Keberadaanmu, Keberadaanku

makna kehidupan.jpg

Hidup memberikan kita banyak kesempatan untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Kesempatan itu datang biasanya dalam situasi-situasi terkait perkembangan kehidupan, misalnya kelahiran seorang anak, upacara pernikahan, atau kematian. Malam ini aku mengikuti upacara agama Katolik untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan seorang Romo yang dikenal dengan nama Romo Senti. Romo Senti meninggal dua hari yang lalu secara tiba-tiba.

Misa requiem atau misa arwah untuk mendoakan kepergian Romo Senti dilakukan di kapel kecil di asrama seminari tempat para frater yang dibimbing oleh Romo tinggal. Banyak umat Katolik yang berdatangan dari banyak tempat, bukan hanya dari Surabaya saja, karena Romo Senti sudah pernah berkarya dan melayani umat di beberapa tempat di Jawa Timur. Seminari malah tidak menyangka akan kedatangan sebegitu banyak umat, sehingga pada menit-menit terakhir kursi-kursi dari ruang kelas dan kamar para fraterpun dikerahkan.

Aku duduk di suatu sudut dan mengamati semua yang berlangsung di sekelilingku. Terlintas suatu pikiran kagum atas karya dan pelayanan Romo Senti sehingga banyak yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir baginya. Tak terhindari, terlontar beberapa pertanyaan di benak, bagaimanakah nanti pada saat waktuku untuk pergi dari dunia ini? Apa yang aku inginkan terjadi saat kepergianku nanti? Akankah sebegini banyak orang yang hadir juga? Apa yang ingin aku tinggalkan untuk diingat oleh orang-orang di sekitarku yang mengenaliku? Pemikiran-pemikiran seperti ini sebenarnya cukup logis. Banyak orang menurutku yang berpikiran demikian saat menghadiri acara-acara seperti ini, apapun upacara agama yang dipakai untuk mengiringi kepergian seseorang.

Aku tidak kenal Romo Senti sebenarnya. Mungkin ada yang bertanya mengapa aku datang bila demikian? Apalagi aku datang sendirian, tanpa ada yang menemani. Aku mencoba merenungkan beberapa kesempatan sebelumnya di mana kami berdua (saya dan Romo) pernah saling berpapasan. Sebenarnya, kami saling bertemu itu hanyalah saat berada dalam…lift. Iya benar, lift. Kami berdua bekerja dalam satu institusi pendidikan. Beliau mengajar di Fakultas Filsafat dan aku di Fakultas Psikologi. Kantor kami cuma berbeda 1 lantai saja; beliau di lantai 8 dan aku di lantai 9, sehingga waktu kami untuk bertemupun hanyalah di lift selama ini. Saling berpapasan, mata bertemu, saling menyebar senyum dan ucapan salam yang hangat, ditutup dengan anggukan dan kadang jabatan tangan. Sudah. Itu saja. Waktu mendengar bahwa beliau meninggal, aku malah harus mengingat-ingat yang mana orangnya. Saat melihat pengumuman misa dan fotonya, baru aku tersadar. Kawan se-liftku ternyata. Cukup kaget juga, karena memang kepergian beliau terjadi secara tiba-tiba.

Saat di misa arwah tadi, aku melihat semua frater (calon romo) yang menjadi anak-anak didikan beliau. Aku kenal sebagian besar frater itu karena banyak dari mereka yang pernah aku ajar juga dalam kelas psikologi yang wajib diikuti oleh mereka. Kuucapkan salam belasungkawa karena Romo Senti adalah dosen pendidik dan bapak pendamping bagi mereka. Saat menyetir mobil sepulangnya dari misa, sempat terpikir bagaimana perasaan para frater itu. Kehilangan figur yang banyak menemani pergulatan dunia studi dan panggilan mereka untuk menjadi romo pastilah bukan sesuatu yang mudah. Sempat terasakan suatu perasaan sedih juga. Jangankan mereka sebagai frater yang bertemu dengan Romo Senti mungkin tiap hari, aku yang bertemu dengan Romo hanya di lift saja sudah (anehnya) merasa sedikit rasa kehilangan.

Memang aneh menurutku karena aku tidak tahu beliau, tidak pernah berbicara dengannya. Romo Senti menurutku adalah seseorang yang pendiam, terlihat sedikit pemalu, tipe orang yang lebih banyak bekerja di belakang layar, bukan yang berada di depan, sehingga dia bukan tipe yang banyak berbicara. Kami tidak pernah bertukar pikiran. Kami hanya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sering berbagi waktu dan ruang di lift kecil gedung kami, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa ada sesuatu yang hilang dengan kepergiannya.

