Finding God in Daily Life

Delapan bulan telah berlalu sejak tulisanku yang terakhir (bisa klik di sini) yang dibuat pada awal pandemi covid-19 melanda Indonesia, awal bekerja dari rumah, awal dari pola hidup yang baru. Sungguh sangat naif pada waktu itu untuk berpikir bahwa kami hanya butuh bertahan selama 3 minggu dan setelah itu semua akan kembali normal lagi. Saat ini, 8 bulan kemudian dan pandemi masih terus berlangsung, jumlah kasus-kasus positif baru masih meningkat terus di seluruh dunia, dan manusia-manusia masih terus beradaptasi dengan keadaan normal yang baru.

Saya pun masih beradaptasi. Sepertinya perubahan telah terjadi dalam diriku, dalam cara berpikir, kemampuan mengatasi kesepian, kesendirian, ketidakberdayaan, dan membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan. Ya benar, saya menemukan pemahaman baru mengenai relasiku dengan Tuhan selama masa pandemi ini. Seperti apa itu bentuknya?

Sekitar bulan Mei, saya menemukan suatu pengumuman lewat WA grup mengenai suatu kegiatan retret yang diadakan oleh romo dan frater Jesuit. Keseluruhan kegiatan dilakukan lewat online dari rumah. Akan tetapi, jangka waktu keseluruhan kegiatan adalah 1 bulan, dan ini yang menjadi bahan pertimbangan yang cukup lama buatku karena ketidakyakinan untuk mampu melakukannya selama itu. Aku butuh waktu seminggu sebelum akhirnya membuat keputusan untuk mendaftar, dan itupun karena perkataan seorang teman yang seperti ini, “Justru karena kamu merasa tidak yakin bisa, maka itu bisa menjadi motivasi untuk malah mengikuti.” Mungkin kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi yah, kurang lebih demikianlah makna dari perkataannya yang aku tangkap, Bagi beberapa orang perkataan itu mungkin membingungkan, tapi aku langsung memahami apa maksud dari temanku, karena di dalam hati aku sebenarnya tahu apa alasan sebenarnya dari keraguanku. Tanpa aku sadari, perkataan temanku itu sebenarnya sudah memperkenalkan salah satu ajaran Santo Ignasius juga, yaitu agere contra.

Agere contra adalah konsep yang mengajarkan kita untuk melakukan hal yang kebalikan dari kelekatan kta. Bentuk kelekatan yang membuatku ragu untuk ikut retret selama sebulan sebenarnya adalah karena kebiasaan menonton film berseri melalui online setiap malam yang mulai kulakukan selama masa pandemi. Kurangnya kegiatan tapi juga menghindari munculnya rasa bosan membuat nonton film menjadi suatu pelarian. Ajakan dari temanku adalah untuk melakukan kebalikan dari rasa nyaman, atau lebih tepatnya keluar dari zona nyaman itu. Oleh karena itu, tanpa kepastian apakah bisa atau tidak, aku merasa terdorong untuk mendaftar. Ada ajakan dari dalam diriku untuk mendaftar dan ada semacam suara kecil yang mengatakan bahwa aku butuh retret itu. Mungkin ada bagian dari alam ketidaksadaranku yang mengetahui bahwa saat itu aku sedang berada dalam masa rawan, yaitu mulai perlahan merasa terpuruk secara emosional sebagai efek dari pandemi. Tuhan mengirimkan seorang teman yang mengatakan kata-kata di atas kepadaku. Kata-kata itu sungguh mengena sekali, dan oleh karena itu aku akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar.

Retret yang aku maksud di atas memang adalah Latihan Rohani yang diajarkan oleh Santo Ignasius, tapi bukan Latihan Rohani 30 hari yang biasanya ditawarkan di tempat-tempat retret secara tatap muka. Ini adalah Latihan Rohani bagi Pemula, disingkat LRP, yang modulnya dibuat khusus untuk dilakukan secara online. Modul LRP ini adalah modul yang diperkenalkan oleh Michael Hansen, SJ dari Australia, dengan bentuk yang sudah sangat terstruktur. Keseluruhan buku panduan LRP telah diterjemahkan oleh Romo Sumarwan SJ dan bersama dengan beberapa Frater Jesuit, merekalah yang menjadi pengurus LRP yang aku ikuti di bulan Mei-Juni 2020 itu.

LRP ini sudah berjalan 3 kali dan pada batch ketiga saya diajak untuk ikut lagi oleh Frater Craver yang menjadi fasilitatorku di batch pertama, tapi kali ini berperan sebagai fasilitator memimpin kelompok kecilku sendiri. Kembali lagi saya dihadapkan dengan pilihan di depanku, apakah akan aku iyakan ajakan ini atau tidak? Pikiran ragu-ragu muncul, bisakah saya yang belum pernah mengikuti LR 30 hari menjadi seorang fasilitator? Bisakah saya melakukan tugas dan peranku dengan baik? Bagaimana kalau saya salah membuat keputusan dan malah melakukan kesalahan kepada orang lain dan memperburuk keadaan orang itu? Tapi akhirnya saya mengiyakan ajakan itu karena setelah saya perhatikan, sepertinya ada gerakan dari dalam diriku yang memang mendorongku untuk mencoba.

LRP batch ketiga saat ini sudah selesai. Kami para fasilitator sedang dalam proses melakukan evaluasi, dan saya sendiri juga sedang dalam proses melakukan refleksi pribadiku. Tulisan ini adalah bagian dari proses refleksiku. Ada satu hal penting yang terjadi setelah batch ketigas sudah berakshir. Saya diberi kesempatan untuk mengikuti satu webinar/diskusi mengenai Latihan Rohani bersama Romo Nano SJ dari Girisonta yang juga menjadi romo pembimbing para Novis di Girisonta. Topik webinar itu berpusat pada peran fasilitator/pendamping dalam Latihan Rohani. Ternyata apa yang saya ketahui mengenai LR masih sangat sedikit. Masih banyak yang perlu dipelajari dan semua ini semakin memperdalam refleksiku juga. Dengan pemahaman baruku mengenai peran fasilitator dalam LR, aku menyadari bahwa walaupun aku tidak melakukan kesalahan dalam tugas dan peranku sebagai fasilitator, tapi betapa mudahnya untuk melakukan suatu kesalahan. Juga, betapa mudahnya perasaan bangga yang berlebihan, atau lebih tepatnya perasaan sok tahu, untuk tumbuh. Saya bersyukur dipertemukan dengan materi yang diberikan oleh Romo Nano karena materi itu mengingatkanku bahwa aku masih belum punya apa-apa dalam hal LR. Perjalananku masih jauh.

Kesimpulan yang bisa saya buat saat ini adalah keputusan untuk ikut LRP sebagai peserta di batch pertama dan kemudian sebagai fasilitator di batch ketiga sudah tepat. Tidak ada penyesalan yang muncul sama sekali. Bahkan kebalikannya, saya merasa positif dan senang dengan apa yang sudah saya putuskan dan dapatkan. Malah bila ada yang perlu saya cermati dan waspadai adalah perasaan kepercayaan diri yang berlebihan. Dan satu kesimpulan lagi yang bisa saya buat di akhir tulisan ini adalah saya merasakan kehadiran Tuhan yang selalu menemani dalam langkah-langkahku. Dalam webinar bersama Romo Nano saya sempat bertanya mengenai arti “perjumpaan dengan Tuhan,” tapi untuk menjelaskan arti perjumpaan dengan Tuhan, ini bisa menjadi tulisan yang panjang dan lebih baik menjadi tulisan tersendiri di kemudian hari. Intinya sejak saya dipertemukan dengan LRP, saya merasa perjalanan hidupku telah dituntun oleh Tuhan, termasuk keputusan untuk mengiyakan ajakan menjadi fasilitator, pemikiran untuk memperkenalkan LRP kepada kaum muda di Surabaya, dan yang terakhir, kesempatan untuk mendengarkan materi LR dari Romo Nano. Saya memaknai semua itu sebagai bagian dari rencana Tuhan. Saya merasa ditemani oleh Tuhan, merasa tenteram dan damai juga.

