Adalah Seorang Perempuan

Adalah seorang perempuan muda, seseorang yang berani dalam menghadapi hidup. Sebagai seorang perempuan muda yang berasal dari luar pulau, bisa saja caranya menerjang tantangan hidup tanpa ragu ini adalah caranya untuk bisa terus bertahan. Ia juga berani berbicara. Malah mungkin kadang susah untuk dihentikan saat ingin berbicara. Pembawaannya serius, agak sedikit berkesan keras dan tomboy-ish tapi juga lembut, suatu kombinasi yang indah menurutku. Anak muda yang pintar, punya kesukaan untuk membaca buku. Buku-buku seperti dilahap habis secara cepat olehnya. Buku menjadi bantal tidurnya, menjadi pendamping hampir kemanapun ia pergi. Sebagai anak sulung, mungkin satu-satunya anak perempuan, pembawaan yang tegas dan mandiri sangat membantunya dalam hidup merantau, jauh dari keluarga inti. Hampir tak ada yang bisa menghalangi langkah anak muda satu ini, sang srikandi pembawa perubahan, si aktivis muda yang berani dan lincah. Pasti banyak srikandi muda lainnya yang semodel dengan yang satu ini, tapi entah mengapa, dia menarik perhatianku. Hanya doa dan harapan yang bisa aku panjatkan buatnya karena dengan potensi yang seperti itu, dunia terbuka lebar buatnya. Ia tinggal memilih ingin berkarya di mana.

Adalah seorang perempuan yang masih muda, tapi dewasa dan matang dalam usia dan kepribadian. Wataknya keras, namun bisa sangat lembut dan hati-hati dalam bertutur kata. Ia berani berbicara, malah bisa dikatakan tipe yang tidak akan tinggal diam bila melihat suatu ketidakadilan terjadi di depannya. Semakin didesak, maka akan semakin terlihat keras kepalanya. Namun satu hal yang pasti, apapun yang ia lakukan, diawali dengan niat yang baik. Pukulan demi pukulan ia alami dalam hidup dan dunia pekerjaannya. Pengorbanan untuk melepaskan apa yang ia impikan untuk masa depannya dengan berat hati ia lakukan, demi orang-orang yang ia cintai. Pengorbanan itu sempat membuatnya terjatuh sebentar, tapi karena rasa tanggung jawab yang sangat besar, ia akhirnya bangkit lagi dan melangkah terus. Banyak kekecewaan, tapi banyak pula hal yang patut disyukuri. Wanita yang satu ini memang tahan banting. Pantang menyerah dalam struggle-nya mengatasi demand dalam dunia kehidupan sehari-hari adalah ciri khasnya. Dan disitulah juga letak keindahan wanita ini. Hidup yang penuh tantangan ia jalani terus dengan senyum di wajahnya.

Adalah seorang perempuan muda lagi, mungkin yang paling muda dalam kelompok cerita ini. Pembawaannya ceria, banyak berceloteh, seakan hidup itu ringan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa langkah-langkah itu ternyata membawa beban yang cukup berat baginya. Masa lalu diwarnai dengan banyak kekecewaan, pernah menjadi korban perisakan pula. Hidup baginya selama ini berfokus pada pencarian. Apa yang dicarinya? Tidak lain adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis setiap manusia, yaitu diterima, diinginkan, menjadi bagian dari suatu kelompok. Proses pencarian dan penerimaan sosial itu terus menghantarnya pada hempasan yang berulang-ulang, sehingga yang namanya jatuh bangun pun menjadi suatu normalitas. Setiap kali jatuh, gadis muda ini tidak pernah punya pegangan untuk membantunya mencerna apa yang telah terjadi dan bagaimana harus memperbaiki. Dengan berjalannya waktu, yang terbentuk adalah suatu kepribadian yang selalu menoleh ke dalam dan menyalahkan diri sendiri setiap mengalami kegagalan karena tingginya kebutuhan untuk diterima. Ia semakin sering dipersepsikan sebagai “aneh” walaupun aku lebih memilih kata “unik”; apapun namanya, persahabatan menjadi sulit bagi gadis muda ini. Barulah pada masa perkuliahan, ia berhasil menemukan sedikit demi sedikit dukungan untuk beradaptasi dan mengenali lebih dalam lagi dirinya sendiri. Perjalanan ke depan memang tidak otomatis menjadi mudah dan gadis muda inipun masih sering jatuh bangun, salah langkah, kadang masih menerka-nerka apakah jalan di depannya sudah benar. Akan tetapi, satu hal yang pasti, ia tidak pernah satu kalipun menyerah.

