Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Keinginan: Kunci Kebahagiaan dalam Berelasi?

Sebuah pertanyaan terlontar ke hadapanku hari ini yang mau tidak mau menjadi topik perenungan panjang dalam perjalanan kereta yang tidak kalah panjangnya pada malam hari yang tidak INGIN kalah panjangnya dalam menyelimuti kekelaman hati untuk mencari suatu jawaban. Sebenarnya yang dilontarkan kepadaku itu lebih berupa suatu pernyataan yang kemudian kuubah menjadi pertanyaan. Pernyataan itu berbunyi seperti ini, “Memang tidak mudah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.” Pertanyaan yang muncul di benak kemudian adalah apa perbedaan antara kebutuhan dan keinginan?

Otomatis kupanggillah yang namanya Oom Google lagi, si oom yang sok tahu itu. Dan seperti dugaanku, tak ada jawaban yang memuaskan yang bisa kudapatkan. Akan tetapi, hampir semua bacaan yang kudapatkan sepakat untuk mengatakan bahwa yang namanya kebutuhan itu lebih bersifat untuk keberlangsungan hidup, survival, sedangkan keinginan bisa dikatakan lebih bersifat ‘perasaan’, yang bila tidak adapun sebenarnya kita akan baik-baik saja.

Berdasarkan pijakan definisi ringan dan singkat di atas, aku membuat kesimpulan sendiri berarti apa yang selama ini aku lakukan dalam hampir semua relasiku adalah keinginan sebenarnya. Hanya keinginan saja — keinginan-keinginan yang kemudian ternyata membuatku sering tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini disebabkan oleh aku sendiri ternyata. Sampai di sini aku MENYADARInya dengan sesadar-sadarnya.

Seperti biasanya saat aku mulai memasuki dunia perenungan, satu pertanyaan selalu akan membawa ke pertanyaan berikutnya. Pertanyaan logis berikutnya adalah kalau kita manusia dalam berelasi selalu menginginkan sesuatu, dan apabila keinginan itu tidak tercapai/terkabulkan, apakah akan selalu berakhir dengan ketidakbahagiaan? Kunci dari kebahagiaan atau ketidakbahagiaan dalam berelasi dengan orang lain, apakah itu dengan teman, keluarga, pasangan hidup yang kita cintai, adalah keinginan? Aku paham bahwa bila ingin bahagia dalam berelasi, kita perlu menerima orang lain apa adanya. Menerima orang lain apa adanya itu apakah berarti membebaskan diri kita dari segala keinginan juga? Dengan kata lain, apakah sebaiknya dalam berelasi itu kita membersihkan pikiran kita dari suatu keinginan mengenai orang itu? Itukah kunci dari kebahagiaan?

(Kan sudah kubilang kalau satu pertanyaan akan menghasilkan pertanyaan lain… Welcome to the web of my mind. ūüėÄ )

Bebas dari keinginan bisa dikatakan adalah kunci jawaban dari suatu kebahagiaan dalam menjalin hubungan. Sudah tepatkah? Aku ingin memberikan suatu alternatif sudut pandang. Bagaimana kalau kunci dari kebahagiaan dalam menjalin hubungan itu bukan mengenai membebaskan diri dari keinginan, tapi mengenai mendapatkan seseorang yang bisa memuaskan keinginan-keinginan itu. Jadi pendapat yang kedua ini adalah mendapatkan orang yang tepat, yang cocok, yang sependapat, yang memahami, yang soul-nya sejalan, sepadan, dan seterusnya. (Wow, cukup kedengaran agak sedikit idelistik menurutku.)

Bila aku memakai pengalamanku sendiri sebagai sumber refleksi dan menoleh ke masa laluku, untuk setiap pasangan yang pernah kuserahkan rasa percaya dan hatiku, sepertinya ada keinginan yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Pada saat aku bertemu pasangan yang baru, biasanya aku bersyukur karena dia tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sering tidak aku sukai di pasangan yang sebelumnya. Akan tetapi, perasaan euphoria itu kemudian suatu saat akan berakhir juga saat aku menemukan bahwa pasangan yang baru ini ternyata punya kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak aku sukai, sehingga timbullah keinginan-keinginan baru yang terkait khusus hanya untuk orang yang baru ini. Dan roda kehidupan berelasi pun terus berputar.

