. Tokoh-tokoh yang lain, yah apa adanya. Biasanya dari film-film cerita silat yang kucandui saat itu. Kuingat ada sebuah cermin besar di kamarku yang menjadi saksi bisu atas semua peran yang sudah pernah kumainkan. Aku yang bertalenta ganda (hanya untuk saat itu), berfungsi sebagai sutradara, aktor, dan juga juru rias dan busana.

Tak satupun dari keluargaku yang tahu dengan caraku menyibukkan diri. Tidak ada orang lain selama masa kecilku yang bisa kubagikan isi kepalaku. Bagaimana bisa, saat terbangun dari tidur siang, rumah lebih sering kutemukan dalam keadaan sunyi yang sangat menyengit (#katamemori). Semua sedang beristirahat di kamar masing-masing, sibuk dengan keinginan atau kebutuhan masing-masing.

Kesunyianlah yang lebih sering menyapaku di sore hari.

Kesunyianlah yang lebih sering menyapaku di sore hari. Aku ingat sangat benci dengan perasaan itu. Sungguh tidak menyenangkan. Anehnya, waktu kecil, tak pernah kukaitkan kesunyian itu dengan kesedihan. Baru ketika aku masuk di masa dewasa, perlahan-lahan kumaknai sunyi dan sendiri itu sebagai sebuah sinonim dari kesedihan yang berbentuk kesepian.

Dan sekarang, kuning telah berganti hitam kelam di luar sana, dan sunyipun bertambah seru dalam gigitannya, menusuk. Lengkingan suara serangga malam makin keras terdengar, saling bersahutan. Malah mereka yang bebas berteriak, berpesta, karena malam adalah waktu untuk mereka berpentas. Senja mungkin adalah seorang sahabat bagi mereka, karena senja menandakan sudah hampir tiba waktu untuk keluar dari persembunyian, bermain, dan bebas lepas. Kadang aku cemburu dengan serangga-serangga itu. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Menyambut sore dengan tangan terbuka, dengan senyum merekah di wajah, sama seperti kita manusia menerima kedatangan fajar. Kenapa aku harus menyambut senja dengan hati tertusuk?

Tapi aku juga mencintai senja. Walaupun kedatangannya membawa perih, senja membawa suatu ketenangan. Senja datang dengan kepastian dalam langkahnya. Terlihat kesungguhan dan ketegasan. Bila waktunya gelap, maka gelap akan datang — senja tak pernah gagal mengenai itu. Senja pasti akan membawa gelap. Sebagai perbandingan, fajar belum tentu akan membawa terang sesuai yang kita inginkan. Bukan senja namanya kalau kegelapan tidak membayangi langkahnya dari belakang. Tak apa, aku bisa menerima itu, karena itu adalah suatu bentuk kepastian, bukan hanya janji palsu. Dalam hidup, suatu hal yang sudah pasti adalah kegelapan, bukan ke-terang-an. Gelap pasti akan datang, suatu waktu, di bagian akhir. Dengan sendu dan perih itu, paling tidak aku tahu bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan. Dengan kegelapan itu, paling tidak aku tahu bahwa aku bisa berhenti sejenak, istirahat. Ada kenikmatan saat meringkuk di kegelapan.

Dan satu hal lagi yang membuatku mau menerima senja. Aku tahu, malam yang dibawa oleh senja punya pesona tersendiri.

felix-plakolb-137007

Image by Felix Plakolb from unsplash.com.

Kunanti datangnya malam,

karena hanya dalam kegelapan,

sosoknya sayup terlihat.

Mereka,

pembawa cahaya

penakluk gelap

penguasa buana.

ganapathy-kumar-163082.jpg

Image by Ganapathy Kumar from unsplash.com

Friends

A year ago in Lombok Island, Indonesia…during a road trip together with co-workers.

20160530_102417

“Okay, guys. Ready? We have to do this together. You have to do it this way with your hands, okay? Wait for my signal!” says the commander in the front.

