Haunting Stories

Photo by Zinko Hein on Unsplash

When equality’s bent
and fairness chose to go blind,
kingdom of violence came to seek portions.

When cries no longer work,
souls retreat into the mind,
seek courage instead to fight for options.

When looking at their face,
lips closed tight not from furies
but apathy from ceaseless destructions.

Looking into their eyes,
reflection does tell stories, 
haunting stories of justice being auctioned.


A poem in support of democracy, justice and peace in Myanmar for all people, regardless of ethnic groups, religion, gender, age, status of economy, educational level, and so on. May you one day taste peace and freedom.

Poem written using the Kerf style. Kerf consists of 12 lines that made up into 4 tercets, uses 6/7/10 syllables per tercet and a rhyme scheme of abc abc dec dec.

Eugi’s Weekly Prompt: Reflection

Tuesday Writing Prompt Challenge: Justice and Equality

#NaPoWriMo2021 – Day 16

This Side of Things (abhanga poems)

“A Different World”. Location: Banjarmasin, Indonesia. Image belong to Erlyn Olivia, owner of this blog.

behind rusty walls, sits

a man with a trapped soul

time does not disavow

but mankind does


“Abandoned”. Location: Surabaya, Indonesia. Image belongs to Erlyn Olivia, owner of this blog.

a world not so different

men with no name or voice

yet still persistently

survive throughout


Based on the comment that I received, I need to add an explanation about the first picture. Those houses are built on top of a river, and families do live inside. Not a healthy living environment and I can only imagine the pollution it accumulates to the river. The location of the picture is in the city of Banjarmasin, on the south side of the island of Kalimantan (Borneo), Indonesia. As an island, Kalimantan has a lot of rivers. Boats are a common form of transportations in Kalimantan. Along the river, it is very common to see houses like the one in the picture. Many of the very poor residents live there. I guess in some other countries, this type of living place may be referred to as the shanty town.

When I visited Banjarmasin 2 years ago and had the chance to ride on the boat passing by these houses, many thoughts came to my mind. I wrote my poems above as my way of respecting the will of survival of the people there, regardless of how much I also understand that this type of living ruins the environment. I think blaming the people who live there for the problem, who were likely born into the environment after many generations before them had survived there as well, is not only useless and unproductive but also unfair. The solution requires a much more wholesome collaborations between the people, the government and the nation.


#NaPoWriMo2021 – Day 3

Cee’s Fun Foto Challenge (CFFC) – Rusty or Decayed

2021 Weekly Photo Challenge: This Side of Things.

A Message of Love and Hope


On the day of Palm Sunday, March 28, 2021, at 10.30 am (local time), two suicide bombers exploded themselves in front of the Cathedral Catholic church in the city of Makassar, South Sulawesi, Indonesia. Makassar is my hometown. I was born and raised there and attended mass several times in that cathedral during my childhood. You can read an article news about it by clicking on the link I posted underneath the image above. This is not the first time a suicide bombing targeted a church. Back in May 2018, another very similar tragedy happened to three churches in the city of Surabaya, the city where I was residing at that time until now. It was a shocking moment, but we bravely continued our daily activities. We could not succumb to fear, we refused!

I present you two senryu poems below as part of my expression.

(I)

deluded comfort

found in extreme hate doctrine,

erupting violence


(II)

safety and comfort

crushed by erupted violence

left a hole in heart

I refuse to succumb to fear, hate, or use my words to promote them. Yes, of course I am angry, sad, desolated, but I still have hope and love in my heart. So, I fight fear with hope and love. Here’s another senryu with this message. May peace be with us all.

(III)

like the rising sun

my heart too rises with hope

confront hate with love


Ronovan Writes Weekly Haiku Poetry Prompt Challenge no. 351 – Comfort and Erupt

and

Tanka Tuesday Weekly Poetry Challenge no. 219 – any subject of poetry using haiku or senryu.

Penjungkirbalikan!

Girisonta, Sabtu Malam Paskah, 20 April 2019

Misa Sabtu malam Paskah di Girisonta malam ini dipimpin oleh Romo Priyo, SJ (Serikat Yesus, suatu ordo dalam agama Katolik). Terus terang begitu tahu bahwa Romo Priyo yang akan memimpin misa, saya sudah menunggu bagian homili ini, sehingga tidak heran kalau beliau memulai dengan sebuah cetar! Tidak sampai membahana, tapi cetarannya sudah sangat menggugah.

