Liburan Itu Ibarat Es Krim

madeline-tallman-44555.jpg

Image was taken by Madeline Tallman, from unsplash.com

Liburan itu ibarat es krim. Pasti pernah kan makan es krim?

Ada seorang anak muda yang mengatakan es krim itu tidak bisa bertahan lama, harus segera dimakan karena meleleh dengan cepat. Penafsiran yang sepertinya lebih mengarah ke pemahaman es krim sebagai suatu objek yang harus segera dikonsumsi. Ada sedikit unsur keimpulsifan dalam penafsiran itu, bahwa es krim harus segera dimakan. Maklum yang mengatakan itu juga masih seorang muda. Hidup bagi kaum muda memang cenderung lebih mengarah ke memakai, mengonsumsi apa yang ada di hadapannya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu karena cukup sesuai dengan kebutuhan perkembangan yang masih berpusat pada mencari sesuatu (looking for something). Sesuatu yang dimaksud itu bisa mengenai masa depan, kesuksesan, nilai yang bagus, teman “spesial”, atau bahkan, jati diri.

Penafsiran itu berbeda dengan apa yang sebelumnya sudah sempat terpikirkan olehku saat dalam perjalanan pulang dari kerja. Benak penuh dengan pemikiran bagaimana menghabiskan liburan ini seproduktif dan seefektif mungkin dan mampu merasa puas di finish line seminggu kemudian saat liburan berakhir.

Kebalikan dari penafsiran di atas mengenai es krim, saya malah bertanya trick apa yang bisa saya pakai untuk menikmati es krim itu sepelan mungkin supaya bisa merasa puas sesudah selesai. Saya yakin banyak orang akan setuju bahawa es krim itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Akan tetapi, ironisnya, semua kenikmatan hanya bersifat sementara. Semua kenikmatan pasti akan berakhir. Dan, kalau kita tidak belajar untuk menikmati kenikmatan dan keindahan itu, maka dalam sekejap, kenikmatan dan keindahan akan berakhir tanpa sempat meninggalkan bekas yang mendalam, tanpa sempat memberikan kepuasan.

Tapi es krim memang akan cepat meleleh. Pertanyaannya, dengan demikian, bagaimana caranya untuk makan es krim tanpa berlama-lama dan tetap merasa puas di bagian akhir?

Selama seminggu terakhir ini, saya beruntung sekali bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan beberapa relawan sosial di suatu daerah di kota Surabaya. Kami saling berbagi cerita mengenai banyak hal. Cerita dari mereka kebanyakan mengenai kasus-kasus yang harus ditangani, keadaan penuh stres yang sering berada di luar  kemampuan mereka untuk mengontrol hasil akhir keadaan itu. Saya kemudian menawarkan kepada mereka pengertian mengenai mindfulness. Konsep ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk berada pada “here and now“. Artinya kurang lebih mengenai kemampuan kita untuk benar-benar menyadari keberadaan kita di mana pun kita berada, dan menghargai saat itu, mensyukuri apa yang dimiliki pada saat itu. Untuk mencapai itu, konsep mindfulness mengajarkan pentingnya “letting go” atau melepaskan. Apa yang dilepaskan? Semuanya, sehingga yang tersisa hanyalah diri kita sendiri dan keberadaan kita sekarang.  Hal-hal duniawi lainnya, yang di luar jangkauan kontrol kita, mengenai orang lain, semuanya kita lepaskan. Sebagai gantinya, kita berfokus ke dalam diri kita sendiri, berfokus pada pemikiran kita, pada pernapasan kita, pada apa yang sedang kita lakukan. Kalau sedang meditasi, kita berfokus ke pernapasan dan apa yang panca indera kita rasakan saat bermeditasi. Bila sedang berjalan, kita berfokus pada apa yang ditangkap oleh panca indera kita dan pijakan di bawah telapak kaki, rumput, pasir atau tanah, angin yang berdesir sepoi-sepoi meniup rambut dan daun telinga kita. Dan bila sedang makan, kita berfokus pada makanan yang masuk ke mulut, rasanya seperti apa, sadari proses seperti apa yang makanan itu sudah lalui untuk akhirnya sampai ke mulut kita, tangan dan keringat siapa yang telah membantu untuk akhirnya kita bisa makan makanan itu, dan menyukuri semua karunia itu.

Being mindful therefore, is to be aware.

Untuk menjadi mindful, kita harus lebih menyadari, peka, dan terbuka terhadap sekeliling kita. Meditasi, berjalan, makan hanyalah beberapa contoh saja bagaimana manusia bisa mengaplikasikan konsep mindfulness dalam hidup sehari-hari. Mindfulness membantu berkembangnya kesadaran diri dan kepekaan terhadap sekitar.

Kembali lagi ke topik es krim, memang es krim butuh dimakan dengan cepat. Kita tidak bisa berlama-lama memakan es krim, tidak seperti meminum segelas wine, atau secangkir kopi, yang memang sebaiknya dilakukan sambil berbincang-bincang dengan orang lain. Sebenarnya tidak sulit untuk bisa menikmati es krim dan merasakan kepuasan sesudahnya. Tidak sulit juga untuk menghindari kecenderungan untuk kemudian merasa bersalah karena telah memakan makanan yang dikategorisasikan kurang sehat bagi tubuh, atau junk food. Mindfulness bisa dilakukan dengan memikirkan jerih-payah dan upaya orang-orang yang sudah terlibat dalam pembuatan es krim itu — mulai dari pemerahan susu dari sapi, pengolahan susu sapi, pembuatan kemasan yang siap untuk dipasarkan, pembuatan branding, pemasaran, pemesanan, pengantaran produk, dan seterusnya. Bisa juga dengan berfokus pada nikmatnya rasa es krim di lidah, sensasi dingin dan manis yang dirasakan, atau mungkin sempat terasakan tekstur dan rasa lain yang mungkin tidak pernah tertangkap sebelumnya karena kita terlalu terburu-buru untuk menghabiskan. Misalnya, ada rasa sedikit asin (dan memang es krim sebenarnya ada sedikit rasa asinnya karena membutuhkan garam untuk pembuatannya). Kadang kita bisa merasakan lebih dari satu rasa karena diberi buah atau kacang. Sudah pernahkah anda memakan es krim dan benar-benar meresapi semua rasa yang memungkinkan untuk dirasakan? Itulah salah satu contoh mindfulness. Hasil dari proses itu jauh lebih memuaskan dibandingkan makan secara terburu-buru. Hasil dari proses mindfulness itu juga memungkinkan kita untuk mengurangi makanan karena sebenarnya bukan kuantitas yang berujung ke kepuasan, tapi kualitas.

