Hope · Poem · Relationship

Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Hope · Journey · Struggles · Uncategorized

Antara Mengetahui, Memahami, dan Menyadari

IMG_20170128_142612_953.jpg

 

Pada akhir pekan ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tangan para malaikatnya untuk menemukan banyak pemahaman baru. Salah satu pemahaman baru itu adalah perbedaan antara mengetahui, memahami, dan menyadari, dengan mengetahui sebagai level yang terendah dan menyadari sebagai level kognitif yang tertinggi. Bila bertanya pada kamus Bahasa Indonesia, ketiga kata itu mungkin bisa menjadi sinonim antara satu dengan yang lain. Misalnya, kita bertanya pada Oom Google apa sinonim dari mengetahui, maka kata-kata yang akan muncul salah duanya adalah memahami dan menyadari. (Silakan dibuktikan sendiri).

Selama 3 bulan terakhir, saya menggumuli suatu kenyataan mengenai diriku yang menurut pemikiranku sebelum saya memulai pergumulan ini adalah sesuatu yang sudah selesai saya gumulkan dan gulati sampai jatuh bangun, keringat basah kuyup, babak belur selama bertahun-tahun dalam perjalanan hidupku. Oh, betapa dangkalnya pemikiranku. Ternyata, kenyataan yang pikirku sudah tuntas itu belum selesai. Paling tidak belum selesai sepenuhnya. Pada akhir pekan ini, Tuhan membimbing saya untuk menyadari bahwa level proses perubahan di pemikiranku itu mungkin hanya mencapai level memahami saja — belum sampai pada level menyadari. Kalau level mengetahui itu ibarat membaca suatu kutipan kata-kata mutiara yang sering kita lihat akhir-akhir ini di media sosial dalam bentuk foto atau gambar yang disertai dengan kata-kata yang membuat kita kagum dan menggumamkan, “Oh, bagus ini” sehingga tergeraklah jari kita untuk memencet Like di bawah foto itu, memahami atau mengerti itu adalah pemahaman yang menggerakkan kepala kita untuk manggut-manggut karena kita mampu mengaitkan apa yang kita baca itu dengan dunia sehari-hari kita. Mungkin saat membaca kata-kata itu kita mengingat suatu kejadian yang kita lihat atau alami, sehingga tergeraklah hati kita untuk men-sharingkan kata dan gambar itu di wall media sosial kita juga. Akan tetapi, sudah benar-benar sadarkah kita mengenai arti kata-kata itu? Akan menimbulkan perubahankah dalam hidup kita sekarang sesudah membaca kata-kata itu?

Menyadari dalam arti yang sesungguhnya bagi saya adalah saat seperti tertampar. Hari ini dan kemarin, wajah saya ditampar oleh suatu kesadaran yang bukan hanya membuatku manggut-manggut saja, tapi juga malu. Iya, malu. Malu karena baru menyadari betapa selama ini saya sudah mengetahui dan memahami semua yang baru saja saya sadari, tapi membutuhkanku waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) untuk akhirnya sampai pada tahap hidupku sekarang di mana aku baru bisa menggabungkan semua yang sudah aku dapatkan menjadi SATU pemahaman keseluruhan. Menurutku, inilah yang namanya level KESADARAN. Sadar sepenuhnya tanpa ada lagi keraguan, kebohongan terhadap diri sendiri, ketidakpastian, penyangkalan. Kesadaran dalam arti melihat keseluruhan kehidupanku dan diriku sendiri tanpa ada batasan lagi. Menelanjangi diriku sendiri, sampai semua bagian dari kepribadianku, tabiatku yang jelek, yang tidak kusukai, yang memalukanku, yang menghantuiku, kulihat semua. Tak ada lagi pembatas. Tak ada lagi denial, atau benteng-benteng yang lain. Ini adalah kesadaran yang tidak lagi membuat kita menunggu untuk kapan akan memulai perubahan. Ini adalah kesadaran yang dapat membuat kita segera melakukan tindakan untuk memulai perubahan. Agak sedih juga sebenarnya saat menyadari bahwa semua perjalan hidupku sampai ke tahap menyadari ini “hanya” membutuhkanku 44 tahun saja šŸ˜€ Yah, tapi lebih baik 44 tahun daripada tidak sama sekali.

