Aku dan Dunia Maya

Dunia maya, cyber world, dunia yang penuh misteri menurutku. Banyak hal yang biasanya tidak terjadi di dunia nyata, bisa terjadi di dunia maya. Manusia bisa terlihat berbeda di dunia itu, jauh berbeda dibanding di dunia nyata. Terlihat lebih segalanya — lebih cantik, tampan, keren, bahagia, berhasil, dan seterusnya. Pesan apa yang ingin manusia sampaikan ke seluruh dunia, cukup ditampilkan dalam sebuah foto yang saat diklik mampu menggambarkan pesan dan kesan yang diinginkan. Pesan itu bisa juga disampaikan dalam bentuk sebuah status tertulis di media sosial — status yang menggambarkan kepintaran, kecanggihan, kehebohan, keberhasilan orang itu. Aku rasa hampir semua orang yang dalam kehidupan sehari-harinya bersentuhan dengan dunia gadget pasti sudah mengalami ini, termasuk aku sendiri. Foto, status, video link, bahkan tulisan seperti inipun, I have been guilty as well.

Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasakan kemuakan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya mengenai dunia maya. Aku sudah merasa menjadi budak dari dunia maya, merasa menjadi bergantung pada dunia maya untuk bisa berhubungan dengan orang lain atau mengetahui keadaan dan keberadaan orang lain, dan itu membuatku sebenarnya tidak nyaman, terlebih lagi karena apa yang aku temukan di dunia maya itu ternyata sering tidak membuatku bahagia. Aku menjadi semakin tidak bahagia, semakin terikat. Dunia maya menjadi semacam “kebutuhan”, bukan lagi untuk sarana komunikasi atau for fun.

Mengapa bisa demikian? Banyak yang sudah aku refleksikan sendiri. Dunia maya telah membuatku menjadi hilang kepercayaan diri sebenarnya, menjadi tersesat, hilang arah atas apa yang sebenarnya aku inginkan. Bukannya membuatku menjadi stabil dan kuat, tapi malah menghancurkan rasa percaya diriku, memporak-porandakan fondasiku, membuatku mempertanyakan mengenai eksistensi diriku sendiri. Padahal, aku sendiri tahu bahwa tidak ada yang kurang mengenai diriku. AKU CUKUP. I am good enough. Cukup dalam segala hal, termasuk tidak ada yang salah dengan kekuranganku. Tapi level “tahu” memang tidak sama dengan level “sadar”. Aku menyadari bahwa dunia maya telah membuatku membandingkan diriku dengan orang lain, kemudian menyalahkan orang lain atas kekuranganku. Dan apa hasil dari semua itu? Tidak lain adalah kepercayaan diri yang semakin terpuruk.

Aku memutuskan akhirnya untuk beristirahat dari beberapa media sosial untuk mencoba mencari diriku lagi. Facebook aku deactivate. Instagram tidak bisa aku tutup karena tidak tahu bagaimana caranya, tapi akun itu sudah menjadi ghost account karena sudah tidak bisa di-manage lagi. Username dan password sudah tidak aku ketahui lagi. Hilang, gone. Siapapun yang menjadi temanku di Instagram masih bisa melihat semua foto, tapi aku sendiri sebagai pemiliknya tidak bisa lagi mengatur dan mengakses semua foto-foto itu. Tapi tidak apa. Ini semua adalah bagian dari latihanku untuk berhenti…tapi sebenarnya berhenti melakukan apa?

Pertanyaan itu membawaku ke pertanyaan berikutnya yang sempat aku renungkan lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan akses ke Facebook dan Instagram, yaitu apa sebenarnya yang kita cari di media sosial? Apa yang kebanyakan manusia cari dari tempat-tempat semu dan palsu seperti itu? Aku katakan palsu karena semua itu adalah image, dan ada agenda tersembunyi (atau tidak tersembunyi) di balik pemajangan foto dan status itu. Ada tujuan di baliknya. Bahkan akun Facebook milik pemimpin negara dan gubernur Jakarta pun yang aku percaya tidak palsu, punya tujuan dan agenda mengapa menunjukkan gambar dan pesan tertentu. Tidak ada yang salah atau palsu dengan itu karena itu adalah suatu bentuk promosi dan penyampaian pesan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa merekapun punya tujuan. Dengan kata lain, apapun yang ditaruh di media sosial punya agenda, dan apakah kita semua sudah mewaspadai itu?