Adalah seorang perempuan yang sudah dewasa dalam usia dan kepribadian, sekitar usia dewasa madya. Mungkin aku perlu memanggilnya ibu. Ibu yang satu ini sebenarnya secara diam-diam adalah role model-ku. Ibu ini memegang peran yang sangat penting dalam pekerjaannya, pintar, berpendidikan tinggi, dan seorang pemimipin. Tekanan dari pekerjaan dalam sekitar 6 bulan terakhir ini bisa dikatakan sangat sangat tinggi. Saya memang tidak melihat Ibu ini bergulat menghadapi semua itu setiap hari, tapi barusan ini kami sempat bertemu dan bercakap-cakap. Tanpa kami sadari kami duduk bersama saling mendengarjan selama berjam-jam. Waktu sepertinya melayang begitu saja dalam percakapan kami. Kuperhatikan sahabatku yang luar biasa kuat dan tegar ini (walaupun dia mungkin tidak akan menyetujui bahwa dirinya tegar karena kerendahan hatinya) mengeluarkan isi hatinya dan aku tidak bisa membayangkan bila aku berada dalam posisinya. Trenyuh melihat dan mendengarkan kisahnya. Tapi sama seperti srikandi-srikandi yang sebelumnya, yang namanya ‘menyerah’ tidak ada dalam pikirannya. Sebaliknya, yang dia pikirkan hanyalah tanggung jawabnya sebagai seorang pemimipin dan orang-orang yang percaya dan bergantung padanya. Didorong oleh pemaknaan itu, ia berusaha sekuat tenaga mengalahkan semua pemikiran-pemikiran negatif yang menghampirinya, dibantu juga oleh iman yang kuat. Walaupun ada hari-hari tertentu yang lebih sulit dibanding hari yang lain, tapi Ibu ini terus melangkah keluar rumahnya setiap hari dan melakukan tugasnya. Setiap hari. One day at a time.

Adalah seorang perempuan tua, sudah lanjut usia. Ibu ini seorang ibu rumah tangga, tidak punya titel sarjana dan sejenisnya, tidak punya banyak keahlian selain keahlian seorang ibu rumah tangga. Ia sudah memasuki masa usia yang mestinya sudah perlu banyak istirahat. Akan tetapi, jangan berharap bahwa ia akan beristirahat. Tidak akan dan tidak bisa. Setiap pekerjaan di rumah masih ingin ia lakukan sendiri, walaupun sekitar 3 bulan yang lalu melalui suatu operasi besar. Ibu satu ini masih sibuk mengurusi banyak hal dan aktif di gereja. Ini adalah ibu yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam hidupnya, juga keras kepala, keras dalam pembawaan, tegar, dan berani, tapi sederhana dalam sepak terjangnya melakukan tugas. Tidak banyak yang bisa di-highlight dari ibu ini dalam hal keunikannya dibanding dengan perempuan-perempuan sebelumnya. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa saja. Tapi mungkin di situlah letak keindahannya. Dari suatu ketidakadaan, dari titik nol, dia bisa membuat suatu keberadaan yang patut disyukuri.

Cerita-cerita yang sangat singkat ini memang samar-samar, tidak lengkap, tidak jelas, karena wujud tokohnya tak bernama. Memang itulah tujuan penulisan ini. Mereka semua adalah wanita-wanita biasa, berdasarkan kisah nyata, tapi tak perlu bernama. Tua atau muda, ibu rumah tangga atau pekerja kantor, berpendidikan tinggi atau rendah, kaya atau miskin, tak peduli agama atau etnis mereka apa; siapapun mereka, mereka adalah orang-orang berharga, yang bergulat dengan seluk-beluk dan naik-turunnya jalan kehidupan setiap hari. Mereka adalah pahlawan, role-model dan sumber inspirasi yang bisa kita panuti. Mereka adalah buku berjalan, human books, penuh dengan cerita. Apakah kita sudah SIAP untuk mendengarkan cerita mereka?

Mereka adalah kartini-kartiniku.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2018

Advertisements

Gembala Beraroma Domba: Sebuah Refleksi Singkat

Kerendahan hati tidak hanya dibutuhkan untuk melayani. Kerendahan hati ternyata juga dibutuhkan saat belajar sesuatu yang baru, saat kemampuan kita untuk mengakui betapa masih banyak yang belum kuketahui dan masih banyak yang perlu dibenahi. Ini terbukti dalam 5 hari terakhir ini.

Sebagai peserta lokakarya mengenai kepemimpinan Paus Fransiskus dalam memimpin Gereja Katolik, pengetahuanku, pemahamanku, kesadaranku, kerendahan hatiku, semuanya ditantang oleh Paus Fransiskus. Kami peserta yang terdiri dari romo, suster, frater, bruder, dan beberapa kaum awam, termasuk saya sendiri, mendengarkan dan meresapi apa yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Lokakarya diberikan oleh Romo Kris, seorang romo Jesuit, di tempat retret Girisonta, Jawa Tengah (dekat Semarang).