Lalu mengapa kita berfokus pada es krim, padahal judul artikel mengatakan liburan? Semoga dengan membawa anda dalam esai dengan judul yang agak mengecohkan ini tidak menjadi suatu “torture” untuk pikiran anda sehingga membuat anda akhirnya secara tidak sadar (atau sadar) berjalan ke arah kulkas, membuka dengan harapan akan melihat secuil something yang dapat memuaskan tenggorokan sejenak. Tidak, bukan itu tujuan saya, tapi mohon maaf bila itu yang terjadi.

Saya ingin mencamkan bahwa liburan itu memang ibarat es krim! Bila ingin merasa puas di akhir liburan, kita harus benar-benar meresapinya, menjalaninya secara penuh kesadaran, bersyukur, memanfaatkannya seefektif mungkin. Dan ini kita lakukan tidak secara terburu-buru.

Kita juga harus BERHATI-HATI terhadap fenomena liburan, apalagi liburan panjang. Sama seperti es krim yang mempunyai konsekuensi yang harus dibayar sesudah memakannya (baca: penambahan lemak di tubuh), liburan juga mempunyai konsekuensi unik. Ada tumpukan pekerjaan yang menunggu di awal reuni bersua kembali dengan kantor, pekerjaan yang hanya tertunda sebentar. Namun percayalah, kesetiaannya untuk menunggu kita kembali sudah tak teragukan.

*****

Topik tulisan di atas sebenarnya adalah sebuah topik yang pernah saya tulis setahun yang lalu menjelang libur panjang di akhir tahun. Hasil karya tulisan di atas ini adalah sebuah penulisan ulang yang telah saya revisi di beberapa tempat. Selamat menikmati.

Dan juga, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan. Mari kita selalu menjaga kerukunan antarkepercayaan yang berbeda-beda di tanah air tercinta Indonesia ini. Semoga hari raya ini bisa dirayakan oleh umatnya di seluruh dunia dalam kebersamaan yang ditandai oleh rasa damai dan cinta kasih di dalam hati.

gambar ketupat kartu ucapan lebaran idul fitri 2015.png

 

Mendung

pexels-photo-147469

Sejak pulang dari kerja tadi, mendung sudah mengikuti sepanjang perjalanan. Sempat merasa iba terhadap si bulan yang sudah hampir purnama di atas sana. Ia sepertinya ingin menunjukkan dirinya, namun harus terus menghindar dari buntalan-buntalan hitam di sekelilingnya. Ah, awan-awan itu … memang tak mengenal lelah. Mereka sangat giat mengikuti. Kenapa? Mengapa tak bisa pergi sejenak atau datangnya nanti saja bersamaan dengan malam. Paling tidak, malam bisa menutupi, menjadi kedok.

Hati juga ikut terusik jadinya. Pikiran tak lagi terasa tenang seperti sebelum pulang kerja tadi, ikut tergoda akhirnya untuk memasuki dunia yang berwarna gelap itu. Jangan, jangan dulu, sebuah suara lain menyela. Dilawan! Mari saya temani. Apapun itu, jangan masuk ke sana, kata bisikan itu.

Tapi setiap kali mata menerawang keluar ke arah mendung, walaupun cuma sebentar saja, terasa seperti ada suatu tarikan yang sangat kuat untuk masuk ke kegelapan itu. Bagaikan magnet! Tarikan yang terasa familiar, seperti sudah sangat dikenal sebelumnya, sudah terbiasa, dan karena biasa, terasa nyaman — tapi nyaman yang bersamar. Di balik kenyamanan itu, ada jerat sehingga membuat langkah tetap berat untuk mengikuti. Bahkan helaan napas pun mulai terasa berat.

Dengan sekuat tenaga hati melawan. Pikiran dikerahkan untuk berpaling, mencari jalan keluar dari sedotan angin yang menarik ke arah yang berlawanan itu. Semua cara sudah dicoba, tapi tak kunjung usai juga perdebatan di kepala ini. Konflik terus berlangsung dengan serunya di dalam batin bagai deru ombak yang saling berkejaran di tepi pantai saat air pasang. Semakin gelap memasuki malam, semakin liar mereka berkejaran. Kepala seperti terasa ingin meledak.

Dan tanpa disadari, airmata pun bertumpah ruah. Tak mampu terkendalikan lagi. Ada kekuatan yang mendesak air bah itu untuk keluar dari dalam ulu hati, ingin melepaskan sesuatu.

Mungkin mendung memang tak kan selamanya hadir. Tapi saat hadir, ia menunjukkan kekuasaannya.

Dan saat mendung hadir, bayangan itu juga ikut hadir, menghantui. Dengan terpaksa, dengan berat, seluruh tubuh pun akhirnya bertekuk lutut. Tak ada jalan lain selain …

… berserah diri.

*****

 

Aku dan Senja

john-towner-192621

Image by John Towner from unsplash.com

Ada sesuatu yang selalu mengusikku saat bertatapan langsung dengan senja. Aku dan senja, seperti dua orang yang saling menginginkan, merindukan, tapi tidak akur bila bertemu. Bisa dikatakan, senja denganku memiliki love and hate relationship.

Sebenarnya aku punya kisah cinta juga nih. Mungkin suatu waktu bisa dibuat cerpen. Siapa tahu laku, terus jadi pilem. Judulnya AADS: Ada Apa Dengan Senja?