Akun yang aku maksudkan di atas adalah akun yang mempunyai tujuan yang jelas, pesan yang jelas dan membawa pesan positif. Banyak sebenarnya akun-akun seperti itu, dan itulah sebenarnya tujuan asli dari mengapa media sosial dibentuk, yaitu untuk memberikan suatu pesan positif secara cepat dan luas, dan untuk membentuk jaringan dengan orang-orang lain yang sepemahaman dan sekiranya dapat membantu usaha itu. Namun yang akhirnya membuatku sangat muak akhir-akhir ini adalah banyak sarana media sosial sudah tidak membantuku lagi secara personal untuk menjadi lebih baik. Aku juga sudah muak melihat berita-berita yang muncul yang hanya menimbulkan perasaan, pemikiran dan tindakan yang bersifat negatif. Aku muak melihat orang-orang yang bukannya menyampaikan pesan positif, tapi akhirnya hanya menyampaikan pesan negatif. Aku muak dengan orang-orang yang memakai sarana media sosial untuk mempromosikan diri sendiri dan sudah tidak memberikan dampak positif lagi bagi lingkungannya. Tidak ada lagi pesan positifnya, tidak ada lagi fungsi positif bagi keluarganya atau masyarakat sekitar. Kontennya hanyalah murni mengenai diri sendiri. Untuk apa? Apa yang mereka cari dengan perilaku itu? Sudah begitu miskinnyakah kita manusia dengan memberikan dan mendapatkan perhatian di dunia nyata sampai kita harus lari ke dunia maya untuk memberikan perhatian dan mendapatkan perhatian? Sudah sedemikian terputus-putusnyakah kita manusia dalam relasi sosial kita sehingga kita harus lari ke dunia maya untuk mendapatkan semacam perasaan “terkoneksi” dan “eksistensi”? Apakah dunia maya jawaban dari kehampaan dalam diri kita?

Dan bagaimana dengan kita yang lainnya yang ikut turun tangan untuk membuat dunia maya itu semakin heboh, semakin negatif dengan berapa klik “like” yang kita berikan terhadap foto, status, berita di dunia maya yang sudah tidak membangun lagi? Apanya yang membangun dari foto seseorang yang memperlihatkan foto close-up wajahnya dari segala sudut pandang, atau foto yang memperlihatkan hampir sebagian besar kulitnya, tapi semua foto-foto itu tidak ditunjukkan dengan tujuan mempromosikan suatu barang (seperti misalnya seseorang dengan profesi sebagai foto model yang bekerja untuk mencari uang dengan meminjamkan wajah dan tubuhnya untuk penjualan suatu alat). Tidak, foto-foto itu memang sengaja dipajang untuk mempromosikan diri sendiri. Memang benar melakukan semua itu adalah hak orang itu, tapi sudahkah kita bertanya apa pentingnya ini bagi orang lain? Sudah sedemikian dangkalnyakah kita dengan berlomba-lomba mempromosikan diri kita, tapi tanpa tujuan yang jelas selain untuk kepuasan diri semata? Kemudian, peran kita yang lainnya yang melihat itu apa? Kita semua yang hidup di dunia maya punya peran, dan peran itu kadang bisa semudah meng-klik saja. Suatu gerakan tangan yang kecil sebenarnya, tapi percayalah, dampaknya bisa tinggi karena kita ikut membantu menjual promosi diri orang itu, yang sebenarnya menurutku adalah sesuatu yang salah secara etika hidup. Apa tanggung jawab kita? Dan bagaimana dengan berita dan status terkait dengan politik akhir-akhir ini misalnya? Para partisipan dunia maya berlomba-lomba ingin mengatakan sesuatu untuk itu. Komentar beterbangan di sana-sini, semuanya punya pendapat sendiri-sendiri dan berani untuk membeberkannya. Tapi hampir semua komentar itu lupa akan 1 hal: pemahaman dan pertanggungjawaban atas apa yang dikatakan dan dilakukan di dunia maya. Kan gampang? Bisa bersembunyi di balik akun, di balik komputer. Tidak perlu pertanggungjawaban, tidak perlu susah-susah, semuanya bisa dilakukan di rumah saja. Tapi tindakan itu sudah membantu menyebarkan sesuatu yang negatif.