Apa itu yang aku sadari bukan fokus dari tulisan ini. Setiap individu mempunyai “apa” yang perlu disadari. Bagian “apa” ini akan berbeda-beda antara satu sama lain. Bagian yang mau saya fokuskan adalah mengenai “bagaimana”. Yang pertama, seperti yang sudah saya lukiskan di atas, ini bisa dimulai dengan mencoba membayangkan seseorang yang sudah jatuh bangun beberapa kali, babak belur, dan keringat membasahi tubuhnya setelah berlari ke sana dan ke mari selama bertahun-tahun tanpa tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dikejar, dan akhirnya merasakan lelah yang luar biasa. Beberapa dari kita manusia di dunia ini mungkin sudah sangat beruntung untuk pernah mengalami skenario di atas. Berbahagialah dan bersyukurlah sudah pernah mengalaminya karena hanya dengan dorongan yang seperti itu — dan disertai keinginan dan harapan untuk teruas bertanya dan mencari dengan meminta bantuan Tuhan — saya yakin suatu saat kita akan sampai pada tahap menyadari ini. Dengan kata lain, jalannya mungkin akan panjang dan berliku, tapi dengan iman dan keinginan untuk mau selalu menjadi lebih baik lagi, semuanya akan ada waktu dan tempatnya untuk sampai ke tempat yang Tuhan sudah sediakan buat kita.

Yang kedua, ternyata selama ini saya tidak pernah sendirian. Kalau saya perhatikan secara seksama, Tuhan sudah menyediakan malaikat-malaikatnya untuk menemani dan menuntunku. Hanya saya yang buta selama ini. Waktunya juga tepat untuk kapan malaikat-malaikat itu datang dan masuk ke dalam hidupku. Saya yang belajar bahwa kehadiran malaikat-malaikat yang berwujud manusia itu memang datang tanpa saya sadari dan campur-tangan mereka juga terjalin dengan alaminya tanpa saya sadari. Itulah indahnya hidup ini menurutku. Semuanya diawali dengan ketidaksadaran, dan saat kita sampai pada tahap kesadaran, luar biasa tamparan itu. Kejutan itu memang mengagetkan, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang indah. Bagaikan mendapatkan hadiah yang selama ini kita impikan dan sekarang hadiah itu tiba-tiba ada di hadapan kita. Surprise!

Bagian “bagaimana” untuk sampai ke tahap kesadaran inilah yang menurutku sangat indah. It was worth it to wait all this time, to hope all this time. Jangan menyerah dalam harapan untuk bisa sampai pada tahap menyadari ini. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

Essay · Hope

Suara Kehidupan

Minggu pagi yang suram, segelap hati. Mendung, kelabu, tanpa ditemani sinar matahari yang biasanya menyapaku nyaring dari jendela kamar. Hanya air hujan yang tak kian berhenti menghantam bumi dengan gusarnya sejak subuh tadi. Hati ini mencari, walau tak yakin apa yang sedang dicari sebenarnya. Hanya mencari dan mencari saja yang akhirnya tidak membantu menyelesaikan rasa gelisah. Akhirnya aku memilih untuk duduk di depan laptop, menutup mata sejenak, dan mencoba meditasi.

Yah, meditasi. Sudah lama tidak melakukan ini. Hening, mencoba (dengan sangat) melepaskan pikiran-pikiran sampah busuk tadi. Pikiran-pikiran yang menjatuhkan, menyesatkan, menggelisahkan. Aku tidak butuh semua itu.