Dengan kata lain, alternatif kedua yang baru saja aku cetuskan di atas telah aku bantah sendiri. Kalau begitu, kita kembali lagi ke rumus yang pertama, yaitu bebas dari segala keinginan. Tapi sekarang aku juga ingin menyampaikan argumentasiku untuk rumus yang pertama ini. Sebenarnya, aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki keinginan terhadap seseorang yang dekat dengan kita? Bagaimana rasanya untuk hidup bebas di hati? Hidup free itu, bagaimana toh rasanya itu? K edengarannya indah. Tapi apakah memang selalu indah untuk hidup bebas dari keinginan? Bebas dari keinginan menurutku akan sering terjadi di mana kita mengalah, dan bagaimana itu rasanya? Bukankah itu juga bisa menjadi sesuatu yang berat? Akan bahagiakah hidup yang seperti itu? Seseorang yang bebas dari keinginan dalam hidup berelasi, benarkah orang itu bahagia?

Menurutku, kebebasan itu adalah ilusi. Angan-angan. Tidak ada yang namanya hidup yang bebas di dunia ini — bebas dari belenggu keinginan. Apakah benar ada orang yang benar-benar bebas? Malah ironisnya adalah hidup manusia itu sebenarnya hidup yang sosial, yang berarti kita selalu membutuhkan orang lain. Dengan demikian, selama kita masih membutuhkan orang lain, berarti akan ada semacam keterikatan, suatu perasaan. Semakin dalam keterikatan itu, semakin erat hubungan itu, semakin dalam juga perasaan dan emosi yang terjalin. Bila ada emosi, perasaan, berarti kita kembali lagi ke pertanyaan awal dari essay ini, yaitu ada suatu harapan yang kita inginkan dari hubungan itu biarpun harapan itu mungkin suatu harapan yang kecil. Harapan sekecil apapun berarti akan tetap ada suatu keinginan. Keinginan bisa dikatakan sudah kodrat manusia, bagian dari kemanusiaan, humanity. Tanpa adanya harapan dan keinginan, apakah kita masih manusia?

Sampai di sini, sudah sama bingungnyakah anda semua pembaca denganku karena aku baru saja menyanggah kedua hipotesis yang aku ungkapkan di tulisan ini. Bila anda belum menyadarinya, aku akan sampaikan sekarang, yaitu aku juga tidak punya jawaban dari semua pertanyaan di tulisan ini, terutama pertanyaan kunci kebahagiaan dari hubungan itu sebenarnya apa. Tulisan ini memang tidak bertujuan untuk memberikan jawaban, tapi mengajak untuk berpikir dan mungkin juga bertukar pikiran. Monggo, diskusinya bisa dimulai. Siapa tahu bisa memberikanku pencerahan juga.

Antara Mengetahui, Memahami, dan Menyadari

IMG_20170128_142612_953.jpg

 

Pada akhir pekan ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tangan para malaikatnya untuk menemukan banyak pemahaman baru. Salah satu pemahaman baru itu adalah perbedaan antara mengetahui, memahami, dan menyadari, dengan mengetahui sebagai level yang terendah dan menyadari sebagai level kognitif yang tertinggi. Bila bertanya pada kamus Bahasa Indonesia, ketiga kata itu mungkin bisa menjadi sinonim antara satu dengan yang lain. Misalnya, kita bertanya pada Oom Google apa sinonim dari mengetahui, maka kata-kata yang akan muncul salah duanya adalah memahami dan menyadari. (Silakan dibuktikan sendiri).