Homili atau kotbah di tengah misa diawali seperti biasa dengan membahas injil bacaan malam itu dari injil Lukas mengenai bagaimana dua malaikat memberi kabar kepada murid-murid Yesus bahwa Yesus telah bangkit. Tidak mungkin(!) pikir mereka. Sama seperti kita manusia jaman sekarang kalau diberitahu bahwa ada orang yang bangkit dari kematiannya, maka reaksi pertama mereka adalah tidak percaya. Mustahil! Dengan kata lain, pemahaman mereka, dunia mereka dengan seketika DIJUNGKIRBALIKKAN oleh para malikat itu. Apa yang terjadi pada murid-murid selanjutnya, apakah mereka kemudian percaya atau tidak, tulisan saya ini bukan berfokus pada itu. Mari kita lanjut.

Romo kemudian mengaitkan peristiwa penjungkirbalikan yang dialami oleh para murid dengan keadaan pasca-kebenaran di Indonesia saat ini, bagaimana fenomena memutarbalikkan, menjungkirbalikkan kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran, membuat berita bohong, sangat mudah terjadi. Tapi maaf, INI juga bukan fokus tulisan saya sekarang. Dan saya rasa ini juga bukan fokus dari homili malam itu. Wong yang hadir di misa itu orang-orang waras semua kok! Kami tidak perlu diingatkan mengenai keadaan pasca-kebenaran.

Tidak, masih bukan itu fokus tulisan ini. Jadi apa toh sebenarnya yang ingin saya fokuskan?

Setelah dua bagian di atas, Romo akhirnya masuk ke bagian yang menceritakan mengenai pengalaman pribadinya sendiri yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Romo menceritakan bagaimana dia mengunjungi sahabatnya, Romo Henk, SJ, yang waktu itu sedang diopname di salah satu RS. Romo Henk berusia 90 tahun dan saat ini adalah romo SJ tertua di Indonesia. Romo Priyo mempersiapkan diri untuk menemukan keadaan Romo Henk sesuai dengan apa yang banyak orang bayangkan bila seseorang dalam usia seperti itu dan sedang dirawat di rumah sakit. Yah, mungkin saya pun akan membayangkan orang itu akan terkapar di tempat tidur, lemah, tidak bersemangat, dll. Tapi apa yang dia lihat saat membuka pintu kamar Romo Henk?

Siulan lagulah yang menyambut kedatangannya saat dia membuka pintu itu. Siulan itu dikumandangkan oleh Romo Henk sendiri, yang sedang duduk di kursi roda, tak terlihat tanda-tanda seseorang yang sakit, lemah, tidak bersemangat, dll itu. Sebaliknya tersenyum, sehat, dan yah gitulah, tanda-tanda seseorang yang menikmati hidup! Tapi yang paling mengesankan bagi Romo Priyo adalah lagu yang disiulkan dan dinyanyikan itu. Sebelum selesai mengatakan judul lagunya di depan kami, Romo Henk — yang saat itu sedang duduk di depan gereja juga, tidak jauh dari Romo Priyo — sudah mulai mengumandangkan duluan lagunya cukup keras, yang membuat kami yang mendengarkan tersenyum.

Lagunya adalah Ibu Pertiwi. Tahu kan Anda semua lagunya?

 

Kulihat Ibu Pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini Ibu sedang susah

Merintih dan berdoa

 

Ini sebuah lagu yang sudah lama tidak kudengar, tapi tahukah Anda semua bahwa ini aslinya adalah lagu nasrani dengan judul What a Friend We Have in Jesus yang lirik lagunya diciptakan oleh Joseph M. Scriven pada tahun 1855 dan iramanya diciptakan oleh Charles C. Converse pada tahun 1868? Yah, saya juga baru tahu malam itu saat diberitahukan oleh Romo. Lagu itu asalnya adalah Christian song, sehingga tidak heran Romo Henk menyanyikannya saat itu, walaupun sebenarnya Romo Henk juga sudah lama di Indonesia. Malah mungkin hidupnya lebih banyak dihabiskan di Indonesia (daripada di tanah asalnya) sebagai romo misionaris dan sekarang sudah menjadi WNI .