Anehnya, suasana sekelilingku bukanlah suasana yang kondusif untuk melakukan meditasi. Hari Minggu adalah hari untuk bersama keluarga. Tidak salah kan kalau aku berpendapat seperti itu? Mungkin aku saja yang tidak mengikuti tradisi itu karena situasiku, tapi tidak berarti orang lain tidak berhak melakukannya. Buktinya, tetangga belakang rumah sedari tadi sudah ribut dengan pekerjaan rumah tangga dan senda gurau mereka. Ada suara air berputar di dalam mesin cuci yang bertanding dengan suara guyuran air hujan. Ada suara anak kecil berteriak, mencari mamanya, diikuti dengan suara nyanyian dariā€¦mungkin kakak perempuannya? Lagunya aku kenal..sering dengar di radio, cuma tak tahu judul dan penyanyinya. Oh, dan ada suara burung berkicau juga, walaupun hanya dari dalam sangkar.

Ada suara seseorang yang sedang memasak, gemerincing suara piring beradu dengan sendok, kaki kursi terseret di atas lantai, dan sekali lagiā€¦teriakan girang seorang anak.

Semua suara itu kurekam di benakku, membawa senyum di pagi hari. Senyumku adalah senyum bahagia. Tak tahu kenapa. Senyum itu mestinya getir, bila aku ikuti suasana hatiku. Kali ini, tanpa aku sadari dari mana datangnya, aku merasakan ada suatu rasa keindahan saat aku benar-benar meresapi semua suara itu. Indah karenaā€¦itu adalah suara kehidupan. Suara harapan.

Walaupun kadang hidupku hening, tanpa suara, tidak berarti aku tidak mencari suara. Suara-suara itu hadir, tidak tanpa sebab. Kuteguk habis semuanya dengan lahap, karena tak tahu kapan lagi semua ini akan datang menemaniku. Kunikmati apa adanya semua yang akhirnya menginspirasi tulisan ini. Tidak rumit sebenarnya kalau ditelusuri lagi dari awal. Semuanya berawal dari suatu kegelisahan, tertuang dalam meditasi, terwujudkan dalam karya. Apa lagi yang harus kukeluhkan? Membuatku bertanya, adakah yang mengatur semua ini?

Sebentar, konsentrasi menulis lagi terusik. Intermission sejenak. Yang tadinya suara teriakanā€¦sekarang beralih ke tangis. Suara tangisan si anak sepertinya mendorong suara si ibu yang memanggil si anak, mencoba menghibur. Kemudian ada suara lain lagi, suara si kakak menjelaskan mengapa adik menangisā€¦dan seterusnya.

Ah, indahnya musik ciptaanMu, Tuhan. Sungguh, aku bersyukur.

Kurekam semua suara-suara itu, membawa senyum ke bibir, dan tak terasa, ada genangan air di sudut mata.

Terimakasih, Tuhan, aku masih engkau beri kehidupan.

 

combine-wallpapers-pack-16

Essay · Opinion

Gembala Beraroma Domba: Sebuah Refleksi Singkat

Kerendahan hati tidak hanya dibutuhkan untuk melayani. Kerendahan hati ternyata juga dibutuhkan saat belajar sesuatu yang baru, saat kemampuan kita untuk mengakui betapa masih banyak yang belum kuketahui dan masih banyak yang perlu dibenahi. Ini terbukti dalam 5 hari terakhir ini.

Sebagai peserta lokakarya mengenai kepemimpinan Paus Fransiskus dalam memimpin Gereja Katolik, pengetahuanku, pemahamanku, kesadaranku, kerendahan hatiku, semuanya ditantang oleh Paus Fransiskus. Kami peserta yang terdiri dari romo, suster, frater, bruder, dan beberapa kaum awam, termasuk saya sendiri, mendengarkan dan meresapi apa yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Lokakarya diberikan oleh Romo Kris, seorang romo Jesuit, di tempat retret Girisonta, Jawa Tengah (dekat Semarang).

