Hasil Refleksi Pribadi dari Bedah Buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”

Kita tidak pernah tahu pintu apa yang akan kita temui dalam hidup. Dan saat pintu itu kita buka, pemandangan seperti apa yang akan kita temui. Tuhan telah menakdirkanku untuk bertemu dengan salah satu dari sekian banyaknya pintu dalam hidupku belum lama ini.

Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia. Powerful title!

Saya masih ingat waktu pertama kali diajak untuk menjadi pembedah buku itu. Acaranya diadakan di universitas sendiri, jadi kenapa tidak? Sebelum ditawarkan kesempatan itu oleh rekan saya, Pak Adven Sarbani yang juga salah satu dari 70 lebih penulis di buku itu, saya memang sudah sempat melihat postingan-postingan mengenai acara bedah buku lainnya untuk buku yang sama di universitas lain dan tergelitik untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai buku dengan judulnya yang sudah menggugah hati. Tanpa menunggu lama, saya langsung mengiyakan tawaran itu. Sekalian pikirku ini kesempatan emas untuk bertemu dengan beberapa teman lama dan sahabat baru yang se-passion dengan tema-tema terkait keberagaman, kebhinnekaan, dan lintas agama/lintas etnis.

Waktu persiapan untuk membaca buku berhalaman sekitar 300an itu cuma dua minggu. Mencari kesempatan untuk membaca selama dua minggu penuh di sela-sela kesibukan kerja ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan buku itu. Akan tetapi, apa yang telah aku baca sudah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhiku.

Beberapa tema berhasil saya tangkap dan coba untuk dalami, seperti tema penderitaan, kemarahan, kekecewaan, ketidakadilan, diskriminasi, ketakutan, kecurigaan, kewaspadaan. Pendek cerita, tema kepahitan hidup. Tapi banyak juga tema positif seperti forgiveness, bangkit dari penderitaan, perjumpaan yang mengubah cara berpikir menjadi lebih positif, dan toleransi.

Ada satu cerita yang sempat membuatku kaget dan jantung berdebar-debar. Di situ sang penulis menjelaskan pengalaman pahit yang dialami keluarganya di kota kelahirannya yang sama dengan kota kelahiranku. Kejutan itu tidak berhenti di situ. Penulis kemudian mengatakan nama daerah tempat tinggalnya dan bagaimana tempat itu memang terkenal sebagai daerah rawan penghasil preman dan pembuat onar di kota itu. Saya rasa tidak perlu untuk saya jelaskan lagi mengapa daerah yang dituliskan itu sangat signifikan buatku dan membuat jantungku langsung berdebar kencang.

Intinya adalah saya merasa buku itu sedang berbicara denganku. Saat itu saya menyadari bahwa saya juga punya cerita, dan ceritaku perlu dikeluarkan. Ceritaku butuh pembaca, pendengar, witness. Ceritaku punya kekuatan yang bisa aku bagikan dan semoga bisa menyentuh nurani kaum yang masih dingin hatinya.

Cerita itu sebenarnya sudah pernah aku ceritakan kepada beberapa teman dekat. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat cerita dikeluarkan secara lisan dibandingkan dalam bentuk tulisan. Terjadi pendalaman yang lebih membekas lagi saat diresapkan dalam bentuk tulisan. Janji sudah aku berikan kepada editor buku, Gus Aan Anshori, untuk menyetorkan tulisan itu suatu saat di kemudian hari dan janji perlu ditepati.

Pada hari bedah buku dijadwalkan di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, sekitar 200 orang lebih menghadiri; angka akhir malah sudah mendekati 300. Angka itu cukup memenuhi harapan awal kami sehingga dari sudut pandang jumlah peserta bisa dikatakan acaranya berhasil. Akan tetapi, berhasilkah pesan-pesan kami diterima oleh khalayak ramai di ruangan itu?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti, tapi dengan harapan yang tinggi saya yakin pesan kami mengena pada audience. Saya bisa merasakan kehadiranNya dalam perasaan dan pikiran yang berkecamuk di ruangan itu, terlihat dari lontaran komentar dan pertanyaan dari peserta. Dan saya hanya bisa terus berharap bahwa paling tidak ada dari peserta yang tersentuh dan mau meneruskan pesan-pesan kami.