No? Kurang kreatif? Ya udah, batal.

Tapi entah mengapa, melihat nuansa di sekeliling menjadi kuning kejingga-jinggaan seperti suasana di sekelilingku sekarang ini…sangat menoreh hati. Bagiku, warna kuning itu memberi kesan sudah waktunya untuk melepas beban, lelah, untuk masuk ke kandang, mundur, meringkuk. Warna itu menandai waktuku untuk menunggu, dan akhirnya, semuanya akan reda juga, selesai.

Senja adalah saatnya untuk hati berkuasa.

Saat senja, aku merasakan keinginan untuk menarik diri yang sepertinya sedang berkonflik dengan keinginan lain, yaitu keinginan untuk hari terus berlanjut, belum waktunya usai. Dalam genggaman tangganku, kupegang erat semua kesibukan, kegembiraan, keberadaan, kebersamaan yang terjadi hari itu. Belum sudi kulepaskan kenangan hari itu. Belum ikhlas, sehingga akhirnya semua kenangan itu hanya menggigit tanganku, merambat ke seluruh badan. Saat sampai di hati, sudah terlanjur, tidak bisa kubalikkan kembali. Maka perasaanpun akhirnya menguasai, mengambil alih kendali dari pemikiran yang kupakai seharian. Senja adalah saatnya untuk hati berkuasa.

Senja memang berbeda dengan pagi hari. Cakrawala yang berubah dari gelap ke terang saat fajar, memberi kesan bersemangat untuk memulai sesuatu yang baru. Fajar memberi harapan, walaupun sebenarnya fajar kadang hanya bermain dengan harapan kita itu. Warna fajar juga berbeda dengan senja. Yang pasti, bukan kuning yang kurasakan saat fajar, tapi bukan hitam pula. Gelap saat sebelum mentari menunjukkan diri itu berbeda dengan gelapnya malam yang digotong senja. Aku melihat warna biru saat fajar, yang kemudian berangsur-angsur menjadi semakin pudar karena bercampur putih dengan berjalannya waktu. Kesan biru yang cerah itu, dengan membayangkannya saja, sudah mampu merekah senyum di wajah. Indah nian memang.

Sore tidak merekahkan senyum bagiku; kebalikannya, mengusir pergi. Hal ini sudah kurasakan sejak kecil. Setiap mengingat bagaimana kuhabiskan sebagian besar masa kecilku di sore hari, perasaan yang sama sudah melekat sejak saat itu ternyata. Sore bagi masa kecilku identik dengan selalu berada di rumah, berpisah dari teman-teman sekolah, menjalani rutinitas di rumah. Suatu catatan kaki unik dalam kisah cintaku dengan senja, senja adalah waktu untukku kembali berkutat dengan kesendirian. Masa kecilku di rumah lebih sering kuhabiskan berjalan sendirian di dalam isi kepalaku, walaupun ada orang-orang lain yang tinggal di sekelilingku.

Skenario demi skenario kususun dengan rapi. Selalu sebuah drama, dengan aku salah satu pemainnya tentu saja. Tokoh-tokoh yang lain, yah apa adanya. Biasanya dari film-film cerita silat yang kucandui saat itu. Kuingat ada sebuah cermin besar di kamarku yang menjadi saksi bisu atas semua peran yang sudah pernah kumainkan. Aku yang bertalenta ganda (hanya untuk saat itu), berfungsi sebagai sutradara, aktor, dan juga juru rias dan busana.

Tak satupun dari keluargaku yang tahu dengan caraku menyibukkan diri. Tidak ada orang lain selama masa kecilku yang bisa kubagikan isi kepalaku. Bagaimana bisa, saat terbangun dari tidur siang, rumah lebih sering kutemukan dalam keadaan sunyi yang sangat menyengit (#katamemori). Semua sedang beristirahat di kamar masing-masing, sibuk dengan keinginan atau kebutuhan masing-masing.

Kesunyianlah yang lebih sering menyapaku di sore hari.

Kesunyianlah yang lebih sering menyapaku di sore hari. Aku ingat sangat benci dengan perasaan itu. Sungguh tidak menyenangkan. Anehnya, waktu kecil, tak pernah kukaitkan kesunyian itu dengan kesedihan. Baru ketika aku masuk di masa dewasa, perlahan-lahan kumaknai sunyi dan sendiri itu sebagai sebuah sinonim dari kesedihan yang berbentuk kesepian.

Dan sekarang, kuning telah berganti hitam kelam di luar sana, dan sunyipun bertambah seru dalam gigitannya, menusuk. Lengkingan suara serangga malam makin keras terdengar, saling bersahutan. Malah mereka yang bebas berteriak, berpesta, karena malam adalah waktu untuk mereka berpentas. Senja mungkin adalah seorang sahabat bagi mereka, karena senja menandakan sudah hampir tiba waktu untuk keluar dari persembunyian, bermain, dan bebas lepas. Kadang aku cemburu dengan serangga-serangga itu. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Menyambut sore dengan tangan terbuka, dengan senyum merekah di wajah, sama seperti kita manusia menerima kedatangan fajar. Kenapa aku harus menyambut senja dengan hati tertusuk?

Tapi aku juga mencintai senja. Walaupun kedatangannya membawa perih, senja membawa suatu ketenangan. Senja datang dengan kepastian dalam langkahnya. Terlihat kesungguhan dan ketegasan. Bila waktunya gelap, maka gelap akan datang — senja tak pernah gagal mengenai itu. Senja pasti akan membawa gelap. Sebagai perbandingan, fajar belum tentu akan membawa terang sesuai yang kita inginkan. Bukan senja namanya kalau kegelapan tidak membayangi langkahnya dari belakang. Tak apa, aku bisa menerima itu, karena itu adalah suatu bentuk kepastian, bukan hanya janji palsu. Dalam hidup, suatu hal yang sudah pasti adalah kegelapan, bukan ke-terang-an. Gelap pasti akan datang, suatu waktu, di bagian akhir. Dengan sendu dan perih itu, paling tidak aku tahu bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan. Dengan kegelapan itu, paling tidak aku tahu bahwa aku bisa berhenti sejenak, istirahat. Ada kenikmatan saat meringkuk di kegelapan.