Selama 3 bulan terakhir, saya menggumuli suatu kenyataan mengenai diriku yang menurut pemikiranku sebelum saya memulai pergumulan ini adalah sesuatu yang sudah selesai saya gumulkan dan gulati sampai jatuh bangun, keringat basah kuyup, babak belur selama bertahun-tahun dalam perjalanan hidupku. Oh, betapa dangkalnya pemikiranku. Ternyata, kenyataan yang pikirku sudah tuntas itu belum selesai. Paling tidak belum selesai sepenuhnya. Pada akhir pekan ini, Tuhan membimbing saya untuk menyadari bahwa level proses perubahan di pemikiranku itu mungkin hanya mencapai level memahami saja — belum sampai pada level menyadari. Kalau level mengetahui itu ibarat membaca suatu kutipan kata-kata mutiara yang sering kita lihat akhir-akhir ini di media sosial dalam bentuk foto atau gambar yang disertai dengan kata-kata yang membuat kita kagum dan menggumamkan, “Oh, bagus ini” sehingga tergeraklah jari kita untuk memencet Like di bawah foto itu, memahami atau mengerti itu adalah pemahaman yang menggerakkan kepala kita untuk manggut-manggut karena kita mampu mengaitkan apa yang kita baca itu dengan dunia sehari-hari kita. Mungkin saat membaca kata-kata itu kita mengingat suatu kejadian yang kita lihat atau alami, sehingga tergeraklah hati kita untuk men-sharingkan kata dan gambar itu di wall media sosial kita juga. Akan tetapi, sudah benar-benar sadarkah kita mengenai arti kata-kata itu? Akan menimbulkan perubahankah dalam hidup kita sekarang sesudah membaca kata-kata itu?

Menyadari dalam arti yang sesungguhnya bagi saya adalah saat seperti tertampar. Hari ini dan kemarin, wajah saya ditampar oleh suatu kesadaran yang bukan hanya membuatku manggut-manggut saja, tapi juga malu. Iya, malu. Malu karena baru menyadari betapa selama ini saya sudah mengetahui dan memahami semua yang baru saja saya sadari, tapi membutuhkanku waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) untuk akhirnya sampai pada tahap hidupku sekarang di mana aku baru bisa menggabungkan semua yang sudah aku dapatkan menjadi SATU pemahaman keseluruhan. Menurutku, inilah yang namanya level KESADARAN. Sadar sepenuhnya tanpa ada lagi keraguan, kebohongan terhadap diri sendiri, ketidakpastian, penyangkalan. Kesadaran dalam arti melihat keseluruhan kehidupanku dan diriku sendiri tanpa ada batasan lagi. Menelanjangi diriku sendiri, sampai semua bagian dari kepribadianku, tabiatku yang jelek, yang tidak kusukai, yang memalukanku, yang menghantuiku, kulihat semua. Tak ada lagi pembatas. Tak ada lagi denial, atau benteng-benteng yang lain. Ini adalah kesadaran yang tidak lagi membuat kita menunggu untuk kapan akan memulai perubahan. Ini adalah kesadaran yang dapat membuat kita segera melakukan tindakan untuk memulai perubahan. Agak sedih juga sebenarnya saat menyadari bahwa semua perjalan hidupku sampai ke tahap menyadari ini “hanya” membutuhkanku 44 tahun saja ūüėÄ Yah, tapi lebih baik 44 tahun daripada tidak sama sekali.

Apa itu yang aku sadari bukan fokus dari tulisan ini. Setiap individu mempunyai “apa” yang perlu disadari. Bagian “apa” ini akan berbeda-beda antara satu sama lain. Bagian yang mau saya fokuskan adalah mengenai “bagaimana”. Yang pertama, seperti yang sudah saya lukiskan di atas, ini bisa dimulai dengan mencoba membayangkan seseorang yang sudah jatuh bangun beberapa kali, babak belur, dan keringat membasahi tubuhnya setelah berlari ke sana dan ke mari selama bertahun-tahun tanpa tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dikejar, dan akhirnya merasakan lelah yang luar biasa. Beberapa dari kita manusia di dunia ini mungkin sudah sangat beruntung untuk pernah mengalami skenario di atas. Berbahagialah dan bersyukurlah sudah pernah mengalaminya karena hanya dengan dorongan yang seperti itu — dan disertai keinginan dan harapan untuk teruas bertanya dan mencari dengan meminta bantuan Tuhan — saya yakin suatu saat kita akan sampai pada tahap menyadari ini. Dengan kata lain, jalannya mungkin akan panjang dan berliku, tapi dengan iman dan keinginan untuk mau selalu menjadi lebih baik lagi, semuanya akan ada waktu dan tempatnya untuk sampai ke tempat yang Tuhan sudah sediakan buat kita.

