Human Connection · Journey · Life · Poem

Hai Kawan (2)

Kenangan

Ibarat sebuah lukisan
dengan kuas yang sudah disiapkan oleh Sang Pencipta
setiap kali kau menyapa fajar,
lukisan seperti apa yang ingin kau hasilkan
di atas kanvas putih hati yang baru?

Pasti ada cerita di balik setiap gambar,
mungkin lukisanmu ternoda kekecewaan atau tangisan getir
atau kuasmu tergerak tawa dan canda
apapun itu, lukislah dengan hati
bukti kau pernah menapakkan jejak di dunia ini

##Kenangan

Feelings · Humanity · Poem · Struggles

Hai Kawan

emptiness.jpg
Image berjudul A Feeling of Emptiness oleh Jeff Masamori (diambil dari artlimited.net)

 

gelap warnamu,
menyeringai tak karuan dari balik muka yang kusut
bayanganmu, terlalu pekat
bahkan –
tak segelintir anginpun mau mengabari kedatanganmu
bila kau ingin datang,
tak ada yang bisa menahan

seperti biasa,
teriakan protesku tercekik oleh laraku sendiri
terjebak dalam putaran hasrat yang tak kunjung usai
dan akhirnya, di penghujung malam yang panjang,
hanya hampa yang tersisa,
menemani dalam kesunyian, mengisi waktu yang terputus

hai kawan,
kedatanganmu, membawa tangis
kepergianmu, keletihan

###Gundah

College Life · Essay · Feelings · Humility · Work

Keluar dari Zona Nyaman

Kesempatan untuk menyicipi suatu pengalaman baru yang sangat mengesankan muncul di depan mataku beberapa hari yang lalu. Beberapa mahasiswa di fakultasku membentuk suatu komunitas baru, yaitu komunitas teater. Mereka menamakan komunitasnya “Seniman 15 Menit.” Nama itu didapatkan karena pertama kali kelompok itu terbentuk (sebelum menjadi komunitas) adalah karena mengikuti lomba drama di suatu ajang perlombaan nasional antarfakultas psikologi se-Indonesia dan waktu yang diberikan untuk pentas adalah 15 menit. Jadilah inspirasi untuk nama Seniman 15 Menit. Kelompok ini awalnya tidak terlalu aktif. Beberapa bulan kemudian mereka sempat melakukan pentas kecil-kecilan di depan mahasiswa baru pada acara pengenalan kampus dengan tema perkuliahan di fakultas psikologi kami. Kelompok ini tidak pernah mengikuti latihan dan bimbingan teater, dan jarang sekali melakukan latihan sendiri karena tidak ada yang bisa melatih mereka. Untunglah, dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa, pada bulan Oktober 2016 mereka tergerak untuk membentuk suatu komunitas teater secara resmi karena kehadiran seorang pelatih yang mau membimbing mereka secara tidak resmi. Walaupun tidak resmi, tapi keberadaan sang pelatih ini dalam beberapa kesempatan yang tercipta sudah membantu banyak dalam membangun semangat dan motivasi mereka untuk berlatih secara teratur. Tantangan dan kesempatan untuk berkembang juga muncul saat mereka ditawarkan untuk pentas di hadapan masyarakat umum dalam suatu acara perayaan Natal yang diselenggarakan oleh RRI Surabaya. Nama naskah mereka adalah “Om Toleransi Om.” Suatu pengalaman yang luar biasa mengesankan buat mereka…dan bagiku juga. Aku rasa harapan bagi kami semua yang terlibat dalam acara itu sangat simple sebenarnya, bahwa kami berharap kesempatan pentas itu semoga menjadi suatu awal baru bagi komunitas Seniman 15 Menit yang dapat membangun kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa. Terimasih yang mendalam kepada pelatih mereka, Pak Retmono Adi (yang lebih akrab dipanggil Pak Didik), yang sudah mau memberikan waktunya untuk datang ke Surabaya dan melatih mahasiwa yang pentas. Tanpa dukungannya, kebersamaan dan keberhasilan di pentas Om Toleransi Om ini tidak dapat tercipta. Kesempatan bisa saja ada, passion dan keinginan bisa saja tinggi, tapi tanpa dukungan dan bimbingan, siapapun itu tidak akan mampu memberikan karyanya yang terbaik.

Aku belajar banyak dari apa yang aku lihat dan alami selama mendampingi para mahasiswa dalam proses persiapan pentas Om Toleransi Om barusan ini. Melihat proses perubahan dari awal latihan sampai saat pementasan itu sungguh luar biasa. Semangat, kegembiraan, kebersamaan, kesederhaan berpikir, kerendahan hati, dan ke-kreatifan yang saling mereka bagikan itu mengharukan. Terus terang, aku sendiri tidak menyangka bahwa mereka akan bisa melangkah sampai sejauh ini. Pemikiran seperti itu muncul bukan karena aku meragukan kemampuan mereka, tapi karena perubahan yang terjadi menurutku cukup cepat dan itu tidak terbayangkan sebelumnya olehku yang naif dan buta mengenai dunia teater. Sungguh tak menyangka perkembangan mereka bisa secepat itu. Kredit juga perlu diberikan kepada pelatih mereka yang mampu mendorong anak-anak untuk keluar dari zona nyaman mereka dalam waktu yang cepat. Dorongan yang diberikan oleh Pak Didik memang tegas, kadang keras kadang lembut, diselingi dengan banyak diskusi dan refleksi, dan kadang dilengkapi dengan shock therapy juga, tapi mungkin karena itulah perkembangan mereka bisa menjadi terlihat cepat.