Dan satu hal lagi yang membuatku mau menerima senja. Aku tahu, malam yang dibawa oleh senja punya pesona tersendiri.

felix-plakolb-137007

Image by Felix Plakolb from unsplash.com.

Kunanti datangnya malam,

karena hanya dalam kegelapan,

sosoknya sayup terlihat.

Mereka,

pembawa cahaya

penakluk gelap

penguasa buana.

ganapathy-kumar-163082.jpg

Image by Ganapathy Kumar from unsplash.com

Kesaksian: ‘Gembala yang Baik’

**Title in English is Testimony: ‘A Good Shepherd’. Please scroll down after the Indonesian version to read the English translation**

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.35 saat aku tiba di Griya ME, tempat di mana kelas untuk Kursus Asisten Konselor Pernikahan (KAKP) diadakan setiap hari Selasa dan Jumat malam. Kedatanganku agak sedikit terlambat dari waktu yang ditetapkan untuk memulai kelas, yaitu 18.30, karena harus menghadiri rapat yang seperti tak kunjung usai sebelumnya di kampus. Setelah sekitar 5 jam berkutat dengan hal-hal yang terkait akreditasi universitas, ditambah dengan kemacetan jalan kota Surabaya pada hari Jumat malam, kepala sudah terasa penuh saat sampai di Griya ME. Sebenarnya untuk bisa sampai di Griya ME hanya 5 menit terlambat sudah patut disyukuri. Malah, aku sebenarnya tidak perlu merasa bersalah begitu melihat baru ada 1 orang yang duduk dengan manis menunggu di ruang kelas. Peserta yang lainnya sepertinya juga sedang berjuang di tengah arus pulang kerja orang-orang kantoran yang berlomba untuk sampai ke tujuan.

Sekitar 10 menit kemudian, lebih dari separuh peserta mulai berdatangan. Biasanya aku tidak kaku dalam hal ketepatan waktu untuk hadir di kelas KAKP. Perlu dipahami bahwa para peserta juga sudah cukup terengah-engah dalam mengatur waktu antara keluarga, kerja dan kelas. KAKP sendiri adalah kelas yang diadakan dan didukung oleh Keuskupan Gereja Katolik Surabaya dengan peserta yang berdatangan dari hampir semua paroki di Surabaya. Mereka adalah umat atau kaum religius di paroki masing-masing yang tertarik, atau sudah pernah melakukan, pendampingan pada pasangan suami-istri yang mengalami permasalahan dalam pernikahan. Kebanyakan usia mereka sudah 40-an ke atas. Pernah malah di tahun sebelumnya ada pasangan suami istri yang mengikuti KAKP dalam usia di atas 80 tahun. Patut dihargai pengorbanan dan pelayanan mereka. Niat, tekad, keinginan mereka tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin belajar lebih mendalam mengenai teknik pendampingan keluarga yang efektif supaya lebih berhasil dalam proses pendampingan.

Materi malam ini mengenai Pendekatan Psikoanalisa, suatu teori klasik dan utama di psikologi. Kelas berjalan lancar. Aku merasakan dari awal ada perasaan nyaman dan percaya diri yang sedikit lebih tinggi dibanding biasanya. Akan tetapi, kepercayaan diri itu bukan membuatku mengajar dengan energi dan semangat yang lebih dari biasanya, tapi malah kebalikannya. Pembawaanku malam itu terasa lebih tenang. Ini mungkin juga karena aku masih berkutat dengan batuk dan rasa gatal di leher yang akhirnya membuatku tidak bisa berbicara dengan suara keras dan memutuskan untuk memakai mic yang tersedia. Ditambah dengan ciri khas kelompok ini yang bisa dikatakan tenang dan kalem, kelas akhirnya berjalan dengan lancar dan tanpa banyak gangguan.

Kelas yang tenang tidak berarti pasif. Pertanyaan-pertanyaan terus berdatangan dari awal sampai akhir. Misalnya, ada yang mengatakan bingung dengan pemakaian kata “ego” dalam struktur kepribadian id, ego dan superego, karena ego biasanya memiliki konotasi yang kurang positif, padahal struktur kepribadian ego malah dianggap sesuatu yang positif dalam teori psikoanalisa. Suatu pertanyaan yang bagus menurutku karena didasari oleh pemikiran yang cukup kritis. Mendekati akhir kelas, ada seorang bapak, sebut saja Bapak A, bertanya dari belakang ruangan. Bapak A menceritakan mengenai beberapa kasus pasangan suami istri yang sudah ia bantu di parokinya. Berdasarkan pengalaman itu, Bapak A merasa agak kesulitan dengan apa yang sudah dibahas di KAKP, yaitu asisten konselor pernikahan (AKP) yang sedang dilatih ini diminta untuk sebisa mungkin tidak memberikan solusi kepada konseli. Bapak A merasa hampir semua pasangan yang ia dampingi akhirnya selalu bertanya pertanyaan yang sama, ‘Apa yang harus saya lakukan?

Aku awali jawabanku dengan menjelaskan bahwa godaan yang paling sering terjadi pada konselor, apalagi konselor yang baru memulai, adalah memberikan nasehat dan solusi. Ada unsur bahaya saat menjadi seorang konselor, atau dalam hal ini AKP, yaitu akan ada kecenderungan bagi umat di paroki untuk melihat mereka sebagai seseorang yang memiliki “kelebihan” dalam banyak hal. Lebih yang dimaksud adalah mungkin terlihat lebih berpengalaman, berpengetahuan, dewasa, atau malah juga dalam iman. Dengan memiliki nilai yang “lebih” itu, akan sangat mudah bagi AKP untuk kemudian memberikan jalan keluar bagi umat yang bermasalah. Padahal sebenarnya yang diperlukan oleh umat adalah menemukan jalan keluarnya sendiri, dan tugas AKP hanya mendampingi, membimbing, menemani, dan menjaga supaya umat itu tidak jatuh lagi. Muncul suatu metafor di pikiranku saat menjelaskan bagian itu di kelas, yaitu mengenai mengajarkan seseorang untuk makan. Miisalnya, umat yang sedang mengalami masalah itu ibaratnya umat yang tidak tahu bagaimana caranya makan, padahal di depannya sudah tersedia sendok, garpu, dan piring/mangkuk berisi makanan. Anggap saja umat itu belum pernah belajar makan dengan menggunakan alat makan yang biasanya kita pakai.