Isi tulisan ini tidak bermaksud untuk menyimpulkan apa yang sudah dipelajari dalam 5 hari terakshir ini, tetapi untuk merefleksikan beberapa bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul dalam 5 hari terakhir ini.

Pemikiran awal yang sempat muncul di benakku pada hari pertama adalah sebagai berikut. Paus Fransiskus adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Sejak awal, saya sudah sudah memperhatikan sepak terjangnya, dan semakin lama semakin meningkat kekaguman itu. Terus terang saya kagum akan keberaniannya, terutama keberanian untuk menampilkan sesuatu yang baru, untuk membuka jalan, dan tidak takut akan pendapat orang lain–sesuatu yang saya mengalami kesusahan sejak dulu. Beberapa tindakan yang sudah beliau lakukan dan diberitakan di media massa dalam bentuk video ataupun tulisan yang kebetulan saya dapatkan, sudah saya lahap habis semuanya, walaupun semua itu ternyata terbahas ulang lagi di lokakarya ini. Paus Fransiskus bukan hanya tokoh yang saya kagumi, tapi sudah ada sedikit bagian dari diriku yang mengidolasikannya. Saya menyadari pemikiran itu sedikit berbahaya, tapi sebelum mengikuti lokakarya ini, itulah pandangan awalku mengenai beliau. Dengan demikian, salah satu pemikiran yang muncul di benakku di awal lokakarya sebenarnya adalah, bisa dikatakan, suatu bentuk kekawatiran. Kawatir mengenai apa? Kawatir akan mendapatkan pengetahuan mengenai kelemahan-kelemahan dari Paus Fransiskus, pahlawanku, my role model, sehingga akan mengurangi rasa kekaguman saya terhadap beliau. Sebagaimana bentuk kekawatiran-kekawatiran lainnya, kekawatiran yang ini ternyata tidak memiliki landasan yang tepat. Semakin berjalannya lokakarya saya malah makin menyadari betapa manusiawinya beliau, dan itu malah makin menambah rasa hormatku pada beliau.

Akan tetapi, hari ini, di tengah-tengah kelas lokakarya, saya menemukan suatu pemikiran baru. Ternyata, ada suatu bentuk ketakutan lain. Ketakutan mungkin suatu kata yang terlalu kuat. Ini bisa lebih tepat dikatakan kekawatiran juga. Kekawatiran yang baru ini lebih mendalam lagi, tapi baru saya temukan hari ini. Kekawatiran itu tidak lain adalah mengenai diri saya sendiri, bahwa bukan hanya kenyataan mengenai (the truth about) Paus Fransisku yang saya temukan, tapi juga kelemahan, kekurangan, dan kemiskinan saya sendiri.

Hari ini, saya disadarkan mengenai my own humility, kerendahan hatiku sendiri. Aku diingatkan oleh Tuhan Yang Maha Rahim, melalui Romo Kris sebagai narasumber dan melalui contoh-contoh tindakan dan perkataan Bapak Paus Terkasih bagaimana masih miskinnya saya dalam hal pemahaman diri saya sendiri. Betapa masih miskinnya saya dalam hal kerendahan hati. Betapa masih miskinnya saya dalam hal pendalaman iman dan dalam hal pelayanan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Masih banyak tindakan-tindakan baru yang perlu saya lakukan. Hidupku sendiri masih semrawut dan perlu dibenahi untuk supaya saya bisa melayani orang-orang di sekitarku dengan lebih baik, giat, dan ikhlas, dan menjadi gembala yang mengenali domba-dombanya. Masih banyak yang belum aku lakukan.