Jadi pada saat itu, Romo Henk berhasil menjungkirbalikkan Romo Priyo dengan caranya menyambut Romo Priyo. Tapi sebentar, cerita ini belum selesai, saudara-saudaraku. Romo Priyo kemudian bercerita bagaimana dia menemani Romo Henk ke kegiatan pemulihan di suatu ruangan lain. Mohon maaf saya lupa detailnya pemulihan seperti apa, tapi intinya ada beberapa perawat dan ahli medis lainnya di ruangan itu yang biasanya mendampingi Romo Henk. Mungkin semacam physical therapy, tapi saya tidak yakin sepenuhnya mengenai itu.

Intinya adalah, saat mereka ke ruangan itu, Romo Priyo mengalami sekali lagi episode penjungkirbalikan! Semua ahli medis yang bekerja di ruangan itu menyambut Romo Henk dengan siulan lagu yang sama!

Mari sejenak kita bayangkan Romo Henk dengan keterbatasan fisiknya yang ‘mestinya’ sedang sakit, tapi masih mampu menyalurkan energinya, pengaruhnya, soul-nya kepada orang-orang lain di sekitarnya. Suka cita itu mengalir, tersalur dengan begitu indahnya kepada orang-orang lain. Dan saya yakin, hanya suka cita yang didasari oleh cinta kasih, semangat hidup, kerendahan hati, dan penerimaan apa adanya, yang bisa menjangkiti orang lain dengan mudahnya. Sungguh, tanpa disadari mata ini sudah berkaca-kaca. Sambil melihat ke arah Romo Henk, aku menelan ludah tapi tenggorokan terasa kering. Akupun merasa seperti tertampar. Usia 90, badan sudah mulai menunjukkan kejujurannya dalam mengutarakan kekurangan fisik seseorang yang berada di usia itu, maka mau tidak mau siapapun itu, pasti akan menyadari betapa dekatnya mereka dengan yang namanya akhir hidup.

TAPI…yang aku lihat dengan mataku sendiri, yang aku dengar dari kesaksian Romo Priyo, tidak ada tanda-tanda kegentaran dari Romo Henk. Maka, aku mengatakan sekarang, aku pun pantas untuk merasa dijungkirbalikkan juga.

Terima kasih sudah menjangkitiku dengan sukacitamu dan menjungkirbalikkanku, Romo Henk.

Terima kasih sudah berbagi kisah inspiratif, Romo Priyo.

Selamat Paskah, anak-anak Tuhan.

 

__________________________________________________________

Bagi yang ingin mendengarkan lagu What a Friend We Have in Jesus, saya berikan link youtube-nya  di sini. Selamat menikmati.

 

Adalah Seorang Perempuan

Adalah seorang perempuan muda, seseorang yang berani dalam menghadapi hidup. Sebagai seorang perempuan muda yang berasal dari luar pulau, bisa saja caranya menerjang tantangan hidup tanpa ragu ini adalah caranya untuk bisa terus bertahan. Ia juga berani berbicara. Malah mungkin kadang susah untuk dihentikan saat ingin berbicara. Pembawaannya serius, agak sedikit berkesan keras dan tomboy-ish tapi juga lembut, suatu kombinasi yang indah menurutku. Anak muda yang pintar, punya kesukaan untuk membaca buku. Buku-buku seperti dilahap habis secara cepat olehnya. Buku menjadi bantal tidurnya, menjadi pendamping hampir kemanapun ia pergi. Sebagai anak sulung, mungkin satu-satunya anak perempuan, pembawaan yang tegas dan mandiri sangat membantunya dalam hidup merantau, jauh dari keluarga inti. Hampir tak ada yang bisa menghalangi langkah anak muda satu ini, sang srikandi pembawa perubahan, si aktivis muda yang berani dan lincah. Pasti banyak srikandi muda lainnya yang semodel dengan yang satu ini, tapi entah mengapa, dia menarik perhatianku. Hanya doa dan harapan yang bisa aku panjatkan buatnya karena dengan potensi yang seperti itu, dunia terbuka lebar buatnya. Ia tinggal memilih ingin berkarya di mana.

