Adalah Seorang Perempuan

Adalah seorang perempuan muda, seseorang yang berani dalam menghadapi hidup. Sebagai seorang perempuan muda yang berasal dari luar pulau, bisa saja caranya menerjang tantangan hidup tanpa ragu ini adalah caranya untuk bisa terus bertahan. Ia juga berani berbicara. Malah mungkin kadang susah untuk dihentikan saat ingin berbicara. Pembawaannya serius, agak sedikit berkesan keras dan tomboy-ish tapi juga lembut, suatu kombinasi yang indah menurutku. Anak muda yang pintar, punya kesukaan untuk membaca buku. Buku-buku seperti dilahap habis secara cepat olehnya. Buku menjadi bantal tidurnya, menjadi pendamping hampir kemanapun ia pergi. Sebagai anak sulung, mungkin satu-satunya anak perempuan, pembawaan yang tegas dan mandiri sangat membantunya dalam hidup merantau, jauh dari keluarga inti. Hampir tak ada yang bisa menghalangi langkah anak muda satu ini, sang srikandi pembawa perubahan, si aktivis muda yang berani dan lincah. Pasti banyak srikandi muda lainnya yang semodel dengan yang satu ini, tapi entah mengapa, dia menarik perhatianku. Hanya doa dan harapan yang bisa aku panjatkan buatnya karena dengan potensi yang seperti itu, dunia terbuka lebar buatnya. Ia tinggal memilih ingin berkarya di mana.

Adalah seorang perempuan yang masih muda, tapi dewasa dan matang dalam usia dan kepribadian. Wataknya keras, namun bisa sangat lembut dan hati-hati dalam bertutur kata. Ia berani berbicara, malah bisa dikatakan tipe yang tidak akan tinggal diam bila melihat suatu ketidakadilan terjadi di depannya. Semakin didesak, maka akan semakin terlihat keras kepalanya. Namun satu hal yang pasti, apapun yang ia lakukan, diawali dengan niat yang baik. Pukulan demi pukulan ia alami dalam hidup dan dunia pekerjaannya. Pengorbanan untuk melepaskan apa yang ia impikan untuk masa depannya dengan berat hati ia lakukan, demi orang-orang yang ia cintai. Pengorbanan itu sempat membuatnya terjatuh sebentar, tapi karena rasa tanggung jawab yang sangat besar, ia akhirnya bangkit lagi dan melangkah terus. Banyak kekecewaan, tapi banyak pula hal yang patut disyukuri. Wanita yang satu ini memang tahan banting. Pantang menyerah dalam struggle-nya mengatasi demand dalam dunia kehidupan sehari-hari adalah ciri khasnya. Dan disitulah juga letak keindahan wanita ini. Hidup yang penuh tantangan ia jalani terus dengan senyum di wajahnya.

Adalah seorang perempuan muda lagi, mungkin yang paling muda dalam kelompok cerita ini. Pembawaannya ceria, banyak berceloteh, seakan hidup itu ringan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa langkah-langkah itu ternyata membawa beban yang cukup berat baginya. Masa lalu diwarnai dengan banyak kekecewaan, pernah menjadi korban perisakan pula. Hidup baginya selama ini berfokus pada pencarian. Apa yang dicarinya? Tidak lain adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis setiap manusia, yaitu diterima, diinginkan, menjadi bagian dari suatu kelompok. Proses pencarian dan penerimaan sosial itu terus menghantarnya pada hempasan yang berulang-ulang, sehingga yang namanya jatuh bangun pun menjadi suatu normalitas. Setiap kali jatuh, gadis muda ini tidak pernah punya pegangan untuk membantunya mencerna apa yang telah terjadi dan bagaimana harus memperbaiki. Dengan berjalannya waktu, yang terbentuk adalah suatu kepribadian yang selalu menoleh ke dalam dan menyalahkan diri sendiri setiap mengalami kegagalan karena tingginya kebutuhan untuk diterima. Ia semakin sering dipersepsikan sebagai “aneh” walaupun aku lebih memilih kata “unik”; apapun namanya, persahabatan menjadi sulit bagi gadis muda ini. Barulah pada masa perkuliahan, ia berhasil menemukan sedikit demi sedikit dukungan untuk beradaptasi dan mengenali lebih dalam lagi dirinya sendiri. Perjalanan ke depan memang tidak otomatis menjadi mudah dan gadis muda inipun masih sering jatuh bangun, salah langkah, kadang masih menerka-nerka apakah jalan di depannya sudah benar. Akan tetapi, satu hal yang pasti, ia tidak pernah satu kalipun menyerah.

Adalah seorang perempuan yang sudah dewasa dalam usia dan kepribadian, sekitar usia dewasa madya. Mungkin aku perlu memanggilnya ibu. Ibu yang satu ini sebenarnya secara diam-diam adalah role model-ku. Ibu ini memegang peran yang sangat penting dalam pekerjaannya, pintar, berpendidikan tinggi, dan seorang pemimipin. Tekanan dari pekerjaan dalam sekitar 6 bulan terakhir ini bisa dikatakan sangat sangat tinggi. Saya memang tidak melihat Ibu ini bergulat menghadapi semua itu setiap hari, tapi barusan ini kami sempat bertemu dan bercakap-cakap. Tanpa kami sadari kami duduk bersama saling mendengarjan selama berjam-jam. Waktu sepertinya melayang begitu saja dalam percakapan kami. Kuperhatikan sahabatku yang luar biasa kuat dan tegar ini (walaupun dia mungkin tidak akan menyetujui bahwa dirinya tegar karena kerendahan hatinya) mengeluarkan isi hatinya dan aku tidak bisa membayangkan bila aku berada dalam posisinya. Trenyuh melihat dan mendengarkan kisahnya. Tapi sama seperti srikandi-srikandi yang sebelumnya, yang namanya ‘menyerah’ tidak ada dalam pikirannya. Sebaliknya, yang dia pikirkan hanyalah tanggung jawabnya sebagai seorang pemimipin dan orang-orang yang percaya dan bergantung padanya. Didorong oleh pemaknaan itu, ia berusaha sekuat tenaga mengalahkan semua pemikiran-pemikiran negatif yang menghampirinya, dibantu juga oleh iman yang kuat. Walaupun ada hari-hari tertentu yang lebih sulit dibanding hari yang lain, tapi Ibu ini terus melangkah keluar rumahnya setiap hari dan melakukan tugasnya. Setiap hari. One day at a time.