Yang kedua, ternyata selama ini saya tidak pernah sendirian. Kalau saya perhatikan secara seksama, Tuhan sudah menyediakan malaikat-malaikatnya untuk menemani dan menuntunku. Hanya saya yang buta selama ini. Waktunya juga tepat untuk kapan malaikat-malaikat itu datang dan masuk ke dalam hidupku. Saya yang belajar bahwa kehadiran malaikat-malaikat yang berwujud manusia itu memang datang tanpa saya sadari dan campur-tangan mereka juga terjalin dengan alaminya tanpa saya sadari. Itulah indahnya hidup ini menurutku. Semuanya diawali dengan ketidaksadaran, dan saat kita sampai pada tahap kesadaran, luar biasa tamparan itu. Kejutan itu memang mengagetkan, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang indah. Bagaikan mendapatkan hadiah yang selama ini kita impikan dan sekarang hadiah itu tiba-tiba ada di hadapan kita. Surprise!

Bagian “bagaimana” untuk sampai ke tahap kesadaran inilah yang menurutku sangat indah. It was worth it to wait all this time, to hope all this time. Jangan menyerah dalam harapan untuk bisa sampai pada tahap menyadari ini. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

Suara Kehidupan

Minggu pagi yang suram, segelap hati. Mendung, kelabu, tanpa ditemani sinar matahari yang biasanya menyapaku nyaring dari jendela kamar. Hanya air hujan yang tak kian berhenti menghantam bumi dengan gusarnya sejak subuh tadi. Hati ini mencari, walau tak yakin apa yang sedang dicari sebenarnya. Hanya mencari dan mencari saja yang akhirnya tidak membantu menyelesaikan rasa gelisah. Akhirnya aku memilih untuk duduk di depan laptop, menutup mata sejenak, dan mencoba meditasi.

Yah, meditasi. Sudah lama tidak melakukan ini. Hening, mencoba (dengan sangat) melepaskan pikiran-pikiran sampah busuk tadi. Pikiran-pikiran yang menjatuhkan, menyesatkan, menggelisahkan. Aku tidak butuh semua itu.

Anehnya, suasana sekelilingku bukanlah suasana yang kondusif untuk melakukan meditasi. Hari Minggu adalah hari untuk bersama keluarga. Tidak salah kan kalau aku berpendapat seperti itu? Mungkin aku saja yang tidak mengikuti tradisi itu karena situasiku, tapi tidak berarti orang lain tidak berhak melakukannya. Buktinya, tetangga belakang rumah sedari tadi sudah ribut dengan pekerjaan rumah tangga dan senda gurau mereka. Ada suara air berputar di dalam mesin cuci yang bertanding dengan suara guyuran air hujan. Ada suara anak kecil berteriak, mencari mamanya, diikuti dengan suara nyanyian dari…mungkin kakak perempuannya? Lagunya aku kenal..sering dengar di radio, cuma tak tahu judul dan penyanyinya. Oh, dan ada suara burung berkicau juga, walaupun hanya dari dalam sangkar.

Ada suara seseorang yang sedang memasak, gemerincing suara piring beradu dengan sendok, kaki kursi terseret di atas lantai, dan sekali lagi…teriakan girang seorang anak.

Semua suara itu kurekam di benakku, membawa senyum di pagi hari. Senyumku adalah senyum bahagia. Tak tahu kenapa. Senyum itu mestinya getir, bila aku ikuti suasana hatiku. Kali ini, tanpa aku sadari dari mana datangnya, aku merasakan ada suatu rasa keindahan saat aku benar-benar meresapi semua suara itu. Indah karena…itu adalah suara kehidupan. Suara harapan.

