Akhir

20170511_171000-1.jpg

 

Kisah ini berawal di suatu hari yang cerah….

Kubuka dua hadiah pagi itu–kedua mataku
dan kaupun melangkah masuk
sadarkah kau tajamnya matamu telah membelahku, meniadakanku
jalanku berbelok arah mengikuti angin sejak itu

Kubuka sebuah hadiah lain pagi itu
juga dari Bapaku–untukmu
masih merah, mentah, tersentak bangun dari tidur yang panjang
terkoyak godaan sebuah keinginan, harapan

Namun sang pemimpi bertopengkan angan melawan kerapuhan
dengan berkendara waktu, berserah pada angin sebagai penentu arah
akhirnya terdampar di suatu tempat di mana lelah mencabik luka lama
dan mata pun mau tak mau berserah, tak lagi kuat

…..dan berakhir di suatu hari yang cerah juga.

Arti Hari Valentine

Sekali lagi, hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang telah tiba. Banyak harapan yang menggantung di udara hari ini, banyak impian, keinginan. Tidak semuanya akan terkabulkan, tapi aku berdoa semoga banyak yang bisa merasakan kebahagiaan pada hari ini. Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar mengerti arti hari Valentine dan mengapa hari ini menjadi hari yang ramai dirayakan?

Kita tidak usah membahas lagi mengenai siapa yang membuat hari ini ramai dan menjadi sekomersial ini. Aspek komersial dari hari Valentine ini mungkin tidak terlalu terlihat di Indonesia, tapi di dunia barat sana, ini adalah hari yang tidak bisa dihindari lagi keberadaannya. Setiap toko, supermarket, mall, sampai toserba kecil-kecilan semacam modelnya Indo Maret di luar sana pasti akan menunjukkan secara besar-besaran bahwa ini adalah hari Valentine sehingga tidak bisa dipungkiri lagi kenyataan bahwa hari yang dinanti-nantikan para pasangan dan hari yang dimimpiburukkan oleh para jomblo (guyon tok, jangan dianggap serius) telah tiba. Di Indonesia, untungnya, bagian ini masih belum seramai di negara barat. Malah dilarang di beberapa tempat karena dianggap membawa pengaruh buruk dan perilaku bebas bagi para kaum muda berdasarkan surat edaran yang sempat saya baca mengenai larangan merayakan hari Kasih Sayang di sekolah-sekolah di Indonesia.

Entah kenapa aku terfokus bukan pada pernyataan di surat edaran untuk melarang merayakan Hari Kasih Sayang, tapi terhadap kata-kata “Hari Kasih Sayang” itu. Saya sampai sekarang tidak bisa mengerti mengapa manusia sampai perlu menetapkan suatu hari khusus untuk memberikan dan menunjukkan rasa kasih sayang. Mengapa kita manusia merasa perlu ada hari khusus untuk diberikan ijin untuk melakukan sesuatu yang istimewa kepada orang yang dikasihi dan dicintai? Lantas apa yang kita lakukan di hari-hari yang lain? Aneh menurutku bahwa kita perlu suatu ALASAN, yaitu Hari Kasih Sayang atau hari Valentine, untuk menunjukkan kasih sayang kita. Setiap hari bisa kita tunjukkan kasih sayang itu melalui hal-hal kecil, melalui pemberian perhatian, waktu, energi kita bagi orang yang dikasihi.

Apa sebenarnya arti Kasih Sayang itu? Setiap orang mungkin punya jawaban sendiri-sendiri mengenai arti kasih sayang. Banyak waktu yang bisa habis terpakai untuk bertanya kepada orang mengenai arti dan definisi kasih sayang, tapi saya rasa itu cuma membuang waktu saja. Pertanyaan yang menurutku lebih tepat dan mengena adalah apa sudah kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita mengasihi seseorang? Menurutku itu lebih penting. Sudahkah kita memberikan yang terbaik dari waktu kita di dunia ini kepada orang yang kita kasihi itu? Tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk menunjukkan itu? Sudah benarkah kita selama ini dalam menunjukkan rasa kasih sayang itu dan bukannya menyia-nyiakan orang yang kita kasihi itu? Sudahkah kita menghargai orang itu dan apakah kita sudah menunjukkan dengan segala usaha bahwa kita menghargainya? Apa yang telah kita korbankan untuk menunjukkan bahwa kita menghargai orang itu? Pengorbanan — benarkah cinta kasih itu mengenai pengorbanan? Menurut para pembaca, bagaimana? Bila setuju, pengorbanan apa yang telah kita lakukan demi orang yang kita kasihi itu dan demi keberlangsungan hubungan kita?