Adalah seorang perempuan tua, sudah lanjut usia. Ibu ini seorang ibu rumah tangga, tidak punya titel sarjana dan sejenisnya, tidak punya banyak keahlian selain keahlian seorang ibu rumah tangga. Ia sudah memasuki masa usia yang mestinya sudah perlu banyak istirahat. Akan tetapi, jangan berharap bahwa ia akan beristirahat. Tidak akan dan tidak bisa. Setiap pekerjaan di rumah masih ingin ia lakukan sendiri, walaupun sekitar 3 bulan yang lalu melalui suatu operasi besar. Ibu satu ini masih sibuk mengurusi banyak hal dan aktif di gereja. Ini adalah ibu yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam hidupnya, juga keras kepala, keras dalam pembawaan, tegar, dan berani, tapi sederhana dalam sepak terjangnya melakukan tugas. Tidak banyak yang bisa di-highlight dari ibu ini dalam hal keunikannya dibanding dengan perempuan-perempuan sebelumnya. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa saja. Tapi mungkin di situlah letak keindahannya. Dari suatu ketidakadaan, dari titik nol, dia bisa membuat suatu keberadaan yang patut disyukuri.

Cerita-cerita yang sangat singkat ini memang samar-samar, tidak lengkap, tidak jelas, karena wujud tokohnya tak bernama. Memang itulah tujuan penulisan ini. Mereka semua adalah wanita-wanita biasa, berdasarkan kisah nyata, tapi tak perlu bernama. Tua atau muda, ibu rumah tangga atau pekerja kantor, berpendidikan tinggi atau rendah, kaya atau miskin, tak peduli agama atau etnis mereka apa; siapapun mereka, mereka adalah orang-orang berharga, yang bergulat dengan seluk-beluk dan naik-turunnya jalan kehidupan setiap hari. Mereka adalah pahlawan, role-model dan sumber inspirasi yang bisa kita panuti. Mereka adalah buku berjalan, human books, penuh dengan cerita. Apakah kita sudah SIAP untuk mendengarkan cerita mereka?

Mereka adalah kartini-kartiniku.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2018

Advertisements

Hasil Refleksi Pribadi dari Bedah Buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”

Kita tidak pernah tahu pintu apa yang akan kita temui dalam hidup. Dan saat pintu itu kita buka, pemandangan seperti apa yang akan kita temui. Tuhan telah menakdirkanku untuk bertemu dengan salah satu dari sekian banyaknya pintu dalam hidupku belum lama ini.

Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia. Powerful title!

Saya masih ingat waktu pertama kali diajak untuk menjadi pembedah buku itu. Acaranya diadakan di universitas sendiri, jadi kenapa tidak? Sebelum ditawarkan kesempatan itu oleh rekan saya, Pak Adven Sarbani yang juga salah satu dari 70 lebih penulis di buku itu, saya memang sudah sempat melihat postingan-postingan mengenai acara bedah buku lainnya untuk buku yang sama di universitas lain dan tergelitik untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai buku dengan judulnya yang sudah menggugah hati. Tanpa menunggu lama, saya langsung mengiyakan tawaran itu. Sekalian pikirku ini kesempatan emas untuk bertemu dengan beberapa teman lama dan sahabat baru yang se-passion dengan tema-tema terkait keberagaman, kebhinnekaan, dan lintas agama/lintas etnis.

Waktu persiapan untuk membaca buku berhalaman sekitar 300an itu cuma dua minggu. Mencari kesempatan untuk membaca selama dua minggu penuh di sela-sela kesibukan kerja ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan buku itu. Akan tetapi, apa yang telah aku baca sudah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhiku.

Beberapa tema berhasil saya tangkap dan coba untuk dalami, seperti tema penderitaan, kemarahan, kekecewaan, ketidakadilan, diskriminasi, ketakutan, kecurigaan, kewaspadaan. Pendek cerita, tema kepahitan hidup. Tapi banyak juga tema positif seperti forgiveness, bangkit dari penderitaan, perjumpaan yang mengubah cara berpikir menjadi lebih positif, dan toleransi.

Ada satu cerita yang sempat membuatku kaget dan jantung berdebar-debar. Di situ sang penulis menjelaskan pengalaman pahit yang dialami keluarganya di kota kelahirannya yang sama dengan kota kelahiranku. Kejutan itu tidak berhenti di situ. Penulis kemudian mengatakan nama daerah tempat tinggalnya dan bagaimana tempat itu memang terkenal sebagai daerah rawan penghasil preman dan pembuat onar di kota itu. Saya rasa tidak perlu untuk saya jelaskan lagi mengapa daerah yang dituliskan itu sangat signifikan buatku dan membuat jantungku langsung berdebar kencang.

Intinya adalah saya merasa buku itu sedang berbicara denganku. Saat itu saya menyadari bahwa saya juga punya cerita, dan ceritaku perlu dikeluarkan. Ceritaku butuh pembaca, pendengar, witness. Ceritaku punya kekuatan yang bisa aku bagikan dan semoga bisa menyentuh nurani kaum yang masih dingin hatinya.

Cerita itu sebenarnya sudah pernah aku ceritakan kepada beberapa teman dekat. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat cerita dikeluarkan secara lisan dibandingkan dalam bentuk tulisan. Terjadi pendalaman yang lebih membekas lagi saat diresapkan dalam bentuk tulisan. Janji sudah aku berikan kepada editor buku, Gus Aan Anshori, untuk menyetorkan tulisan itu suatu saat di kemudian hari dan janji perlu ditepati.

Pada hari bedah buku dijadwalkan di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, sekitar 200 orang lebih menghadiri; angka akhir malah sudah mendekati 300. Angka itu cukup memenuhi harapan awal kami sehingga dari sudut pandang jumlah peserta bisa dikatakan acaranya berhasil. Akan tetapi, berhasilkah pesan-pesan kami diterima oleh khalayak ramai di ruangan itu?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti, tapi dengan harapan yang tinggi saya yakin pesan kami mengena pada audience. Saya bisa merasakan kehadiranNya dalam perasaan dan pikiran yang berkecamuk di ruangan itu, terlihat dari lontaran komentar dan pertanyaan dari peserta. Dan saya hanya bisa terus berharap bahwa paling tidak ada dari peserta yang tersentuh dan mau meneruskan pesan-pesan kami.

