Kerentanan: Suatu Opini

Tulisan ini adalah reaksi yang aku rasakan sesudah melihat video Brene Brown mengenai topik vulnerability, atau dalam bahasa Indonesianya adalah vulnerabilitas atau kerentanan. Essay ini sebenarnya sudah aku tuliskan sebelumnya dalam bahasa Inggris, tapi ada keinginan untuk kembali ke tulisan ini karena sekitar sebulan yang lalu, aku bertemu lagi dengan kata vulnerability dalam suatu lokakarya mengenai kepemimpinan. Pemimpin lokakarya saat itu membahas mengenai konsep vulnerability dan menjelaskan definisi vulnerability sebagai suatu keterbukaan, suatu keadaan di mana kita mau membuka diri dan menerima suatu perubahan. Pada saat mendengarkan itu, reaksi pertamaku adalah kurang setuju karena pemahamanku sebelumnya mengatakan bahwa vulnerability atau kerentanan itu memiliki konotasi yang agak negatif. Tapi pada saat lokakarya itu aku dipertemukan dengan pengertian baru mengenai kerentanan, bahwa rentan sebenarnya bisa memiliki arti positif. Keinginan untuk memahami lebih dalam lagi mengenai kerentanan membuatku kembali ke essay ini, tapi kali ini aku mengolahnya dalam bahasa Indonesia dan menerjemahkan ulang ke dalam bahasa Indonesia dengan disertai beberapa tambahan penjelasan baru. Tapi sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai kerentanan, aku ingin memberikan link untuk video dari Brene Brown. Mohon maaf sebelumnya kalau saya tidak memiliki versi bahasa Indonesia untuk video ini. Selamat menyimak dan membaca.

Transkrip dari video bisa dibaca di link di bawah ini untuk membantu saat mendengarkan.

 

“Mengapa kita manusia terus bergulat dengan yang namanya vulnerabilitas (vulnerability) atau kerentanan?” Itu adalah pertanyaan pertama yang dikatakan oleh Brene Brown. Ya, mengapa demikian? Aku pun melakukannya, meskipun hal-hal yang membuatku rentan mungkin berbeda dengan yang dialami orang lain. Seperti yang Brene Brown katakan dalam videonya, “Perasaan rentan atau vulnerabilitas adalah dasar dari rasa malu, ketakutan dan pergumulan kita untuk merasakan layak untuk diterima oleh orang lain…” Begitu banyak konsep dan terminologi yang kita dengarkan dalam video itu yang menurutku sangat membingungkan pada awalnya. Membingungkan tetapi masih masuk akal, sehingga memang butuh waktu untuk mencerna apa yang dibahas oleh Brene Brown dalam presentasinya.

Jika aku mencoba untuk meringkas isi video berdasarkan pemahamanku, kira-kira beginilah intinya.

Menarik menurutku bahwa Brene Brown mengawali pembahasannya dengan konsep kelayakan (worthiness). Kelayakan yang dimaksud oleh Brown dalam hal ini adalah kelayakan akan dua hal, yaitu kelayakan untuk diterima dan kelayakan untuk dicintai. Mereka yang merasa diterima dalam suatu kelompok – baik itu dalam keluarga atau melalui kerja/organisasi – dan mereka yang mampu mengalami yang namanya mencintai orang lain adalah orang-orang yang pada dasarnya berpikir bahwa mereka memang LAYAK untuk diterima dan dicintai. Jika mereka merasa tidak layak akan kedua hal tersebut (diterima dan dicintai), maka bisa saja timbul pergulatan dalam diri. Mereka mungkin mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, kesulitan untuk menjadi autentik atau menjadi diri mereka sendiri yang sebenarnya; dan dengan demikian, mereka juga menjadi sulit untuk merasakan yang namanya kerentanan. Karena untuk bisa berhubungan dengan orang lain, untuk mencintai, untuk dicintai kembali, dan diterima oleh orang lain, orang itu harus berani merasakan vulnerable atau rentan. Rentan untuk apa? Untuk merasakan yang namanya rasa sakit, kepahitan, kekecewaan, dan luka dalam hubungan/relasi dengan orang lain. Itu adalah salah satu isi dari materi yang diberikan oleh Brene Brown.