Apa yang sebenarnya kita cari di dunia maya? Apa yang kita ingin dapatkan dari dunia maya? Sementara itu, yang kita miliki di depan, di samping kita, di sekeliling kita, disia-siakan karena perhatian berfokus kepada dunia maya. Aku tidak bisa menjawab bagi orang lain. Bagiku sendiri, secara jujur yang aku cari di dunia maya dulu adalah eksistensi juga, ingin dilihat, mencari afirmasi atas keberadaan dan kemampuanku. Anehnya, hasilnya tidak seperti yang aku bayangkan. Pertama, ada semacam rasa ketidakpuasan yang mengikuti, seperti ingin lebih lagi, ingin mendapatkan lebih banyak klik like, ingin lebih banyak komentar untuk tulisanku, pokoknya lebih lebih lebih. Kedua, bukannya menjadi lebih baik, aku malah menjadi lebih terpuruk, berjalan mundur. Kreativitas dan keaktifanku berkurang, rasa percaya diriku menurun, dan sayangnya, pengetahuanku tidak bertambah. Aneh bin ajaib.

Bila aku berefleksi lebih dalam lagi, aku mencari jawaban apa yang aku inginkan di hidup ini dari tempat yang salah. Aku mencarinya ke luar (eksternal) dan bukannya ke dalam (internal).

Mari, teman-teman, kita berefleksi lagi dengan tujuan kita menggunakan dunia maya. Bila kita bisa menyadari bahwa kita tidak menjadi budak dalam penyampaian pesan-pesan negatif atau membantu orang lain untuk menjadi budak juga dalam ketergantungan mereka untuk eksis di dunia maya, maka teruslah menggunakan media sosial. Bila kita sendiri tidak menjadi bergantung pada dunia maya untuk mencari eksistensi diri sendiri dan melupakan orang-orang di sekitar kita yang jauh lebih berarti, maka teruslah menggunakan media sosial. Saya menyimpulkan bahwa dunia maya bisa berbahaya, bisa menghancurkan hubungan relasi di dunia nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memang bisa mendekatkan dua orang yang berjauhan tempat tinggalnya, asalkan dengan catatan bahwa penguatan dengan teman jarak jauh itu tidak mengorbankan relasi dengan orang yang dicintai. Mari kita lebih bijak menggunakan media sosial.

Untukku sendiri, aku memilih untuk berhenti sejenak dari beberapa media sosial. Whatsapp dan Line masih aku pertahankan karena tujuan pemakaian dua sarana itu adalah untuk komunikasi terkait dunia kerja. Kalaupun suatu hari aku muak dengan dua sarana itu dan menghentikannya sejenak, aku rasa orang-orang yang dekat denganku tahu bagaimana cara mencapaiku, yaitu dengan menggunakan sarana tempo doeloe, jaman purbakala, yang sudah jarang digunakan…

…menelpon.

Antara Mengetahui, Memahami, dan Menyadari

IMG_20170128_142612_953.jpg

 

Pada akhir pekan ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tangan para malaikatnya untuk menemukan banyak pemahaman baru. Salah satu pemahaman baru itu adalah perbedaan antara mengetahui, memahami, dan menyadari, dengan mengetahui sebagai level yang terendah dan menyadari sebagai level kognitif yang tertinggi. Bila bertanya pada kamus Bahasa Indonesia, ketiga kata itu mungkin bisa menjadi sinonim antara satu dengan yang lain. Misalnya, kita bertanya pada Oom Google apa sinonim dari mengetahui, maka kata-kata yang akan muncul salah duanya adalah memahami dan menyadari. (Silakan dibuktikan sendiri).