Saya hanya menuliskan di sini reaksi saya pribadi. Terus terang sampai pada saat acara dimulai, saya tidak mengetahui secara pasti bagian mana dari buku itu yang mau saya tanyakan atau fokuskan dan yang sesuai dengan bidangku. Memang ada bayangan apa yang mau dikatakan, tapi juga ada sedikit perasaan overwhelm. Saya merasa agak bingung sebenarnya. Ironis menurutku karena saya tahu saya juga punya banyak pengalaman pribadi yang bisa saya kaitkan dengan apa yang saya baca. Terlalu banyak malah! Dan mungkin di situlah letak jawaban mengapa saya merasa agak bingung dan tersesat, tak tahu pasti perlu mengatakan apa.

Setelah berkesempatan untuk merenungkannya lagi selama beberapa hari sesudah acara selesai, saya menyadari bahwa saya bukannya tidak tahu mau ngomong apa, tapi tidak tahu mau MULAI dari mana! Mau fokus ke kebingungan identitasku sendiri selama ini yang sering sampai membuatku merasa tersesat dan tidak merasa belong ke kelompok manapun sepanjang perjalanan hidupku? Atau mengenai keinginanku untuk selalu ingin diterima atau menjadi bagian dari suatu kelompok? Bagaimana penerimaan itu sangat penting bagiku? Dan struggle ini masih terasa sampai sekarang! Secara tidak sadar kebingungan identitasku yang sering tidak tahu pasti saya ini orang Indonesiakah, orang Manadokah, orang Makassarkah, atau orang Tionghoakah, telah menghantui perjalanan hidupku dan caraku membuat keputusan. Dan ini apalagi benar-benar saya rasakan waktu tinggal selama 21 tahun di AS di mana embel-embel identitas minoritas ditambah lagi dengan kata “imigran” dan “ras Asia”. Nah loh, tambah bingung toh?

Sewaktu bagianku berbicara di bedah buku itu, saya mencoba menerjemahkan apa yang bergumul di benakku yang terasa sangat penuh waktu itu. Saya berusaha mengeluarkannya dengan sangat hati-hati dan memilih-milih karena hanya Tuhan yang tahu betapa banyak sebenarnya yang mau keluar tapi tertahan. Kenapa saya tahan? Karena bukan tempatnya. Saya sudah melihat banyak dari pengalaman orang lain dan merasakan sendiri diperlakukan berbeda dan tidak adil karena warna kulit, kesipitan mata, warna rambut, bentuk hidung, tinggi badan, paspor, status kewarganegaraan, dan yang paling utama dan dominan…logat. Kalau saya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 1,000 saja untuk setiap pertanyaan, “Mbak/Ibu/Cici/Cece asalnya dari mana?” yang dilontarkan orang-orang sesudah saya mengeluarkan sepatah dua patah kata, itu sendiri sudah bisa menjadi penghasilan rutinku. Aku sudah bisa ngumpulin uang untuk pergi berlibur, tahu?!

Jadi yah, begitulah yang terjadi di bedah buku itu. Terus terang saya merasa belum memberikan yang sepenuhnya. Masih menahan diri waktu itu karena memang saya belum siap. Hal yang pasti bisa saya katakan, buku itu sudah membuka suatu pintu. Dan kadang ada pintu tertentu yang begitu ditemukan dan dibuka, susah untuk ditutup rapat kembali. Namanya juga pintu, yah fungsinya memang untuk dibuka tutup sesuai kebutuhan, bukan?

Kesimpulan dari hasil refleksiku, masih banyak ternyata dari diriku sendiri yang belum tereksplorasi. Pintu itu masih menunggu keberanianku untuk masuk ke sana.

Liburan Itu Ibarat Es Krim

madeline-tallman-44555.jpg

Image was taken by Madeline Tallman, from unsplash.com

Liburan itu ibarat es krim. Pasti pernah kan makan es krim?

Ada seorang anak muda yang mengatakan es krim itu tidak bisa bertahan lama, harus segera dimakan karena meleleh dengan cepat. Penafsiran yang sepertinya lebih mengarah ke pemahaman es krim sebagai suatu objek yang harus segera dikonsumsi. Ada sedikit unsur keimpulsifan dalam penafsiran itu, bahwa es krim harus segera dimakan. Maklum yang mengatakan itu juga masih seorang muda. Hidup bagi kaum muda memang cenderung lebih mengarah ke memakai, mengonsumsi apa yang ada di hadapannya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu karena cukup sesuai dengan kebutuhan perkembangan yang masih berpusat pada mencari sesuatu (looking for something). Sesuatu yang dimaksud itu bisa mengenai masa depan, kesuksesan, nilai yang bagus, teman “spesial”, atau bahkan, jati diri.

Penafsiran itu berbeda dengan apa yang sebelumnya sudah sempat terpikirkan olehku saat dalam perjalanan pulang dari kerja. Benak penuh dengan pemikiran bagaimana menghabiskan liburan ini seproduktif dan seefektif mungkin dan mampu merasa puas di finish line seminggu kemudian saat liburan berakhir.

Kebalikan dari penafsiran di atas mengenai es krim, saya malah bertanya trick apa yang bisa saya pakai untuk menikmati es krim itu sepelan mungkin supaya bisa merasa puas sesudah selesai. Saya yakin banyak orang akan setuju bahawa es krim itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Akan tetapi, ironisnya, semua kenikmatan hanya bersifat sementara. Semua kenikmatan pasti akan berakhir. Dan, kalau kita tidak belajar untuk menikmati kenikmatan dan keindahan itu, maka dalam sekejap, kenikmatan dan keindahan akan berakhir tanpa sempat meninggalkan bekas yang mendalam, tanpa sempat memberikan kepuasan.

Tapi es krim memang akan cepat meleleh. Pertanyaannya, dengan demikian, bagaimana caranya untuk makan es krim tanpa berlama-lama dan tetap merasa puas di bagian akhir?