It is as if everything fits, pernah merasakan perasaan seperti ini juga?

Awal dari Peziarahan Batin Selama 3 Minggu ke Depan

Keputusan untuk menutup tempat kerja dan bekerja dari rumah pun akhirnya sampai ke tempat kerjaku. Saya bekerja di suatu universitas. Perkuliahan untuk mahasiswa memang sudah dipindahkan ke online semua minggu ini dan mahasiswa sudah dilarang untuk datang ke kampus, tapi kami para dosen dan karyawan masih masuk kerja minggu ini untuk menyelesaikan beberapa hal. Namun, instruksi terakhir dari pimpinan universitas hari ini akhirnya adalah kerja dari rumah tanpa pengecualian dan kampus akan ditutup selama minimum 3 minggu ke depan (sampai Paskah).

Saat ini mendekati jam 5 sore. Semua kerjaan sudah selesai untuk hari ini dan mestinya saya juga sudah pulang. Tapi saat sedang berkemas-kemas untuk pulang, di tengah-tengah kesibukan memikirkan apa saja yang perlu dibawa pulang untuk kerja 3 minggu ke depan, tiba-tiba terasa suatu serbuan emosi yang sedikit memaksa untuk diperhatikan. Sambil terduduk menatap layar komputer sebelum dimatikan, kusempatkan sebentar untuk mengenali perasaan apa itu yang muncul. Dan akhirnya, tulisan ini pun terciptalah.

Ada perasaan kehilangan yang pasti kurasakan. Apa yang hilang itu, aku juga belum tahu pasti. Butuh waktu biasanya untuk mengetahui ini. Mungkin rasa kehilangan ini muncul karena akan hilangnya kebiasaan rutin yang biasanya aku lakukan setiap hari dan mulai minggu depan tidak bisa lagi aku lakukan? Ataukah yang terasa hilang itu adalah kebebasan? Kehilangan kebebasan apa? Kebebasan ruang lingkup untuk bergerak? Kehilangan kebersamaan?

Sedih, itu yang sedang kurasakan. Sedih karena situasi di Indonesia akhirnya sampai ke keputusan yang dibuat oleh universitas hari ini, walaupun aku paham dan mendukung mengapa keputusan harus dibuat. Ini juga belum total lockdown. Aku tidak bisa bayangkan total lockdown itu seperti apa. Sempat juga terpikirkan betapa rendahnya posisi kita manusia bila dihadapkan dengan kenyataan alam yang Tuhan ciptakan.

Ah, itu dia satu lagi perasaan yang kurasakan, perasaan tak berdaya.

Tapi perasaan tak berdaya kurang membantu saat ini karena bila perasaan tak berdaya terus bertambah, bisa perlahan mengarah ke depresi ringan ke depannya. Perlu waspada terhadap perasaan yang satu ini.

Mungkin yang lebih baik adalah mengubah perspektifku untuk melihat keadaan sekarang ini sebagai cara Tuhan untuk menyapa kita umat manusia, bahwa sebanyak-banyaknya perencanaan yang kita lakukan, setinggi-tingginya keinginan yang kita inginkan, di atas semua itu masih ada kuasa Tuhan. Bayangkan betapa banyak perencanaan dari umat manusia yang sudah batal dalam dua bulan terakhir dan beberapa bulan ke depan. Kita diingatkan, saya diingatkan, bahwa saya bisa merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.

Hari ini, Jumat 20 Maret, 2020, adalah hari terakhir untuk masuk kerja sebelum masuk dalam tahap kerja dari rumah selama 3 minggu. Tiga minggu ini juga hanyalah sebuah perencanaan. Apakah hanya akan sampai 3 minggu atau perlu lebih? Kita lihat juga apa yang akan terjadi dalam 3 minggu ini.

Saya belum pernah tinggal di dalam rumah sendirian, seharian, tanpa aktivitas bekerja selama 3 minggu. Ini tantangan besar buatku. Bagaimana saya akan melalui semua ini? Entahlah. Apakah saya akan keluar dari masa ini sama seperti sebelum saya yang sebelumnya atau berbeda?

Pemikiranku, perasaanku, waktunya untuk lebih mawas diri. Olah raga, olah rasa, olah pemikiran, olah iman…inilah retretku selama minimum 3 minggu ke depan. Inilah peziarahanku untuk berani masuk ke dalam diriku sendiri karena aku yakin, 3 minggu adalah waktu yang sangat sangat sangat panjang untuk melakukan soul searching.

Sertailah aku dalam peziarahan internalku ini, Tuhan. Amin.

Penjungkirbalikan!

Girisonta, Sabtu Malam Paskah, 20 April 2019

Misa Sabtu malam Paskah di Girisonta malam ini dipimpin oleh Romo Priyo, SJ (Serikat Yesus, suatu ordo dalam agama Katolik). Terus terang begitu tahu bahwa Romo Priyo yang akan memimpin misa, saya sudah menunggu bagian homili ini, sehingga tidak heran kalau beliau memulai dengan sebuah cetar! Tidak sampai membahana, tapi cetarannya sudah sangat menggugah.

Homili atau kotbah di tengah misa diawali seperti biasa dengan membahas injil bacaan malam itu dari injil Lukas mengenai bagaimana dua malaikat memberi kabar kepada murid-murid Yesus bahwa Yesus telah bangkit. Tidak mungkin(!) pikir mereka. Sama seperti kita manusia jaman sekarang kalau diberitahu bahwa ada orang yang bangkit dari kematiannya, maka reaksi pertama mereka adalah tidak percaya. Mustahil! Dengan kata lain, pemahaman mereka, dunia mereka dengan seketika DIJUNGKIRBALIKKAN oleh para malikat itu. Apa yang terjadi pada murid-murid selanjutnya, apakah mereka kemudian percaya atau tidak, tulisan saya ini bukan berfokus pada itu. Mari kita lanjut.

Romo kemudian mengaitkan peristiwa penjungkirbalikan yang dialami oleh para murid dengan keadaan pasca-kebenaran di Indonesia saat ini, bagaimana fenomena memutarbalikkan, menjungkirbalikkan kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran, membuat berita bohong, sangat mudah terjadi. Tapi maaf, INI juga bukan fokus tulisan saya sekarang. Dan saya rasa ini juga bukan fokus dari homili malam itu. Wong yang hadir di misa itu orang-orang waras semua kok! Kami tidak perlu diingatkan mengenai keadaan pasca-kebenaran.

Tidak, masih bukan itu fokus tulisan ini. Jadi apa toh sebenarnya yang ingin saya fokuskan?

Setelah dua bagian di atas, Romo akhirnya masuk ke bagian yang menceritakan mengenai pengalaman pribadinya sendiri yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Romo menceritakan bagaimana dia mengunjungi sahabatnya, Romo Henk, SJ, yang waktu itu sedang diopname di salah satu RS. Romo Henk berusia 90 tahun dan saat ini adalah romo SJ tertua di Indonesia. Romo Priyo mempersiapkan diri untuk menemukan keadaan Romo Henk sesuai dengan apa yang banyak orang bayangkan bila seseorang dalam usia seperti itu dan sedang dirawat di rumah sakit. Yah, mungkin saya pun akan membayangkan orang itu akan terkapar di tempat tidur, lemah, tidak bersemangat, dll. Tapi apa yang dia lihat saat membuka pintu kamar Romo Henk?

Siulan lagulah yang menyambut kedatangannya saat dia membuka pintu itu. Siulan itu dikumandangkan oleh Romo Henk sendiri, yang sedang duduk di kursi roda, tak terlihat tanda-tanda seseorang yang sakit, lemah, tidak bersemangat, dll itu. Sebaliknya tersenyum, sehat, dan yah gitulah, tanda-tanda seseorang yang menikmati hidup! Tapi yang paling mengesankan bagi Romo Priyo adalah lagu yang disiulkan dan dinyanyikan itu. Sebelum selesai mengatakan judul lagunya di depan kami, Romo Henk — yang saat itu sedang duduk di depan gereja juga, tidak jauh dari Romo Priyo — sudah mulai mengumandangkan duluan lagunya cukup keras, yang membuat kami yang mendengarkan tersenyum.