Adalah seorang perempuan yang masih muda, tapi dewasa dan matang dalam usia dan kepribadian. Wataknya keras, namun bisa sangat lembut dan hati-hati dalam bertutur kata. Ia berani berbicara, malah bisa dikatakan tipe yang tidak akan tinggal diam bila melihat suatu ketidakadilan terjadi di depannya. Semakin didesak, maka akan semakin terlihat keras kepalanya. Namun satu hal yang pasti, apapun yang ia lakukan, diawali dengan niat yang baik. Pukulan demi pukulan ia alami dalam hidup dan dunia pekerjaannya. Pengorbanan untuk melepaskan apa yang ia impikan untuk masa depannya dengan berat hati ia lakukan, demi orang-orang yang ia cintai. Pengorbanan itu sempat membuatnya terjatuh sebentar, tapi karena rasa tanggung jawab yang sangat besar, ia akhirnya bangkit lagi dan melangkah terus. Banyak kekecewaan, tapi banyak pula hal yang patut disyukuri. Wanita yang satu ini memang tahan banting. Pantang menyerah dalam struggle-nya mengatasi demand dalam dunia kehidupan sehari-hari adalah ciri khasnya. Dan disitulah juga letak keindahan wanita ini. Hidup yang penuh tantangan ia jalani terus dengan senyum di wajahnya.

Adalah seorang perempuan muda lagi, mungkin yang paling muda dalam kelompok cerita ini. Pembawaannya ceria, banyak berceloteh, seakan hidup itu ringan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa langkah-langkah itu ternyata membawa beban yang cukup berat baginya. Masa lalu diwarnai dengan banyak kekecewaan, pernah menjadi korban perisakan pula. Hidup baginya selama ini berfokus pada pencarian. Apa yang dicarinya? Tidak lain adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis setiap manusia, yaitu diterima, diinginkan, menjadi bagian dari suatu kelompok. Proses pencarian dan penerimaan sosial itu terus menghantarnya pada hempasan yang berulang-ulang, sehingga yang namanya jatuh bangun pun menjadi suatu normalitas. Setiap kali jatuh, gadis muda ini tidak pernah punya pegangan untuk membantunya mencerna apa yang telah terjadi dan bagaimana harus memperbaiki. Dengan berjalannya waktu, yang terbentuk adalah suatu kepribadian yang selalu menoleh ke dalam dan menyalahkan diri sendiri setiap mengalami kegagalan karena tingginya kebutuhan untuk diterima. Ia semakin sering dipersepsikan sebagai “aneh” walaupun aku lebih memilih kata “unik”; apapun namanya, persahabatan menjadi sulit bagi gadis muda ini. Barulah pada masa perkuliahan, ia berhasil menemukan sedikit demi sedikit dukungan untuk beradaptasi dan mengenali lebih dalam lagi dirinya sendiri. Perjalanan ke depan memang tidak otomatis menjadi mudah dan gadis muda inipun masih sering jatuh bangun, salah langkah, kadang masih menerka-nerka apakah jalan di depannya sudah benar. Akan tetapi, satu hal yang pasti, ia tidak pernah satu kalipun menyerah.

Adalah seorang perempuan yang sudah dewasa dalam usia dan kepribadian, sekitar usia dewasa madya. Mungkin aku perlu memanggilnya ibu. Ibu yang satu ini sebenarnya secara diam-diam adalah role model-ku. Ibu ini memegang peran yang sangat penting dalam pekerjaannya, pintar, berpendidikan tinggi, dan seorang pemimipin. Tekanan dari pekerjaan dalam sekitar 6 bulan terakhir ini bisa dikatakan sangat sangat tinggi. Saya memang tidak melihat Ibu ini bergulat menghadapi semua itu setiap hari, tapi barusan ini kami sempat bertemu dan bercakap-cakap. Tanpa kami sadari kami duduk bersama saling mendengarjan selama berjam-jam. Waktu sepertinya melayang begitu saja dalam percakapan kami. Kuperhatikan sahabatku yang luar biasa kuat dan tegar ini (walaupun dia mungkin tidak akan menyetujui bahwa dirinya tegar karena kerendahan hatinya) mengeluarkan isi hatinya dan aku tidak bisa membayangkan bila aku berada dalam posisinya. Trenyuh melihat dan mendengarkan kisahnya. Tapi sama seperti srikandi-srikandi yang sebelumnya, yang namanya ‘menyerah’ tidak ada dalam pikirannya. Sebaliknya, yang dia pikirkan hanyalah tanggung jawabnya sebagai seorang pemimipin dan orang-orang yang percaya dan bergantung padanya. Didorong oleh pemaknaan itu, ia berusaha sekuat tenaga mengalahkan semua pemikiran-pemikiran negatif yang menghampirinya, dibantu juga oleh iman yang kuat. Walaupun ada hari-hari tertentu yang lebih sulit dibanding hari yang lain, tapi Ibu ini terus melangkah keluar rumahnya setiap hari dan melakukan tugasnya. Setiap hari. One day at a time.

