Perjalanan Penyair Amatir

moon light at night

Image taken from shutterstock.com

 

Malam masih muda, matahari barusan terbenam sejam yang lalu. Seperti biasa, perempuan itu terlihat melakukan kebiasaannya di malam hari. Sambil berjalan tanpa tergesa-gesa, ia terlihat benar-benar meresapi ketenangan suasana di perumahan tempatnya tinggal. Keheningan hanya kadang-kadang terusik oleh suara tawa dan jeritan dari anak-anak yang sepertinya masih sedang bermain. Untungnya suara itu datangnya dari gang di sebelah. Ia bisa menikmati kesendiriannya dengan aman.

Jalan-jalan malam memang indah, apalagi kalau sesekali ditemani oleh sang empunya malam di atas sana, seperti malam ini. Dan memang, sosok itu bagaikan seorang malaikat jelita yang duduk dengan anggunnya di singgasananya, sosok malam yang selalu ia nantikan setiap bulan. Harapan untuk mendapatkan langit yang lengang dari awan, bersih dari hambatan pandangan apapun, sehingga mendapatkan kesempatan untuk melihat pesona itu sangat langka.

Tapi malam itu, dahaganya terpuaskan. Tak pernah sekalipun ia merasa dikecewakan setiap kali bisa menatap bulatan cahaya itu. Keberadaan sahabatnya terlihat kokoh, megah, tak gentar terhadap angin malam, berani menghadapi alam sendirian. Setiap kali melihat sosok menawan itu, napasnya seperti berhenti. Ada keinginan untuk berbagi perasaan yang memuncak itu kepada siapa saja setiap kali bertatapan dengan paras elok itu, namun hanya helaan napas yang terdengar dari mulutnya. Andaikan ia punya kamera jutaan rupiah yang bagus dan lensa yang kuat, pasti sudah akan ia awetkan pemandangan di depannya. Sayangnya, semua itu hanya mampu ia rekam dalam ingatan saja.

Tapi sebentar, sepertinya sedang terjadi suatu perubahan pada perempuan itu. Lihat, betapa wajahnya tiba-tiba menjadi berseri-seri. Tampak ia berlari-lari kecil kembali ke dalam rumah. Selang beberapa detik kemudian, ia sudah muncul lagi dengan kertas dan pulpen di tangan. Tanpa membuang waktu, ia duduk di depan rumah sambil menengadah untuk melihat sosok sahabat setianya itu sejenak sebelum seluruh perhatian kembali terfokus ke kertas kosong di hadapannya. Tapi kertas itu tidak berlanjut kosong dalam waktu yang lama. Perempuan itu terlihat menulis sesuatu dengan penuh semangat, tenggelam dalam konsentrasi tingkat tinggi.

Ternyata yang ia tulis adalah sebuah puisi; puisi tentang keindahan yang sedang mengorek batinnya itu, puisi tentang seorang sahabat lama. Namun, terlebih lagi, keindahan itu kali ini ia kaitkan dengan seseorang yang sedang berada dalam pikiran dan hatinya, seseorang istimewa, seseorang yang mulai menempati suatu ruang khusus dalam nuraninya. Kali ini, ia memang memiliki seseorang untuk berbagi! Betapa pas! Kalau itu digambarkan dalam bentuk suara, mungkin yang akan terdengar adalah pekikan anak-anak seperti yang terdengar dari gang sebelah sebelumnya.

Akhirnya, setelah beberapa jam, puisi itu selesai. Dibutuhkan waktu beberapa jam karena revisi yang dilakukan berulang-ulang, kemudian semua tulisan itu ditransfer ke dalam foto bulan purnama yang juga sempat ia ambil tadi menggunakan kamera sederhana di hapenya. Gambar yang ia ambil memang terlihat kurang bagus. Dahinya sempat berkerut sebentar tadi melihat hasil foto itu, tapi tidak apalah pikirnya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, puisi singkat dan sederhana miliknya akhirnya ia masukkan ke dalam gambar itu. Dengan langkah ringan dan senyum di wajah, siapapun bisa melihat kalau bukan foto jepretan yang menjadi sumber kebahagiaannya malam itu.

Sambil menunggu waktu untuk mengabarkan hasil karyanya kepada seseorang yang istimewa itu, ia menyibukkan diri dengan rutinitas malam lainnya. Perut perlu diisi, rumah perlu diberesi, tugas-tugas kecil menunggu di sekeliling rumah, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa fokus perempuan itu bukan pada tugas di tangannya. Setelah selesai semuanya tibalah waktunya untuk menghubungi doi lewat WA.

Pembicaraan berjalan dengan baik dan lancar di awal. Menahan detak jantung yang berdebar-debar, akhirnya perempuan itu memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu mengenai puisinya dan kemudian menawarkan untuk mengirim foto itu. Tak terasa ia telah menahan napas selama beberapa detik. Tiba-tiba terbersit keraguan akan tindakannya. Wajahnya sempat memerah sebentar. Sudah sangat lama sejak terakhir ia melakukan hal seperti ini. Bisa dikatakan tindakannya ini mungkin sudah agak lancang dan berani. Tapi sudah terlambat, doi pasti sedang melihat gambar itu, beserta puisi sederhananya. Apa gerangan yang akan dia katakan?

Dan kemudian, mengalirlah respon yang ia nantikan. Belum pernah sebelumnya ada yang memberikan masukan tentang puisi hasil karyanya kepada si penulis amatir itu. Selama ini, puisi adalah sebuah proses pembelajaran otodidak baginya. Tapi malam itu, ia mendapatkan sistem pembelajaran baru, pembelajaran yang luar biasa besar dampaknya. Namun saat itu, perempuan itu belum menyadari kedalaman dan goresan jejak dari dampak itu. Saat itu, ia hanya mampu merasakan.