 

20160530_102418

“Everyone in the back ready?” says the commander. “I’m ready with my stand,” says the one next to her. “Wait, do what? Do I need to do this?” says the poor guy with the same look on his face that he always has.

20160530_102419

“Oh come on, you guys. This is sooooo easy. You just have to move your hands like this and then shake your knees and bum. Soooo easy”

 

 

20160530_102445

“See? What I tell you? Easy, right? Rock on!”

Wonderful memories are meant to be kept deep within the heart, and not just in the memory, so they can last forever.

*****

Visit other wonderful photo challenges with the theme Friend at The Daily Post.

 

 

 

Day 6: The Space to Write

20160709_152320

Writing can be an absorbing task. When I write, I need books around me. Sometimes accompanied by coffee and food too. I rely on notes sometimes that I have collected. Or sometimes, idea just came out and I wrote without needing any notes.

When I write, I can go into my own world. Therefore, a place that fits me to write will be my house, or in my room to be specific. Once in a while, I can do it in a coffee shop, but if the coffee shop is too crowded then I have a hard time concentrating. People can be obnoxiously loud in coffee shop, so I have to choose the right one. And I can be picky. I have one that I frequented, with a strong wi-fi, but then the food sucks. The cook seems to like salty food. Then there is another one with good choices of food, but then the wi-fi sucks. In other words, I haven’t found the perfect one yet.

Luckily for me, I always have my home where I can be free to…type away without worrying about noise level. Something to be thankful for.

*****

In addition to the writing task for day 6 above (which I thought was lame and not challenging enough), I must ask the following favor from my readers. I need your suggestion of ideas for me to write which you can put in my Contact section. Write your own contact information and comment there for me to follow up later in my future writing. Your suggestion will be part of my writing task in the future. Thank you.

Hari Ini Aku Gagal

Gagal lagi yang kesekian kalinya.

Hari ini aku meledak. Emosi mengambil alih kontrol, meluap, dan berwujud dalam bentuk sebuah reaksi. Setelah sekian lama belajar untuk mencoba merespon, kegagalanlah yang kutemui hari ini.

Sakit hati timbul karena merasa pekerjaanku diremehkan oleh seorang rekan kerja. Entah mengapa kata-kata yang kuterima hari ini dari rekan kerjaku itu terasa seperti memandang enteng tugas-tugasku. Tanpa perlu mengatakannya langsung, kumaknai kata-kata yang dia pakai hari ini sebagai: Ah, apa artinyalah pekerjaanmu. Dan, semua yang sudah aku bangun susah payah selama ini terasa seperti melorot jatuh. Dengan pahit harus kuterima kenyataan bahwa ada teman kerja (mungkin lebih dari satu) di tempat kerjaku, yang sudah kuanggap teman dan bahkan keluarga sendiri, tidak menghargai jerih payahku. Atau mungkin mereka tidak akan pernah menghargaiku karena berbagai alasan pribadi mereka.

Aku sadar bahwa tanggapan atau pemikiran orang lain bukan sesuatu yang bisa aku kontrol, tapi tetap, rasa sakit itu terasa. Rasa sakit itu semakin terasa karena, kalau dipikir-pikir, rekan kerja yang satu ini selama ini tidak pernah terpikirkan olehku sebagai seseorang yang akan sebegitu mampunya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kenyataan bahwa selama ini berarti kemungkinan besar dia tidak memiliki kepedulian terhadap jerih payahku terasa berat untuk diterima. Mestinya aku sudah tahu mengenai ini. Tanda-tanda dari sikapnya kepada orang lain yang mengarah ke karakter tertentu sebenarnya sudah terlihat. Akan tetapi, yah, di sinilah terletak perbedaan karakterku dengan dia. Mungkin aku yang terlalu naif dan bodoh juga untuk berpikir bahwa dia punya rasa peduli terhadap pekerjaanku. Atau mungkin aku punya pengharapan terlalu tinggi akan karakternya.