Kasih sayang, menurut pendapat pribadi saya, adalah suatu perasaan, yang didasari oleh hubungan yang mana tercipta kedekatan dan kenyamanan yang kita alami dengan seseorang yang spesial, yang setelah berjalannya waktu (sehingga ada unsur familiaritas) akhirnya menghasilkan kepedulian dan kepekaan terhadap keadaan, keinginan dan kebutuhan orang itu. Terdapat unsur sosial dalam rasa kasih sayang. Kasih sayang bukan sesuatu yang disimpan di hati saja. Bila kita merasakan cinta dan kasih sayang kepada seseorang, secara alami timbul keinginan untuk menunjukkannya dan harapan untuk sesuatu tercipta — mungkin harapan akan adanya perasaan timbal balik dari orang itu. Bila tidak, kita sendiri yang akan merasakan konflik dalam batin kita, sehingga untuk mengatasi konflik batin itu, ada 2 pilihan yang bisa kita lakukan yaitu menunjukkan rasa kasih sayang itu, atau pilihan kedua, secara perlahan mematikan atau mengurangi rasa kasih sayang itu. Dengan kata lain, menyerah terhadap harapan yang masih ada. Ini mungkin terjadi karena si orang lain itu juga tidak memberikan kasih sayang sesuai keinginan kita, sehingga tidak ada motivasi untuk melanjutkannya. Kasih sayang, dengan kata lain, perlu dikeluarkan bila ingin berlanjut. Bila sudah tidak memungkinkan untuk berlanjut, rasa itu akan perlahan pudar. Di sinilah hubungan suatu pasangan akan mulai pecah karena unsur kepedualian dan kasih sayang itu sudah perlahan pudar. Demi keberlangsungan (survival) kedua belah pihak, keduanya perlu move on dan biasanya masing-masing akan mencari kasih sayang di tempat yang lain, apakah itu dari seorang pasangan hidup berikutnya yang kita pilih, atau dari teman, keluarga, dan siapa saja yang bisa memberikan kasih sayang demi keberlangsungan hidup kita. Manusia pada umumnya, secara alamiah, membutuhkan cinta kasih demi keberlangsungan hidupnya.

Dengan demikian, kasih sayang perlu pengorbanan, usaha, keberanian, dan kadang malah kreativitas juga supaya bisa terus hidup dan berlanjut. Kasih sayang tidak bisa dipaksakan, sehingga meminta seseorang untuk menunjukkannya saat orang itu belum siap atau tidak mau melakukannya, tidak ada gunanya. Kasih sayang perlu dipupuk untuk bisa berkembang terus, perlu diperhatikan. Bila tidak, saya rasa kasih sayang itu akan mati juga akhirnya, atau cuma satu pihak dari hubungan itu saja yang memupuknya dan lama kelamaan pihak itu akan kelelahan bila tidak ada timbal balik dalam hubungan itu sesuai dengan standar keinginannya. Tapi itulah indahnya hubungan cinta kasih. Ibarat timbangan tempo dulu yang dipakai untuk menimbang emas, kadang satu sisi akan kelelahan dan menjadi berat sebelah, sehingga sisi yang satunya perlu bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan timbangan lagi…dan seterusnya. Hidup suatu relasi menurutku seperti itu. Kedua belah pihak perlu bekerja sama dalam komitmennya supaya timbangan itu mampu terus seimbang. Komitmen itu, saudara-saudari yang aku kasihi, perlu dilakukan setiap hari, bukan hanya di hari Valentine saja.