Selama seminggu terakhir ini, saya beruntung sekali bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan beberapa relawan sosial di suatu daerah di kota Surabaya. Kami saling berbagi cerita mengenai banyak hal. Cerita dari mereka kebanyakan mengenai kasus-kasus yang harus ditangani, keadaan penuh stres yang sering berada di luar  kemampuan mereka untuk mengontrol hasil akhir keadaan itu. Saya kemudian menawarkan kepada mereka pengertian mengenai mindfulness. Konsep ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk berada pada “here and now“. Artinya kurang lebih mengenai kemampuan kita untuk benar-benar menyadari keberadaan kita di mana pun kita berada, dan menghargai saat itu, mensyukuri apa yang dimiliki pada saat itu. Untuk mencapai itu, konsep mindfulness mengajarkan pentingnya “letting go” atau melepaskan. Apa yang dilepaskan? Semuanya, sehingga yang tersisa hanyalah diri kita sendiri dan keberadaan kita sekarang.  Hal-hal duniawi lainnya, yang di luar jangkauan kontrol kita, mengenai orang lain, semuanya kita lepaskan. Sebagai gantinya, kita berfokus ke dalam diri kita sendiri, berfokus pada pemikiran kita, pada pernapasan kita, pada apa yang sedang kita lakukan. Kalau sedang meditasi, kita berfokus ke pernapasan dan apa yang panca indera kita rasakan saat bermeditasi. Bila sedang berjalan, kita berfokus pada apa yang ditangkap oleh panca indera kita dan pijakan di bawah telapak kaki, rumput, pasir atau tanah, angin yang berdesir sepoi-sepoi meniup rambut dan daun telinga kita. Dan bila sedang makan, kita berfokus pada makanan yang masuk ke mulut, rasanya seperti apa, sadari proses seperti apa yang makanan itu sudah lalui untuk akhirnya sampai ke mulut kita, tangan dan keringat siapa yang telah membantu untuk akhirnya kita bisa makan makanan itu, dan menyukuri semua karunia itu.

Being mindful therefore, is to be aware.

Untuk menjadi mindful, kita harus lebih menyadari, peka, dan terbuka terhadap sekeliling kita. Meditasi, berjalan, makan hanyalah beberapa contoh saja bagaimana manusia bisa mengaplikasikan konsep mindfulness dalam hidup sehari-hari. Mindfulness membantu berkembangnya kesadaran diri dan kepekaan terhadap sekitar.

Kembali lagi ke topik es krim, memang es krim butuh dimakan dengan cepat. Kita tidak bisa berlama-lama memakan es krim, tidak seperti meminum segelas wine, atau secangkir kopi, yang memang sebaiknya dilakukan sambil berbincang-bincang dengan orang lain. Sebenarnya tidak sulit untuk bisa menikmati es krim dan merasakan kepuasan sesudahnya. Tidak sulit juga untuk menghindari kecenderungan untuk kemudian merasa bersalah karena telah memakan makanan yang dikategorisasikan kurang sehat bagi tubuh, atau junk food. Mindfulness bisa dilakukan dengan memikirkan jerih-payah dan upaya orang-orang yang sudah terlibat dalam pembuatan es krim itu — mulai dari pemerahan susu dari sapi, pengolahan susu sapi, pembuatan kemasan yang siap untuk dipasarkan, pembuatan branding, pemasaran, pemesanan, pengantaran produk, dan seterusnya. Bisa juga dengan berfokus pada nikmatnya rasa es krim di lidah, sensasi dingin dan manis yang dirasakan, atau mungkin sempat terasakan tekstur dan rasa lain yang mungkin tidak pernah tertangkap sebelumnya karena kita terlalu terburu-buru untuk menghabiskan. Misalnya, ada rasa sedikit asin (dan memang es krim sebenarnya ada sedikit rasa asinnya karena membutuhkan garam untuk pembuatannya). Kadang kita bisa merasakan lebih dari satu rasa karena diberi buah atau kacang. Sudah pernahkah anda memakan es krim dan benar-benar meresapi semua rasa yang memungkinkan untuk dirasakan? Itulah salah satu contoh mindfulness. Hasil dari proses itu jauh lebih memuaskan dibandingkan makan secara terburu-buru. Hasil dari proses mindfulness itu juga memungkinkan kita untuk mengurangi makanan karena sebenarnya bukan kuantitas yang berujung ke kepuasan, tapi kualitas.

Lalu mengapa kita berfokus pada es krim, padahal judul artikel mengatakan liburan? Semoga dengan membawa anda dalam esai dengan judul yang agak mengecohkan ini tidak menjadi suatu “torture” untuk pikiran anda sehingga membuat anda akhirnya secara tidak sadar (atau sadar) berjalan ke arah kulkas, membuka dengan harapan akan melihat secuil something yang dapat memuaskan tenggorokan sejenak. Tidak, bukan itu tujuan saya, tapi mohon maaf bila itu yang terjadi.

Saya ingin mencamkan bahwa liburan itu memang ibarat es krim! Bila ingin merasa puas di akhir liburan, kita harus benar-benar meresapinya, menjalaninya secara penuh kesadaran, bersyukur, memanfaatkannya seefektif mungkin. Dan ini kita lakukan tidak secara terburu-buru.

Kita juga harus BERHATI-HATI terhadap fenomena liburan, apalagi liburan panjang. Sama seperti es krim yang mempunyai konsekuensi yang harus dibayar sesudah memakannya (baca: penambahan lemak di tubuh), liburan juga mempunyai konsekuensi unik. Ada tumpukan pekerjaan yang menunggu di awal reuni bersua kembali dengan kantor, pekerjaan yang hanya tertunda sebentar. Namun percayalah, kesetiaannya untuk menunggu kita kembali sudah tak teragukan.

*****

Topik tulisan di atas sebenarnya adalah sebuah topik yang pernah saya tulis setahun yang lalu menjelang libur panjang di akhir tahun. Hasil karya tulisan di atas ini adalah sebuah penulisan ulang yang telah saya revisi di beberapa tempat. Selamat menikmati.

Dan juga, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan. Mari kita selalu menjaga kerukunan antarkepercayaan yang berbeda-beda di tanah air tercinta Indonesia ini. Semoga hari raya ini bisa dirayakan oleh umatnya di seluruh dunia dalam kebersamaan yang ditandai oleh rasa damai dan cinta kasih di dalam hati.

gambar ketupat kartu ucapan lebaran idul fitri 2015.png

 

Order Does Exist within Chaos

Chaos, messy, isn’t that part of life? Who never experienced chaos before?

Well, I am in the middle of a change right now, trying to send chaos away, packing it in a suit case, and hopefully chaos never returns again. But perhaps chaos may come back in a different form in the future. Who knows. But at this moment, I’m ready to send one away.

Days that I hope will be more in an order will start in a month. A life with a full time teaching position will soon be in the past for me. Still teaching, but possibly in a different form, and definitely not full time. I’m not too worried about how I’m going to adjust, although I’m starting to feel the emotional aspect of going through another phase of change and adaptation. Life is about learning and learning is a life-long process. And therefore, I would think the same goes with teaching. I can still teach, but in a different way. Teaching is a form of sharing, and so no doubt, I can still do it one way or another.

But for now, I am ready to let go one type of chaos out of my life.

 

PhotoGrid_1496931772820

 

A view like this in my house always marks the ending of a semester. Each stack is from a class, so there is a total of 5 classes. All I can chant now, “I’m ready to let you go.”