Selama 3 bulan terakhir, saya menggumuli suatu kenyataan mengenai diriku yang menurut pemikiranku sebelum saya memulai pergumulan ini adalah sesuatu yang sudah selesai saya gumulkan dan gulati sampai jatuh bangun, keringat basah kuyup, babak belur selama bertahun-tahun dalam perjalanan hidupku. Oh, betapa dangkalnya pemikiranku. Ternyata, kenyataan yang pikirku sudah tuntas itu belum selesai. Paling tidak belum selesai sepenuhnya. Pada akhir pekan ini, Tuhan membimbing saya untuk menyadari bahwa level proses perubahan di pemikiranku itu mungkin hanya mencapai level memahami saja — belum sampai pada level menyadari. Kalau level mengetahui itu ibarat membaca suatu kutipan kata-kata mutiara yang sering kita lihat akhir-akhir ini di media sosial dalam bentuk foto atau gambar yang disertai dengan kata-kata yang membuat kita kagum dan menggumamkan, “Oh, bagus ini” sehingga tergeraklah jari kita untuk memencet Like di bawah foto itu, memahami atau mengerti itu adalah pemahaman yang menggerakkan kepala kita untuk manggut-manggut karena kita mampu mengaitkan apa yang kita baca itu dengan dunia sehari-hari kita. Mungkin saat membaca kata-kata itu kita mengingat suatu kejadian yang kita lihat atau alami, sehingga tergeraklah hati kita untuk men-sharingkan kata dan gambar itu di wall media sosial kita juga. Akan tetapi, sudah benar-benar sadarkah kita mengenai arti kata-kata itu? Akan menimbulkan perubahankah dalam hidup kita sekarang sesudah membaca kata-kata itu?

Menyadari dalam arti yang sesungguhnya bagi saya adalah saat seperti tertampar. Hari ini dan kemarin, wajah saya ditampar oleh suatu kesadaran yang bukan hanya membuatku manggut-manggut saja, tapi juga malu. Iya, malu. Malu karena baru menyadari betapa selama ini saya sudah mengetahui dan memahami semua yang baru saja saya sadari, tapi membutuhkanku waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) untuk akhirnya sampai pada tahap hidupku sekarang di mana aku baru bisa menggabungkan semua yang sudah aku dapatkan menjadi SATU pemahaman keseluruhan. Menurutku, inilah yang namanya level KESADARAN. Sadar sepenuhnya tanpa ada lagi keraguan, kebohongan terhadap diri sendiri, ketidakpastian, penyangkalan. Kesadaran dalam arti melihat keseluruhan kehidupanku dan diriku sendiri tanpa ada batasan lagi. Menelanjangi diriku sendiri, sampai semua bagian dari kepribadianku, tabiatku yang jelek, yang tidak kusukai, yang memalukanku, yang menghantuiku, kulihat semua. Tak ada lagi pembatas. Tak ada lagi denial, atau benteng-benteng yang lain. Ini adalah kesadaran yang tidak lagi membuat kita menunggu untuk kapan akan memulai perubahan. Ini adalah kesadaran yang dapat membuat kita segera melakukan tindakan untuk memulai perubahan. Agak sedih juga sebenarnya saat menyadari bahwa semua perjalan hidupku sampai ke tahap menyadari ini “hanya” membutuhkanku 44 tahun saja šŸ˜€ Yah, tapi lebih baik 44 tahun daripada tidak sama sekali.