Di akhir kata, mohon maaf, saya tidak merayakan hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Bila saya menyayangi seseorang, dan memang benar saya menyayangi dan mencintai seseorang yang spesial, saya tidak perlu hari Kasih Sayang untuk menunjukkannya. Kasih sayang itu bisa saya berikan kapan saja, dengan catatan: (1) Bukan cuma usaha dan waktu saya saja yang habis terpakai, (2) Orang yang saya sayangi dan cintai itu juga siap untuk membuka dirinya terhadap apa yang akan saya berikan karena saya tidak akan segan-segan untuk memberikannya (itulah kepribadian saya), sehingga bila mau menerima apa yang saya berikan, orang itu juga perlu siap menerima segala konsekuensi yang timbul dari komitmen yang bersifat timbal balik ini. Itulah relasi/hubungan cinta kasih yang matang, dewasa dan tidak takut terhadap komitmen.

***Selamat merayakan Cinta dan Kasih Sayang setiap hari***

Cinta itu Tai Kucing (?)

Apa sih sebenarnya cinta itu? Sudah terlalu banyak tulisan, cerita, puisi, lagu yang dibuat untuk mendeskripsikan apa itu cinta, dan ini hanyalah satu tulisan tambahan lagi mengenai topik lama tapi favorit ini.

Kali ini perspektif cinta datang dari pembicaraan antara kaum religius Katolik dan kaum awam. Percakapan khusus mengenai cinta ini terjadi dalam perjalanan lima orang dalam satu mobil menuju stasiun kereta api Tawang, Semarang. Kelompok terdiri dari 2 Romo, 1 Suster, dan 2 orang awam (saya salah satunya). Pembicaraan diawali dengan salah satu dari kaum awam di mobil (catatan: bukan saya!) menceritakan pengalaman hidupnya sebelum menjadi seorang suami. Tidak tahu bagaimana rinciannya tapi kemudian sharing itu berangsur menuju ke arah topik perkawinan dan cinta. Antara mendengarkan dan melamun sambil melihat pemandangan di luar jendela, sayup-sayup telinga ini menangkap kata-kata berikut: ‘cinta itu tai kucing’. Kata-kata itu sepertinya terlontarkan keluar begitu saja dan dalam tempo beberapa detik, suasana di dalam mobil yang tadinya tenang dengan hanya 1 orang saja yang berbicara untuk mengisi waktu perjalanan, tiba-tiba menjadi panas dan penuh dengan antusiasme saat 4 orang membuat keputusan untuk berbicara bersamaan. Lamunanku pun terpaksa terhentikan sejenak. Secara otomatis, tanganku bergerak untuk mengeluarkan handphone untuk merekam pembicaraan itu. Ada firasat muncul di benakku yang mengatakan bahwa pembicaraan sedang menuju ke arah yang…menarik.

Dan memang benar, pembicaraan yang berlangsung sekitar 10 menit itu menjadi SANGAT menarik.

Salah satu Romo, sebutlah Romo M, menunjukkan ketidakpuasannya mendengar istilah ‘cinta itu tai kucing’ dengan bertanya, “Jatuh cinta itu apa sih artinya?” yang kemudian dijawab secara spontan oleh yang lainnya.

“Terpeleset,” kata Suster.

“Jatuh itu ya…tibo (tibo=jatuh, dalam bahasa Jawa),” kata Pak K yang sebelumnya menginisiasi istilah kramat ‘cinta itu tai kucing’.

“Jatuh cinta itu adalah afeksinya,” kata Romo M menjelaskan. “Cinta yang sesungguhnya adalah komitmen dan tanggung jawab yang selama ini Bapak lakukan. Jadi tidak bisa dibilang cinta itu tai kucing.”

Setelah sekian panjang perdebatan bolak-balik antara kedua kubu yang awalnya terdengar seperti bertentangan, ternyata hasil akhir dari diskusi adalah kesadaran bahwa mereka sebenarnya sepaham kalau jatuh cinta itu berbeda dengan cinta. Kesepakatan akhir adalah bahwa bukan cinta yang tai kucing, tapi proses jatuh cintanya. Suster malah menambahkan bahwa bagi kaum remaja, tai kucing itu bisa terasa enak seperti coklat, sehingga timbullah istilah baru ‘tai kucing terasa coklat’ karena sedang jatuh cinta.