Saya hanya menuliskan di sini reaksi saya pribadi. Terus terang sampai pada saat acara dimulai, saya tidak mengetahui secara pasti bagian mana dari buku itu yang mau saya tanyakan atau fokuskan dan yang sesuai dengan bidangku. Memang ada bayangan apa yang mau dikatakan, tapi juga ada sedikit perasaan overwhelm. Saya merasa agak bingung sebenarnya. Ironis menurutku karena saya tahu saya juga punya banyak pengalaman pribadi yang bisa saya kaitkan dengan apa yang saya baca. Terlalu banyak malah! Dan mungkin di situlah letak jawaban mengapa saya merasa agak bingung dan tersesat, tak tahu pasti perlu mengatakan apa.

Setelah berkesempatan untuk merenungkannya lagi selama beberapa hari sesudah acara selesai, saya menyadari bahwa saya bukannya tidak tahu mau ngomong apa, tapi tidak tahu mau MULAI dari mana! Mau fokus ke kebingungan identitasku sendiri selama ini yang sering sampai membuatku merasa tersesat dan tidak merasa belong ke kelompok manapun sepanjang perjalanan hidupku? Atau mengenai keinginanku untuk selalu ingin diterima atau menjadi bagian dari suatu kelompok? Bagaimana penerimaan itu sangat penting bagiku? Dan struggle ini masih terasa sampai sekarang! Secara tidak sadar kebingungan identitasku yang sering tidak tahu pasti saya ini orang Indonesiakah, orang Manadokah, orang Makassarkah, atau orang Tionghoakah, telah menghantui perjalanan hidupku dan caraku membuat keputusan. Dan ini apalagi benar-benar saya rasakan waktu tinggal selama 21 tahun di AS di mana embel-embel identitas minoritas ditambah lagi dengan kata “imigran” dan “ras Asia”. Nah loh, tambah bingung toh?

Sewaktu bagianku berbicara di bedah buku itu, saya mencoba menerjemahkan apa yang bergumul di benakku yang terasa sangat penuh waktu itu. Saya berusaha mengeluarkannya dengan sangat hati-hati dan memilih-milih karena hanya Tuhan yang tahu betapa banyak sebenarnya yang mau keluar tapi tertahan. Kenapa saya tahan? Karena bukan tempatnya. Saya sudah melihat banyak dari pengalaman orang lain dan merasakan sendiri diperlakukan berbeda dan tidak adil karena warna kulit, kesipitan mata, warna rambut, bentuk hidung, tinggi badan, paspor, status kewarganegaraan, dan yang paling utama dan dominan…logat. Kalau saya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 1,000 saja untuk setiap pertanyaan, “Mbak/Ibu/Cici/Cece asalnya dari mana?” yang dilontarkan orang-orang sesudah saya mengeluarkan sepatah dua patah kata, itu sendiri sudah bisa menjadi penghasilan rutinku. Aku sudah bisa ngumpulin uang untuk pergi berlibur, tahu?!

Jadi yah, begitulah yang terjadi di bedah buku itu. Terus terang saya merasa belum memberikan yang sepenuhnya. Masih menahan diri waktu itu karena memang saya belum siap. Hal yang pasti bisa saya katakan, buku itu sudah membuka suatu pintu. Dan kadang ada pintu tertentu yang begitu ditemukan dan dibuka, susah untuk ditutup rapat kembali. Namanya juga pintu, yah fungsinya memang untuk dibuka tutup sesuai kebutuhan, bukan?

Kesimpulan dari hasil refleksiku, masih banyak ternyata dari diriku sendiri yang belum tereksplorasi. Pintu itu masih menunggu keberanianku untuk masuk ke sana.

Advertisements

Keberadaanmu, Keberadaanku

makna kehidupan.jpg

Hidup memberikan kita banyak kesempatan untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Kesempatan itu datang biasanya dalam situasi-situasi terkait perkembangan kehidupan, misalnya kelahiran seorang anak, upacara pernikahan, atau kematian. Malam ini aku mengikuti upacara agama Katolik untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan seorang Romo yang dikenal dengan nama Romo Senti. Romo Senti meninggal dua hari yang lalu secara tiba-tiba.