Adalah seorang perempuan tua, sudah lanjut usia. Ibu ini seorang ibu rumah tangga, tidak punya titel sarjana dan sejenisnya, tidak punya banyak keahlian selain keahlian seorang ibu rumah tangga. Ia sudah memasuki masa usia yang mestinya sudah perlu banyak istirahat. Akan tetapi, jangan berharap bahwa ia akan beristirahat. Tidak akan dan tidak bisa. Setiap pekerjaan di rumah masih ingin ia lakukan sendiri, walaupun sekitar 3 bulan yang lalu melalui suatu operasi besar. Ibu satu ini masih sibuk mengurusi banyak hal dan aktif di gereja. Ini adalah ibu yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam hidupnya, juga keras kepala, keras dalam pembawaan, tegar, dan berani, tapi sederhana dalam sepak terjangnya melakukan tugas. Tidak banyak yang bisa di-highlight dari ibu ini dalam hal keunikannya dibanding dengan perempuan-perempuan sebelumnya. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa saja. Tapi mungkin di situlah letak keindahannya. Dari suatu ketidakadaan, dari titik nol, dia bisa membuat suatu keberadaan yang patut disyukuri.

Cerita-cerita yang sangat singkat ini memang samar-samar, tidak lengkap, tidak jelas, karena wujud tokohnya tak bernama. Memang itulah tujuan penulisan ini. Mereka semua adalah wanita-wanita biasa, berdasarkan kisah nyata, tapi tak perlu bernama. Tua atau muda, ibu rumah tangga atau pekerja kantor, berpendidikan tinggi atau rendah, kaya atau miskin, tak peduli agama atau etnis mereka apa; siapapun mereka, mereka adalah orang-orang berharga, yang bergulat dengan seluk-beluk dan naik-turunnya jalan kehidupan setiap hari. Mereka adalah pahlawan, role-model dan sumber inspirasi yang bisa kita panuti. Mereka adalah buku berjalan, human books, penuh dengan cerita. Apakah kita sudah SIAP untuk mendengarkan cerita mereka?

Mereka adalah kartini-kartiniku.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2018

Penghormatan Terakhir

 

Hai anak bangsa

dengan hati yang berat kami melepasmu pergi

doa-doa kami mengiringi

supaya perjalananmu tak terasa sepi

waktunya tiba, saudaraku

tidurlah dengan tenang

lepaskan genggamanmu, kepalanmu

ampuni kami orang-orang bodoh di dunia ini

~Penghormatan Terakhir

#KamiTakTakut

Rapuh

Picture

Image taken from montendo.deviantart.com berjudul Analogi Sebuah Pohon
kecongkakan dan kebodohan
kadang kala terpisah tipis
tingginya hati terbang lepas di angkasa
tak sebanding dengan
kemampuan berpikir
yang sedangkal kolam ikankuingin bertanya pada dunia
mampukah manusia terus berjalan
sendirian
di tengah derasnya arus harta duniawi?
mampukah manusia menerjang kabut kehampaan
yang semakin tebal setiap detik
dengan gencarnya janji-janji omong kosong?
mampukan manusia
melawan ketakutannya sendiri?

peganganmu apa,
pijakanmu mana,
wahai makhluk lugu?
tidakkah kalian sadar kalau kaki kalian
sudah lama tidak menyentuh bumi?
tapi percuma,
pijakanmu sudah lama hangus
terbakar oleh tanganmu sendiri

tidakkah kalian sadar
kalau pintu menuju ke hatimu sudah lama terkunci?

mungkin bila kalian mau membuka mata
ada secercah sinar yang sudah lama ingin masuk
melalui celah kecil di pintumu
tahukah kalian bahwa matahari sedang bersinar di luar
tapi ia tak akan bisa masuk
sebelum kau sodorkan tanganmu
berikan ia kesempatan
karena hanya beliaulah sang penawar racun,
racun yang sudah lama merantau di sukmamu

Originally published in June 2016.