Isi tulisan ini tidak bermaksud untuk menyimpulkan apa yang sudah dipelajari dalam 5 hari terakshir ini, tetapi untuk merefleksikan beberapa bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul dalam 5 hari terakhir ini.

Pemikiran awal yang sempat muncul di benakku pada hari pertama adalah sebagai berikut. Paus Fransiskus adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Sejak awal, saya sudah sudah memperhatikan sepak terjangnya, dan semakin lama semakin meningkat kekaguman itu. Terus terang saya kagum akan keberaniannya, terutama keberanian untuk menampilkan sesuatu yang baru, untuk membuka jalan, dan tidak takut akan pendapat orang lain–sesuatu yang saya mengalami kesusahan sejak dulu. Beberapa tindakan yang sudah beliau lakukan dan diberitakan di media massa dalam bentuk video ataupun tulisan yang kebetulan saya dapatkan, sudah saya lahap habis semuanya, walaupun semua itu ternyata terbahas ulang lagi di lokakarya ini. Paus Fransiskus bukan hanya tokoh yang saya kagumi, tapi sudah ada sedikit bagian dari diriku yang mengidolasikannya. Saya menyadari pemikiran itu sedikit berbahaya, tapi sebelum mengikuti lokakarya ini, itulah pandangan awalku mengenai beliau. Dengan demikian, salah satu pemikiran yang muncul di benakku di awal lokakarya sebenarnya adalah, bisa dikatakan, suatu bentuk kekawatiran. Kawatir mengenai apa? Kawatir akan mendapatkan pengetahuan mengenai kelemahan-kelemahan dari Paus Fransiskus, pahlawanku, my role model, sehingga akan mengurangi rasa kekaguman saya terhadap beliau. Sebagaimana bentuk kekawatiran-kekawatiran lainnya, kekawatiran yang ini ternyata tidak memiliki landasan yang tepat. Semakin berjalannya lokakarya saya malah makin menyadari betapa manusiawinya beliau, dan itu malah makin menambah rasa hormatku pada beliau.

Akan tetapi, hari ini, di tengah-tengah kelas lokakarya, saya menemukan suatu pemikiran baru. Ternyata, ada suatu bentuk ketakutan lain. Ketakutan mungkin suatu kata yang terlalu kuat. Ini bisa lebih tepat dikatakan kekawatiran juga. Kekawatiran yang baru ini lebih mendalam lagi, tapi baru saya temukan hari ini. Kekawatiran itu tidak lain adalah mengenai diri saya sendiri, bahwa bukan hanya kenyataan mengenai (the truth about) Paus Fransisku yang saya temukan, tapi juga kelemahan, kekurangan, dan kemiskinan saya sendiri.

Hari ini, saya disadarkan mengenai my own humility, kerendahan hatiku sendiri. Aku diingatkan oleh Tuhan Yang Maha Rahim, melalui Romo Kris sebagai narasumber dan melalui contoh-contoh tindakan dan perkataan Bapak Paus Terkasih bagaimana masih miskinnya saya dalam hal pemahaman diri saya sendiri. Betapa masih miskinnya saya dalam hal kerendahan hati. Betapa masih miskinnya saya dalam hal pendalaman iman dan dalam hal pelayanan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Masih banyak tindakan-tindakan baru yang perlu saya lakukan. Hidupku sendiri masih semrawut dan perlu dibenahi untuk supaya saya bisa melayani orang-orang di sekitarku dengan lebih baik, giat, dan ikhlas, dan menjadi gembala yang mengenali domba-dombanya. Masih banyak yang belum aku lakukan.

Di satu sisi saya juga merasa agak sedikit bingung karena tidak tahu mau memulai dari mana, mau melakukan apa dulu yang pertama. Ada sedikit rasa gelisah juga karena semangat untuk berubah sudah muncul dari dalam diri tapi disertai dengan rasa bingung yang tidak tahu pasti ingin memulai dari mana. Tapi, saya cuma bisa mengingatkan diriku sendiri mengenai suatu pembelajaran dari hari ini. Lokakarya ini belum selesai. Masih ada sekitar 4 hari lagi, sehingga saya juga diingatkan dengan salah satu ajaran Paus Fransiskus, yaitu mempercayai proses, pelan-pelan saja, tidak perlu tergesa-gesa. Tidak ada rumus yang akan menuntun saya dalam melakukan apa yang perlu saya lakukan, tapi saya sebaiknya mengawali di suatu tempat dan berkembang dari situ. Ikuti prosesnya, resapi pengalaman itu. Hal yang penting untuk diingat adalah keluar dari zona nyaman sendiri, berani mengambil risiko dalam bertindak, dan mawas diri. Dalam hal apapun, selalu melakukan semuanya itu dengan kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa melayani dengan belas kasih. Itulah ajaran-ajaran yang saya camkan dari pembelajaran selama ini.

“Be a shepherd with the smell of sheep. ~Pope Francis.