 

PhotoGrid_1496924266415

 

The stack of chaos shown above occupies another desk. This time it is at my desk in the office. Same meaning with the previous stacks, it only means the end of a semester. “I’m ready to let go of you, chaos,” I said convincing myself.

Order does exist within chaos.

PhotoGrid_1496931833967

And this … this one, I swear to you, there is an order in the seemingly chaos depicted here. Imagine this is a stack of stones that are seen in many outdoor pictures. What kind of feeling do those pictures usually attempt to arouse?

Well, hell, there is an inner calmness definitely in that picture too. It’s obvious.

Unfortunately, I can’t claim ownership of the stack of inner calmness, because it’s not my creation. I can only claim ownership of the picture. This inner calmness, by the way, managed to stay strong like this for many days. Order does exist within chaos.

*****

 

Daily Post Weekly Photo Challenge: Order

 

 

 

 

Mendung

pexels-photo-147469

Sejak pulang dari kerja tadi, mendung sudah mengikuti sepanjang perjalanan. Sempat merasa iba terhadap si bulan yang sudah hampir purnama di atas sana. Ia sepertinya ingin menunjukkan dirinya, namun harus terus menghindar dari buntalan-buntalan hitam di sekelilingnya. Ah, awan-awan itu … memang tak mengenal lelah. Mereka sangat giat mengikuti. Kenapa? Mengapa tak bisa pergi sejenak atau datangnya nanti saja bersamaan dengan malam. Paling tidak, malam bisa menutupi, menjadi kedok.

Hati juga ikut terusik jadinya. Pikiran tak lagi terasa tenang seperti sebelum pulang kerja tadi, ikut tergoda akhirnya untuk memasuki dunia yang berwarna gelap itu. Jangan, jangan dulu, sebuah suara lain menyela. Dilawan! Mari saya temani. Apapun itu, jangan masuk ke sana, kata bisikan itu.

Tapi setiap kali mata menerawang keluar ke arah mendung, walaupun cuma sebentar saja, terasa seperti ada suatu tarikan yang sangat kuat untuk masuk ke kegelapan itu. Bagaikan magnet! Tarikan yang terasa familiar, seperti sudah sangat dikenal sebelumnya, sudah terbiasa, dan karena biasa, terasa nyaman — tapi nyaman yang bersamar. Di balik kenyamanan itu, ada jerat sehingga membuat langkah tetap berat untuk mengikuti. Bahkan helaan napas pun mulai terasa berat.

Dengan sekuat tenaga hati melawan. Pikiran dikerahkan untuk berpaling, mencari jalan keluar dari sedotan angin yang menarik ke arah yang berlawanan itu. Semua cara sudah dicoba, tapi tak kunjung usai juga perdebatan di kepala ini. Konflik terus berlangsung dengan serunya di dalam batin bagai deru ombak yang saling berkejaran di tepi pantai saat air pasang. Semakin gelap memasuki malam, semakin liar mereka berkejaran. Kepala seperti terasa ingin meledak.

Dan tanpa disadari, airmata pun bertumpah ruah. Tak mampu terkendalikan lagi. Ada kekuatan yang mendesak air bah itu untuk keluar dari dalam ulu hati, ingin melepaskan sesuatu.

Mungkin mendung memang tak kan selamanya hadir. Tapi saat hadir, ia menunjukkan kekuasaannya.

Dan saat mendung hadir, bayangan itu juga ikut hadir, menghantui. Dengan terpaksa, dengan berat, seluruh tubuh pun akhirnya bertekuk lutut. Tak ada jalan lain selain …

… berserah diri.

*****

 

Aku dan Senja

john-towner-192621

Image by John Towner from unsplash.com

Ada sesuatu yang selalu mengusikku saat bertatapan langsung dengan senja. Aku dan senja, seperti dua orang yang saling menginginkan, merindukan, tapi tidak akur bila bertemu. Bisa dikatakan, senja denganku memiliki love and hate relationship.

Sebenarnya aku punya kisah cinta juga nih. Mungkin suatu waktu bisa dibuat cerpen. Siapa tahu laku, terus jadi pilem. Judulnya AADS: Ada Apa Dengan Senja?

No? Kurang kreatif? Ya udah, batal.

Tapi entah mengapa, melihat nuansa di sekeliling menjadi kuning kejingga-jinggaan seperti suasana di sekelilingku sekarang ini…sangat menoreh hati. Bagiku, warna kuning itu memberi kesan sudah waktunya untuk melepas beban, lelah, untuk masuk ke kandang, mundur, meringkuk. Warna itu menandai waktuku untuk menunggu, dan akhirnya, semuanya akan reda juga, selesai.

Senja adalah saatnya untuk hati berkuasa.

Saat senja, aku merasakan keinginan untuk menarik diri yang sepertinya sedang berkonflik dengan keinginan lain, yaitu keinginan untuk hari terus berlanjut, belum waktunya usai. Dalam genggaman tangganku, kupegang erat semua kesibukan, kegembiraan, keberadaan, kebersamaan yang terjadi hari itu. Belum sudi kulepaskan kenangan hari itu. Belum ikhlas, sehingga akhirnya semua kenangan itu hanya menggigit tanganku, merambat ke seluruh badan. Saat sampai di hati, sudah terlanjur, tidak bisa kubalikkan kembali. Maka perasaanpun akhirnya menguasai, mengambil alih kendali dari pemikiran yang kupakai seharian. Senja adalah saatnya untuk hati berkuasa.

Senja memang berbeda dengan pagi hari. Cakrawala yang berubah dari gelap ke terang saat fajar, memberi kesan bersemangat untuk memulai sesuatu yang baru. Fajar memberi harapan, walaupun sebenarnya fajar kadang hanya bermain dengan harapan kita itu. Warna fajar juga berbeda dengan senja. Yang pasti, bukan kuning yang kurasakan saat fajar, tapi bukan hitam pula. Gelap saat sebelum mentari menunjukkan diri itu berbeda dengan gelapnya malam yang digotong senja. Aku melihat warna biru saat fajar, yang kemudian berangsur-angsur menjadi semakin pudar karena bercampur putih dengan berjalannya waktu. Kesan biru yang cerah itu, dengan membayangkannya saja, sudah mampu merekah senyum di wajah. Indah nian memang.