Kelayakan (worthiness) berarti adalah dasar dari kemampuan seseorang untuk merasa ia bisa diterima dan dicintai oleh orang lain. Dengan demikian, bagiku kelayakan untuk mencintai dan menjadi bagian dari suatu kelompok adalah suatu bentuk hak. Semua manusia berarti berhak untuk mengalaminya. Kebutuhan untuk dicintai yang berdampak kemudian pada kemampuan kita untuk juga bisa mencintai orang lain, dan kebutuhan untuk diterima dalam suatu kelompok yang berdampak pada kemampuan kita untuk merasakan kita memiliki suatu kelompok (belonging), suatu identitas, adalah dua kebutuhan yang sangat penting bagi setiap manusia untuk bisa bertahan hidup. Manusia adalah makhluk sosial. Kita lahir dengan kebutuhan sosial. Tujuan setiap bayi untuk menangis saat baru lahir pun menunjukkan arti lahiriah dari kebutuhan sosial kita, yaitu untuk diperhatikan, untuk dibantu. Manusia selalu membutuhkan orang lain, makhluk hidup lain. Kita tidak bisa hidup sendirian dalam jangka waktu yang panjang. Suatu saat kita pasti membutuhkan orang lain.

Akan tetapi, tidak semua orang mendapatkan kedua hal di atas. Banyak orang yang dalam hidupnya kurang mendapatkan kasih sayang, tidak mengalami yang namanya dicintai, sehingga kurang mampu juga mencintai orang lain atau menunjukkan rasa cinta pada makhluk hidup lain yang memberikan rasa aman dan stabil. Mereka juga mungkin akhirnya kurang mampu diterima di suatu kelompok atau kurang mampu menempatkan diri secara tepat di suatu kelompok. Dengan kata lain, mereka mungkin belum merasakan yang namanya memiliki suatu rasa belonging atau perasaan yang dirasakan saat menjadi bagian dari suatu kelompok. Kalaupun mereka akhirnya merasa menjadi bagian dari suatu kelompok, perlu diperhatikan apakah kelompok itu mampu memberikan pengaruh yang baik dan tepat baginya dan bukannya merusak.

Dengan kata lain, mereka tidak pernah merasakan menjadi bagian dari suatu kelompok yang bisa menerima mereka apa adanya, sehingga mereka bisa saja mengalami kesulitan untuk membangun rasa kelayakan yang dikatakan oleh Brene Brown. Mengapa? Misalnya saja ketika seorang anak merasa bahwa dia dicintai oleh kedua orangtuanya dan dengan demikian merasa bahwa dia adalah milik orangtuanya, dia kemudian dapat mengembangkan pemahaman bahwa dia layak untuk dicintai oleh orangtuanya. Ketika anak berpikir dia layak untuk dicintai, maka dia sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mendapatkan cinta dari orangtuanya. Dengan kata lain, kalau anak itu merasa layak, maka dia bisa menginginkannya, memintanya, dan menyadari bahwa cinta itu tersedia baginya. Terjadi asumsi dalam hubungan yang penuh cinta kasih itu bahwa cinta dan kasih akan miliknya, dan itu memberikan kenyamanan, rasa layak. Tapi bagaimana dia bisa belajar untuk menginginkan, bertanya, meminta cinta itu jika cinta itu tidak pernah diberikan atau ditunjukkan padanya sebelumnya? Masih banyak anak-anak di dunia ini yang lahir dan bertumbuh-kembang tanpa pernah merasakan yang namanya keutuhan rasa dicintai dan diterima, sehingga kekosongan itu ada dalam jiwanya. Kekosongan yang akhirnya membawa pada kerapuhan untuk menolak kerentanan, menolak mencintai, menolak dicintai. Kesimpulannya adalah walaupun kelayakan untuk dicintai dan diterima adalah suatu bentuk hak asasi manusia, tapi hak itu tergolong suatu bentuk hak yang istimewa atau privilege. Dikatakan privilege karena tidak semua orang memiliki akses untuk mendapatkannya, padahal sebenarnya semua orang seharusnya mendapatkannya, sama seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hidup di lingkungan yang aman.