Lagunya adalah Ibu Pertiwi. Tahu kan Anda semua lagunya?

 

Kulihat Ibu Pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini Ibu sedang susah

Merintih dan berdoa

 

Ini sebuah lagu yang sudah lama tidak kudengar, tapi tahukah Anda semua bahwa ini aslinya adalah lagu nasrani dengan judul What a Friend We Have in Jesus yang lirik lagunya diciptakan oleh Joseph M. Scriven pada tahun 1855 dan iramanya diciptakan oleh Charles C. Converse pada tahun 1868? Yah, saya juga baru tahu malam itu saat diberitahukan oleh Romo. Lagu itu asalnya adalah Christian song, sehingga tidak heran Romo Henk menyanyikannya saat itu, walaupun sebenarnya Romo Henk juga sudah lama di Indonesia. Malah mungkin hidupnya lebih banyak dihabiskan di Indonesia (daripada di tanah asalnya) sebagai romo misionaris dan sekarang sudah menjadi WNI .

Jadi pada saat itu, Romo Henk berhasil menjungkirbalikkan Romo Priyo dengan caranya menyambut Romo Priyo. Tapi sebentar, cerita ini belum selesai, saudara-saudaraku. Romo Priyo kemudian bercerita bagaimana dia menemani Romo Henk ke kegiatan pemulihan di suatu ruangan lain. Mohon maaf saya lupa detailnya pemulihan seperti apa, tapi intinya ada beberapa perawat dan ahli medis lainnya di ruangan itu yang biasanya mendampingi Romo Henk. Mungkin semacam physical therapy, tapi saya tidak yakin sepenuhnya mengenai itu.

Intinya adalah, saat mereka ke ruangan itu, Romo Priyo mengalami sekali lagi episode penjungkirbalikan! Semua ahli medis yang bekerja di ruangan itu menyambut Romo Henk dengan siulan lagu yang sama!

Mari sejenak kita bayangkan Romo Henk dengan keterbatasan fisiknya yang ‘mestinya’ sedang sakit, tapi masih mampu menyalurkan energinya, pengaruhnya, soul-nya kepada orang-orang lain di sekitarnya. Suka cita itu mengalir, tersalur dengan begitu indahnya kepada orang-orang lain. Dan saya yakin, hanya suka cita yang didasari oleh cinta kasih, semangat hidup, kerendahan hati, dan penerimaan apa adanya, yang bisa menjangkiti orang lain dengan mudahnya. Sungguh, tanpa disadari mata ini sudah berkaca-kaca. Sambil melihat ke arah Romo Henk, aku menelan ludah tapi tenggorokan terasa kering. Akupun merasa seperti tertampar. Usia 90, badan sudah mulai menunjukkan kejujurannya dalam mengutarakan kekurangan fisik seseorang yang berada di usia itu, maka mau tidak mau siapapun itu, pasti akan menyadari betapa dekatnya mereka dengan yang namanya akhir hidup.

TAPI…yang aku lihat dengan mataku sendiri, yang aku dengar dari kesaksian Romo Priyo, tidak ada tanda-tanda kegentaran dari Romo Henk. Maka, aku mengatakan sekarang, aku pun pantas untuk merasa dijungkirbalikkan juga.

Terima kasih sudah menjangkitiku dengan sukacitamu dan menjungkirbalikkanku, Romo Henk.

Terima kasih sudah berbagi kisah inspiratif, Romo Priyo.

Selamat Paskah, anak-anak Tuhan.

 

__________________________________________________________

Bagi yang ingin mendengarkan lagu What a Friend We Have in Jesus, saya berikan link youtube-nya  di sini. Selamat menikmati.

 

Symbol of Freedom

(Scroll down for Indonesian translation – Turun ke bawah untuk versi terjemahan Bahasa Indonesia)

I read an article today about a book review. It doesn’t matter what the title of the book is or who wrote it, but there is a line in that review that caught my attention. It says that the story protagonist’s symbol of freedom is a swing in front of her house. Perhaps it means that whenever the character sits on the swing, she feels free.

That line made me asked myself, what is my own symbol of freedom?

I’ve been racking my brain trying to find the answer to that question and nope, still haven’t found one yet. I tried to remember when was the last time I felt that feeling of freedom, of feeling very very free. Or even times in the past whenever I felt free. That’s when I found one.

For sure every time I went on a trip in the past, I felt that feeling, especially a long trip that involved a little bit feeling of adventure. I think the last time I felt like that was on my trip to Germany in 2018. I went on that trip on my own from Surabaya, Indonesia to Hannover, Germany, and when I arrived in Hannover, it was almost midnight. I had to take a train from the airport to the hotel downtown with no clue how to get to the hotel, so had to ask some people. I completely remember the thought and emotion that came to me as I was walking out of the train station to the hotel dragging my suitcase. I looked around me, saw how there were only very few people on the street, and thought, “This would never happen to me in my country. I doubt I could travel ALONE in the middle of a very quiet night going to some place I’ve never been to and not feeling afraid at all.” Yes, I did not feel afraid at all. Instead, I felt free! For a person like me growing up in a country where freedom like that for women and feeling safe is very very rare, so I treasured that moment. I remember stopped my walk for a few minutes, sat down at a bench nearby, and then just inhaled-exhaled my surroundings.

In other words, my personal definition of freedom is to be able to do something that I otherwise could not do because of social restrictions that are often put up by society for women in my country. Other people may have their own definition of freedom, but this is mine, based on my story above.

But I haven’t answered my question about symbol of freedom, have I?

I guess I don’t have a specific symbol. For me, it’s more about the ACTION, being able to do something that I normally could not do. The reason for me not being able to do it is not necessarily because there is a rule restricting it, but it’s more because of my perception, influenced by the cultures that I absorb consciously or unconsciously throughout my life.

Since I don’t have that many symbol of freedom in the form of action that I can think of, perhaps my next task is to discover more ACTION where I can feel that sense of freedom. I’m sure I have more. I just have to redefine them also as actions of freedom.

_____________________________________________________________________________________________

Terjemahan Indonesia:

Saya membaca suatu artikel hari ini tentang ulasan buku. Tidak masalah apa judul buku itu atau siapa penulisnya, tetapi ada suatu kalimat dalam ulasan itu yang menarik perhatian. Dikatakan bahwa simbol kebebasan bagi tokoh protagonis di buku itu adalah ayunan di depan rumahnya. Mungkin yang dimaksud adalah setiap kali si protagonis duduk di ayunan, dia merasa bebas.

Kalimat itu membuat saya bertanya pada diri sendiri, apa simbol kebebasanku?

Saya sudah memeras otak untuk menemukan jawaban pertanyaan itu dan masih belum menemukan. Saya mencoba mengingat kapan terakhir kali saya merasakan perasaan kebebasan itu, merasa sangat sangat bebas, atau bahkan kapan saja di masa lalu setiap kali saya merasa bebas. Saat itulah saya menemukan satu cerita.

Yang pasti setiap kali saya melakukan perjalanan di masa lalu, saya merasakan perasaan itu, terutama perjalanan panjang yang melibatkan sedikit perasaan petualangan. Rasanya terakhir kali saya merasa seperti itu waktu dalam perjalanan ke Jerman pada tahun 2018. Saya melakukan perjalanan itu sendiri dari Surabaya, Indonesia, ke Hannover, Jerman, dan sudah hampir tengah malam ketika tiba di Hannover. Saya harus naik kereta api dari bandara ke hotel di pusat kota tanpa petunjuk bagaimana menuju ke hotel, jadi saya harus bertanya kepada beberapa orang. Masih benar-benar jelas di ingatan mengenai pikiran dan emosi yang saya alami ketika berjalan keluar dari stasiun kereta ke hotel sambil menyeret koper. Saya menoleh kiri-kanan, melihat bagaimana hanya ada sedikit orang di sekeliling, dan berpikir, “Ini tidak akan pernah aku alami di negaraku. Saya ragu bisa bepergian ke suatu tempat yang baru sendirian di tengah malam yang sangat sunyi dan TIDAK MERASA TAKUT sama sekali. ” Ya, saya tidak merasa takut sama sekali. Sebaliknya, saya merasa bebas! Untuk orang seperti saya yang masa kecilnya tumbuh dan berkembang di negara yang kebebasan dan rasa aman seperti itu untuk wanita sangat jarang, saya jadi sangat menghargai momen itu. Saya ingat waktu itu menghentikan langkahku selama beberapa menit, duduk di sebuah bangku di dekat situ, dan kemudian menghembuskan nafas lega.