Misa requiem atau misa arwah untuk mendoakan kepergian Romo Senti dilakukan di kapel kecil di asrama seminari tempat para frater yang dibimbing oleh Romo tinggal. Banyak umat Katolik yang berdatangan dari banyak tempat, bukan hanya dari Surabaya saja, karena Romo Senti sudah pernah berkarya dan melayani umat di beberapa tempat di Jawa Timur. Seminari malah tidak menyangka akan kedatangan sebegitu banyak umat, sehingga pada menit-menit terakhir kursi-kursi dari ruang kelas dan kamar para fraterpun dikerahkan.

Aku duduk di suatu sudut dan mengamati semua yang berlangsung di sekelilingku. Terlintas suatu pikiran kagum atas karya dan pelayanan Romo Senti sehingga banyak yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir baginya. Tak terhindari, terlontar beberapa pertanyaan di benak, bagaimanakah nanti pada saat waktuku untuk pergi dari dunia ini? Apa yang aku inginkan terjadi saat kepergianku nanti? Akankah sebegini banyak orang yang hadir juga? Apa yang ingin aku tinggalkan untuk diingat oleh orang-orang di sekitarku yang mengenaliku? Pemikiran-pemikiran seperti ini sebenarnya cukup logis. Banyak orang menurutku yang berpikiran demikian saat menghadiri acara-acara seperti ini, apapun upacara agama yang dipakai untuk mengiringi kepergian seseorang.

Aku tidak kenal Romo Senti sebenarnya. Mungkin ada yang bertanya mengapa aku datang bila demikian? Apalagi aku datang sendirian, tanpa ada yang menemani. Aku mencoba merenungkan beberapa kesempatan sebelumnya di mana kami berdua (saya dan Romo) pernah saling berpapasan. Sebenarnya, kami saling bertemu itu hanyalah saat berada dalam…lift. Iya benar, lift. Kami berdua bekerja dalam satu institusi pendidikan. Beliau mengajar di Fakultas Filsafat dan aku di Fakultas Psikologi. Kantor kami cuma berbeda 1 lantai saja; beliau di lantai 8 dan aku di lantai 9, sehingga waktu kami untuk bertemupun hanyalah di lift selama ini. Saling berpapasan, mata bertemu, saling menyebar senyum dan ucapan salam yang hangat, ditutup dengan anggukan dan kadang jabatan tangan. Sudah. Itu saja. Waktu mendengar bahwa beliau meninggal, aku malah harus mengingat-ingat yang mana orangnya. Saat melihat pengumuman misa dan fotonya, baru aku tersadar. Kawan se-liftku ternyata. Cukup kaget juga, karena memang kepergian beliau terjadi secara tiba-tiba.

Saat di misa arwah tadi, aku melihat semua frater (calon romo) yang menjadi anak-anak didikan beliau. Aku kenal sebagian besar frater itu karena banyak dari mereka yang pernah aku ajar juga dalam kelas psikologi yang wajib diikuti oleh mereka. Kuucapkan salam belasungkawa karena Romo Senti adalah dosen pendidik dan bapak pendamping bagi mereka. Saat menyetir mobil sepulangnya dari misa, sempat terpikir bagaimana perasaan para frater itu. Kehilangan figur yang banyak menemani pergulatan dunia studi dan panggilan mereka untuk menjadi romo pastilah bukan sesuatu yang mudah. Sempat terasakan suatu perasaan sedih juga. Jangankan mereka sebagai frater yang bertemu dengan Romo Senti mungkin tiap hari, aku yang bertemu dengan Romo hanya di lift saja sudah (anehnya) merasa sedikit rasa kehilangan.

Memang aneh menurutku karena aku tidak tahu beliau, tidak pernah berbicara dengannya. Romo Senti menurutku adalah seseorang yang pendiam, terlihat sedikit pemalu, tipe orang yang lebih banyak bekerja di belakang layar, bukan yang berada di depan, sehingga dia bukan tipe yang banyak berbicara. Kami tidak pernah bertukar pikiran. Kami hanya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sering berbagi waktu dan ruang di lift kecil gedung kami, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa ada sesuatu yang hilang dengan kepergiannya.