Dengan menyadari semua itu, kita juga perlu jeli dalam menyadari bahwa yang namanya kelayakan untuk dicintai dan diterima itu sebenarnya menjadi suatu bentuk kerentanan dengan sendirinya. Seolah-olah setiap manusia butuh bergantung pada cinta dari orang lain, pada penerimaan dari orang lain, pada hubungan dengan orang lain agar merasa diri kita ini layak untuk dicintai dan diterima. Ini seperti suatu lingkaran. Kelayakan seseorang akan berdampak pada rasa kelayakan orang lain, dan seterusnya. Ini mungkin mengapa kita sebagai makhluk sosial tidak pernah bebas dari konsep kerentanan. Akan selalu ada masalah, situasi, dan orang-orang yang membuat kita rentan. Mengapa? Karena kita mengasihi dan mencintai orang-orang itu dan karena kita menjadi bagian dari kelompok itu. Dan apa yang membuat kita rentan sekarang mungkin tidak sama dengan apa yang membuat kita rentan di masa depan atau di masa lalu. Kita selalu melalui perubahan dalam hidup, bertemu dengan orang baru, bahkan mengalami rasa sakit atau kekecewaan yang bisa membuat kita menjadi rentan. Kerentanan kita tidak pernah lepas dari orang lain. Kerentanan kita memiliki aspek sosial.

Kerentanan menurutku juga adalah suatu proses, yang berarti memiliki bagian awal, tengah dan akhir. Aku rasa apa yang membuat kita merasa rentan tidak selamanya sama sepanjang hidup. Akan ada akhirnya. Kita bisa memilih untuk keluar dari apa yang membuat kita rentan, tapi itu tidak berarti bahwa kita tidak akan pernah menemukan kerentanan yang sama atau yang berbeda di masa depan. Seberapa lama kita akan merasa rentan atau sebagaimana cepat kita mampu keluar dari perasaan rentan tersebut bergantung juga pada seberapa banyak dukungan yang kita terima dari orang lain dalam bentuk – dan di sinilah kita kembali ke awal lingkaran – rasa cinta dan diterima, kedua aspek kelayakan yang dikatakan oleh Brown.

Topik kerentanan ini sangat menarik bila dikupas, tetapi memang kompleks. Apa yang saya bahas di atas hanya sebagian kecil saja dari lebih banyak aspek lagi yang menjadi bagian dari topik kerentanan. Banyak hal-hal lain yang menjadi bagian dari pengulasan kerentanan, seperti misalnya rasa malu dan takut. Aku menyadari setelah menulis esai ini bahwa ketika kita menghadapi momen rentan, apakah itu karena kita berhadapan dengan suatu situasi, bertemu orang-orang baru, atau mengalami perubahan dalam kebutuhan dan prioritas hidup kita, semuanya itu sebenarnya adalah berkat dan karunia. Berkat karena memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan suatu perubahan, untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih baik, selama kita bisa melawan dan mengatasi rasa malu dan takut yang mempengaruhi kita untuk menolak merasakan kerentanan tersebut dari awal. Di bagian akhir videonya, Brown mengatakan hal berikut tentang kerentanan, “… bahwa [kerentanan] sebenarnya merupakan tempat kelahiran sukacita, kreativitas, perasaan diterima dan menjadi bagian dari sesuatu, dan cinta.”

Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang membuat kita merasa rentan? Siapa yang membuat kita rentan? Apa ketakutanmu? Kerapuhan?

 

Advertisements

Gembala Beraroma Domba: Sebuah Refleksi Singkat

Kerendahan hati tidak hanya dibutuhkan untuk melayani. Kerendahan hati ternyata juga dibutuhkan saat belajar sesuatu yang baru, saat kemampuan kita untuk mengakui betapa masih banyak yang belum kuketahui dan masih banyak yang perlu dibenahi. Ini terbukti dalam 5 hari terakhir ini.

Sebagai peserta lokakarya mengenai kepemimpinan Paus Fransiskus dalam memimpin Gereja Katolik, pengetahuanku, pemahamanku, kesadaranku, kerendahan hatiku, semuanya ditantang oleh Paus Fransiskus. Kami peserta yang terdiri dari romo, suster, frater, bruder, dan beberapa kaum awam, termasuk saya sendiri, mendengarkan dan meresapi apa yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Lokakarya diberikan oleh Romo Kris, seorang romo Jesuit, di tempat retret Girisonta, Jawa Tengah (dekat Semarang).

Isi tulisan ini tidak bermaksud untuk menyimpulkan apa yang sudah dipelajari dalam 5 hari terakshir ini, tetapi untuk merefleksikan beberapa bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul dalam 5 hari terakhir ini.