Dengan kata lain, definisi pribadi saya tentang kebebasan adalah kemampuan untuk dapat melakukan sesuatu yang biasanya tidak dapat dilakukan karena batasan sosial yang sering dibuat oleh masyarakat untuk perempuan di negara saya. Orang lain mungkin memiliki definisi berbeda tentang kebebasan, tetapi ini milik saya, berdasarkan kisah saya di atas.

Tetapi saya belum menjawab pertanyaan saya tentang simbol kebebasan.

Sepertinya saya tidak memiliki suatu simbol khusus. Bagi saya, ini lebih tentang TINDAKAN, bisa melakukan sesuatu yang biasanya tidak bisa saya lakukan. Alasan saya tidak bisa melakukannya belum tentu karena ada aturan yang melarang, tetapi lebih karena persepsi saya, yang dipengaruhi oleh budaya yang saya serap secara sadar atau tidak sadar sepanjang hidupku.

Karena saya tidak memiliki banyak simbol kebebasan dalam bentuk tindakan yang dapat saya pikirkan, mungkin tugas saya selanjutnya adalah menemukan lebih banyak lagi TINDAKAN di mana saya dapat merasakan rasa bebas itu. Saya yakin punya lebih banyak. Mungkin hanya perlu mere-definisikan kembali tindakan-tindakan itu sebagai wujud kebebasan.

Kelekatan Duniawiku

 

Akhir-akhir ini aku banyak membaca tulisan-tulisan dari internet untuk membantu pemahaman diri. Ada satu artikel yang paling mengusikku dan membuat jari-jariku ingin menari lagi di atas laptop. Artikel itu mengenai non-attachment atau letting go, melepaskan kelekatan-kelekatan duniawi yang selama ini mengikat kita dalam bentuk keinginan-keinginan. Misalnya, keinginan untuk selalu sukses dan berhasil dalam pekerjaan, atau keinginan untuk diperlakukan sedemikian rupa dari pasangan. Saya ingin berfokus pada apa yang barusan ini saya alami terkait hubunganku dengan seseorang. Ini bukan tulisan yang mudah bagiku dan banyak orang yang tidak tahu mengenai ini, tapi aku akan mencoba untuk menyalurkan keluar apa yang aku alami sebisaku.

Salah satu kelekatan duniawiku adalah keinginan untuk dicari, diinginkan, dibutuhkan, diperhatikan. Tulisan ini bukan untuk memahami apa yang menyebabkan kelekatan itu padaku karena penyebab itu sudah pernah aku tuangkan di sarana lain dan juga karena penyebab itu personal buatku. Untuk saat ini, melalui tulisanku aku hanya bisa jujur mengenai kelekatan duniawiku, kerapuhanku.

Selama sekitar dua tahun terakhir ini aku menjalin hubungan dengan seseorang yang menurutku suatu hubungan roller-coaster, penuh naik dan turun, penuh gelombang, gejolak, tarik-menarik, kebimbangan, ketidakpastian. Mungkin bisa dikatakan bukan suatu hubungan yang sehat bagi kami berdua. Selalu ada yang mengganjal hubungan kami, seperti ada suatu ruang di tengah kami yang memisahkan. Saat berada di ruang kami sendiri-sendiri, maka kami baik-baik saja. Tapi begitu aku mencoba mendekati dan mulai masuk ke ruang yang di tengah kami itu, maka aku masuk ke ranah roller-coaster itu, naik turun, jatuh bangun, bagaikan sedang berada di tengah laut yang bergejolak dengan gelombang ombak yang besar menggoncang kami.

Bila aku telaah lagi dan melihat ke belakang, yang aku lihat menonjol dari sisiku adalah kelekatan-kelekatan yang aku sebut di atas itu, yang dengan berjalannya waktu berwujud tuntutan-tuntutan baginya. Dan karena cara kami berelasi dan juga mungkin karena kepribadian kami, entah bagaimana awalnya, pokoknya aku merasa keinginan-keinginanku itu tidak terkabulkan, dan itu malah tambah memicu lagi kekuatan dari kelekatan itu. Penafsiranku waktu itu adalah aku ditolak oleh dia, aku tidak diinginkan, aku tidak dibutuhkan, tidak diperhatikan, dan seterusnya. Parahnya, karena ini adalah suatu kelekatanku terhadap keinginan itu, yang terjadi bukannya aku pergi dan meninggalkan hubungan itu, aku malah bersikeras untuk lanjut terus dan kelekatanku juga semakin menjadi-jadi. Mungkin hampir mirip semacam obsesi jadinya bagiku di awal hubungan kami. Itu menjadi dance-ku dengannya selama mungkin dua tahun lebih. Aku bolak-balik antara menyalahkan diriku sendiri dan dia. Selama proses itu memang aku mencoba terus untuk menyadari diri, memperbaiki diri, dan seterusnya. Bacaan demi bacaan aku lahap, retret demi retret aku ikuti, dan memang aku merasa ada perubahan dalam diriku, bahwa aku menjadi lebih baik dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, aku merasa tidak bisa memperbaiki diri lebih baik lagi bila terus berada dalam posisi dimana aku terus diingatkan akan kelekatanku.

Barusan ini aku diingatkan lagi betapa lemahnya aku dengan kerapuhanku. Masih banyak yang masih perlu aku pahami dan terus upayakan untuk belajar memahami diri dan memperbaiki diri. Jujur, aku kadang merasa sangat sangat lelah dengan semua proses ini. Jauh lebih mudah mungkin untuk menyerah saja, pergi saja, tinggalkan dia, tinggalkan semuanya. Tapi ada bagian dari diriku yang membisikkan untuk jangan menyerah, karena pasti ada makna indah dari semua ini. Hanya harapan itu yang bisa aku ingatkan diriku terus supaya tidak menyerah.

Apa yang akan terjadi dengan hubungan kami ini, entahlah. Sebagai bagian dari proses melepaskan kelekatan duniawi ini, aku juga mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak bisa aku kontrol, termasuk keinginannya dan keinginanku yang sepertinya tidak cocok. Belajar melepaskan, bukankah itu kuncinya? Maka apa yang akan terjadi, terjadilah. Ini sudah pernah aku katakan kepada diriku sebelumnya, tapi mungkin bedanya antara perkataanku yang dulu dan yang sekarang adalah…sekarang ini aku lelah sekali. Aku sudah capek jatuh terus. Aku capek kecewa terus. Aku capek karena kepalaku terbentur terus karena memilih untuk berjalan secara buta. Aku capek karena memilih untuk terus berada dalam posisi “menginginkan” dan berharap dia akan menerimaku, menginginkanku, mencariku, dst. Mungkin kelelahan inilah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ini saatnya bagiku untuk melepaskan semua harapan itu, karena semua kelekatan itu menjadi sumber ketidakbahagiaanku.

Apakah aku masih mencintainya? Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku bingung, tidak tahu sebenarnya alasan aku berpegang terus padanya dan hubungan itu — apakah karena aku memang mencintainya atau karena tidak ingin melepaskan rasa ingin menguasai hubungan itu yang dipengaruhi oleh ketakutanku untuk ditinggal atau ditolak. Saat ini, aku sadar bahwa selama ini yang lebih kuat mempengaruhi keputusanku untuk terus lanjut adalah alasan kedua, yaitu tidak ingin melepaskan. Ketakutanku akan “kesendirian” tanpa ada yang mencintai dan menerimaku jauh lebih kuat selama ini. Tapi, dalam beberapa hari ini dengan lebih banyak waktu untuk merenung, yah, aku menyadari memang ketakutan itu ada dan sudah aku temukan dan bawa ke alam sadarku. Akan tetapi, aku juga menyadari masih ada rasa sayang yang tersisa. Apakah itu cinta? Mungkin. Apakah itu akan cukup kuat untuk bertahan dan dengan berjalannya waktu akan semakin kuat untuk mengalahkan kerapuhanku? Hanya waktu yang bisa menjelaskan.