Sore tidak merekahkan senyum bagiku; kebalikannya, mengusir pergi. Hal ini sudah kurasakan sejak kecil. Setiap mengingat bagaimana kuhabiskan sebagian besar masa kecilku di sore hari, perasaan yang sama sudah melekat sejak saat itu ternyata. Sore bagi masa kecilku identik dengan selalu berada di rumah, berpisah dari teman-teman sekolah, menjalani rutinitas di rumah. Suatu catatan kaki unik dalam kisah cintaku dengan senja, senja adalah waktu untukku kembali berkutat dengan kesendirian. Masa kecilku di rumah lebih sering kuhabiskan berjalan sendirian di dalam isi kepalaku, walaupun ada orang-orang lain yang tinggal di sekelilingku.

Skenario demi skenario kususun dengan rapi. Selalu sebuah drama, dengan aku salah satu pemainnya tentu saja. Tokoh-tokoh yang lain, yah apa adanya. Biasanya dari film-film cerita silat yang kucandui saat itu. Kuingat ada sebuah cermin besar di kamarku yang menjadi saksi bisu atas semua peran yang sudah pernah kumainkan. Aku yang bertalenta ganda (hanya untuk saat itu), berfungsi sebagai sutradara, aktor, dan juga juru rias dan busana.

Tak satupun dari keluargaku yang tahu dengan caraku menyibukkan diri. Tidak ada orang lain selama masa kecilku yang bisa kubagikan isi kepalaku. Bagaimana bisa, saat terbangun dari tidur siang, rumah lebih sering kutemukan dalam keadaan sunyi yang sangat menyengit (#katamemori). Semua sedang beristirahat di kamar masing-masing, sibuk dengan keinginan atau kebutuhan masing-masing.

Kesunyianlah yang lebih sering menyapaku di sore hari.

Kesunyianlah yang lebih sering menyapaku di sore hari. Aku ingat sangat benci dengan perasaan itu. Sungguh tidak menyenangkan. Anehnya, waktu kecil, tak pernah kukaitkan kesunyian itu dengan kesedihan. Baru ketika aku masuk di masa dewasa, perlahan-lahan kumaknai sunyi dan sendiri itu sebagai sebuah sinonim dari kesedihan yang berbentuk kesepian.

Dan sekarang, kuning telah berganti hitam kelam di luar sana, dan sunyipun bertambah seru dalam gigitannya, menusuk. Lengkingan suara serangga malam makin keras terdengar, saling bersahutan. Malah mereka yang bebas berteriak, berpesta, karena malam adalah waktu untuk mereka berpentas. Senja mungkin adalah seorang sahabat bagi mereka, karena senja menandakan sudah hampir tiba waktu untuk keluar dari persembunyian, bermain, dan bebas lepas. Kadang aku cemburu dengan serangga-serangga itu. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Menyambut sore dengan tangan terbuka, dengan senyum merekah di wajah, sama seperti kita manusia menerima kedatangan fajar. Kenapa aku harus menyambut senja dengan hati tertusuk?

Tapi aku juga mencintai senja. Walaupun kedatangannya membawa perih, senja membawa suatu ketenangan. Senja datang dengan kepastian dalam langkahnya. Terlihat kesungguhan dan ketegasan. Bila waktunya gelap, maka gelap akan datang — senja tak pernah gagal mengenai itu. Senja pasti akan membawa gelap. Sebagai perbandingan, fajar belum tentu akan membawa terang sesuai yang kita inginkan. Bukan senja namanya kalau kegelapan tidak membayangi langkahnya dari belakang. Tak apa, aku bisa menerima itu, karena itu adalah suatu bentuk kepastian, bukan hanya janji palsu. Dalam hidup, suatu hal yang sudah pasti adalah kegelapan, bukan ke-terang-an. Gelap pasti akan datang, suatu waktu, di bagian akhir. Dengan sendu dan perih itu, paling tidak aku tahu bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan. Dengan kegelapan itu, paling tidak aku tahu bahwa aku bisa berhenti sejenak, istirahat. Ada kenikmatan saat meringkuk di kegelapan.

Dan satu hal lagi yang membuatku mau menerima senja. Aku tahu, malam yang dibawa oleh senja punya pesona tersendiri.

felix-plakolb-137007

Image by Felix Plakolb from unsplash.com.

Kunanti datangnya malam,

karena hanya dalam kegelapan,

sosoknya sayup terlihat.

Mereka,

pembawa cahaya

penakluk gelap

penguasa buana.

ganapathy-kumar-163082.jpg

Image by Ganapathy Kumar from unsplash.com

Day 6: The Space to Write

20160709_152320

Writing can be an absorbing task. When I write, I need books around me. Sometimes accompanied by coffee and food too. I rely on notes sometimes that I have collected. Or sometimes, idea just came out and I wrote without needing any notes.

When I write, I can go into my own world. Therefore, a place that fits me to write will be my house, or in my room to be specific. Once in a while, I can do it in a coffee shop, but if the coffee shop is too crowded then I have a hard time concentrating. People can be obnoxiously loud in coffee shop, so I have to choose the right one. And I can be picky. I have one that I frequented, with a strong wi-fi, but then the food sucks. The cook seems to like salty food. Then there is another one with good choices of food, but then the wi-fi sucks. In other words, I haven’t found the perfect one yet.

Luckily for me, I always have my home where I can be free to…type away without worrying about noise level. Something to be thankful for.

*****

In addition to the writing task for day 6 above (which I thought was lame and not challenging enough), I must ask the following favor from my readers. I need your suggestion of ideas for me to write which you can put in my Contact section. Write your own contact information and comment there for me to follow up later in my future writing. Your suggestion will be part of my writing task in the future. Thank you.

Hari Ini Aku Gagal

Gagal lagi yang kesekian kalinya.

Hari ini aku meledak. Emosi mengambil alih kontrol, meluap, dan berwujud dalam bentuk sebuah reaksi. Setelah sekian lama belajar untuk mencoba merespon, kegagalanlah yang kutemui hari ini.

Sakit hati timbul karena merasa pekerjaanku diremehkan oleh seorang rekan kerja. Entah mengapa kata-kata yang kuterima hari ini dari rekan kerjaku itu terasa seperti memandang enteng tugas-tugasku. Tanpa perlu mengatakannya langsung, kumaknai kata-kata yang dia pakai hari ini sebagai: Ah, apa artinyalah pekerjaanmu. Dan, semua yang sudah aku bangun susah payah selama ini terasa seperti melorot jatuh. Dengan pahit harus kuterima kenyataan bahwa ada teman kerja (mungkin lebih dari satu) di tempat kerjaku, yang sudah kuanggap teman dan bahkan keluarga sendiri, tidak menghargai jerih payahku. Atau mungkin mereka tidak akan pernah menghargaiku karena berbagai alasan pribadi mereka.