Apa itu yang aku sadari bukan fokus dari tulisan ini. Setiap individu mempunyai “apa” yang perlu disadari. Bagian “apa” ini akan berbeda-beda antara satu sama lain. Bagian yang mau saya fokuskan adalah mengenai “bagaimana”. Yang pertama, seperti yang sudah saya lukiskan di atas, ini bisa dimulai dengan mencoba membayangkan seseorang yang sudah jatuh bangun beberapa kali, babak belur, dan keringat membasahi tubuhnya setelah berlari ke sana dan ke mari selama bertahun-tahun tanpa tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dikejar, dan akhirnya merasakan lelah yang luar biasa. Beberapa dari kita manusia di dunia ini mungkin sudah sangat beruntung untuk pernah mengalami skenario di atas. Berbahagialah dan bersyukurlah sudah pernah mengalaminya karena hanya dengan dorongan yang seperti itu — dan disertai keinginan dan harapan untuk teruas bertanya dan mencari dengan meminta bantuan Tuhan — saya yakin suatu saat kita akan sampai pada tahap menyadari ini. Dengan kata lain, jalannya mungkin akan panjang dan berliku, tapi dengan iman dan keinginan untuk mau selalu menjadi lebih baik lagi, semuanya akan ada waktu dan tempatnya untuk sampai ke tempat yang Tuhan sudah sediakan buat kita.

Yang kedua, ternyata selama ini saya tidak pernah sendirian. Kalau saya perhatikan secara seksama, Tuhan sudah menyediakan malaikat-malaikatnya untuk menemani dan menuntunku. Hanya saya yang buta selama ini. Waktunya juga tepat untuk kapan malaikat-malaikat itu datang dan masuk ke dalam hidupku. Saya yang belajar bahwa kehadiran malaikat-malaikat yang berwujud manusia itu memang datang tanpa saya sadari dan campur-tangan mereka juga terjalin dengan alaminya tanpa saya sadari. Itulah indahnya hidup ini menurutku. Semuanya diawali dengan ketidaksadaran, dan saat kita sampai pada tahap kesadaran, luar biasa tamparan itu. Kejutan itu memang mengagetkan, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang indah. Bagaikan mendapatkan hadiah yang selama ini kita impikan dan sekarang hadiah itu tiba-tiba ada di hadapan kita. Surprise!

Bagian “bagaimana” untuk sampai ke tahap kesadaran inilah yang menurutku sangat indah. It was worth it to wait all this time, to hope all this time. Jangan menyerah dalam harapan untuk bisa sampai pada tahap menyadari ini. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

Hello

Hello.
Hello to you walking in the garden. What a nice day to take a walk, isn’t it? Please give my regards to the grass under your feet, to the birds singing above you, to the bench you’re sitting on, and to that crispy air of January. Better keep your sweater on, sir. It’s still quite chilly out there. By the way, love that bike!

Hello.
Hello to you with coffee in your hand. My oh my, the pile is high, my friend. My sympathy to you. Looks like you need that cup of bliss. Have you been having enough rest? Don’t forget to go home. Your loved ones miss you. And don’t forget to smile to them, bro. Oh, and nice coffee. Can smell it from out here. Arabica isn’t it?

Hello.
Hello to you up there. It’s been so rare to see you lately. Something must be in the way for us to see you. Is it lonely there? What a burden it must be to carry on your shoulders. Oh forgive me, I mean what an honor it must be. All I know is that I miss you. Life has been pretty dark down here lately. Shall we dance? Yes, of course under you. So light us please. Stay wild!

Hello.
Hello to you, growling one. Look at you, how cute! Awww, and you know it too, don’t you? Catch! Oh, that is smart. Yeah? Again? Okay. Catch! That a boy! Now give me a five!

Hello.
Hello to you, tall ones. Nice shade you’re giving me. Feel that fresh air, thanks to you. I can feel all my senses are alive! Can’t help to feel at awe standing small underneath you. This is indeed a very humbling experience. So sorry we haven’t been giving you enough appreciation that you deserve. Instead, we’ve been taking advantage of you. How wrong have we been!

And hello.
Hello to you whom I really want to say hello actually. It’s been a while since I last heard your voice. What have you been up to? What I would do to hear your stories again, to be in your company. Has the world drowned you again? Life may beat you upside down again and you may fall, but prevail, my dear. Stay with me and I’ll stay with you. In there. Yes, inside you. You got it. I’ll be — where you need me.