Namaste.

index
Image was taken from https://themindsjournal.com/im-practicing-non-attachment-2/

 

Tulisan di atas terinspirasi oleh: The Art of Non-Attachment: How to Let Go and Experience Less Pain by Lachlan Brown di Hackspirit.com

 

 

Mencari Sahabat

Bersahabat dengan waktu, mungkinkah itu?

Entahlah. Akhir-akhir ini aku terus bergulat dengan topik ini. Apakah itu waktu yang terus mengejarku — setidaknya terasa seperti itu — atau apakah sebenarnya aku yang mengejar-ngejar waktu karena waktu sepertinya selalu berlari jauh lebih cepat di depan. Kenapa aku dan waktu tidak bisa berjalan bersama, selevel, seperti dua kawan lama yang berjalan sambil mengobrol? Kenapa selalu perlu ada acara kejar-kejaran?

Anehkah buatku untuk bertanya mengenai ini? Tapi aku memang akhir-akhir ini merasa level stresku bertambah, merasa seperti selalu lelah, tidak tenang, selalu ada yang perlu diingat, dilakukan, dan masalahnya, kadang yang perlu dilakukan itu harus segera pula dilakukan. Jangan tanya mengapa aku memakai kata ‘harus’ di sini, tapi yah untuk saat ini, itulah kenyataannya.

Lantas, mengapa aku hidup seperti ini?

Mungkin lebih tepatnya, mengapa aku merasa terjebak di tempat ini? Tahukah aku dulu saat membuat suatu keputusan besar dalam hidupku bahwa aku sedang memilih hidup yang seperti ini? Penyesalankah ini yang sedang berbicara?

Sebenarnya tidak. Ini bukan penyesalan yang berbicara, tapi keingintahuan. Ingin tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Tapi yah dalam hidup kadang kita memang tidak akan selalu tahu apa yang akan terjadi di masa depan, iya kan?

Bagaikan seorang pengelana di padang gurun yang sedang sangat kehausan, aku haus sekali akan kesempatan untuk hening. Hening itu tidak mesti berarti kesendirian, karena sebenarnya aku punya cukup waktu untuk sendirian setiap hari, tapi lebih kepada kondisi atau keadaan di mana aku bisa merasakan…yah seperti yang aku katakan di atas, berjalan selevel bersama dengan waktu.

Akan tetapi, saya juga ingin mengingatkan diriku sesuatu supaya tidak membuat keputusan yang mungkin kurang tepat hanya karena mengikuti suara/keadaan hatiku saat ini, bahwa aku sudah pernah mengalami keadaan-keadaan di mana aku diberi kesempatan untuk hening itu. Dan tahu apa yang terjadi? Keheningan itu malah membuatku tidak tahan. Keheningan itu malah sangat mengusik, tidak nyaman, malah membuatku kesepian dan gelisah. Bagaimana tidak gelisah kalau dihadapkan dengan titik-titik kelemahan?

Dengan kata lain, berada di sisi yang berlawanan dari keadaanku sekarang ini belum tentu sebenarnya akan membantu atau membuatku lebih bahagia. Belum tentu. Bisa saja sesampai di sana aku malah ingin kembali ke sini. Rumput tetangga memang selalu lebih indah ya? Apakah kita manusia memang selalu tidak merasa puas? Saya tidak ingin juga terjebak di keadaan hati yang seperti itu, selalu tidak puas. Pasti tidak nyaman.

Kalau begitu, apa yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini?

Saya sebenarnya ingin menjadi manusia yang lebih mampu menerima, lebih ikhlas, rendah hati. Ada bagian dari diriku yang memang selalu ingin sesuatu yang lebih untuk hal-hal tertentu yang menjadi kelemahanku. Yah, aku rasa semua orang juga mengalami hal ini — kodrat kita sebagai manusia — yaitu punya kelemahan dan menginginkan sesuatu. Saya ingin lebih bisa memahami kelemahanku itu, apa yang aku inginkan, rindukan dan kemudian menerimanya, bahkan berteman dengannya. Saya tidak ingin dikuasai oleh kelemahan itu.

Tapi sebentar, kenapa bisa sampai ke sini yah pembicarannya? Bukannya tadi diawali berbicara mengenai si waktu? Loh, lantas kemana si waktu ini? Kok ini bukan lagi ngomong mengenai waktu?

Ah, ternyata ujung-ujungnya ini mengenai diriku sendiri toh? Sorry yah, waktu, ternyata ini bukan mengenaimu. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, maafkan aku. Ini ternyata mengenaiku. Aku yang perlu berteman dengan diriku sendiri.

Amin.

tumblr_o6eodtWh351qcvheoo1_540
I’m still learning to love the parts of me that no one claps for.” 
Rudy Francisco

Art by the amazing Kate Louise Powell, taken from http://theglasschild.tumblr.com/post/143611893134/im-still-learning-to-love-the-parts-of-me-that

 

Adalah Seorang Perempuan

Adalah seorang perempuan muda, seseorang yang berani dalam menghadapi hidup. Sebagai seorang perempuan muda yang berasal dari luar pulau, bisa saja caranya menerjang tantangan hidup tanpa ragu ini adalah caranya untuk bisa terus bertahan. Ia juga berani berbicara. Malah mungkin kadang susah untuk dihentikan saat ingin berbicara. Pembawaannya serius, agak sedikit berkesan keras dan tomboy-ish tapi juga lembut, suatu kombinasi yang indah menurutku. Anak muda yang pintar, punya kesukaan untuk membaca buku. Buku-buku seperti dilahap habis secara cepat olehnya. Buku menjadi bantal tidurnya, menjadi pendamping hampir kemanapun ia pergi. Sebagai anak sulung, mungkin satu-satunya anak perempuan, pembawaan yang tegas dan mandiri sangat membantunya dalam hidup merantau, jauh dari keluarga inti. Hampir tak ada yang bisa menghalangi langkah anak muda satu ini, sang srikandi pembawa perubahan, si aktivis muda yang berani dan lincah. Pasti banyak srikandi muda lainnya yang semodel dengan yang satu ini, tapi entah mengapa, dia menarik perhatianku. Hanya doa dan harapan yang bisa aku panjatkan buatnya karena dengan potensi yang seperti itu, dunia terbuka lebar buatnya. Ia tinggal memilih ingin berkarya di mana.

Adalah seorang perempuan yang masih muda, tapi dewasa dan matang dalam usia dan kepribadian. Wataknya keras, namun bisa sangat lembut dan hati-hati dalam bertutur kata. Ia berani berbicara, malah bisa dikatakan tipe yang tidak akan tinggal diam bila melihat suatu ketidakadilan terjadi di depannya. Semakin didesak, maka akan semakin terlihat keras kepalanya. Namun satu hal yang pasti, apapun yang ia lakukan, diawali dengan niat yang baik. Pukulan demi pukulan ia alami dalam hidup dan dunia pekerjaannya. Pengorbanan untuk melepaskan apa yang ia impikan untuk masa depannya dengan berat hati ia lakukan, demi orang-orang yang ia cintai. Pengorbanan itu sempat membuatnya terjatuh sebentar, tapi karena rasa tanggung jawab yang sangat besar, ia akhirnya bangkit lagi dan melangkah terus. Banyak kekecewaan, tapi banyak pula hal yang patut disyukuri. Wanita yang satu ini memang tahan banting. Pantang menyerah dalam struggle-nya mengatasi demand dalam dunia kehidupan sehari-hari adalah ciri khasnya. Dan disitulah juga letak keindahan wanita ini. Hidup yang penuh tantangan ia jalani terus dengan senyum di wajahnya.