Aku sadar bahwa tanggapan atau pemikiran orang lain bukan sesuatu yang bisa aku kontrol, tapi tetap, rasa sakit itu terasa. Rasa sakit itu semakin terasa karena, kalau dipikir-pikir, rekan kerja yang satu ini selama ini tidak pernah terpikirkan olehku sebagai seseorang yang akan sebegitu mampunya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kenyataan bahwa selama ini berarti kemungkinan besar dia tidak memiliki kepedulian terhadap jerih payahku terasa berat untuk diterima. Mestinya aku sudah tahu mengenai ini. Tanda-tanda dari sikapnya kepada orang lain yang mengarah ke karakter tertentu sebenarnya sudah terlihat. Akan tetapi, yah, di sinilah terletak perbedaan karakterku dengan dia. Mungkin aku yang terlalu naif dan bodoh juga untuk berpikir bahwa dia punya rasa peduli terhadap pekerjaanku. Atau mungkin aku punya pengharapan terlalu tinggi akan karakternya.

Kenapa aku gagal? Kenapa aku membiarkan seorang manusia egois untuk sekali lagi memporak-porandakan tempat kediamanku yang sudah kujaga selama ini untuk siap menghadapi badai apapun yang datang. Aku bisa sebenarnya untuk tidak bereaksi. Apakah keadaanku yang memang sedang stres menghadapi suatu projek saat ini, atau keadaan biologis badanku yang sedang kurang fit yang membuat bentengku agak menurun? Atau apakah memang selama beberapa minggu terakhir ini sudah terbangun semacam rasa tidak senang terhadap sikap rekan kerjaku tapi kucoba untuk menahan, menyimpan, menimbunnya, tapi hari ini, terlalu meluap sehingga membludak? Memang kalau ditelusuri lagi, hari ini adalah hari yang penuh dari pagi sampai sore, sampai makan siangpun untung-untungan berhasil kulahap dalam 5 menit. Bila semua faktor digabungkan, memungkinkan memang untuk akhirnya kehilangan kontrol dan bereaksi terhadap suatu tambahan tekanan yang tak terduga.

Mau tidak mau aku kembali kepada kemampuan diri untuk mengatur emosi. Ternyata sangat tidak mudah. Aku baru akan tahu benar-benar batas kemampuanku mengatur emosi itu saat benar-benar terjebak di suatu sudut, dan masalahnya, aku belum bisa melakukan dugaan di sudut mana aku bisa terjebak. Suatu kejadian di luar dugaan bisa melontarkanku untuk merasa tersudutkan, seperti apa yang aku alami hari ini.

Tapi kemudian aku menganalisa lagi kejadian dengan rekanku itu. Sebenarnya, apakah memang benar apa yang terjadi itu di luar dugaanku ataukah sebenarnya bisa aku prediksi? Kalau dipikir-pikir, mungkin bisa aku prediksi sebelumnya. Hanya saja, yang tidak aku prediksikan adalah fakta bahwa dia mengatakan beberapa hal tidak sensitif yang membuatku merasa terjebak itu.

Kenapa aku tidak bisa memprediksikan dia mengatakan hal-hal tersebut? Yah, sepertinya kembali lagi ke kenaifan dan keluguanku, merasa orang-orang di sekitarku terlalu baik, merasa rekan kerjaku ini tidak akan sampai sebegitu rendah level karakternya untuk bisa mengatakan hal-hal demikian. Setelah aku pikirkan lagi, sebenarnya ada kemungkinan besar malah aku dipergunakan olehnya untuk mencapai suatu misi tertentu. Sempat timbul suatu hipotesis bahwa konflik antara kami memang sudah dia inginkan supaya ini menjadi alasan buatnya untuk keluar dari tanggung jawab perannya yang menjadi alasan konflik kami. Aku merasa dia tidak melakukan tugasnya dengan baik dan hasil dari tugasnya itu melibatkan aku, dan dia melemparkan tanggung jawabnya dengan menyalahkan orang lain. Walhasil, akhirnya dia melakukan juga tugasnya, tapi dengan cara menekanku sehingga meledaklah aku. Dengan adanya konflik ini, apalagi dengan reaksiku, dia kemudian mengatakan sesuatu yang kumaknai sebagai berikut: kalau ada yang tidak suka dengan caranya bekerja dan merasa dia perlu dilepaskan dari tanggung jawabnya, maka silakan saja melakukan itu karena dia juga tidak apa-apa kalau dibebaskan dari tugas itu. Saat membaca tulisan itu, aku merasa dipergunakan, dan lebih parah lagi, aku melangkah masuk ke dalam jebakan itu dengan mudahnya.

Seharusnya aku bisa menyadari lebih awal semua itu. Dan mungkin itulah mengapa aku merasa sangat gagal hari ini. Bukan hanya karena aku gagal menahan emosiku, tapi karena aku merasa menjadi pion dalam sebuah permainan catur orang itu. Dan aku marah, tapi tidak tahu mau mengarahkan kemarahanku ke mana atau siapa.

Dan dalam saat-saat seperti ini, kesendirian terasa sangat menggigit. Saat inilah baru benar-benar terasa apa arti kehilangan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kuajak berbagi lagi. Namun demikian, aku harus bisa menjalaninya dengan kuat. Ini pilihanku sendiri, demikian pula konsekuensinya.

*****

Fighting for Pancasila

“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!”
~ Sukarno (1901-1970), Indonesia’s first President.

“ Learning without thinking is useless, but thinking without learning is very dangerous! ”
~ Sukarno (1901-1970), Indonesia’s first President.

 

garudapancasila_zpssj6tq2fd

June 1, 1945 is commemorated as the birth day of Pancasila. The concept of Pancasila came through Sukarno’s speech before the session of the preparatory committee for the Indonesia’s Independence on June 1, 1945. Sukarno then became the first President after the nation declared its independence on August 17, 1945.

Pancasila is held dearly in the hearts of Indonesian people not only because it is the national emblem of Indonesia, but more than that. It is the foundation, the backbone, the pillar, the strength of the nation. Pancasila runs in the blood of Indonesians, and many have spilled their blood in order to upheld the meaning behind it. I worry that this nation of Indonesia, my country, will fall if Pancasila is no longer treated as its backbone. But before I continue, allow me to describe Pancasila further for those who are unfamiliar with it.

As shown in the picture, Pancasila is depicted as a Garuda bird. In the ancient mythology of Indonesian history, Garuda bird is the vehicle for the god Vishnu that resembles an eagle. The word Pancasila derived from the old Sanskrit language — panca means five and sila means principle.