Kenapa aku gagal? Kenapa aku membiarkan seorang manusia egois untuk sekali lagi memporak-porandakan tempat kediamanku yang sudah kujaga selama ini untuk siap menghadapi badai apapun yang datang. Aku bisa sebenarnya untuk tidak bereaksi. Apakah keadaanku yang memang sedang stres menghadapi suatu projek saat ini, atau keadaan biologis badanku yang sedang kurang fit yang membuat bentengku agak menurun? Atau apakah memang selama beberapa minggu terakhir ini sudah terbangun semacam rasa tidak senang terhadap sikap rekan kerjaku tapi kucoba untuk menahan, menyimpan, menimbunnya, tapi hari ini, terlalu meluap sehingga membludak? Memang kalau ditelusuri lagi, hari ini adalah hari yang penuh dari pagi sampai sore, sampai makan siangpun untung-untungan berhasil kulahap dalam 5 menit. Bila semua faktor digabungkan, memungkinkan memang untuk akhirnya kehilangan kontrol dan bereaksi terhadap suatu tambahan tekanan yang tak terduga.

Mau tidak mau aku kembali kepada kemampuan diri untuk mengatur emosi. Ternyata sangat tidak mudah. Aku baru akan tahu benar-benar batas kemampuanku mengatur emosi itu saat benar-benar terjebak di suatu sudut, dan masalahnya, aku belum bisa melakukan dugaan di sudut mana aku bisa terjebak. Suatu kejadian di luar dugaan bisa melontarkanku untuk merasa tersudutkan, seperti apa yang aku alami hari ini.

Tapi kemudian aku menganalisa lagi kejadian dengan rekanku itu. Sebenarnya, apakah memang benar apa yang terjadi itu di luar dugaanku ataukah sebenarnya bisa aku prediksi? Kalau dipikir-pikir, mungkin bisa aku prediksi sebelumnya. Hanya saja, yang tidak aku prediksikan adalah fakta bahwa dia mengatakan beberapa hal tidak sensitif yang membuatku merasa terjebak itu.

Kenapa aku tidak bisa memprediksikan dia mengatakan hal-hal tersebut? Yah, sepertinya kembali lagi ke kenaifan dan keluguanku, merasa orang-orang di sekitarku terlalu baik, merasa rekan kerjaku ini tidak akan sampai sebegitu rendah level karakternya untuk bisa mengatakan hal-hal demikian. Setelah aku pikirkan lagi, sebenarnya ada kemungkinan besar malah aku dipergunakan olehnya untuk mencapai suatu misi tertentu. Sempat timbul suatu hipotesis bahwa konflik antara kami memang sudah dia inginkan supaya ini menjadi alasan buatnya untuk keluar dari tanggung jawab perannya yang menjadi alasan konflik kami. Aku merasa dia tidak melakukan tugasnya dengan baik dan hasil dari tugasnya itu melibatkan aku, dan dia melemparkan tanggung jawabnya dengan menyalahkan orang lain. Walhasil, akhirnya dia melakukan juga tugasnya, tapi dengan cara menekanku sehingga meledaklah aku. Dengan adanya konflik ini, apalagi dengan reaksiku, dia kemudian mengatakan sesuatu yang kumaknai sebagai berikut: kalau ada yang tidak suka dengan caranya bekerja dan merasa dia perlu dilepaskan dari tanggung jawabnya, maka silakan saja melakukan itu karena dia juga tidak apa-apa kalau dibebaskan dari tugas itu. Saat membaca tulisan itu, aku merasa dipergunakan, dan lebih parah lagi, aku melangkah masuk ke dalam jebakan itu dengan mudahnya.

Seharusnya aku bisa menyadari lebih awal semua itu. Dan mungkin itulah mengapa aku merasa sangat gagal hari ini. Bukan hanya karena aku gagal menahan emosiku, tapi karena aku merasa menjadi pion dalam sebuah permainan catur orang itu. Dan aku marah, tapi tidak tahu mau mengarahkan kemarahanku ke mana atau siapa.