“Bila kita memberikan solusi ke mereka, itu ibaratnya seperti kita tidak pernah menjelaskan mengenai fungsi sendok, garpu, piring dan benda-benda peralatan makan lain yang mungkin ada di meja. Kita langsung menyuapi aja mereka. Memang masalah selesai. Mereka akhirnya makan, kenyang, selesai. Tapi berikutnya kalau mereka ada masalah lagi, atau dalam hal ini misalnya butuh makan, dan Bapak, Ibu, Romo tidak ada di samping mereka untuk mendampingi, apakah kira-kira mereka akan tahu bagaimana cara menyuapi dirinya sendiri?”

Demikian penjelasan yang aku berikan ke para peserta. Namun sebenarnya yang aku jelaskan panjang lebar ke mereka itu jauh lebih banyak dari kata-kata yang tertulis di atas. Aku menjawab pertanyaan itu mungkin selama sekitar 10 menit dan saat itu para peserta mendengarkan dengan sangat seksama, sehingga ruangan itu terasa mencekam. Aku mendorong peserta untuk berfokus pada apa yang sebaiknya mereka lakukan dan kesadaran apa yang perlu diingat saat tergoda untuk memberi nasehat, biarpun yang meminta itu adalah konseli/umat sendiri. Kalau aku mencoba untuk menafsirkan arti pandangan dan bahasa tubuh peserta di kelas, sepertinya mereka sedikit tercengang karena mungkin belum pernah mempersepsikan pemberian solusi pada konseli seperti itu. Ada yang mengangguk-angguk, seperti yang terlihat pada Bapak A dan satu-satunya Romo yang ikut menjadi peserta di kelas itu. Ada juga yang terlihat berpikir sangat mendalam, sampai-sampai tidak mengalihkan tatapannya satu kalipun dari wajahku dalam jangka waktu yang lama. Di tengah-tengah momen dimana aku mencoba menjelaskan kepada peserta mengenai tugas seorang AKP dalam menanggapi permintaan solusi, suatu peristiwa terjadi yang cukup mempengaruhiku sampai sekarang dan membuatku akhirnya menyalurkan pengalaman itu dalam bentuk tulisan ini.

Di tengah-tengah penjelasan yang aku berikan, mendadak aku berhenti karena sebuah komentar yang keluarnya secara spontan. Dari belakang ruangan juga, tapi dari pojok yang berbeda dari tempat duduk Bapak A, terdengar suara,

“Seperti gembala yang baik,” komentar seorang bapak, sebut saja Bapak K, yang tiba-tiba menyeletuk.

Hanya 4 kata saja, dan pada saat itu aku merasa seperti terguyur air. Giliranku yang tercengang, hampir tidak mempercayai apa yang kudengar. Tidak mempercayai itu bukan berarti tidak menyetujui apa yang Pak K katakan, tapi malah aku merasa 4 kata itu terasa sangat, sangat pas masuknya. Sebelum Pak K mengatakan kalimatnya, aku sendiri sebenarnya sudah berpikir mengenai itu. Hal itulah yang membuatku merasa kaget karena seakan-akan Pak K membaca pikiranku. Sempat terasa sedikit merinding.

“Terimakasih, Pak, sudah mengingatkan saya. Benar sekali apa yang Bapak katakan,” jawabku perlahan sambil separuh tertegun.

Dari kalimat itu aku masuk ke dalam penjelasan mengapa kata “gembala” itu sangat mengena padaku. Aku jelaskan mengenai lokakarya kepemimpinan di Girisonta, lengkap dengan temanya ‘Gembala Beraroma Domba’ yang berarti gembala yang tahu siapa domba-dombanya, di mana mencari dombanya bila ada yang hilang, dan mengerti dombanya.

Efek yang kuat dari peristiwa itu tidak terasakan langsung, walaupun aku sadar pada saat itu bahwa ada sesuatu yang luar biasa terjadi dan sangat mempengaruhiku secara positif. Tapi dalam bentuk apa efek itu, baru bisa aku cerna perlahan-lahan setelah kelas berakhir. Selama perjalanan pulang dari KAKP, senyum tidak pernah meninggalkan wajahku. Ada suatu perasaan yang sulit dilukiskan, tapi sangat indah, bahagia, terasa ringan yang membuatku terbagi antara ingin tersenyum dan juga sedikit terharu. Terharu karena apa aku juga tidak tahu persis mengapa pada saat itu. Tapi saat itu aku tahu apa yang aku butuhkan. Terbersit di benak dalam perjalanan pulang bahwa aku harus berbicara pada seseorang. Ada keinginan yang sangat kuat untuk membagikan cerita itu. Akan tetapi karena kelas KAKP berakhirnya sudah malam dan ketika sampai di rumah dan selesai makan malam waktu sudah menunjukkan sekitar jam 11 malam, ditambah lagi dengan batuk yang masih terus menyerang, akhirnya badan harus menyerah dan menunda keinginan untuk berbagi sampai hari berikutnya.