Momen paling menyenangkan bagiku adalah pada malam terakhir sebelum hari pentas. Sore itu mereka barusan kembali dari gladi bersih di Ruang Auditorium RRI Surabaya dan lanjut dengan latihan lagi sebelum ditutup dengan makan malam bersama di kantorku. Saat duduk makan malam bersama, kami mengobrol dengan hangatnya. Mereka bercerita tentang pengalaman gladi bersih siang tadi, suka duka dari pengalaman persiapan dan latihan selama ini, dan seterusnya. Sebagaimana biasanya ruang rapat, meja-meja diatur dalam keadaan melingkar sehingga kami semua bisa saling melihat.

Di tengah-tengah perbincangan itu, salah satu dari mahasiswa secara iseng mengambil gelas aqua di depannya. Sejenak dia melihat gelas aqua itu sedemikian rupa seakan mempelajarinya, memutar-mutar gelas aqua itu di tangannya, dan kemudian memeragakan sesuatu dengan memakai gelas aqua itu sebagai alat peraga. Beberapa mahasiswa lain kemudia menebak apa yang diperagakan. Hahaha…mereka berbagi tertawa bersama karena apa yang diperagakan itu memang lucu. Tidak ingin kalah, mahasiswa yang di sampingnya kemudian mengambil gelas aqua yang sama dari mahasiswa sebelumnya dan memeragakan sesuatu juga, diiringi dengan teriakan tebakan dari yang lainnya dan tawa lepas. Untunglah waktu sudah di atas jam kerja (sudah jam 6 malam lewat), sehingga tidak ada satu manusiapun lagi di kantor yang sedang bekerja. Suasana mulai menghangat. Gelas aqua itu kemudian bergilir dari satu orang ke orang berikutnya, termasuk aku.

Pertamanya aku tidak bisa berpikir apa-apa. Kepala ini rasanya kosong, dan juga, ada sedikit rasa malu dan sungkan karena aku tidak terbiasa melakukan hal demikian di depan orang lain. Aku memang tipe orang yang kaku dan sering merasa sungkan saat seperti ini, yaitu saat melakukan sesuatu yang membutuhkan kreativitas dan keluar dari zona nyamanku memainkan peran tertentu di depan mahasiswaku. Aku sudah terbiasa dengan suatu peran dan untuk memerankan peran lain butuh upaya untuk masuk ke situ. Gelas aqua itu akhirnya aku oper dulu ke orang berikutnya di giliran pertama, tapi begitu sampai pada giliran kedua, mahasiswa menolak untukku melakukan hal yang sama. Setengah memaksa 🙂 Tapi anehnya, di dalam hatiku sebenarnya sudah terjadi konflik. Di satu sisi, rasa sungkan dan tidak nyaman itu cukup kuat, tapi ada bagian dari dalam diriku juga yang ingin ikut berpartisipasi. Aku merasa penasaran sebenarnya karena ada keinginan untuk berbaur, tertawa bersama. Akhirnya secara sadar, aku melawan perasaan dan pemikiran takut dan cemasku. Aku mencoba akhirnya.

Awalnya terasa canggung, kagok, tidak nyaman, tapi setelah putaran kedua, ketiga, mulai terasa okay. Aku teruskan. Saat susah mendapatkan suatu ide untuk berbuat apa dengan gelas aqua itu, aku berhenti sebentar dan mencoba mengambil waktu untuk mencari ide. Aku tidak ingin menyerah. Aku beranikan diri untuk memperagakan hal-hal yang sedikit lebih sulit, yang membutuhkanku untuk berdiri dari tempat duduk, dan ternyata aku bisa. Iya, aku bisa. Muncul perasaan senang dan puas, walaupun masih tersisa perasaan canggung. Namun, aku juga perlahan-lahan sadar, bahwa sebenarnya mungkin tidak ada yang tahu, atau tidak ada yang peduli, kalau aku merasa canggung. Cuma aku saja yang peduli sebenarnya. Merekapun mungkin juga merasa canggung, dan aku mana tahu itu? Pemikiran itulah yang akhirnya mendorongku untuk terus saja melakukan, biarpun kadang yang lain tidak bisa menebak apa yang aku peragakan, seperti saat aku memeragakan topi melayang di cerita Harry Potter. Toh ini bukan mengenai kemampuan memeragakan untuk bisa ditebak secara tepat. Ini mengenai bermain bersama, berbagi suatu momen yang indah bersama, tertawa bersama. Dan memang, pengalaman indah itu sungguh sangat menancap di dalam hatiku. Bertahun-tahun kemudian mungkin aku tidak dapat mengingat secara pasti kejadian malam itu, tapi aku akan selalu bisa mengingat perasaan nyaman dan indah yang aku rasakan bersama mereka.