Adalah seorang perempuan muda lagi, mungkin yang paling muda dalam kelompok cerita ini. Pembawaannya ceria, banyak berceloteh, seakan hidup itu ringan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa langkah-langkah itu ternyata membawa beban yang cukup berat baginya. Masa lalu diwarnai dengan banyak kekecewaan, pernah menjadi korban perisakan pula. Hidup baginya selama ini berfokus pada pencarian. Apa yang dicarinya? Tidak lain adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis setiap manusia, yaitu diterima, diinginkan, menjadi bagian dari suatu kelompok. Proses pencarian dan penerimaan sosial itu terus menghantarnya pada hempasan yang berulang-ulang, sehingga yang namanya jatuh bangun pun menjadi suatu normalitas. Setiap kali jatuh, gadis muda ini tidak pernah punya pegangan untuk membantunya mencerna apa yang telah terjadi dan bagaimana harus memperbaiki. Dengan berjalannya waktu, yang terbentuk adalah suatu kepribadian yang selalu menoleh ke dalam dan menyalahkan diri sendiri setiap mengalami kegagalan karena tingginya kebutuhan untuk diterima. Ia semakin sering dipersepsikan sebagai “aneh” walaupun aku lebih memilih kata “unik”; apapun namanya, persahabatan menjadi sulit bagi gadis muda ini. Barulah pada masa perkuliahan, ia berhasil menemukan sedikit demi sedikit dukungan untuk beradaptasi dan mengenali lebih dalam lagi dirinya sendiri. Perjalanan ke depan memang tidak otomatis menjadi mudah dan gadis muda inipun masih sering jatuh bangun, salah langkah, kadang masih menerka-nerka apakah jalan di depannya sudah benar. Akan tetapi, satu hal yang pasti, ia tidak pernah satu kalipun menyerah.

Adalah seorang perempuan yang sudah dewasa dalam usia dan kepribadian, sekitar usia dewasa madya. Mungkin aku perlu memanggilnya ibu. Ibu yang satu ini sebenarnya secara diam-diam adalah role model-ku. Ibu ini memegang peran yang sangat penting dalam pekerjaannya, pintar, berpendidikan tinggi, dan seorang pemimipin. Tekanan dari pekerjaan dalam sekitar 6 bulan terakhir ini bisa dikatakan sangat sangat tinggi. Saya memang tidak melihat Ibu ini bergulat menghadapi semua itu setiap hari, tapi barusan ini kami sempat bertemu dan bercakap-cakap. Tanpa kami sadari kami duduk bersama saling mendengarjan selama berjam-jam. Waktu sepertinya melayang begitu saja dalam percakapan kami. Kuperhatikan sahabatku yang luar biasa kuat dan tegar ini (walaupun dia mungkin tidak akan menyetujui bahwa dirinya tegar karena kerendahan hatinya) mengeluarkan isi hatinya dan aku tidak bisa membayangkan bila aku berada dalam posisinya. Trenyuh melihat dan mendengarkan kisahnya. Tapi sama seperti srikandi-srikandi yang sebelumnya, yang namanya ‘menyerah’ tidak ada dalam pikirannya. Sebaliknya, yang dia pikirkan hanyalah tanggung jawabnya sebagai seorang pemimipin dan orang-orang yang percaya dan bergantung padanya. Didorong oleh pemaknaan itu, ia berusaha sekuat tenaga mengalahkan semua pemikiran-pemikiran negatif yang menghampirinya, dibantu juga oleh iman yang kuat. Walaupun ada hari-hari tertentu yang lebih sulit dibanding hari yang lain, tapi Ibu ini terus melangkah keluar rumahnya setiap hari dan melakukan tugasnya. Setiap hari. One day at a time.

Adalah seorang perempuan tua, sudah lanjut usia. Ibu ini seorang ibu rumah tangga, tidak punya titel sarjana dan sejenisnya, tidak punya banyak keahlian selain keahlian seorang ibu rumah tangga. Ia sudah memasuki masa usia yang mestinya sudah perlu banyak istirahat. Akan tetapi, jangan berharap bahwa ia akan beristirahat. Tidak akan dan tidak bisa. Setiap pekerjaan di rumah masih ingin ia lakukan sendiri, walaupun sekitar 3 bulan yang lalu melalui suatu operasi besar. Ibu satu ini masih sibuk mengurusi banyak hal dan aktif di gereja. Ini adalah ibu yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam hidupnya, juga keras kepala, keras dalam pembawaan, tegar, dan berani, tapi sederhana dalam sepak terjangnya melakukan tugas. Tidak banyak yang bisa di-highlight dari ibu ini dalam hal keunikannya dibanding dengan perempuan-perempuan sebelumnya. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa saja. Tapi mungkin di situlah letak keindahannya. Dari suatu ketidakadaan, dari titik nol, dia bisa membuat suatu keberadaan yang patut disyukuri.

Cerita-cerita yang sangat singkat ini memang samar-samar, tidak lengkap, tidak jelas, karena wujud tokohnya tak bernama. Memang itulah tujuan penulisan ini. Mereka semua adalah wanita-wanita biasa, berdasarkan kisah nyata, tapi tak perlu bernama. Tua atau muda, ibu rumah tangga atau pekerja kantor, berpendidikan tinggi atau rendah, kaya atau miskin, tak peduli agama atau etnis mereka apa; siapapun mereka, mereka adalah orang-orang berharga, yang bergulat dengan seluk-beluk dan naik-turunnya jalan kehidupan setiap hari. Mereka adalah pahlawan, role-model dan sumber inspirasi yang bisa kita panuti. Mereka adalah buku berjalan, human books, penuh dengan cerita. Apakah kita sudah SIAP untuk mendengarkan cerita mereka?

Mereka adalah kartini-kartiniku.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2018

Hasil Refleksi Pribadi dari Bedah Buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”

 

Kita tidak pernah tahu pintu apa yang akan kita temui dalam hidup. Dan saat pintu itu kita buka, pemandangan seperti apa yang akan kita temui. Tuhan telah menakdirkanku untuk bertemu dengan salah satu dari sekian banyaknya pintu dalam hidupku belum lama ini.

Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia. Powerful title!

Saya masih ingat waktu pertama kali diajak untuk menjadi pembedah buku itu. Acaranya diadakan di universitas sendiri, jadi kenapa tidak? Sebelum ditawarkan kesempatan itu oleh rekan saya, Pak Adven Sarbani yang juga salah satu dari 70 lebih penulis di buku itu, saya memang sudah sempat melihat postingan-postingan mengenai acara bedah buku lainnya untuk buku yang sama di universitas lain dan tergelitik untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai buku dengan judulnya yang sudah menggugah hati. Tanpa menunggu lama, saya langsung mengiyakan tawaran itu. Sekalian pikirku ini kesempatan emas untuk bertemu dengan beberapa teman lama dan sahabat baru yang se-passion dengan tema-tema terkait keberagaman, kebhinnekaan, dan lintas agama/lintas etnis.

Waktu persiapan untuk membaca buku berhalaman sekitar 300an itu cuma dua minggu. Mencari kesempatan untuk membaca selama dua minggu penuh di sela-sela kesibukan kerja ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan buku itu. Akan tetapi, apa yang telah aku baca sudah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhiku.

Beberapa tema berhasil saya tangkap dan coba untuk dalami, seperti tema penderitaan, kemarahan, kekecewaan, ketidakadilan, diskriminasi, ketakutan, kecurigaan, kewaspadaan. Pendek cerita, tema kepahitan hidup. Tapi banyak juga tema positif seperti forgiveness, bangkit dari penderitaan, perjumpaan yang mengubah cara berpikir menjadi lebih positif, dan toleransi.

