Ajaib

Suatu hal yang aneh terjadi hari ini. Aku mengulurkan tangan–bukan untuk memberikan bantuan tapi untuk meminta bantuan–kepada seseorang yang selama hidupku baru kali ini aku lakukan. Saking butuh dan kusutnya aku mungkin pada saat itu, sehingga melakukan sesuatu yang tak terduga.

Waktu itu siang, menjelang sore. Sebenarnya sedang mau bersiap-siap untuk ke gereja dan barusan menyelesaikan sebuah puisi. Entah kenapa, mungkin ada unsur baper dari menulis puisi itu, tiba-tiba perasaan sedih yang sangat dalam menusukku perlahan. Mulainya pelan, diawali dengan munculnya perasaan tidak nyaman yang langsung bisa kurasakan di perut. Perut terasa agak terlilit. Aku mulai merasa gelisah dan berjalan mondar-mandir di dapur sambil mencoba melawan pemikiran-pemikiran negatif yang muncul bersamaan. Entah mereka datangnya dari mana tapi tiba-tiba menyerbu bersamaan seperti sudah janjian sebelumnya, sambil bergandengan tangan lagi, hadoh! Lalu perlahan muncul isakan yang kemudian bertambah kencang, sampai menjadi sedu sedan yang sudah tak terbendung lagi. Kegelisahan juga bertambah terus. Kemudian ada suara denting di hape. Sempat kutengok sebentar dan melihat ada pesan yang masuk di Whatsapp, yang ternyata dari kakakku. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sempat heran juga kenapa aku bisa menyempatkan diri untuk menengok hape di tengah-tengah kehebohanku? Sampai sekarang aku juga tidak bisa mengerti mengenai itu.

Pesan itu benar dari kakakku. Kalau ada yang mengenal keluarga kami dengan dekat, pasti sudah mulai tergelitik di bagian ini. Seumur hidupku, aku tidak pernah dekat dengan kakakku. Mungkin baru di satu atau dua tahun terakhir ini kami mulai perlahan menjadi dekat, tapi belum sampai pada tahap di mana aku meminta pertolongannya. Dan terlebih lagi, pertolongan untuk…curhat. Aku? Curhat? Ke dia? Mungkin ini karena unsur U(sia)? Mbuh.

Tapi mungkinkah juga karena campur tangan Tuhan? Pesannya di WA masuk pada saat yang tepat. Perlu diketahui, kakakku ini juga bukan…lebih tepatnya, kami berdua bukan tipe yang saling mengabari, berbincang, berdiskusi langsung, apalagi lewat hape, sehingga kemungkinan kami saling mengirimi pesan di WA itu juga masih tergolong langka. Tapi kenapa pesannya masuk pada saat itu? Di saat aku sedang kesulitan bernapas karena dilanda rasa duka yang datangnya bertubi-tubi, saat aku hampir kehilangan pikiran warasku, bergumul dengan pemikiran yang ingin ‘menyerah’ (atau lebih tepatnya bagaimana rasanya kalau semua rasa sakit itu bisa berhenti saat itu juga), pesan dari kakakku itu sepertinya sedang berusaha meraihku. Di situlah terjadi suatu keajaiban. Aku kemudian merasakan tarikan yang luar biasa untuk menghubunginya. Sebuah perdebatan sempat terjadi di pikiranku,

“Benarkah ini yang tepat untuk aku lakukan?” sahut suatu suara.

“Tidak, saya bisa tahan kok. Sudah pernah aku lakukan sebelumnya, masak tidak bisa saya atasi sendiri?” jawab suara lainnya.

“Tapi saya sudah tidak kuat lagi,” kembali ke suara pertama.

“Tunggu sebentar aja, pasti juga akan lewat kok. Kan biasanya juga begini?” sahut balik si suara kedua.

“Sungguh! Sakit sekali rasanya. Saya butuh berbicara dengan seseorang sekarang. Saya butuh keluarkan ini!” balik ke suara pertama lagi, dan seterusnya.

Tidak menunggu lama, mungkin cuma satu atau dua menit saja, akhirnya salah satu dari kedua tim debat di atas menang juga akhirnya, yaitu tim debat yang mewakili sudut hati yang membutuhkan seseorang. Dan aku pun menelpon kakakku akhirnya. Selebihnya tak perlu diceritakan, cukup untuk dicatat karena sudah menjadi sejarah.