Dan dalam saat-saat seperti ini, kesendirian terasa sangat menggigit. Saat inilah baru benar-benar terasa apa arti kehilangan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kuajak berbagi lagi. Namun demikian, aku harus bisa menjalaninya dengan kuat. Ini pilihanku sendiri, demikian pula konsekuensinya.

*****

Fighting for Pancasila

“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!”
~ Sukarno (1901-1970), Indonesia’s first President.

“ Learning without thinking is useless, but thinking without learning is very dangerous! ”
~ Sukarno (1901-1970), Indonesia’s first President.

 

garudapancasila_zpssj6tq2fd

June 1, 1945 is commemorated as the birth day of Pancasila. The concept of Pancasila came through Sukarno’s speech before the session of the preparatory committee for the Indonesia’s Independence on June 1, 1945. Sukarno then became the first President after the nation declared its independence on August 17, 1945.

Pancasila is held dearly in the hearts of Indonesian people not only because it is the national emblem of Indonesia, but more than that. It is the foundation, the backbone, the pillar, the strength of the nation. Pancasila runs in the blood of Indonesians, and many have spilled their blood in order to upheld the meaning behind it. I worry that this nation of Indonesia, my country, will fall if Pancasila is no longer treated as its backbone. But before I continue, allow me to describe Pancasila further for those who are unfamiliar with it.

As shown in the picture, Pancasila is depicted as a Garuda bird. In the ancient mythology of Indonesian history, Garuda bird is the vehicle for the god Vishnu that resembles an eagle. The word Pancasila derived from the old Sanskrit language — panca means five and sila means principle.

The Garuda bird displays a shield in its chest declaring the nation’s five principles of ideology (each principle is represented by a symbol, so there are a total of five symbols displayed on the shield). On its feet, it grips a white scroll with the nation’s motto Bhinneka Tunggal Ika written on it. Bhinneka Tunggal Ika means Unity in Diversity, describing Indonesia’s diverse ethnic groups, languages, cultural traditions, religions, and yet there is one language that unites all of those groups, that is Bahasa Indonesia, spoken everywhere in Indonesia.

The five principles of ideology shown on the shield of Garuda are listed as followed (the credit for English translation below is given to wikipedia):

  • The first principle, which is represented with a symbol of star in the middle is Ketuhanan Yang Maha Esa in Bahasa Indonesia and translated to English to mean “A Belief in One Supreme God”.
  • The second principle, that is represented with the symbol of chain, declares Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, which means “A Just and Civilized Humanity”.
  • The third principle, that is represented with the symbol of a banyan tree, declares Persatuan Indonesia, which means “The Unity of Indonesia”
  • The fourth principle, that is represented with the symbol of a bull head, declares Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, which means “Democracy that is Guided by the Inner Wisdom in the Unanimity Arising out of Deliberations amongst Representative”
  • And lastly, the fifth principle, that is the symbol of rice and cotton, declares Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia which means “Social Justice for the Entire People of Indonesia”

I choose this topic for my blogging assignment today because I’d like to reflect on the turbulence that my country is going through in the past few years, and it is especially felt in the past few months.

My country has gone through many ups and downs, but we managed to get through it somehow. The word tolerance was still echoing in many parts of the nation ever since we declared our independence in 1945 and even despite of the ups and downs we have been through. Tolerance and acceptance of the differences are the fruits of having Pancasila as our backbone. We have had uncounted riots, demonstrations, violence against certain ethnic groups, economic downfall of the late 90s, terrorist bombs, and the list continues on for examples of the downs. Despite all of those, we still talked about tolerance and acceptance; at least, we used to. Nowadays, the wind had changed direction it seems. We no longer discuss about tolerance, but instead about the uprising of intolerance. For many decades, Indonesia was used as an icon in the world for a peaceful existence of many religions. We have the largest Muslim population in the world, and for the longest time we have been so proud of living the proof that differences could exist side by side in peace. Just two days ago, I read an article on The Diplomat (click on the word article to take you to the full article) that warned Indonesia that the country may be heading towards becoming like Pakistan if we do not start something to upheld Pancasila and fight for tolerance and acceptance.