Ada satu cerita yang sempat membuatku kaget dan jantung berdebar-debar. Di situ sang penulis menjelaskan pengalaman pahit yang dialami keluarganya di kota kelahirannya yang sama dengan kota kelahiranku. Kejutan itu tidak berhenti di situ. Penulis kemudian mengatakan nama daerah tempat tinggalnya dan bagaimana tempat itu memang terkenal sebagai daerah rawan penghasil preman dan pembuat onar di kota itu. Saya rasa tidak perlu untuk saya jelaskan lagi mengapa daerah yang dituliskan itu sangat signifikan buatku dan membuat jantungku langsung berdebar kencang.

Intinya adalah saya merasa buku itu sedang berbicara denganku. Saat itu saya menyadari bahwa saya juga punya cerita, dan ceritaku perlu dikeluarkan. Ceritaku butuh pembaca, pendengar, witness. Ceritaku punya kekuatan yang bisa aku bagikan dan semoga bisa menyentuh nurani kaum yang masih dingin hatinya.

Cerita itu sebenarnya sudah pernah aku ceritakan kepada beberapa teman dekat. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat cerita dikeluarkan secara lisan dibandingkan dalam bentuk tulisan. Terjadi pendalaman yang lebih membekas lagi saat diresapkan dalam bentuk tulisan. Janji sudah aku berikan kepada editor buku, Gus Aan Anshori, untuk menyetorkan tulisan itu suatu saat di kemudian hari dan janji perlu ditepati.

Pada hari bedah buku dijadwalkan di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, sekitar 200 orang lebih menghadiri; angka akhir malah sudah mendekati 300. Angka itu cukup memenuhi harapan awal kami sehingga dari sudut pandang jumlah peserta bisa dikatakan acaranya berhasil. Akan tetapi, berhasilkah pesan-pesan kami diterima oleh khalayak ramai di ruangan itu?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti, tapi dengan harapan yang tinggi saya yakin pesan kami mengena pada audience. Saya bisa merasakan kehadiranNya dalam perasaan dan pikiran yang berkecamuk di ruangan itu, terlihat dari lontaran komentar dan pertanyaan dari peserta. Dan saya hanya bisa terus berharap bahwa paling tidak ada dari peserta yang tersentuh dan mau meneruskan pesan-pesan kami.

Saya hanya menuliskan di sini reaksi saya pribadi. Terus terang sampai pada saat acara dimulai, saya tidak mengetahui secara pasti bagian mana dari buku itu yang mau saya tanyakan atau fokuskan dan yang sesuai dengan bidangku. Memang ada bayangan apa yang mau dikatakan, tapi juga ada sedikit perasaan overwhelm. Saya merasa agak bingung sebenarnya. Ironis menurutku karena saya tahu saya juga punya banyak pengalaman pribadi yang bisa saya kaitkan dengan apa yang saya baca. Terlalu banyak malah! Dan mungkin di situlah letak jawaban mengapa saya merasa agak bingung dan tersesat, tak tahu pasti perlu mengatakan apa.

Setelah berkesempatan untuk merenungkannya lagi selama beberapa hari sesudah acara selesai, saya menyadari bahwa saya bukannya tidak tahu mau ngomong apa, tapi tidak tahu mau MULAI dari mana! Mau fokus ke kebingungan identitasku sendiri selama ini yang sering sampai membuatku merasa tersesat dan tidak merasa belong ke kelompok manapun sepanjang perjalanan hidupku? Atau mengenai keinginanku untuk selalu ingin diterima atau menjadi bagian dari suatu kelompok? Bagaimana penerimaan itu sangat penting bagiku? Dan struggle ini masih terasa sampai sekarang! Secara tidak sadar kebingungan identitasku yang sering tidak tahu pasti saya ini orang Indonesiakah, orang Manadokah, orang Makassarkah, atau orang Tionghoakah, telah menghantui perjalanan hidupku dan caraku membuat keputusan. Dan ini apalagi benar-benar saya rasakan waktu tinggal selama 21 tahun di AS di mana embel-embel identitas minoritas ditambah lagi dengan kata “imigran” dan “ras Asia”. Nah loh, tambah bingung toh?

Sewaktu bagianku berbicara di bedah buku itu, saya mencoba menerjemahkan apa yang bergumul di benakku yang terasa sangat penuh waktu itu. Saya berusaha mengeluarkannya dengan sangat hati-hati dan memilih-milih karena hanya Tuhan yang tahu betapa banyak sebenarnya yang mau keluar tapi tertahan. Kenapa saya tahan? Karena bukan tempatnya. Saya sudah melihat banyak dari pengalaman orang lain dan merasakan sendiri diperlakukan berbeda dan tidak adil karena warna kulit, kesipitan mata, warna rambut, bentuk hidung, tinggi badan, paspor, status kewarganegaraan, dan yang paling utama dan dominan…logat. Kalau saya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 1,000 saja untuk setiap pertanyaan, “Mbak/Ibu/Cici/Cece asalnya dari mana?” yang dilontarkan orang-orang sesudah saya mengeluarkan sepatah dua patah kata, itu sendiri sudah bisa menjadi penghasilan rutinku. Aku sudah bisa ngumpulin uang untuk pergi berlibur, tahu?!

Jadi yah, begitulah yang terjadi di bedah buku itu. Terus terang saya merasa belum memberikan yang sepenuhnya. Masih menahan diri waktu itu karena memang saya belum siap. Hal yang pasti bisa saya katakan, buku itu sudah membuka suatu pintu. Dan kadang ada pintu tertentu yang begitu ditemukan dan dibuka, susah untuk ditutup rapat kembali. Namanya juga pintu, yah fungsinya memang untuk dibuka tutup sesuai kebutuhan, bukan?

Kesimpulan dari hasil refleksiku, masih banyak ternyata dari diriku sendiri yang belum tereksplorasi. Pintu itu masih menunggu keberanianku untuk masuk ke sana.

Liburan Itu Ibarat Es Krim

Liburan itu ibarat es krim. Pasti pernah kan makan es krim?

Ada seorang anak muda yang mengatakan es krim itu tidak bisa bertahan lama, harus segera dimakan karena meleleh dengan cepat. Penafsiran yang sepertinya lebih mengarah ke pemahaman es krim sebagai suatu objek yang harus segera dikonsumsi. Ada sedikit unsur keimpulsifan dalam penafsiran itu, bahwa es krim harus segera dimakan. Maklum yang mengatakan itu juga masih seorang muda. Hidup bagi kaum muda memang cenderung lebih mengarah ke memakai, mengonsumsi apa yang ada di hadapannya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu karena cukup sesuai dengan kebutuhan perkembangan yang masih berpusat pada mencari sesuatu (looking for something). Sesuatu yang dimaksud itu bisa mengenai masa depan, kesuksesan, nilai yang bagus, teman “spesial”, atau bahkan, jati diri.

Penafsiran itu berbeda dengan apa yang sebelumnya sudah sempat terpikirkan olehku saat dalam perjalanan pulang dari kerja. Benak penuh dengan pemikiran bagaimana menghabiskan liburan ini seproduktif dan seefektif mungkin dan mampu merasa puas di finish line seminggu kemudian saat liburan berakhir.

Kebalikan dari penafsiran di atas mengenai es krim, saya malah bertanya trick apa yang bisa saya pakai untuk menikmati es krim itu sepelan mungkin supaya bisa merasa puas sesudah selesai. Saya yakin banyak orang akan setuju bahawa es krim itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Akan tetapi, ironisnya, semua kenikmatan hanya bersifat sementara. Semua kenikmatan pasti akan berakhir. Dan, kalau kita tidak belajar untuk menikmati kenikmatan dan keindahan itu, maka dalam sekejap, kenikmatan dan keindahan akan berakhir tanpa sempat meninggalkan bekas yang mendalam, tanpa sempat memberikan kepuasan.

Tapi es krim memang akan cepat meleleh. Pertanyaannya, dengan demikian, bagaimana caranya untuk makan es krim tanpa berlama-lama dan tetap merasa puas di bagian akhir?