Pada hari berikutnya saat bercerita dengan teman, baru aku sadari beberapa insight tambahan. Aku diingatkan bahwa yang aku alami itu bisa dikatakan suatu pengalaman spiritual. Kemudian, ada satu kesadaran lagi yang aku dapatkan saat memproses kejadian itu dengan teman–bahwa sosok Bapak K, dari wajah, postur tubuh, tinggi badan, dan beberapa tanda yang lain, ternyata sangat mirip dengan Romo Kris yang memberikan materi di lokakarya kepemimpinan yang aku ikuti itu. Mungkin malah saat Bapak K memberikan celetukannya, aku sempat membayangkan wajah Romo Kris. Apakah hal itu juga yang secara tidak sadar membuatku tercengang malam itu?

Apa arti dari semua kejadian ini? Yah, aku juga tidak bisa mengatakannya dengan pasti, tapi ada bagian dariku yang tahu bahwa sesuatu yang unik dan spesial aku alami hari itu. Berdasarkan bimbingan dari teman yang tahu lebih banyak mengenai hal kerohanian dan spiritualitas, aku memaknainya seperti ini–bahwa Roh Kudus sepertinya telah hadir pada malam itu, mendampingiku bukan hanya pada saat Bapak K berkomentar, tapi dari awal. Sulit bagiku untuk menjelaskannya, tapi memang dari awal kelas ada yang terasa berbeda. Perkataan Bapak K itu adalah puncaknya. Perkataan itu memang dilontarkan di bagian akhir kelas. Sesudah penjelasanku mengenai lokakarya itu, materi yang perlu aku berikan pada hari itu juga sudah selesai, sehingga waktunya untuk menutup kelas. Sebelum mengakhiri kelas, aku sempat melihat ke sekeliling kelas dan bertanya,

“Apakah sudah paham? Ada pertanyaan?”

Dan pandangan yang aku terima kembali dari peserta adalah pandangan orang-orang yang sedang berpikir mendalam. Memang sepertinya tidak ada lagi pertanyaan yang perlu ditanyakan, karena urutan dan alur pembicaraan malam itu yang diakhiri dengan penjelasan mengenai ‘gembala yang baik’ sudah terasa pas. Aku mengakhiri kelas dengan keyakinan bahwa mereka mengerti apa yang aku katakan. Kesimpulan itu aku buat bukan atas dasar kesombongan, tapi sekali lagi, pandangan orang yang bingung itu berbeda dengan pandangan orang yang mengerti dan sedang mendalami apa yang barusan didengarkan.

Saat menulis ini aku juga menyadari satu hal yang dikatakan teman yang mendampingiku saat aku memproses semua ini. Dia mengatakan bahwa tidak semua orang akan mengalami hal yang sama dan memaknainya sama saat bertemu dengan keadaan atau peristiwa yang aku alami kemarin. Banyak orang tidak memiliki keberuntungan untuk mengalami peristiwa spiritual seperti itu karena untuk bisa mengalaminya dibutuhkan keterbukaan, kemurnian, kesensitifan. Satu hal yang aku tahu pasti adalah semua ini sangat baru bagiku; paling tidak kesadaranku mengenai pengalaman spiritual yang seperti ini. Samar-samar di ingatanku, aku memang sepertinya pernah mengalami peristiwa sebelumnya yang dulunya aku maknai sebagai suatu ‘kebetulan’, tapi sekarang aku mulai memaknainya berbeda–bahwa mungkin semua itu tidak terjadi secara kebetulan. Dan aku semakin percaya itu setelah mengalami peristiwa kemarin atau juga proses yang menuntunku untuk mengikuti lokakarya kepemimpinan kemarin. Dalam membuat keputusan untuk mengikuti lokakarya itu, aku sudah merasa sepertinya ada yang menuntunku, tapi itu cerita lain lagi yang bisa dimaknai terpisah.

Tak ada yang terjadi secara kebetulan di hidup kita. Memang sudah ada yang mengatur semuanya: pertemuan kita dengan orang-orang tertentu, kejadian-kejadian yang menuntun kita ke suatu arah, tanda-tanda dari kehidupan sehari-hari yang awalnya terlihat sepele tapi ternyata menjadi sesuatu yang bersifat spiritual, seperti yang aku alami kemarin di kelas. Ada bagian dariku yang merasa bersyukur, bahagia, tapi ada juga bagian dariku yang mulai berpikir akan kemanakah langkahku di kemudian hari? Apa yang akan terjadi? Ini bukan suatu bentuk kecemasan, tapi lebih mengenai rasa keingintahuan, curiosity. Ada sedikit rasa kegembiraan juga yang mendampingi rasa keingintahuan tersebut. Kegembiraan itu muncul karena di balik kegembiraan itu, yang mendasarinya sebenarnya, tidak lain adalah HARAPAN.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

English Translation.

Testimony: ‘A Good Shepherd’

It was past 6:35 p.m. when I finally arrived at the Griya ME, where the class for the Assistant Marriage Counselor Course (shortened KAKP in Indonesian term) is held every Tuesday and Friday night. I arrived a little bit later than the time set for the start of class, which is 6:30 p.m., due to attending a meeting that felt like it would never end at my work earlier. After about 5 hours of struggling with matters relating to the accreditation process of my work, coupled with the road congestion in Surabaya on Friday night, my head already felt full by the time I arrived at the Griya ME.

About 10 minutes later, more than half of the participants began to arrive. Normally I’m not rigid in terms of timeliness to attend KAKP classes. It should be understood that the participants already have their hands full in organizing and dividing their time between work, family, and class. KAKP itself is held and supported by the Catholic Diocese of Surabaya with participants that come from all parishes in Surabaya. These are common or religious people from any parish who are interested, or are already being involved in, assisting couples who are experiencing marital or family problems. The participants’ age are mostly in their 40s and up. In the previous year, there was even a couple that participated in KAKP who were already above 80 years old. Their sacrifice and service are commendable. Their intention, determination, and desire are not grandiose. All they want is just to learn more and in depth about effective family counseling techniques in order to be more successful in the mentoring process and when providing help for those in need.