Malam itu, aku keluar dari zona nyamanku. Aku menyalurkan ideku, mengerahkan otak kananku — sesuatu yang mungkin karena tuntutan kerja menjadi sangat jarang untuk aku lakukan. Dan untuk itu, aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengalaminya. Lebih bersyukur lagi, aku mau untuk keluar dari zona nyamanku dan masuk ke zona baru. Pengalaman yang mengesankan. Bahagia itu memang sederhana kok.

Poem

Someday

39dfd6504a382d65612cb316a4420a6e-d1lbup3
Image is credited to xMegalopolisx, from Deviantart.com

Someday,
She will feel nothing
Emotions will evaporate
No longer a burden on her being

Someday,
She will care for no words
Words will lose its way
No longer have the power to hurt

Someday,
She will shed no more tears
Empty eyes, left to decay
But free from fears

Someday,
Her journey will cease
And she reaches the end
It is then when she discovers peace

It is then when…
she starts…
living

Poem

The Night Dance

She asked me once,

Have you ever met emptiness? Did you talk to it? What does it look like? How does it make you feel?
Have you ever looked at loneliness in the eyes? Stared through those eyes? What do you see behind them?
Have you ever cried so hard ’til your chest hurts, but at the same time,
You knew there’s no point in crying?

Why so, I asked back,
And she answered,

Because the world is not curious about you
Why should the world bother?
Only loneliness listens
In a devoted way
And quietly

Then she turns and walks away,

…..

So life continues
Night then turns to dawn
And soon, comes the night again
Over time, she learns the steps by heart
And she dances her part humbly so, with grace

Essay · Poem

What is to Forget?

Picture

Image is titled “Remind.her to remember” by sophiaazhou from DeviantArt.com

I responded to a writing prompt. It asked me to write two lists. The first list is about things that I want to forget. The second one is about things that I want to remember. Guess what, the results came back almost the same.

In order to get rid of memories involving people and situations that I want to forget, I would run the risk of deleting the same people and possibly situations that I want to keep in my memory too.

Why are we humans so complicated? We create this complicated wants, needs, hates, dislikes on our own. We continue to push ourselves to get something that we want, to chase something in order to feel happy, belonged, loved, but then let them go once we get tired of them. Therefore, we continuously create a dual-impact in every single person and situation that we come across. We love a person, then we hate that person. We need a person, then we push that person away. We strive to be part of a group, later we quit. We find ourselves in a bad situation, but then we learn from it and become a better person. We let go a person, then we desire that person again. We make a decision to move to another place, then we miss it. And so on. It’s a dance of life that we make into a perfection as we move along in life.

Why does it have to be a double perspective to every single thing that we go through? Why can it be much simpler. I hate complication, but I always find myself getting caught in one. Is there a lesson in all of these messes?


Picture

Image is titled “Remember Me Too” by laughsofgreed from DeviantArt.com

 

(a poem)

what does it mean to forget?
for a person who has seen the secret beauties of this world,
who knows how a rainbow frames the sky with its colors,
or that trees would wear their best autumn dress and
dancing until no more leaves are left on their naked limbs,
or when the sky sprinkles its first snow
coloring the ground in shiny white,
oh and what about the magnificent sunset,
the view that we tirelessly waited
day after day,
how can a person forget all of those?

when we no longer have what we used to have
shall we forget them then?
when we no longer want what we used to chase
shall we forget them too?
is it the same as letting go?
and will it always involve a goodbye?
how painful it must be then to let go
the more your heart insists to toss ’em,
the more it aches and
the more your mind frantically grabs to hold on,
it haunts you even in your waking dreams
like a nightmare, but a never ending one


but do you ever wonder why it’s so
damn hard to forget?

have you ever laughed so hard
that you happily wipe tears from your eyes?
have you ever excitedly anticipating something so delightful that you want to shout your joy to the world?
do you remember those…
…moments?
see, before there was pain, joy was there
before there was yearning, excitement was there
before there was loathing, love was there
hurt and happiness,
they come from one root

what then?
what should a person do?
begging the heart to stop?
force hope out of the head?
it is hope’s fault, you convince yourself
just make it die please, you whimper in your sleep
you’re so desperate for anything
any prescription that can
stop what you no longer want–
stop what was once desired
and would die for

my dear, you’re asking wrong questions,
you can’t stop the wheel that is already
in motion since the day you took your first breath,
you can’t throw what is already a part of you,
you can’t cut a thread
that is binding you to the memory,
have you ever wondered
perhaps
you are not supposed to forget?
you’re not allowed to pick what to forget
because that is the universe’s job,
not yours

your task is,
to learn to accept, that
to forget means to continue to remember,
and to deny it means to live in pain,
the past is a gift, a blessing,
so remember them,
accept them,
breathe,
live,
love!