1496071315328.jpg

 

DailyPost at WordPress, thank you for what I thought a brave prompt: Detonate

Let’s celebrate life, love, art!

#prayfortheworld #prayforhumanity #prayforpeace

Advertisements

Detonation – A Haiku

Finding Home with Najwa Zebian’s Words

Finding Home Through Poetry by Najwa Zebian.

“The biggest mistake that we make is that we build our homes in other people” ~Najwa Zebian.

This is my story of how words of a stranger can leave a mark on our soul, forever changed us. In this case, her words changed me to become better. I saw Najwa Zebian’s video a while ago on Instagram, and the first time I saw it, her words spoke to me immediately. Ever since I made a vow to write more (and if possible, daily), I knew that I would go back to her words again and blog it. The talk is about finding “home,” but not home as a ‘building’ or a house. It’s about finding our emotional home, a spiritual one.

I had to think hard about the true meaning of “building homes in other people” by connecting them into my own journey. I had to ask myself hard questions,

“Why do I keep on failing in relationship? Where in that relationship when I started to go down the wrong path, made a wrong turn, and then got lost? What were my expectations, and because I kept on failing, were my expectations always wrong then this whole time?”

Home. I keep going back to that word too.

“Have I been building homes in wrong places? If I am not supposed to build it in other people, where should I be building it?”

When I watched that video for the first time, I already knew the answer of where to build it. Mawlana Jawaharlal Rumi put it so well when he said (translated into English): “I searched for God and found only myself. I searched for myself and found only God.” God and I have never been separated throughout my life. I just pushed Him away many many times when I failed to build my home in Him. I should have built my first home there a long time ago. Better late than never reached this point.

Building my home in God is something that I continue to do. In that case, I should probably ask myself whether I am done then? I did, and I thought the answer was yes, but I still found myself still tripping over stones, falling down on my face. If building home in God is enough, then why I still got lost?

I think my work with God will not be enough if I, myself, have not put a lot of thought and effort to harvest the fruit of my faith. In other words, I have to build a home inside of me too —  me as my home —  in order to complete my home. Mind you, this part is the tough one. Several questions came to me, and they are not easy to answer.

  • Can I be comfortable in my own skin, with all of me? Strengths and fragility?

 

  • Can I rely on myself to make me stronger? Be my own cheerleader in times of strain, with God as my support?

 

  • Can I love myself that much? Love me enough so that I can call my “inner self” as home? Love me enough so that I can feel happy and comfortable when I am alone?

 

  • Can I forgive myself, especially after what I’ve done…to him? To them in the past?

 

These are all questions that I have to contemplate, on my own, in my own time, at my own pace. I need not hurry in doing it, just as along as I do it. Thank you, Najwa, for opening my eyes. It’s my task now too find my own way home.

****

Let It Be

“It’s not a matter of letting go — you would if you could. Instead of “Let it go” we should probably say “Let it be.” ~Jon Kabat-Zinn.

What can I write after a 17-hour work day? Yes, you read it right. It’s one of those days. So then I went back into my previous Instagram postings and a quote caught my attention. It’s the quote above, about Let it go and Let it be.

It says basically that let it be is better than let it go. Well, I did both. I tried to do the let-it-be thing. Not working. So I did my best. I let go. And in that process of letting go, I think I learn to let it be.

The difference between let it go and let it be is actually very subtle. My take up on the difference is that to let it go means to have it done, finish, whereas to let it be doesn’t always mean that it is over. At the end of last week, I did a let-it-go. I took a decision to end a relationship. I did it once (or maybe more than once) before, and I regretted it. The relationship has been rocky, gone through many trials, challenges. But this time around, I didn’t regret it. I took it that it was for the best because I had truly completely felt lost, confused, trapped against a wall and could not go anywhere unless I did something drastic. I felt like I was going mad. I had to do something, and because I felt trapped , I could only did the one thing that came to my mind: I forced myself to break free. So I let go. It hurt so much on that day, it hurt the next day, and the day after, and continues.

But as the day goes on, I discover that the pain subsides. I realize that the anger, the blaming, the feeling sorry for my self, are slowly decreasing, getting lighter. It is possible too that my heavy schedule for the past few days are helping because it takes my mind away from my pain. But whatever it is that is helping me, I am thankful. It could also be that discovering yesterday about my friend who is having a difficult time has made me realize of how fortunate I am. I have plenty to be thankful for.