 

extending-hand

**This writing has been inspired by a writing prompt about hello. The instruction was simple. Write a story or a poem that starts with “hello.” Got it!**

New Year’s Resolution

It’s the middle of January and I think it’s a perfect time to discuss about new year resolution, don’t you think? Have I started it? Checked! Have I struggled with it? Checked! Have I frustrated myself with it? Double-checked!

I usually don’t have a new year’s resolution. Not the type who follows it, actually. And the times when I did have one, they usually failed. But I think that is typical for a new year’s resolution. This time, I thought of starting one. It may sound simple and short, but it ain’t simple whatsoever, I can tell you that. I’m continuously reminded how difficult the process of doing it, maintaining it, and repeating it.

If I may reflect on the question why it has been difficult, the answer lies on the fact that my resolution involves other people. Even though it actually sounds like something that can be done alone, it doesn’t translate in real life situation as something that can be done alone. To successfully do it, I constantly will need other people. How so you may ask? I need other people by relating to them, making connection with them, reflecting on their response to me, hearing their feedback about me, and so on. And in doing so, I learn what I need to learn in order to accomplish my resolution.

I understand that this is a PROCESS. It needs time, and I may need more than a year to do this. This year just marks the beginning of me making a change in my life. Let’s hope that I can continuously do so. So far, the year 2017 has been going on for about three weeks, and I have been experiencing many ups and downs in relation to the new year resolution. I will continue to stick to it, no matter how painful it can be sometimes. God only knows how much I need to do this. Enough is enough with the past. I need to be better.

My new year’s resolution is short and straight-forward. My new year’s resolution is simple, but not so simple.

It is: To Love My Self Better.

love-myself-by-rudy-fransisco-2

 

Suara Kehidupan

Minggu pagi yang suram, segelap hati. Mendung, kelabu, tanpa ditemani sinar matahari yang biasanya menyapaku nyaring dari jendela kamar. Hanya air hujan yang tak kian berhenti menghantam bumi dengan gusarnya sejak subuh tadi. Hati ini mencari, walau tak yakin apa yang sedang dicari sebenarnya. Hanya mencari dan mencari saja yang akhirnya tidak membantu menyelesaikan rasa gelisah. Akhirnya aku memilih untuk duduk di depan laptop, menutup mata sejenak, dan mencoba meditasi.

Yah, meditasi. Sudah lama tidak melakukan ini. Hening, mencoba (dengan sangat) melepaskan pikiran-pikiran sampah busuk tadi. Pikiran-pikiran yang menjatuhkan, menyesatkan, menggelisahkan. Aku tidak butuh semua itu.

Anehnya, suasana sekelilingku bukanlah suasana yang kondusif untuk melakukan meditasi. Hari Minggu adalah hari untuk bersama keluarga. Tidak salah kan kalau aku berpendapat seperti itu? Mungkin aku saja yang tidak mengikuti tradisi itu karena situasiku, tapi tidak berarti orang lain tidak berhak melakukannya. Buktinya, tetangga belakang rumah sedari tadi sudah ribut dengan pekerjaan rumah tangga dan senda gurau mereka. Ada suara air berputar di dalam mesin cuci yang bertanding dengan suara guyuran air hujan. Ada suara anak kecil berteriak, mencari mamanya, diikuti dengan suara nyanyian dariā€¦mungkin kakak perempuannya? Lagunya aku kenal..sering dengar di radio, cuma tak tahu judul dan penyanyinya. Oh, dan ada suara burung berkicau juga, walaupun hanya dari dalam sangkar.

Ada suara seseorang yang sedang memasak, gemerincing suara piring beradu dengan sendok, kaki kursi terseret di atas lantai, dan sekali lagiā€¦teriakan girang seorang anak.

Semua suara itu kurekam di benakku, membawa senyum di pagi hari. Senyumku adalah senyum bahagia. Tak tahu kenapa. Senyum itu mestinya getir, bila aku ikuti suasana hatiku. Kali ini, tanpa aku sadari dari mana datangnya, aku merasakan ada suatu rasa keindahan saat aku benar-benar meresapi semua suara itu. Indah karenaā€¦itu adalah suara kehidupan. Suara harapan.