The word tolerance that was still heard before has now been questioned. We are now seeing the surfacing of a wave of intolerance. Whether we want to deny it or now, it is here. The news media and the public in general through social media are responsible as well for the spreading of fake news that added gas into the fire. I don’t think this current concern has reached the point of causing panic in the society, but I am positive it exists in the back of the mind of many citizens. Fortunately, we, Indonesians, have a strong genes of resiliency, that despite of troubles and difficulties like this, many of us prevail and continue to live our lives nonchalantly because we face a more important goal in life, that is to survive the already hard live.

On daily basis, I still have many friends who come from different background, hold a different religion than mine, speak a dialect or local language other than Bahasa Indonesia and different than my own local dialect that I learned since I was little. I live in a city that is generally safe and peaceful.  It is not to say that disturbances and unruliness don’t exist in other parts of Indonesia, because they do. Have I lost hope for my country? Absolutely not! My hope is still strong as ever before. I still hope that the younger generation, with the wise guidance of the older generation like mine, can together build this nation to continue its principles and values of Pancasila and upheld the culture of acceptance, tolerance, living in harmony and gotong-royong (mutual assistance).

Thank you for reading and getting to know my country. I encourage you, my readers, to please feel free to ask question or to comment. Thank you. May peace be with us all.

*****

Day 5 of the DailyPost at WordPress challenge: Hook ’em with a Quote’

#everydayinspiration

Getting to Know Our Thinking Pattern

Pay attention to the image below and list some words that might come to your mind triggered by the image or that you are projecting onto the image.

photo-1423882503395-8571951e45cc

Done? Remember, try to list some words before scrolling down.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

 

Most people will probably say words such as busy, bustling life, the future, working people, and so on. Some adjectives would probably be energized, inspiring, or even alive(!).

My guess is that most people will list words that are leaning towards the positive side, but I may be wrong.

How many of you wrote lonely or loneliness?

I did.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

We often think of loneliness as a feeling that comes out when we are alone. A person who lives alone, for example, may be thought of as being lonely because living in such a lone existence. The assumption might perhaps be true, but not always be the case.

An important aspect of loneliness that matters the most is not the low quantity or the zero amount of people we have around us, but the quality we have with those people. Have you ever been in the middle of a crowded union of people in a public place where folks are bustling in and out the building, minding their own business, like the picture above? I have, and in the midst of such environment, I felt it.

A surrounding like the picture above can serve as a trigger, inviting the feeling to slowly resurfacing. How? In my case, the lack of connection I experience to anyone around me in a public place always puzzles me. In a room so crowded where you have to watch your step without bumping into someone or being elbowed by someone, how can I, or anyone, feel so detached? I could disappear in that crowd and no one would notice or care. It seems that the more people in the room, the more unostentatious, hidden, and muted I could become.

Lacking connection or feeling unable to build connection with anyone is the key. Many reasons to explain why a person can lack a feeling of connection to anyone in a crowded environment. It could be a lack of confidence that has prevented a person from striking a conversation, or it could be a lack of warmth and openness from the environment, or both. Either way, something is preventing that person from making a connection.

If we analyze it deeper, sometimes it is a battle in the mind that acts as a barrier. In my case, for example, I felt “less” than the other people in the room. I compared my life to them and focused on what they had that I didn’t have. No wonder it affected my self-esteem, discouraged me, and left me unhappy — it was a perfect thinking formula to trigger loneliness.

Our thinking pattern therefore, is what we need to be paying attention to, which will take a long term practice to master. Onto what road path our thinking is leading us into, is something that we can be mindful of. For more information about learning to control our thinking pattern, I will refer to an article I read today about Struggling with Overthinking, which I find very useful. How to practice controlling overthinking is a topic that perhaps I will touch upon as a separate writing in the future.

The point for now is, every person can learn NOT to be lonely…by getting to know our own mindset and learning to control it.

So, happy learning.

*****

Day 4: A Story in a Single Image, from the Everyday Inspiration Writing Challenge.