Bila direfleksikan lebih mendalam lagi, sungguh luar biasa sebenarnya bagaimana tanpa kita sadari kita mungkin telah menyentuh hati orang lain hanya dengan keberadaan kita. Kehadiran kita, tanpa memerlukan kata-kata, sudah cukup untuk memberikan suatu dampak tertentu bagi orang lain. Dampak itu mungkin tidak langsung dipahami oleh orang itu. Kesadaran itu mungkin baru akan muncul di kemudian hari saat kita tidak ada lagi. Kehadiran kita, keberadaan kita, senyum, sapaan, anggukan kecil, sudah cukup untuk memberikan sesuatu bagi orang lain — apakah itu rasa keakraban, kebiasaan, kenyamanan, atau rasa bahwa kita bersama-sama menjadi bagian dari suatu kelompok. Apapun itu, jangan pernah memandang enteng keberadaan kita.

Hari ini…Tuhan mengingatkanku mengenai itu melalui Romo Senti. Terimakasih, Romo. Terimakasih akan kehadiranmu selama ini di hidup banyak orang, di hidupku. Beristirahatlah dengan tenang. Biarkan kami yang meneruskan membawa cahaya bagi orang lain. Semoga karyamu terus berlanjut di kehidupan selanjutnya. Amin.

Advertisements

Cinta itu Tai Kucing (?)

Apa sih sebenarnya cinta itu? Sudah terlalu banyak tulisan, cerita, puisi, lagu yang dibuat untuk mendeskripsikan apa itu cinta, dan ini hanyalah satu tulisan tambahan lagi mengenai topik lama tapi favorit ini.

Kali ini perspektif cinta datang dari pembicaraan antara kaum religius Katolik dan kaum awam. Percakapan khusus mengenai cinta ini terjadi dalam perjalanan lima orang dalam satu mobil menuju stasiun kereta api Tawang, Semarang. Kelompok terdiri dari 2 Romo, 1 Suster, dan 2 orang awam (saya salah satunya). Pembicaraan diawali dengan salah satu dari kaum awam di mobil (catatan: bukan saya!) menceritakan pengalaman hidupnya sebelum menjadi seorang suami. Tidak tahu bagaimana rinciannya tapi kemudian sharing itu berangsur menuju ke arah topik perkawinan dan cinta. Antara mendengarkan dan melamun sambil melihat pemandangan di luar jendela, sayup-sayup telinga ini menangkap kata-kata berikut: ‘cinta itu tai kucing’. Kata-kata itu sepertinya terlontarkan keluar begitu saja dan dalam tempo beberapa detik, suasana di dalam mobil yang tadinya tenang dengan hanya 1 orang saja yang berbicara untuk mengisi waktu perjalanan, tiba-tiba menjadi panas dan penuh dengan antusiasme saat 4 orang membuat keputusan untuk berbicara bersamaan. Lamunanku pun terpaksa terhentikan sejenak. Secara otomatis, tanganku bergerak untuk mengeluarkan handphone untuk merekam pembicaraan itu. Ada firasat muncul di benakku yang mengatakan bahwa pembicaraan sedang menuju ke arah yang…menarik.

Dan memang benar, pembicaraan yang berlangsung sekitar 10 menit itu menjadi SANGAT menarik.

Salah satu Romo, sebutlah Romo M, menunjukkan ketidakpuasannya mendengar istilah ‘cinta itu tai kucing’ dengan bertanya, “Jatuh cinta itu apa sih artinya?” yang kemudian dijawab secara spontan oleh yang lainnya.

“Terpeleset,” kata Suster.

“Jatuh itu ya…tibo (tibo=jatuh, dalam bahasa Jawa),” kata Pak K yang sebelumnya menginisiasi istilah kramat ‘cinta itu tai kucing’.

“Jatuh cinta itu adalah afeksinya,” kata Romo M menjelaskan. “Cinta yang sesungguhnya adalah komitmen dan tanggung jawab yang selama ini Bapak lakukan. Jadi tidak bisa dibilang cinta itu tai kucing.”