Walaupun kadang hidupku hening, tanpa suara, tidak berarti aku tidak mencari suara. Suara-suara itu hadir, tidak tanpa sebab. Kuteguk habis semuanya dengan lahap, karena tak tahu kapan lagi semua ini akan datang menemaniku. Kunikmati apa adanya semua yang akhirnya menginspirasi tulisan ini. Tidak rumit sebenarnya kalau ditelusuri lagi dari awal. Semuanya berawal dari suatu kegelisahan, tertuang dalam meditasi, terwujudkan dalam karya. Apa lagi yang harus kukeluhkan? Membuatku bertanya, adakah yang mengatur semua ini?

Sebentar, konsentrasi menulis lagi terusik. Intermission sejenak. Yang tadinya suara teriakanā€¦sekarang beralih ke tangis. Suara tangisan si anak sepertinya mendorong suara si ibu yang memanggil si anak, mencoba menghibur. Kemudian ada suara lain lagi, suara si kakak menjelaskan mengapa adik menangisā€¦dan seterusnya.

Ah, indahnya musik ciptaanMu, Tuhan. Sungguh, aku bersyukur.

Kurekam semua suara-suara itu, membawa senyum ke bibir, dan tak terasa, ada genangan air di sudut mata.

Terimakasih, Tuhan, aku masih engkau beri kehidupan.

 

combine-wallpapers-pack-16

The Night Dance

She asked me once,

Have you ever met emptiness? Did you talk to it? What does it look like? How does it make you feel?
Have you ever looked at loneliness in the eyes? Stared through those eyes? What do you see behind them?
Have you ever cried so hard ’til your chest hurts, but at the same time,
You knew there’s no point in crying?

Why so, I asked back,
And she answered,

Because the world is not curious about you
Why should the world bother?
Only loneliness listens
In a devoted way
And quietly

Then she turns and walks away,

…..

So life continues
Night then turns to dawn
And soon, comes the night again
Over time, she learns the steps by heart
And she dances her part humbly so, with grace

Gembala Beraroma Domba: Sebuah Refleksi Singkat

Kerendahan hati tidak hanya dibutuhkan untuk melayani. Kerendahan hati ternyata juga dibutuhkan saat belajar sesuatu yang baru, saat kemampuan kita untuk mengakui betapa masih banyak yang belum kuketahui dan masih banyak yang perlu dibenahi. Ini terbukti dalam 5 hari terakhir ini.

Sebagai peserta lokakarya mengenai kepemimpinan Paus Fransiskus dalam memimpin Gereja Katolik, pengetahuanku, pemahamanku, kesadaranku, kerendahan hatiku, semuanya ditantang oleh Paus Fransiskus. Kami peserta yang terdiri dari romo, suster, frater, bruder, dan beberapa kaum awam, termasuk saya sendiri, mendengarkan dan meresapi apa yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Lokakarya diberikan oleh Romo Kris, seorang romo Jesuit, di tempat retret Girisonta, Jawa Tengah (dekat Semarang).

Isi tulisan ini tidak bermaksud untuk menyimpulkan apa yang sudah dipelajari dalam 5 hari terakshir ini, tetapi untuk merefleksikan beberapa bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul dalam 5 hari terakhir ini.