The material tonight was about the basics of Psychoanalysis, a classical and major theory in psychology. The class pretty much ran smoothly. I felt from the beginning that there was a feeling of comfort and confidence in me that was slightly higher than usual. However, the confidence did not produce a higher level of energy for me than usual, but actually the opposite happened. The way I carried out myself that night was noticeably quieter and calmer. It could also be because I was still struggling with a cough and an itch in my throat that eventually made it difficult for me to speak loudly and so I decided to use a mic instead. Coupled with the characteristics of this group that are also calm and cool, the class continued to run smoothly and without much disturbance.

A quiet class does not mean a passive one. Questions kept coming from start to finish. For example, one person was confused with the use of “ego” within the structure of personality involving the id, ego and superego. According to this person, the word ego usually has a less positive connotation, whereas the ego personality structure is considered something positive. I thought it was a good question because it was based on a critical thinking. Nearing the end of class, there was another man, let’s just call him Mr. A, who threw his question from the back of the room. Mr. A mentioned that he has helped many couples in his parish. Based on that experience, Mr. A felt a little difficulty with what has been discussed previously in class, that assistant marriage counselor (shortened as AKP in Indonesian) in training are asked as much as possible not to provide solution to their counselee’s problem. His confusion stemmed from the fact that almost all couples who he had accompanied always asked the same question in the end, ‘What should I do?’

I begin my answer by explaining that the biggest and most often occurred temptation faced by counselors, especially counselors who are just starting, is to provide advice and solutions. There is an element of danger in this case for those who want to become a counselor, or in this case the assistant counselor, that there is a tendency for people in the parish to see the assistant counselor as someone who has something “more” in many respects. Assistant counselors may be seen as having more experience, knowledgea, mature, or even in faith. By having a “more” value, it will be very easy for new assistant counselors then to provide a quick way out for other people when in fact people should probably find their own way out. The task of the assistant counselors then is only to accompany, guide, and keep people from falling down again. A metaphor appeared in my mind during my description at that time, which is about teaching a person how to eat. Let’s just say there is a person who does not know how to eat. The person who is experiencing a marital problem is that person who does not know how to eat, even though there are spoon, fork, and plate or bowl containing food in front of him/her.

“If we provide solutions to them, it is like we never explained the function of spoon, fork, plate or other eating utensils that may be on the table. We immediately just feed them. Indeed, the problem is finished. They ended up eating, full, and done. But the next time they are having a problem, or in this case for example they need to eat again, and none of you in this room will be available next to them to assist, do you think they will know how to feed themselves?”

Thus was the explanation I gave to the participants. I actually explained at a greater length more than what I wrote above. It took me probably about 10 minutes to finish my answer, in which case the participants listened very intently. The room seemed like it was frozen. I tried to encourage participants to focus on what they should do and be aware of any temptation to give advice, even if the request comes from the counselee. If I may interpret the meaning of the stares and body language of participants at that time, I think they seemed to be a bit stunned because they might have never perceived providing solution that way before. Some were nodding, as seen in Mr. A and the only Priest among the participants. The rest were seen deep in their thinking, to the point that some of them did not even for once averting their eyes from my face. In the midst of that moment in which I was trying to explain to them about their duties in response to providing solutions, something happened next that affected me tremendously until now and made me finally channeling that experience in the form of this testimony.

In the middle of the explanation I gave, I was suddenly stopped by a comment that discharged spontaneously. From the back of the room as well, but from a different corner, came a voice,

“Like a good shepherd,” said one participant spontaneously, whom we can refer to as Mr. K.

Only four words, but at that moment I felt as if a bucket of water was just poured over my head. It was my turn to be stunned. I could hardly believe what I was hearing. What I meant by hardly believing was not because I did not agree with what Mr. K said, but instead I felt that those four words were spoken out in a perfect time. The timing of hearing those 4 words was just perfect. Before Mr. K said his words, I was actually already thinking the same thing. That’s what made me feeling so shocked. It felt as if Mr. K was able to read my mind. It gave me a little shiver at the time.

“Thank you, sir, for reminding me. It was very true what you said,” I said slowly, half stunned.

After that sentence, I went into an explanation of why the word “like a good shepherd” meant a great deal for me at that time. I explained about the leadership workshop that I attended for 8 days a week ago with the theme of ‘Be like shepherds who smell like their sheep”, which means be like shepherds who know their sheep well, seek out his flock when there are some missing, and understand where to find those missing flock.

The powerful effect of the event was not felt immediately, even though I was fully aware at the time of class that there was something extraordinary happened and greatly influenced me in a positive way. I was able to digest it slowly only after the class ended. During the trip home from KAKP, I could not stop myself from smiling continuously. There was a feeling of happiness, such a blissful feeling, a feeling of lightness that made me smile continuously. I was even a little bit torn in between smiling and feeling moved. I was very touched but I could not comprehend why I felt touched at that moment. It was also on my way home when it occurred to me that I had to talk to someone. There was a very strong desire to share that story to someone. However, because the class ended quite late (9.30 p.m.) and by the time I got home and finished my dinner it was already around 11 p.m., plus while still dealing with a stubborn cough, my body finally had to give up and delayed the desire to share until the next day.

On the next day as I spoke with a friend, and I realized many more new things. I was reminded that my experience could be defined as a spiritual experience. And then, there was one more new insight that I came to realize when processing the scene with my friend – that the figure of Mr. K, from his face, posture, height, and some other signs, were remarkably similar to Father Kris who provided the material on leadership workshop that I attended. Maybe even while Mr. K was giving his comment, I might have imagined Father Kris’ face. Could that also be one factor that had unconsciously stunned me that night?

What is the meaning of all this? Well, I can not say for sure, but there is a part of me that knows that I experienced something unique and special that day. Based on the guidance from a dear friend that I trust who knows more about religion and spirituality, I interpret it like this – that the Holy Spirit seemed to have been present that night, not only during Mr. K’s comment, but also from the beginning. It’s hard for me to explain it, but I did notice something quite different from the beginning of the class. The words of Mr. K is like the peak. It was true that those words were said at the end of class. After my explanation about the leadership workshop, I did not have any more material to give for that day. And I remember at the end of it, I looked around the class and asked,

“Does everyone understand? Any question?”