Ingat, perlu dicatat! Hari ini menjadi hari bersejarah! Si dua bersaudara yang dari kecil pernah dipanggil Tom dan Jerry (nggak usah pusing deh mana yang Tom dan mana yang Jerry, pokoknya kucing dan tikus yang tak pernah akur!), akhirnya membuat lembaran hubungan yang baru. Kalau diingat-ingat sekarang, aku sebenarnya kasihan juga dengan kakakku. Dia mungkin sama shocknya denganku saat kuputuskan untuk menelpon. Dari nada suaranya bisa kubayangkan bagaimana heboh dan bingungnya dia juga di sana menerima telpon dari sang adik ter-kritis (bukan karena aku tipe orang yang kritis, tapi karena lebih sering mengkritiki dia).

Suatu keanehan memang terjadi hari ini, suatu keajaiban yang patut disyukuri. Masih banyak lagi yang bisa direfleksikan dari kejadian ini. KaryaNya, campur-tanganNya memang sering mengejutkan dan tak terduga, tapi tidak apa. Semakin banyak hal ajaib yang terjadi semakin bagus. Paling tidak, bisa dipakai untuk ide menulis setiap hari. Thank You, Lord! Dan Berkah Dalem untuk kita semua.

Advertisements

Hai Kawan

emptiness.jpg

Image berjudul A Feeling of Emptiness oleh Jeff Masamori (diambil dari artlimited.net)

 

gelap warnamu,
menyeringai tak karuan dari balik muka yang kusut
bayanganmu, terlalu pekat
bahkan –
tak segelintir anginpun mau mengabari kedatanganmu
bila kau ingin datang,
tak ada yang bisa menahan

seperti biasa,
teriakan protesku tercekik oleh laraku sendiri
terjebak dalam putaran hasrat yang tak kunjung usai
dan akhirnya, di penghujung malam yang panjang,
hanya hampa yang tersisa,
menemani dalam kesunyian, mengisi waktu yang terputus

hai kawan,
kedatanganmu, membawa tangis
kepergianmu, keletihan

###Gundah

Keinginan: Kunci Kebahagiaan dalam Berelasi?

Sebuah pertanyaan terlontar ke hadapanku hari ini yang mau tidak mau menjadi topik perenungan panjang dalam perjalanan kereta yang tidak kalah panjangnya pada malam hari yang tidak INGIN kalah panjangnya dalam menyelimuti kekelaman hati untuk mencari suatu jawaban. Sebenarnya yang dilontarkan kepadaku itu lebih berupa suatu pernyataan yang kemudian kuubah menjadi pertanyaan. Pernyataan itu berbunyi seperti ini, “Memang tidak mudah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.” Pertanyaan yang muncul di benak kemudian adalah apa perbedaan antara kebutuhan dan keinginan?

Otomatis kupanggillah yang namanya Oom Google lagi, si oom yang sok tahu itu. Dan seperti dugaanku, tak ada jawaban yang memuaskan yang bisa kudapatkan. Akan tetapi, hampir semua bacaan yang kudapatkan sepakat untuk mengatakan bahwa yang namanya kebutuhan itu lebih bersifat untuk keberlangsungan hidup, survival, sedangkan keinginan bisa dikatakan lebih bersifat ‘perasaan’, yang bila tidak adapun sebenarnya kita akan baik-baik saja.

Berdasarkan pijakan definisi ringan dan singkat di atas, aku membuat kesimpulan sendiri berarti apa yang selama ini aku lakukan dalam hampir semua relasiku adalah keinginan sebenarnya. Hanya keinginan saja — keinginan-keinginan yang kemudian ternyata membuatku sering tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini disebabkan oleh aku sendiri ternyata. Sampai di sini aku MENYADARInya dengan sesadar-sadarnya.

Seperti biasanya saat aku mulai memasuki dunia perenungan, satu pertanyaan selalu akan membawa ke pertanyaan berikutnya. Pertanyaan logis berikutnya adalah kalau kita manusia dalam berelasi selalu menginginkan sesuatu, dan apabila keinginan itu tidak tercapai/terkabulkan, apakah akan selalu berakhir dengan ketidakbahagiaan? Kunci dari kebahagiaan atau ketidakbahagiaan dalam berelasi dengan orang lain, apakah itu dengan teman, keluarga, pasangan hidup yang kita cintai, adalah keinginan? Aku paham bahwa bila ingin bahagia dalam berelasi, kita perlu menerima orang lain apa adanya. Menerima orang lain apa adanya itu apakah berarti membebaskan diri kita dari segala keinginan juga? Dengan kata lain, apakah sebaiknya dalam berelasi itu kita membersihkan pikiran kita dari suatu keinginan mengenai orang itu? Itukah kunci dari kebahagiaan?