Puisi telah selamanya berubah makna baginya sejak malam itu.

Advertisements

Ajaib

Suatu hal yang aneh terjadi hari ini. Aku mengulurkan tangan–bukan untuk memberikan bantuan tapi untuk meminta bantuan–kepada seseorang yang selama hidupku baru kali ini aku lakukan. Saking butuh dan kusutnya aku mungkin pada saat itu, sehingga melakukan sesuatu yang tak terduga.

Waktu itu siang, menjelang sore. Sebenarnya sedang mau bersiap-siap untuk ke gereja dan barusan menyelesaikan sebuah puisi. Entah kenapa, mungkin ada unsur baper dari menulis puisi itu, tiba-tiba perasaan sedih yang sangat dalam menusukku perlahan. Mulainya pelan, diawali dengan munculnya perasaan tidak nyaman yang langsung bisa kurasakan di perut. Perut terasa agak terlilit. Aku mulai merasa gelisah dan berjalan mondar-mandir di dapur sambil mencoba melawan pemikiran-pemikiran negatif yang muncul bersamaan. Entah mereka datangnya dari mana tapi tiba-tiba menyerbu bersamaan seperti sudah janjian sebelumnya, sambil bergandengan tangan lagi, hadoh! Lalu perlahan muncul isakan yang kemudian bertambah kencang, sampai menjadi sedu sedan yang sudah tak terbendung lagi. Kegelisahan juga bertambah terus. Kemudian ada suara denting di hape. Sempat kutengok sebentar dan melihat ada pesan yang masuk di Whatsapp, yang ternyata dari kakakku. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sempat heran juga kenapa aku bisa menyempatkan diri untuk menengok hape di tengah-tengah kehebohanku? Sampai sekarang aku juga tidak bisa mengerti mengenai itu.

Pesan itu benar dari kakakku. Kalau ada yang mengenal keluarga kami dengan dekat, pasti sudah mulai tergelitik di bagian ini. Seumur hidupku, aku tidak pernah dekat dengan kakakku. Mungkin baru di satu atau dua tahun terakhir ini kami mulai perlahan menjadi dekat, tapi belum sampai pada tahap di mana aku meminta pertolongannya. Dan terlebih lagi, pertolongan untuk…curhat. Aku? Curhat? Ke dia? Mungkin ini karena unsur U(sia)? Mbuh.

Tapi mungkinkah juga karena campur tangan Tuhan? Pesannya di WA masuk pada saat yang tepat. Perlu diketahui, kakakku ini juga bukan…lebih tepatnya, kami berdua bukan tipe yang saling mengabari, berbincang, berdiskusi langsung, apalagi lewat hape, sehingga kemungkinan kami saling mengirimi pesan di WA itu juga masih tergolong langka. Tapi kenapa pesannya masuk pada saat itu? Di saat aku sedang kesulitan bernapas karena dilanda rasa duka yang datangnya bertubi-tubi, saat aku hampir kehilangan pikiran warasku, bergumul dengan pemikiran yang ingin ‘menyerah’ (atau lebih tepatnya bagaimana rasanya kalau semua rasa sakit itu bisa berhenti saat itu juga), pesan dari kakakku itu sepertinya sedang berusaha meraihku. Di situlah terjadi suatu keajaiban. Aku kemudian merasakan tarikan yang luar biasa untuk menghubunginya. Sebuah perdebatan sempat terjadi di pikiranku,

“Benarkah ini yang tepat untuk aku lakukan?” sahut suatu suara.

“Tidak, saya bisa tahan kok. Sudah pernah aku lakukan sebelumnya, masak tidak bisa saya atasi sendiri?” jawab suara lainnya.

“Tapi saya sudah tidak kuat lagi,” kembali ke suara pertama.

“Tunggu sebentar aja, pasti juga akan lewat kok. Kan biasanya juga begini?” sahut balik si suara kedua.

“Sungguh! Sakit sekali rasanya. Saya butuh berbicara dengan seseorang sekarang. Saya butuh keluarkan ini!” balik ke suara pertama lagi, dan seterusnya.

Tidak menunggu lama, mungkin cuma satu atau dua menit saja, akhirnya salah satu dari kedua tim debat di atas menang juga akhirnya, yaitu tim debat yang mewakili sudut hati yang membutuhkan seseorang. Dan aku pun menelpon kakakku akhirnya. Selebihnya tak perlu diceritakan, cukup untuk dicatat karena sudah menjadi sejarah.

Ingat, perlu dicatat! Hari ini menjadi hari bersejarah! Si dua bersaudara yang dari kecil pernah dipanggil Tom dan Jerry (nggak usah pusing deh mana yang Tom dan mana yang Jerry, pokoknya kucing dan tikus yang tak pernah akur!), akhirnya membuat lembaran hubungan yang baru. Kalau diingat-ingat sekarang, aku sebenarnya kasihan juga dengan kakakku. Dia mungkin sama shocknya denganku saat kuputuskan untuk menelpon. Dari nada suaranya bisa kubayangkan bagaimana heboh dan bingungnya dia juga di sana menerima telpon dari sang adik ter-kritis (bukan karena aku tipe orang yang kritis, tapi karena lebih sering mengkritiki dia).

Suatu keanehan memang terjadi hari ini, suatu keajaiban yang patut disyukuri. Masih banyak lagi yang bisa direfleksikan dari kejadian ini. KaryaNya, campur-tanganNya memang sering mengejutkan dan tak terduga, tapi tidak apa. Semakin banyak hal ajaib yang terjadi semakin bagus. Paling tidak, bisa dipakai untuk ide menulis setiap hari. Thank You, Lord! Dan Berkah Dalem untuk kita semua.