What is Normal?

Have you ever discussed that question before with anyone? Perhaps if anyone actually say that he or she had done it before, then my guess is that maybe they’re from psychology field. As a matter of fact, this question is part of the opening discussion in my class this week. It wasn’t exactly “what is normal” that we discussed, but the opposite. What is abnormal? It was Abnormal Psychology for second year college students, and we had an excellent discussion.

What is normal? ‘Am I normal’ is the question I sometimes asked myself on certain occasions.  Is there anybody that is ever truly normal in this world? If there wasn’t, then would it mean that we are all abnormal? Perhaps not all the time, but at some point?

The result of the discussion in my class is that being normal or abnormal depends on many factors. It depends on the culture and norms of the surrounding environment. Some behaviors may be seen normal in some cultures and where they happen (context), but those behaviors can be performed in another culture or context and they may yield a different response from people.

It also depends on statistics. A behavior of a person may look somewhat different or weird, but because many people or the majority of people also perform the same behavior, then the behavior may be perceived as somewhat normal.

But enough with boring psychology lesson. I would like to take the question on a deeper level actually. I was asked if I know of a “normal” person and why do I think that person as normal. I racked my brain and could not come up with a single person. If I go farther down my memory lane, well maybe there was a person in my junior high school back then that I thought was normal. I thought she was normal because her grades were excellent, ranked one throughout junior high. She was also good in sports, excellent public speaker for her age, could play a musical instrument, an extrovert, good sense of humor, teacher’s pet, and so on. You name all the good stuff, she had them all. But then a thought came up, if she got all of those good stuff, shouldn’t that make her ‘abnormal’?  She was not normal because how often could a person reach all of those things? Nonetheless, such a person did exist. I never heard about her anymore since I graduated from junior high. I didn’t really keep in touch with anyone in that junior high because I only stayed there for one year during my 9th grade (I was a transfer student). Too bad I have no clue about how she is right now. I would have loved to test a hypothesis in my head, to see a correlation between her normalcy back then with right now.

Then comes another question. Just because a person is perceived normal by her peers, does that person actually have to also think in his or her head the same thing? We never know what’s going on inside a person’s head, correct? What if normal people think that they are actually not normal, that they don’t fit into their family or society? Just because they act normal, doesn’t mean there isn’t a battle happening in their mind constantly. Just because we see them normal with their public behavior doesn’t mean that they act normal privately too.

Back to my lovely students from Abnormal Psychology (Notice that I say “lovely” students, not abnormal?…Joking!), there was one important point of discussion that we came to at the end. I asked them a question after a long discussion about normality and abnormality, “Who do you think create the criteria of what is normal and abnormal?” Their answer gave me such a big reward, “Us, we are, the normal people.”  See, all teachers will understand what I mean by reward. It happens only when your students can give you such a wise and correct answer. I think a garden of flowers just blossomed inside my chest (a bit dramatic, I know).

They are absolutely right. Normal people are the ones who created the criteria for normality — the division between normal and what is no longer considered normal. We normal people hold such a power. With that power, we can treat some people differently, perhaps even put them down, just because we don’t accept their behavior. With that power, we separate some people who are different from the rest of normal population. We can do many damages with that power, even to the point of eliminating them. It had happened before if we look at the history of mankind. Hitler did it, just one obvious example. There were many others in history, but perhaps we don’t have to look too far back. It is happening right now with the way IS treating people who have different view of the world from them. What is sad is that consequently, look at what some people have done to the refugees who flew from IS. Those people, in return, treat those refugees as also “different”, perhaps “not normal”, not like the rest of “their normal” people. And the ball continues to roll.

I think we are still making new criteria in our head, from one situation to another, about what is normal, who is normal. It is happening in all levels of work, status economy, human developmental stage, gender, sexual orientation, religion, and so on. Even children and teenagers are doing it to each other; it’s called bullying.

What is the solution to this? The idealistic part of me can only say this, “Time to educate.” But mind you, education however, can happen in many ways. It doesn’t have to happen in the context of educational institution. So therefore, it is everyone’s responsibility to take part. But before we can educate the right thing, we also need to reflect. Have we just recently made our own criteria of what is normal and abnormal? Have we treated some people differently too because they are different? Have you?

 

Originally published in January 2016 in another blog of mine.