(Kan sudah kubilang kalau satu pertanyaan akan menghasilkan pertanyaan lain… Welcome to the web of my mind. 😀 )

Bebas dari keinginan bisa dikatakan adalah kunci jawaban dari suatu kebahagiaan dalam menjalin hubungan. Sudah tepatkah? Aku ingin memberikan suatu alternatif sudut pandang. Bagaimana kalau kunci dari kebahagiaan dalam menjalin hubungan itu bukan mengenai membebaskan diri dari keinginan, tapi mengenai mendapatkan seseorang yang bisa memuaskan keinginan-keinginan itu. Jadi pendapat yang kedua ini adalah mendapatkan orang yang tepat, yang cocok, yang sependapat, yang memahami, yang soul-nya sejalan, sepadan, dan seterusnya. (Wow, cukup kedengaran agak sedikit idelistik menurutku.)

Bila aku memakai pengalamanku sendiri sebagai sumber refleksi dan menoleh ke masa laluku, untuk setiap pasangan yang pernah kuserahkan rasa percaya dan hatiku, sepertinya ada keinginan yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Pada saat aku bertemu pasangan yang baru, biasanya aku bersyukur karena dia tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sering tidak aku sukai di pasangan yang sebelumnya. Akan tetapi, perasaan euphoria itu kemudian suatu saat akan berakhir juga saat aku menemukan bahwa pasangan yang baru ini ternyata punya kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak aku sukai, sehingga timbullah keinginan-keinginan baru yang terkait khusus hanya untuk orang yang baru ini. Dan roda kehidupan berelasi pun terus berputar.

Dengan kata lain, alternatif kedua yang baru saja aku cetuskan di atas telah aku bantah sendiri. Kalau begitu, kita kembali lagi ke rumus yang pertama, yaitu bebas dari segala keinginan. Tapi sekarang aku juga ingin menyampaikan argumentasiku untuk rumus yang pertama ini. Sebenarnya, aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki keinginan terhadap seseorang yang dekat dengan kita? Bagaimana rasanya untuk hidup bebas di hati? Hidup free itu, bagaimana toh rasanya itu? K edengarannya indah. Tapi apakah memang selalu indah untuk hidup bebas dari keinginan? Bebas dari keinginan menurutku akan sering terjadi di mana kita mengalah, dan bagaimana itu rasanya? Bukankah itu juga bisa menjadi sesuatu yang berat? Akan bahagiakah hidup yang seperti itu? Seseorang yang bebas dari keinginan dalam hidup berelasi, benarkah orang itu bahagia?

Menurutku, kebebasan itu adalah ilusi. Angan-angan. Tidak ada yang namanya hidup yang bebas di dunia ini — bebas dari belenggu keinginan. Apakah benar ada orang yang benar-benar bebas? Malah ironisnya adalah hidup manusia itu sebenarnya hidup yang sosial, yang berarti kita selalu membutuhkan orang lain. Dengan demikian, selama kita masih membutuhkan orang lain, berarti akan ada semacam keterikatan, suatu perasaan. Semakin dalam keterikatan itu, semakin erat hubungan itu, semakin dalam juga perasaan dan emosi yang terjalin. Bila ada emosi, perasaan, berarti kita kembali lagi ke pertanyaan awal dari essay ini, yaitu ada suatu harapan yang kita inginkan dari hubungan itu biarpun harapan itu mungkin suatu harapan yang kecil. Harapan sekecil apapun berarti akan tetap ada suatu keinginan. Keinginan bisa dikatakan sudah kodrat manusia, bagian dari kemanusiaan, humanity. Tanpa adanya harapan dan keinginan, apakah kita masih manusia?

Sampai di sini, sudah sama bingungnyakah anda semua pembaca denganku karena aku baru saja menyanggah kedua hipotesis yang aku ungkapkan di tulisan ini. Bila anda belum menyadarinya, aku akan sampaikan sekarang, yaitu aku juga tidak punya jawaban dari semua pertanyaan di tulisan ini, terutama pertanyaan kunci kebahagiaan dari hubungan itu sebenarnya apa. Tulisan ini memang tidak bertujuan untuk memberikan jawaban, tapi mengajak untuk berpikir dan mungkin juga bertukar pikiran. Monggo, diskusinya bisa dimulai. Siapa tahu bisa memberikanku pencerahan juga.