Selama seminggu terakhir ini, saya beruntung sekali bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan beberapa relawan sosial di suatu daerah di kota Surabaya. Kami saling berbagi cerita mengenai banyak hal. Cerita dari mereka kebanyakan mengenai kasus-kasus yang harus ditangani, keadaan penuh stres yang sering berada di luar  kemampuan mereka untuk mengontrol hasil akhir keadaan itu. Saya kemudian menawarkan kepada mereka pengertian mengenai mindfulness. Konsep ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk berada pada “here and now“. Artinya kurang lebih mengenai kemampuan kita untuk benar-benar menyadari keberadaan kita di mana pun kita berada, dan menghargai saat itu, mensyukuri apa yang dimiliki pada saat itu. Untuk mencapai itu, konsep mindfulness mengajarkan pentingnya “letting go” atau melepaskan. Apa yang dilepaskan? Semuanya, sehingga yang tersisa hanyalah diri kita sendiri dan keberadaan kita sekarang.  Hal-hal duniawi lainnya, yang di luar jangkauan kontrol kita, mengenai orang lain, semuanya kita lepaskan. Sebagai gantinya, kita berfokus ke dalam diri kita sendiri, berfokus pada pemikiran kita, pada pernapasan kita, pada apa yang sedang kita lakukan. Kalau sedang meditasi, kita berfokus ke pernapasan dan apa yang panca indera kita rasakan saat bermeditasi. Bila sedang berjalan, kita berfokus pada apa yang ditangkap oleh panca indera kita dan pijakan di bawah telapak kaki, rumput, pasir atau tanah, angin yang berdesir sepoi-sepoi meniup rambut dan daun telinga kita. Dan bila sedang makan, kita berfokus pada makanan yang masuk ke mulut, rasanya seperti apa, sadari proses seperti apa yang makanan itu sudah lalui untuk akhirnya sampai ke mulut kita, tangan dan keringat siapa yang telah membantu untuk akhirnya kita bisa makan makanan itu, dan menyukuri semua karunia itu.

Being mindful therefore, is to be aware.

Untuk menjadi mindful, kita harus lebih menyadari, peka, dan terbuka terhadap sekeliling kita. Meditasi, berjalan, makan hanyalah beberapa contoh saja bagaimana manusia bisa mengaplikasikan konsep mindfulness dalam hidup sehari-hari. Mindfulness membantu berkembangnya kesadaran diri dan kepekaan terhadap sekitar.

Kembali lagi ke topik es krim, memang es krim butuh dimakan dengan cepat. Kita tidak bisa berlama-lama memakan es krim, tidak seperti meminum segelas wine, atau secangkir kopi, yang memang sebaiknya dilakukan sambil berbincang-bincang dengan orang lain. Sebenarnya tidak sulit untuk bisa menikmati es krim dan merasakan kepuasan sesudahnya. Tidak sulit juga untuk menghindari kecenderungan untuk kemudian merasa bersalah karena telah memakan makanan yang dikategorisasikan kurang sehat bagi tubuh, atau junk food. Mindfulness bisa dilakukan dengan memikirkan jerih-payah dan upaya orang-orang yang sudah terlibat dalam pembuatan es krim itu — mulai dari pemerahan susu dari sapi, pengolahan susu sapi, pembuatan kemasan yang siap untuk dipasarkan, pembuatan branding, pemasaran, pemesanan, pengantaran produk, dan seterusnya. Bisa juga dengan berfokus pada nikmatnya rasa es krim di lidah, sensasi dingin dan manis yang dirasakan, atau mungkin sempat terasakan tekstur dan rasa lain yang mungkin tidak pernah tertangkap sebelumnya karena kita terlalu terburu-buru untuk menghabiskan. Misalnya, ada rasa sedikit asin (dan memang es krim sebenarnya ada sedikit rasa asinnya karena membutuhkan garam untuk pembuatannya). Kadang kita bisa merasakan lebih dari satu rasa karena diberi buah atau kacang. Sudah pernahkah anda memakan es krim dan benar-benar meresapi semua rasa yang memungkinkan untuk dirasakan? Itulah salah satu contoh mindfulness. Hasil dari proses itu jauh lebih memuaskan dibandingkan makan secara terburu-buru. Hasil dari proses mindfulness itu juga memungkinkan kita untuk mengurangi makanan karena sebenarnya bukan kuantitas yang berujung ke kepuasan, tapi kualitas.

Lalu mengapa kita berfokus pada es krim, padahal judul artikel mengatakan liburan? Semoga dengan membawa anda dalam esai dengan judul yang agak mengecohkan ini tidak menjadi suatu “torture” untuk pikiran anda sehingga membuat anda akhirnya secara tidak sadar (atau sadar) berjalan ke arah kulkas, membuka dengan harapan akan melihat secuil something yang dapat memuaskan tenggorokan sejenak. Tidak, bukan itu tujuan saya, tapi mohon maaf bila itu yang terjadi.

Saya ingin mencamkan bahwa liburan itu memang ibarat es krim! Bila ingin merasa puas di akhir liburan, kita harus benar-benar meresapinya, menjalaninya secara penuh kesadaran, bersyukur, memanfaatkannya seefektif mungkin. Dan ini kita lakukan tidak secara terburu-buru.

Kita juga harus BERHATI-HATI terhadap fenomena liburan, apalagi liburan panjang. Sama seperti es krim yang mempunyai konsekuensi yang harus dibayar sesudah memakannya (baca: penambahan lemak di tubuh), liburan juga mempunyai konsekuensi unik. Ada tumpukan pekerjaan yang menunggu di awal reuni bersua kembali dengan kantor, pekerjaan yang hanya tertunda sebentar. Namun percayalah, kesetiaannya untuk menunggu kita kembali sudah tak teragukan.

*****

Topik tulisan di atas sebenarnya adalah sebuah topik yang pernah saya tulis setahun yang lalu menjelang libur panjang di akhir tahun. Hasil karya tulisan di atas ini adalah sebuah penulisan ulang yang telah saya revisi di beberapa tempat. Selamat menikmati.

Dan juga, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan. Mari kita selalu menjaga kerukunan antarkepercayaan yang berbeda-beda di tanah air tercinta Indonesia ini. Semoga hari raya ini bisa dirayakan oleh umatnya di seluruh dunia dalam kebersamaan yang ditandai oleh rasa damai dan cinta kasih di dalam hati.

gambar ketupat kartu ucapan lebaran idul fitri 2015.png

 

Order Does Exist within Chaos

Chaos, messy, isn’t that part of life? Who never experienced chaos before?

Well, I am in the middle of a change right now, trying to send chaos away, packing it in a suit case, and hopefully chaos never returns again. But perhaps chaos may come back in a different form in the future. Who knows. But at this moment, I’m ready to send one away.

Days that I hope will be more in an order will start in a month. A life with a full time teaching position will soon be in the past for me. Still teaching, but possibly in a different form, and definitely not full time. I’m not too worried about how I’m going to adjust, although I’m starting to feel the emotional aspect of going through another phase of change and adaptation. Life is about learning and learning is a life-long process. And therefore, I would think the same goes with teaching. I can still teach, but in a different way. Teaching is a form of sharing, and so no doubt, I can still do it one way or another.

But for now, I am ready to let go one type of chaos out of my life.

 

PhotoGrid_1496931772820

 

A view like this in my house always marks the ending of a semester. Each stack is from a class, so there is a total of 5 classes. All I can chant now, “I’m ready to let you go.”

 

PhotoGrid_1496924266415

 

The stack of chaos shown above occupies another desk. This time it is at my desk in the office. Same meaning with the previous stacks, it only means the end of a semester. “I’m ready to let go of you, chaos,” I said convincing myself.

Order does exist within chaos.

PhotoGrid_1496931833967

And this … this one, I swear to you, there is an order in the seemingly chaos depicted here. Imagine this is a stack of stones that are seen in many outdoor pictures. What kind of feeling do those pictures usually attempt to arouse?

Well, hell, there is an inner calmness definitely in that picture too. It’s obvious.

Unfortunately, I can’t claim ownership of the stack of inner calmness, because it’s not my creation. I can only claim ownership of the picture. This inner calmness, by the way, managed to stay strong like this for many days. Order does exist within chaos.

*****

 

Daily Post Weekly Photo Challenge: Order