Pemikiran awal yang sempat muncul di benakku pada hari pertama adalah sebagai berikut. Paus Fransiskus adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Sejak awal, saya sudah sudah memperhatikan sepak terjangnya, dan semakin lama semakin meningkat kekaguman itu. Terus terang saya kagum akan keberaniannya, terutama keberanian untuk menampilkan sesuatu yang baru, untuk membuka jalan, dan tidak takut akan pendapat orang lain–sesuatu yang saya mengalami kesusahan sejak dulu. Beberapa tindakan yang sudah beliau lakukan dan diberitakan di media massa dalam bentuk video ataupun tulisan yang kebetulan saya dapatkan, sudah saya lahap habis semuanya, walaupun semua itu ternyata terbahas ulang lagi di lokakarya ini. Paus Fransiskus bukan hanya tokoh yang saya kagumi, tapi sudah ada sedikit bagian dari diriku yang mengidolasikannya. Saya menyadari pemikiran itu sedikit berbahaya, tapi sebelum mengikuti lokakarya ini, itulah pandangan awalku mengenai beliau. Dengan demikian, salah satu pemikiran yang muncul di benakku di awal lokakarya sebenarnya adalah, bisa dikatakan, suatu bentuk kekawatiran. Kawatir mengenai apa? Kawatir akan mendapatkan pengetahuan mengenai kelemahan-kelemahan dari Paus Fransiskus, pahlawanku, my role model, sehingga akan mengurangi rasa kekaguman saya terhadap beliau. Sebagaimana bentuk kekawatiran-kekawatiran lainnya, kekawatiran yang ini ternyata tidak memiliki landasan yang tepat. Semakin berjalannya lokakarya saya malah makin menyadari betapa manusiawinya beliau, dan itu malah makin menambah rasa hormatku pada beliau.

Akan tetapi, hari ini, di tengah-tengah kelas lokakarya, saya menemukan suatu pemikiran baru. Ternyata, ada suatu bentuk ketakutan lain. Ketakutan mungkin suatu kata yang terlalu kuat. Ini bisa lebih tepat dikatakan kekawatiran juga. Kekawatiran yang baru ini lebih mendalam lagi, tapi baru saya temukan hari ini. Kekawatiran itu tidak lain adalah mengenai diri saya sendiri, bahwa bukan hanya kenyataan mengenai (the truth about) Paus Fransisku yang saya temukan, tapi juga kelemahan, kekurangan, dan kemiskinan saya sendiri.

Hari ini, saya disadarkan mengenai my own humility, kerendahan hatiku sendiri. Aku diingatkan oleh Tuhan Yang Maha Rahim, melalui Romo Kris sebagai narasumber dan melalui contoh-contoh tindakan dan perkataan Bapak Paus Terkasih bagaimana masih miskinnya saya dalam hal pemahaman diri saya sendiri. Betapa masih miskinnya saya dalam hal kerendahan hati. Betapa masih miskinnya saya dalam hal pendalaman iman dan dalam hal pelayanan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Masih banyak tindakan-tindakan baru yang perlu saya lakukan. Hidupku sendiri masih semrawut dan perlu dibenahi untuk supaya saya bisa melayani orang-orang di sekitarku dengan lebih baik, giat, dan ikhlas, dan menjadi gembala yang mengenali domba-dombanya. Masih banyak yang belum aku lakukan.

Di satu sisi saya juga merasa agak sedikit bingung karena tidak tahu mau memulai dari mana, mau melakukan apa dulu yang pertama. Ada sedikit rasa gelisah juga karena semangat untuk berubah sudah muncul dari dalam diri tapi disertai dengan rasa bingung yang tidak tahu pasti ingin memulai dari mana. Tapi, saya cuma bisa mengingatkan diriku sendiri mengenai suatu pembelajaran dari hari ini. Lokakarya ini belum selesai. Masih ada sekitar 4 hari lagi, sehingga saya juga diingatkan dengan salah satu ajaran Paus Fransiskus, yaitu mempercayai proses, pelan-pelan saja, tidak perlu tergesa-gesa. Tidak ada rumus yang akan menuntun saya dalam melakukan apa yang perlu saya lakukan, tapi saya sebaiknya mengawali di suatu tempat dan berkembang dari situ. Ikuti prosesnya, resapi pengalaman itu. Hal yang penting untuk diingat adalah keluar dari zona nyaman sendiri, berani mengambil risiko dalam bertindak, dan mawas diri. Dalam hal apapun, selalu melakukan semuanya itu dengan kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa melayani dengan belas kasih. Itulah ajaran-ajaran yang saya camkan dari pembelajaran selama ini.

“Be a shepherd with the smell of sheep. ~Pope Francis.