Yah, apapun cinta itu, mau tai kucing atau tai domba, mau rasa coklat atau stroberi, tidak masalah. Banyak makna yang bisa didapatkan dari pembicaraan di atas. Satu kesepakatan lain yang didapatkan kelompok adalah cinta itu sebenarnya mengenai komitmen, tanggung jawab, dan itulah seharusnya yang menjadi dasar dalam berkeluarga.

Pengorbanan. ‘Esensi cinta itu pengorbanan’ adalah hasil yang bisa saya petik dari diskusi hangat itu. Dalam pengorbanan kita harus berani mengambil langkah awal, keluar dari zona nyaman kita, mencoba sesuatu yang baru, dan menanggung risiko untuk terluka. Memang benar bahwa kadang dalam menjalani kehidupan sehari-hari bersama orang yang kita cintai, yang namanya afeksi itu tidak terlihat atau terperhatikan lagi. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh Pak K di awal pembicaraan, bahwa afeksi itu tidak penting dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. Tapi ada yang kurang tepat dalam pemikiran Pak K ketika ia menyamakan afeksi itu sebagai cinta, sehingga terlontar perkataan ‘cinta itu tai kucing!’. Pemikiran itu sudah dibenarkan di akhir diskusi.

Benar bahwa cinta itu jauh lebih mendalam dari hanya menunjukkan afeksi. Saya setuju dengan perkataan itu. Akan tetapi menurutku, memperlihatkan afeksi seperti dua orang yang masih saling jatuh cinta itu tidak ada salahnya. Malah saya akan mengatakan bahwa sikap itu diperlukan dalam suatu hubungan. Dalam menunjukkan afeksi terhadap pasangan, terjalin ikatan emosional antara dua orang, terjadi suka cita, timbul semacam kehangatan, keakraban. Saat afeksi mulai ditinggalkan, menurutku relasi itu menjadi kering. Kalau relasi antara dua orang itu diibaratkan sebuah tanaman bunga, tanaman itu bisa saja tumbuh dengan hanya disirami air. Air itu melambangkan hal-hal jasmaniah yang kita butuhkan setiap hari, seperti makanan, minuman, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan dasar yang membuat kita mampu untuk terus hidup, survive. Tapi andaikan kita bisa memberikan perhatian yang lebih bagi tanaman itu, misalnya secara rutin merawat akarnya, melap daun-daunnya, mempertimbangkan letak tanaman terkait sinar matahari, dan bahkan berbicara pada tanaman itu, saya yakin tanaman itu akan mampu tumbuh jauh lebih baik dibandingkan yang tidak diberikan perhatian lebih. Mungkin perbedaan bisa terlihat pada warna bunganya, tinggi tanaman, dan kesegaran daun.

Dalam hal hubungan antara dua orang yang saling mencintai, perhatian dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk hidup itulah air yang diberikan pada tanaman, dan perhatian dalam bentuk afeksi itu adalah pemenuhan kebutuhan psikologis yang menurutku mampu membuat siapapun berkembang menjadi jauh lebih indah lagi — sama seperti sebuah tanaman yang diberikan perhatian yang lebih dengan harapan orang itu bisa tumbuh dan berkembang sesuai kapasitas dan potensinya.

Topik cinta itu memang sangat dalam dan luas. Tulisan ini hanya melihat satu sisi kecilnya saja, terpancing oleh diskusi yang hangat dalam perjalanan menuju perpisahan bagi kami berlima di mobil itu. Kedengarannya seperti pembicaraan biasa, sepele, tapi bagiku hal-hal yang kelihatannya sepele itulah yang indah. Dan memang setelah memikirkannya lagi lebih mendalam, pembicaraan kecil itu terbukti menarik.

Tidak ada yang tai kucing mengenai cinta, atau jatuh cinta. Keduanya dibutuhkan. Masing-masing memiliki kekuatan sendiri. Cinta sejati dalam bentuk pengorbanan adalah salah satu bagian dari pembangunan kehidupan keluarga, tapi perilaku afeksi seperti dua orang yang sedang jatuh cinta bisa dikatakan yang membantu rumah itu untuk hidup, bergairah, indah, menyenangkan–tidak kering, membosankan.