Di satu sisi saya juga merasa agak sedikit bingung karena tidak tahu mau memulai dari mana, mau melakukan apa dulu yang pertama. Ada sedikit rasa gelisah juga karena semangat untuk berubah sudah muncul dari dalam diri tapi disertai dengan rasa bingung yang tidak tahu pasti ingin memulai dari mana. Tapi, saya cuma bisa mengingatkan diriku sendiri mengenai suatu pembelajaran dari hari ini. Lokakarya ini belum selesai. Masih ada sekitar 4 hari lagi, sehingga saya juga diingatkan dengan salah satu ajaran Paus Fransiskus, yaitu mempercayai proses, pelan-pelan saja, tidak perlu tergesa-gesa. Tidak ada rumus yang akan menuntun saya dalam melakukan apa yang perlu saya lakukan, tapi saya sebaiknya mengawali di suatu tempat dan berkembang dari situ. Ikuti prosesnya, resapi pengalaman itu. Hal yang penting untuk diingat adalah keluar dari zona nyaman sendiri, berani mengambil risiko dalam bertindak, dan mawas diri. Dalam hal apapun, selalu melakukan semuanya itu dengan kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa melayani dengan belas kasih. Itulah ajaran-ajaran yang saya camkan dari pembelajaran selama ini.

“Be a shepherd with the smell of sheep. ~Pope Francis.

Poem

Menguak Misteri

PictureImage is titled “Loneliness” by Orzz, from DeviantArt.com

jari-jari pucat muncul dari balik pintu kayu itu
perlahan tapi pasti, pintu mulai terkuak
tapi tarikan pintu bergerak terlalu pelan
seakan menggoda,
berpacu dengan detak jantung yang tak sabar menunggu
ada apa di balik pintu?
keingintahuan, ketakutan dan ketidaksabaran
bertarung di dalam pikiran
dan setelah sekian detik menahan napas —
— yang terasa seperti seabad,
daun pintu pun akhirnya terbuka penuh
entah apa yang dahulu terbayangkan
namun sejauh mata memandang,
yang terlihat hanyalah hamparan padang rumput datar,
malah tampak biasa saja, membosankan,
tak sebanding dengan imajinasi sebelumnya,
imajinasi yang terpancing oleh bayangan dari balik pintu,
yang sepertinya mengundang
kakipun mulai melangkah masuk, perlahan
memijak rumput basah yang pasrah untuk diinjak,
tapi sebelum melangkah lebih lanjut,
ku menoleh sebentar ke balik daun pintu
masih ada suatu keingintahuan yang perlu dipuaskan,
jari-jari pucat tadi secara perlahan maju dari balik pintu,
mulai menunjukkan rupanay,
dan melihat wajah itu – oh Gusti!
seakan tertampar oleh kenyataan
andaikan aku sedang melihat ke cermin
maka itulah yag aku lihat dari mata yang balik menatapku saat itu,
hanya tatapannya saja yang berbeda makna,
bukan ketakutan dan keingintahuan yang tercerminkan di mata itu,
melainkan suatu pertanyaan
namun tak ada kata yang perlu terucapkan
karena aku sudah tahu apa yang ingin dikatakan
mengapa begitu lama?
ternyata,
bayangan yang selama ini hidup di dunia yang aku takuti itu,
yang hidup sendirian di balik pintu,
yang terkucilkan,
yang telah lama menungguku untuk berani berkunjung,
adalah sosokku sendiri,
tawananku
pintu itu tak pernah terkunci
namun itu tak kusadari,
sosok itu tidak pernah bisa keluar dari belenggunya
karena aku yang memerintahkannya untuk bertahan di situ
dan itu juga tak kusadari,
ia yang setia menungguku selama ini
untuk mengunjunginya,
untuk menenemani,
ternyata selama ini menanti hanya satu hal —
— menanti pembebasan
dariku.
Originally published in July 2016.
Hope · Journey · Life · Poem

Hope

All things start
and all things come
to an end, but
have we not forgotten
how to smile, have fun and
be thankful
while walking on this journey
together?
Let the eyes
of the universe
be the unspoken witness,
who silently praying for
those lost
and lonely
souls.

 

Originally published on January 2016 in another blog of mine.