Bila direfleksikan lebih mendalam lagi, sungguh luar biasa sebenarnya bagaimana tanpa kita sadari kita mungkin telah menyentuh hati orang lain hanya dengan keberadaan kita. Kehadiran kita, tanpa memerlukan kata-kata, sudah cukup untuk memberikan suatu dampak tertentu bagi orang lain. Dampak itu mungkin tidak langsung dipahami oleh orang itu. Kesadaran itu mungkin baru akan muncul di kemudian hari saat kita tidak ada lagi. Kehadiran kita, keberadaan kita, senyum, sapaan, anggukan kecil, sudah cukup untuk memberikan sesuatu bagi orang lain — apakah itu rasa keakraban, kebiasaan, kenyamanan, atau rasa bahwa kita bersama-sama menjadi bagian dari suatu kelompok. Apapun itu, jangan pernah memandang enteng keberadaan kita.

Hari ini…Tuhan mengingatkanku mengenai itu melalui Romo Senti. Terimakasih, Romo. Terimakasih akan kehadiranmu selama ini di hidup banyak orang, di hidupku. Beristirahatlah dengan tenang. Biarkan kami yang meneruskan membawa cahaya bagi orang lain. Semoga karyamu terus berlanjut di kehidupan selanjutnya. Amin.

Cinta itu Tai Kucing (?)

Apa sih sebenarnya cinta itu? Sudah terlalu banyak tulisan, cerita, puisi, lagu yang dibuat untuk mendeskripsikan apa itu cinta, dan ini hanyalah satu tulisan tambahan lagi mengenai topik lama tapi favorit ini.

Kali ini perspektif cinta datang dari pembicaraan antara kaum religius Katolik dan kaum awam. Percakapan khusus mengenai cinta ini terjadi dalam perjalanan lima orang dalam satu mobil menuju stasiun kereta api Tawang, Semarang. Kelompok terdiri dari 2 Romo, 1 Suster, dan 2 orang awam (saya salah satunya). Pembicaraan diawali dengan salah satu dari kaum awam di mobil (catatan: bukan saya!) menceritakan pengalaman hidupnya sebelum menjadi seorang suami. Tidak tahu bagaimana rinciannya tapi kemudian sharing itu berangsur menuju ke arah topik perkawinan dan cinta. Antara mendengarkan dan melamun sambil melihat pemandangan di luar jendela, sayup-sayup telinga ini menangkap kata-kata berikut: ‘cinta itu tai kucing’. Kata-kata itu sepertinya terlontarkan keluar begitu saja dan dalam tempo beberapa detik, suasana di dalam mobil yang tadinya tenang dengan hanya 1 orang saja yang berbicara untuk mengisi waktu perjalanan, tiba-tiba menjadi panas dan penuh dengan antusiasme saat 4 orang membuat keputusan untuk berbicara bersamaan. Lamunanku pun terpaksa terhentikan sejenak. Secara otomatis, tanganku bergerak untuk mengeluarkan handphone untuk merekam pembicaraan itu. Ada firasat muncul di benakku yang mengatakan bahwa pembicaraan sedang menuju ke arah yang…menarik.

Dan memang benar, pembicaraan yang berlangsung sekitar 10 menit itu menjadi SANGAT menarik.

Salah satu Romo, sebutlah Romo M, menunjukkan ketidakpuasannya mendengar istilah ‘cinta itu tai kucing’ dengan bertanya, “Jatuh cinta itu apa sih artinya?” yang kemudian dijawab secara spontan oleh yang lainnya.

“Terpeleset,” kata Suster.

“Jatuh itu ya…tibo (tibo=jatuh, dalam bahasa Jawa),” kata Pak K yang sebelumnya menginisiasi istilah kramat ‘cinta itu tai kucing’.

“Jatuh cinta itu adalah afeksinya,” kata Romo M menjelaskan. “Cinta yang sesungguhnya adalah komitmen dan tanggung jawab yang selama ini Bapak lakukan. Jadi tidak bisa dibilang cinta itu tai kucing.”

Setelah sekian panjang perdebatan bolak-balik antara kedua kubu yang awalnya terdengar seperti bertentangan, ternyata hasil akhir dari diskusi adalah kesadaran bahwa mereka sebenarnya sepaham kalau jatuh cinta itu berbeda dengan cinta. Kesepakatan akhir adalah bahwa bukan cinta yang tai kucing, tapi proses jatuh cintanya. Suster malah menambahkan bahwa bagi kaum remaja, tai kucing itu bisa terasa enak seperti coklat, sehingga timbullah istilah baru ‘tai kucing terasa coklat’ karena sedang jatuh cinta.