Setelah sekian panjang perdebatan bolak-balik antara kedua kubu yang awalnya terdengar seperti bertentangan, ternyata hasil akhir dari diskusi adalah kesadaran bahwa mereka sebenarnya sepaham kalau jatuh cinta itu berbeda dengan cinta. Kesepakatan akhir adalah bahwa bukan cinta yang tai kucing, tapi proses jatuh cintanya. Suster malah menambahkan bahwa bagi kaum remaja, tai kucing itu bisa terasa enak seperti coklat, sehingga timbullah istilah baru ‘tai kucing terasa coklat’ karena sedang jatuh cinta.

Yah, apapun cinta itu, mau tai kucing atau tai domba, mau rasa coklat atau stroberi, tidak masalah. Banyak makna yang bisa didapatkan dari pembicaraan di atas. Satu kesepakatan lain yang didapatkan kelompok adalah cinta itu sebenarnya mengenai komitmen, tanggung jawab, dan itulah seharusnya yang menjadi dasar dalam berkeluarga.

Pengorbanan. ‘Esensi cinta itu pengorbanan’ adalah hasil yang bisa saya petik dari diskusi hangat itu. Dalam pengorbanan kita harus berani mengambil langkah awal, keluar dari zona nyaman kita, mencoba sesuatu yang baru, dan menanggung risiko untuk terluka. Memang benar bahwa kadang dalam menjalani kehidupan sehari-hari bersama orang yang kita cintai, yang namanya afeksi itu tidak terlihat atau terperhatikan lagi. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh Pak K di awal pembicaraan, bahwa afeksi itu tidak penting dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. Tapi ada yang kurang tepat dalam pemikiran Pak K ketika ia menyamakan afeksi itu sebagai cinta, sehingga terlontar perkataan ‘cinta itu tai kucing!’. Pemikiran itu sudah dibenarkan di akhir diskusi.

Benar bahwa cinta itu jauh lebih mendalam dari hanya menunjukkan afeksi. Saya setuju dengan perkataan itu. Akan tetapi menurutku, memperlihatkan afeksi seperti dua orang yang masih saling jatuh cinta itu tidak ada salahnya. Malah saya akan mengatakan bahwa sikap itu diperlukan dalam suatu hubungan. Dalam menunjukkan afeksi terhadap pasangan, terjalin ikatan emosional antara dua orang, terjadi suka cita, timbul semacam kehangatan, keakraban. Saat afeksi mulai ditinggalkan, menurutku relasi itu menjadi kering. Kalau relasi antara dua orang itu diibaratkan sebuah tanaman bunga, tanaman itu bisa saja tumbuh dengan hanya disirami air. Air itu melambangkan hal-hal jasmaniah yang kita butuhkan setiap hari, seperti makanan, minuman, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan dasar yang membuat kita mampu untuk terus hidup, survive. Tapi andaikan kita bisa memberikan perhatian yang lebih bagi tanaman itu, misalnya secara rutin merawat akarnya, melap daun-daunnya, mempertimbangkan letak tanaman terkait sinar matahari, dan bahkan berbicara pada tanaman itu, saya yakin tanaman itu akan mampu tumbuh jauh lebih baik dibandingkan yang tidak diberikan perhatian lebih. Mungkin perbedaan bisa terlihat pada warna bunganya, tinggi tanaman, dan kesegaran daun.

Dalam hal hubungan antara dua orang yang saling mencintai, perhatian dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk hidup itulah air yang diberikan pada tanaman, dan perhatian dalam bentuk afeksi itu adalah pemenuhan kebutuhan psikologis yang menurutku mampu membuat siapapun berkembang menjadi jauh lebih indah lagi — sama seperti sebuah tanaman yang diberikan perhatian yang lebih dengan harapan orang itu bisa tumbuh dan berkembang sesuai kapasitas dan potensinya.

Topik cinta itu memang sangat dalam dan luas. Tulisan ini hanya melihat satu sisi kecilnya saja, terpancing oleh diskusi yang hangat dalam perjalanan menuju perpisahan bagi kami berlima di mobil itu. Kedengarannya seperti pembicaraan biasa, sepele, tapi bagiku hal-hal yang kelihatannya sepele itulah yang indah. Dan memang setelah memikirkannya lagi lebih mendalam, pembicaraan kecil itu terbukti menarik.

Tidak ada yang tai kucing mengenai cinta, atau jatuh cinta. Keduanya dibutuhkan. Masing-masing memiliki kekuatan sendiri. Cinta sejati dalam bentuk pengorbanan adalah salah satu bagian dari pembangunan kehidupan keluarga, tapi perilaku afeksi seperti dua orang yang sedang jatuh cinta bisa dikatakan yang membantu rumah itu untuk hidup, bergairah, indah, menyenangkan–tidak kering, membosankan.