And the looks that I received back were the looks of those who are in deep thinking. It seems there was no longer any question that needed to be asked. The sequence and flow of conversation that night which ended with an explanation of the ‘good shepherd’ already felt right. I ended the class feeling confident that they understood what I explained. My conclusion was not made out of pride or vanity. One can clearly be certain when looking at those faces. The look given by people who are confused is different than the look of people who understand and are in deep thinking, trying to explore what has just been heard.

While writing this, I am also aware of another thing said by my friend who accompanied me during this process. He said that not everyone will experience and interpret the same thing when facing the same incident that I experienced yesterday. Many people do not have the fortune to experience a spiritual event as such because it takes openness, purity, sensitivity to be able to experience it. One thing I know for sure is that all of these are very new to me; at least being conscious about a spiritual experience like this. Vaguely I remember having experienced similar things before and interpreted them as ‘coincidence’ or ‘serendipity’, but now I began to interpret it differently – that perhaps they did not happen by coincidence. I am increasingly believing in fate now, especially after experiencing the event in class yesterday or the process that led me to the decision to attend the leadership workshop a week ago. In making the decision to attend the workshop then, I already felt that I was being guided, but of course, that is another story to tell.

Nothing happens by chance in life. There is a power organizing everything: our meeting with certain people, events that lead us to a certain direction, the signs from everyday life that might at first seem trivial but actually something of a spiritual nature. There is a part of me feeling grateful, happy, but there is also another part that is beginning to think where will all of these lead me to later in life? What will happen? This is not a form of anxiety, but more of a curiosity. There is also a little bit of excitement accompanying that curiosity. I think the excitement happens because beneath it, underlying the whole thing, is none other than HOPE.

Gembala yang Tahu di Mana Harus Mencari Dombanya

Suatu senja, terlihat seorang laki-laki berjalan menelusuri jalan setapak di tengah padang rumput tandus yang luas. Sejauh mata memandang, tak banyak kehijauan yang terlihat. Hanya rumput dan ilalang kering yang terlihat tumbuh dengan liarnya di daerah itu, saling tumpang tindih, berdesakan, bersaing dengan bebas untuk menyebarkan tanah cengkamannya tanpa ada batasan. Kalaupun ada pepohonan, pohon-pohon itu terlihat lusuh, kering, layu, mungkin karena sudah lama tak dikunjungi oleh air hujan. Hujan memang langka di daerah tandus itu. Sebagian besar isi dari pohon-pohon itu hanyalah ranting-ranting saja. Namun, laki-laki itu terlihat tekun mengamati sekitarnya, seperti mencari sesuatu.

Seorang laki-laki lain, berpakaian rapi dan bersahaja, sedang mengendarai sepedanya melewati padang itu juga, tapi dari arah yang berlawanan. Saat bertemu si pejalan kaki, pengendara sepeda itu menyapanya.

“Apa yang sedang engkau cari, kawanku?” tanya si pengendara sepeda.

“Saya, tuan?” jawab si pejalan kaki, terpengarah karena tak menyangka akan disapa oleh bapak itu. “Saya hanya seorang penggembala domba, tuan, jadi siapa lagi yang akan saya cari selain domba saya?,” jawab orang itu ringkih.

“Hmm…saya datangnya dari arah yang sedang anda tuju. Sepertinya dari tadi tak terlihat seekor dombapun di daerah ini, kawan. Ini daerah tandus, rumputnya sedikit. Domba-domba biasanya tak suka datang ke sini. Yakinkah anda sudah mengambil arah yang tepat?” tanya si pengendara sepeda lagi.

“Oh, tak apa,” jawab gembala itu. “Saya tahu saya berada di jalan yang tepat untuk mendapatkan domba saya,” kata si gembala.

“Baiklah kalau begitu,” kata tuan sambil perlahan mulai berpaling untuk pergi. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba kemudian ia membalikkan badannya lagi dan bertanya, “Tapi kawan, mohon maaf, saya tidak mengerti. Bagaimana anda bisa begitu yakin untuk mengambil jalan ini? Kan sudah saya katakan tadi kalau tidak ada tanda-tanda seekor dombapun yang terlihat dari arahku tadi. Dan juga, tidak akan ada yang menarik baginya untuk datang ke daerah ini.”

“Yah, yang satu ini memang agak unik, Pak. Lain daripada yang lain memang. Tapi saya yakin dia lewat sini,” bersikeras si gembala.

“Tapi bagaimana anda bisa tahu itu? Bahwa dia lewat sini? Itu yang saya maksud,” tanya si tuan lagi.

“Karena saya mengandalkan penciumanku.”

“Penciuman?”

“Iya, tuan. Inilah tempat kesukaan dia. Jangan tanya saya mengapa dia menyukai padang tandus ini, tapi saya tahu, kalau dia nyasar kemungkinan besar dia akan nyasar ke sini.”

Lanjut si gembala, “Samar-samar saya juga mencium bau domba saya, jadi saya tahu domba saya itu melewati jalan ini.”

Tak bisa membalas lagi jawaban gembala itu, bapak pengendara sepeda cuma bisa terdiam sebentar. Sementara itu, si gembala pamit untuk melanjutkan pencariannya.

“Tunggu sebentar, kawan,” panggil bapak itu. “Bila memang demikian menurutmu, maka ambillah ini,” sambil mengeluarkan sebotol air minum.

“Jalan di depan penuh rintangan, kawan. Kering, tandus, dan anda akan haus. Maka bawalah persediaan sederhana ini. Tapi minumlah sedikit demi sedikit, jangan langsung semuanya, karena jalan setapak ini masih panjang. Dan di depan sana anda tidak akan menemukan jalan setapak lagi. Mungkin anda harus membuat jalan setapak sendiri. Di ujung jalan itulah rumah saya. Dalam perjalanan pulangmu sesudah menemukan dombamu, singgahlah untuk beristirahat sejenak di rumahku.”