Yah, apapun cinta itu, mau tai kucing atau tai domba, mau rasa coklat atau stroberi, tidak masalah. Banyak makna yang bisa didapatkan dari pembicaraan di atas. Satu kesepakatan lain yang didapatkan kelompok adalah cinta itu sebenarnya mengenai komitmen, tanggung jawab, dan itulah seharusnya yang menjadi dasar dalam berkeluarga.

Pengorbanan. ‘Esensi cinta itu pengorbanan’ adalah hasil yang bisa saya petik dari diskusi hangat itu. Dalam pengorbanan kita harus berani mengambil langkah awal, keluar dari zona nyaman kita, mencoba sesuatu yang baru, dan menanggung risiko untuk terluka. Memang benar bahwa kadang dalam menjalani kehidupan sehari-hari bersama orang yang kita cintai, yang namanya afeksi itu tidak terlihat atau terperhatikan lagi. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh Pak K di awal pembicaraan, bahwa afeksi itu tidak penting dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. Tapi ada yang kurang tepat dalam pemikiran Pak K ketika ia menyamakan afeksi itu sebagai cinta, sehingga terlontar perkataan ‘cinta itu tai kucing!’. Pemikiran itu sudah dibenarkan di akhir diskusi.

Benar bahwa cinta itu jauh lebih mendalam dari hanya menunjukkan afeksi. Saya setuju dengan perkataan itu. Akan tetapi menurutku, memperlihatkan afeksi seperti dua orang yang masih saling jatuh cinta itu tidak ada salahnya. Malah saya akan mengatakan bahwa sikap itu diperlukan dalam suatu hubungan. Dalam menunjukkan afeksi terhadap pasangan, terjalin ikatan emosional antara dua orang, terjadi suka cita, timbul semacam kehangatan, keakraban. Saat afeksi mulai ditinggalkan, menurutku relasi itu menjadi kering. Kalau relasi antara dua orang itu diibaratkan sebuah tanaman bunga, tanaman itu bisa saja tumbuh dengan hanya disirami air. Air itu melambangkan hal-hal jasmaniah yang kita butuhkan setiap hari, seperti makanan, minuman, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan dasar yang membuat kita mampu untuk terus hidup, survive. Tapi andaikan kita bisa memberikan perhatian yang lebih bagi tanaman itu, misalnya secara rutin merawat akarnya, melap daun-daunnya, mempertimbangkan letak tanaman terkait sinar matahari, dan bahkan berbicara pada tanaman itu, saya yakin tanaman itu akan mampu tumbuh jauh lebih baik dibandingkan yang tidak diberikan perhatian lebih. Mungkin perbedaan bisa terlihat pada warna bunganya, tinggi tanaman, dan kesegaran daun.

Dalam hal hubungan antara dua orang yang saling mencintai, perhatian dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk hidup itulah air yang diberikan pada tanaman, dan perhatian dalam bentuk afeksi itu adalah pemenuhan kebutuhan psikologis yang menurutku mampu membuat siapapun berkembang menjadi jauh lebih indah lagi — sama seperti sebuah tanaman yang diberikan perhatian yang lebih dengan harapan orang itu bisa tumbuh dan berkembang sesuai kapasitas dan potensinya.

Topik cinta itu memang sangat dalam dan luas. Tulisan ini hanya melihat satu sisi kecilnya saja, terpancing oleh diskusi yang hangat dalam perjalanan menuju perpisahan bagi kami berlima di mobil itu. Kedengarannya seperti pembicaraan biasa, sepele, tapi bagiku hal-hal yang kelihatannya sepele itulah yang indah. Dan memang setelah memikirkannya lagi lebih mendalam, pembicaraan kecil itu terbukti menarik.

Tidak ada yang tai kucing mengenai cinta, atau jatuh cinta. Keduanya dibutuhkan. Masing-masing memiliki kekuatan sendiri. Cinta sejati dalam bentuk pengorbanan adalah salah satu bagian dari pembangunan kehidupan keluarga, tapi perilaku afeksi seperti dua orang yang sedang jatuh cinta bisa dikatakan yang membantu rumah itu untuk hidup, bergairah, indah, menyenangkan–tidak kering, membosankan.