The Garuda bird displays a shield in its chest declaring the nation’s five principles of ideology (each principle is represented by a symbol, so there are a total of five symbols displayed on the shield). On its feet, it grips a white scroll with the nation’s motto Bhinneka Tunggal Ika written on it. Bhinneka Tunggal Ika means Unity in Diversity, describing Indonesia’s diverse ethnic groups, languages, cultural traditions, religions, and yet there is one language that unites all of those groups, that is Bahasa Indonesia, spoken everywhere in Indonesia.

The five principles of ideology shown on the shield of Garuda are listed as followed (the credit for English translation below is given to wikipedia):

  • The first principle, which is represented with a symbol of star in the middle is Ketuhanan Yang Maha Esa in Bahasa Indonesia and translated to English to mean “A Belief in One Supreme God”.
  • The second principle, that is represented with the symbol of chain, declares Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, which means “A Just and Civilized Humanity”.
  • The third principle, that is represented with the symbol of a banyan tree, declares Persatuan Indonesia, which means “The Unity of Indonesia”
  • The fourth principle, that is represented with the symbol of a bull head, declares Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, which means “Democracy that is Guided by the Inner Wisdom in the Unanimity Arising out of Deliberations amongst Representative”
  • And lastly, the fifth principle, that is the symbol of rice and cotton, declares Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia which means “Social Justice for the Entire People of Indonesia”

I choose this topic for my blogging assignment today because I’d like to reflect on the turbulence that my country is going through in the past few years, and it is especially felt in the past few months.

My country has gone through many ups and downs, but we managed to get through it somehow. The word tolerance was still echoing in many parts of the nation ever since we declared our independence in 1945 and even despite of the ups and downs we have been through. Tolerance and acceptance of the differences are the fruits of having Pancasila as our backbone. We have had uncounted riots, demonstrations, violence against certain ethnic groups, economic downfall of the late 90s, terrorist bombs, and the list continues on for examples of the downs. Despite all of those, we still talked about tolerance and acceptance; at least, we used to. Nowadays, the wind had changed direction it seems. We no longer discuss about tolerance, but instead about the uprising of intolerance. For many decades, Indonesia was used as an icon in the world for a peaceful existence of many religions. We have the largest Muslim population in the world, and for the longest time we have been so proud of living the proof that differences could exist side by side in peace. Just two days ago, I read an article on The Diplomat (click on the word article to take you to the full article) that warned Indonesia that the country may be heading towards becoming like Pakistan if we do not start something to upheld Pancasila and fight for tolerance and acceptance.

The word tolerance that was still heard before has now been questioned. We are now seeing the surfacing of a wave of intolerance. Whether we want to deny it or now, it is here. The news media and the public in general through social media are responsible as well for the spreading of fake news that added gas into the fire. I don’t think this current concern has reached the point of causing panic in the society, but I am positive it exists in the back of the mind of many citizens. Fortunately, we, Indonesians, have a strong genes of resiliency, that despite of troubles and difficulties like this, many of us prevail and continue to live our lives nonchalantly because we face a more important goal in life, that is to survive the already hard live.

On daily basis, I still have many friends who come from different background, hold a different religion than mine, speak a dialect or local language other than Bahasa Indonesia and different than my own local dialect that I learned since I was little. I live in a city that is generally safe and peaceful.  It is not to say that disturbances and unruliness don’t exist in other parts of Indonesia, because they do. Have I lost hope for my country? Absolutely not! My hope is still strong as ever before. I still hope that the younger generation, with the wise guidance of the older generation like mine, can together build this nation to continue its principles and values of Pancasila and upheld the culture of acceptance, tolerance, living in harmony and gotong-royong (mutual assistance).

Thank you for reading and getting to know my country. I encourage you, my readers, to please feel free to ask question or to comment. Thank you. May peace be with us all.

*****

Day 5 of the DailyPost at WordPress challenge: Hook ’em with a Quote’

#everydayinspiration

Getting to Know Our Thinking Pattern

Pay attention to the image below and list some words that might come to your mind triggered by the image or that you are projecting onto the image.

photo-1423882503395-8571951e45cc

Done? Remember, try to list some words before scrolling down.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

 

Most people will probably say words such as busy, bustling life, the future, working people, and so on. Some adjectives would probably be energized, inspiring, or even alive(!).

My guess is that most people will list words that are leaning towards the positive side, but I may be wrong.

How many of you wrote lonely or loneliness?

I did.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

We often think of loneliness as a feeling that comes out when we are alone. A person who lives alone, for example, may be thought of as being lonely because living in such a lone existence. The assumption might perhaps be true, but not always be the case.

An important aspect of loneliness that matters the most is not the low quantity or the zero amount of people we have around us, but the quality we have with those people. Have you ever been in the middle of a crowded union of people in a public place where folks are bustling in and out the building, minding their own business, like the picture above? I have, and in the midst of such environment, I felt it.

A surrounding like the picture above can serve as a trigger, inviting the feeling to slowly resurfacing. How? In my case, the lack of connection I experience to anyone around me in a public place always puzzles me. In a room so crowded where you have to watch your step without bumping into someone or being elbowed by someone, how can I, or anyone, feel so detached? I could disappear in that crowd and no one would notice or care. It seems that the more people in the room, the more unostentatious, hidden, and muted I could become.

Lacking connection or feeling unable to build connection with anyone is the key. Many reasons to explain why a person can lack a feeling of connection to anyone in a crowded environment. It could be a lack of confidence that has prevented a person from striking a conversation, or it could be a lack of warmth and openness from the environment, or both. Either way, something is preventing that person from making a connection.

If we analyze it deeper, sometimes it is a battle in the mind that acts as a barrier. In my case, for example, I felt “less” than the other people in the room. I compared my life to them and focused on what they had that I didn’t have. No wonder it affected my self-esteem, discouraged me, and left me unhappy — it was a perfect thinking formula to trigger loneliness.

Our thinking pattern therefore, is what we need to be paying attention to, which will take a long term practice to master. Onto what road path our thinking is leading us into, is something that we can be mindful of. For more information about learning to control our thinking pattern, I will refer to an article I read today about Struggling with Overthinking, which I find very useful. How to practice controlling overthinking is a topic that perhaps I will touch upon as a separate writing in the future.

The point for now is, every person can learn NOT to be lonely…by getting to know our own mindset and learning to control it.

So, happy learning.

*****

Day 4: A Story in a Single Image, from the Everyday Inspiration Writing Challenge.