Pemikiran awal yang sempat muncul di benakku pada hari pertama adalah sebagai berikut. Paus Fransiskus adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Sejak awal, saya sudah sudah memperhatikan sepak terjangnya, dan semakin lama semakin meningkat kekaguman itu. Terus terang saya kagum akan keberaniannya, terutama keberanian untuk menampilkan sesuatu yang baru, untuk membuka jalan, dan tidak takut akan pendapat orang lain–sesuatu yang saya mengalami kesusahan sejak dulu. Beberapa tindakan yang sudah beliau lakukan dan diberitakan di media massa dalam bentuk video ataupun tulisan yang kebetulan saya dapatkan, sudah saya lahap habis semuanya, walaupun semua itu ternyata terbahas ulang lagi di lokakarya ini. Paus Fransiskus bukan hanya tokoh yang saya kagumi, tapi sudah ada sedikit bagian dari diriku yang mengidolasikannya. Saya menyadari pemikiran itu sedikit berbahaya, tapi sebelum mengikuti lokakarya ini, itulah pandangan awalku mengenai beliau. Dengan demikian, salah satu pemikiran yang muncul di benakku di awal lokakarya sebenarnya adalah, bisa dikatakan, suatu bentuk kekawatiran. Kawatir mengenai apa? Kawatir akan mendapatkan pengetahuan mengenai kelemahan-kelemahan dari Paus Fransiskus, pahlawanku, my role model, sehingga akan mengurangi rasa kekaguman saya terhadap beliau. Sebagaimana bentuk kekawatiran-kekawatiran lainnya, kekawatiran yang ini ternyata tidak memiliki landasan yang tepat. Semakin berjalannya lokakarya saya malah makin menyadari betapa manusiawinya beliau, dan itu malah makin menambah rasa hormatku pada beliau.

Akan tetapi, hari ini, di tengah-tengah kelas lokakarya, saya menemukan suatu pemikiran baru. Ternyata, ada suatu bentuk ketakutan lain. Ketakutan mungkin suatu kata yang terlalu kuat. Ini bisa lebih tepat dikatakan kekawatiran juga. Kekawatiran yang baru ini lebih mendalam lagi, tapi baru saya temukan hari ini. Kekawatiran itu tidak lain adalah mengenai diri saya sendiri, bahwa bukan hanya kenyataan mengenai (the truth about) Paus Fransisku yang saya temukan, tapi juga kelemahan, kekurangan, dan kemiskinan saya sendiri.

Hari ini, saya disadarkan mengenai my own humility, kerendahan hatiku sendiri. Aku diingatkan oleh Tuhan Yang Maha Rahim, melalui Romo Kris sebagai narasumber dan melalui contoh-contoh tindakan dan perkataan Bapak Paus Terkasih bagaimana masih miskinnya saya dalam hal pemahaman diri saya sendiri. Betapa masih miskinnya saya dalam hal kerendahan hati. Betapa masih miskinnya saya dalam hal pendalaman iman dan dalam hal pelayanan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Masih banyak tindakan-tindakan baru yang perlu saya lakukan. Hidupku sendiri masih semrawut dan perlu dibenahi untuk supaya saya bisa melayani orang-orang di sekitarku dengan lebih baik, giat, dan ikhlas, dan menjadi gembala yang mengenali domba-dombanya. Masih banyak yang belum aku lakukan.

Di satu sisi saya juga merasa agak sedikit bingung karena tidak tahu mau memulai dari mana, mau melakukan apa dulu yang pertama. Ada sedikit rasa gelisah juga karena semangat untuk berubah sudah muncul dari dalam diri tapi disertai dengan rasa bingung yang tidak tahu pasti ingin memulai dari mana. Tapi, saya cuma bisa mengingatkan diriku sendiri mengenai suatu pembelajaran dari hari ini. Lokakarya ini belum selesai. Masih ada sekitar 4 hari lagi, sehingga saya juga diingatkan dengan salah satu ajaran Paus Fransiskus, yaitu mempercayai proses, pelan-pelan saja, tidak perlu tergesa-gesa. Tidak ada rumus yang akan menuntun saya dalam melakukan apa yang perlu saya lakukan, tapi saya sebaiknya mengawali di suatu tempat dan berkembang dari situ. Ikuti prosesnya, resapi pengalaman itu. Hal yang penting untuk diingat adalah keluar dari zona nyaman sendiri, berani mengambil risiko dalam bertindak, dan mawas diri. Dalam hal apapun, selalu melakukan semuanya itu dengan kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa melayani dengan belas kasih. Itulah ajaran-ajaran yang saya camkan dari pembelajaran selama ini.

“Be a shepherd with the smell of sheep. ~Pope Francis.