Walaupun kadang hidupku hening, tanpa suara, tidak berarti aku tidak mencari suara. Suara-suara itu hadir, tidak tanpa sebab. Kuteguk habis semuanya dengan lahap, karena tak tahu kapan lagi semua ini akan datang menemaniku. Kunikmati apa adanya semua yang akhirnya menginspirasi tulisan ini. Tidak rumit sebenarnya kalau ditelusuri lagi dari awal. Semuanya berawal dari suatu kegelisahan, tertuang dalam meditasi, terwujudkan dalam karya. Apa lagi yang harus kukeluhkan? Membuatku bertanya, adakah yang mengatur semua ini?

Sebentar, konsentrasi menulis lagi terusik. Intermission sejenak. Yang tadinya suara teriakan…sekarang beralih ke tangis. Suara tangisan si anak sepertinya mendorong suara si ibu yang memanggil si anak, mencoba menghibur. Kemudian ada suara lain lagi, suara si kakak menjelaskan mengapa adik menangis…dan seterusnya.

Ah, indahnya musik ciptaanMu, Tuhan. Sungguh, aku bersyukur.

Kurekam semua suara-suara itu, membawa senyum ke bibir, dan tak terasa, ada genangan air di sudut mata.

Terimakasih, Tuhan, aku masih engkau beri kehidupan.

 

combine-wallpapers-pack-16

Menguak Misteri

PictureImage is titled “Loneliness” by Orzz, from DeviantArt.com

jari-jari pucat muncul dari balik pintu kayu itu
perlahan tapi pasti, pintu mulai terkuak
tapi tarikan pintu bergerak terlalu pelan
seakan menggoda,
berpacu dengan detak jantung yang tak sabar menunggu
ada apa di balik pintu?
keingintahuan, ketakutan dan ketidaksabaran
bertarung di dalam pikiran
dan setelah sekian detik menahan napas —
— yang terasa seperti seabad,
daun pintu pun akhirnya terbuka penuh
entah apa yang dahulu terbayangkan
namun sejauh mata memandang,
yang terlihat hanyalah hamparan padang rumput datar,
malah tampak biasa saja, membosankan,
tak sebanding dengan imajinasi sebelumnya,
imajinasi yang terpancing oleh bayangan dari balik pintu,
yang sepertinya mengundang
kakipun mulai melangkah masuk, perlahan
memijak rumput basah yang pasrah untuk diinjak,
tapi sebelum melangkah lebih lanjut,
ku menoleh sebentar ke balik daun pintu
masih ada suatu keingintahuan yang perlu dipuaskan,
jari-jari pucat tadi secara perlahan maju dari balik pintu,
mulai menunjukkan rupanay,
dan melihat wajah itu – oh Gusti!
seakan tertampar oleh kenyataan
andaikan aku sedang melihat ke cermin
maka itulah yag aku lihat dari mata yang balik menatapku saat itu,
hanya tatapannya saja yang berbeda makna,
bukan ketakutan dan keingintahuan yang tercerminkan di mata itu,
melainkan suatu pertanyaan
namun tak ada kata yang perlu terucapkan
karena aku sudah tahu apa yang ingin dikatakan
mengapa begitu lama?
ternyata,
bayangan yang selama ini hidup di dunia yang aku takuti itu,
yang hidup sendirian di balik pintu,
yang terkucilkan,
yang telah lama menungguku untuk berani berkunjung,
adalah sosokku sendiri,
tawananku
pintu itu tak pernah terkunci
namun itu tak kusadari,
sosok itu tidak pernah bisa keluar dari belenggunya
karena aku yang memerintahkannya untuk bertahan di situ
dan itu juga tak kusadari,
ia yang setia menungguku selama ini
untuk mengunjunginya,
untuk menenemani,
ternyata selama ini menanti hanya satu hal —
— menanti pembebasan
dariku.
Originally published in July 2016.