Like I said earlier, I think in the process of letting go, I found the path to let it be. Instead of surrendering to the idea of wanting to go back to the relationship and reaching out to him, I instead tried to let it be. Just let it be. Just let time takes care of it. Let God take control. I learn to leave it to Him. There’s no hurry. In this process of learning, I then remember another quote.

if it comes let it - if it goes let it

Image taken from quotesndnotes.tumblr.com

I don’t know what will happen in the future, but I give up on trying to think about it because it may invite pain to arrive at the door again. And also, because right now, my brain is quite tired. So good night, good day, world. I bid you adieu for now. Until tomorrow.

Akhir

20170511_171000-1.jpg

 

Kisah ini berawal di suatu hari yang cerah….

Kubuka dua hadiah pagi itu–kedua mataku
dan kaupun melangkah masuk
sadarkah kau tajamnya matamu telah membelahku, meniadakanku
jalanku berbelok arah mengikuti angin sejak itu

Kubuka sebuah hadiah lain pagi itu
juga dari Bapaku–untukmu
masih merah, mentah, tersentak bangun dari tidur yang panjang
terkoyak godaan sebuah keinginan, harapan

Namun sang pemimpi bertopengkan angan melawan kerapuhan
dengan berkendara waktu, berserah pada angin sebagai penentu arah
akhirnya terdampar di suatu tempat di mana lelah mencabik luka lama
dan mata pun mau tak mau berserah, tak lagi kuat

…..dan berakhir di suatu hari yang cerah juga.

Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Arti Hari Valentine

Sekali lagi, hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang telah tiba. Banyak harapan yang menggantung di udara hari ini, banyak impian, keinginan. Tidak semuanya akan terkabulkan, tapi aku berdoa semoga banyak yang bisa merasakan kebahagiaan pada hari ini. Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar mengerti arti hari Valentine dan mengapa hari ini menjadi hari yang ramai dirayakan?

Kita tidak usah membahas lagi mengenai siapa yang membuat hari ini ramai dan menjadi sekomersial ini. Aspek komersial dari hari Valentine ini mungkin tidak terlalu terlihat di Indonesia, tapi di dunia barat sana, ini adalah hari yang tidak bisa dihindari lagi keberadaannya. Setiap toko, supermarket, mall, sampai toserba kecil-kecilan semacam modelnya Indo Maret di luar sana pasti akan menunjukkan secara besar-besaran bahwa ini adalah hari Valentine sehingga tidak bisa dipungkiri lagi kenyataan bahwa hari yang dinanti-nantikan para pasangan dan hari yang dimimpiburukkan oleh para jomblo (guyon tok, jangan dianggap serius) telah tiba. Di Indonesia, untungnya, bagian ini masih belum seramai di negara barat. Malah dilarang di beberapa tempat karena dianggap membawa pengaruh buruk dan perilaku bebas bagi para kaum muda berdasarkan surat edaran yang sempat saya baca mengenai larangan merayakan hari Kasih Sayang di sekolah-sekolah di Indonesia.

Entah kenapa aku terfokus bukan pada pernyataan di surat edaran untuk melarang merayakan Hari Kasih Sayang, tapi terhadap kata-kata “Hari Kasih Sayang” itu. Saya sampai sekarang tidak bisa mengerti mengapa manusia sampai perlu menetapkan suatu hari khusus untuk memberikan dan menunjukkan rasa kasih sayang. Mengapa kita manusia merasa perlu ada hari khusus untuk diberikan ijin untuk melakukan sesuatu yang istimewa kepada orang yang dikasihi dan dicintai? Lantas apa yang kita lakukan di hari-hari yang lain? Aneh menurutku bahwa kita perlu suatu ALASAN, yaitu Hari Kasih Sayang atau hari Valentine, untuk menunjukkan kasih sayang kita. Setiap hari bisa kita tunjukkan kasih sayang itu melalui hal-hal kecil, melalui pemberian perhatian, waktu, energi kita bagi orang yang dikasihi.

Apa sebenarnya arti Kasih Sayang itu? Setiap orang mungkin punya jawaban sendiri-sendiri mengenai arti kasih sayang. Banyak waktu yang bisa habis terpakai untuk bertanya kepada orang mengenai arti dan definisi kasih sayang, tapi saya rasa itu cuma membuang waktu saja. Pertanyaan yang menurutku lebih tepat dan mengena adalah apa sudah kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita mengasihi seseorang? Menurutku itu lebih penting. Sudahkah kita memberikan yang terbaik dari waktu kita di dunia ini kepada orang yang kita kasihi itu? Tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk menunjukkan itu? Sudah benarkah kita selama ini dalam menunjukkan rasa kasih sayang itu dan bukannya menyia-nyiakan orang yang kita kasihi itu? Sudahkah kita menghargai orang itu dan apakah kita sudah menunjukkan dengan segala usaha bahwa kita menghargainya? Apa yang telah kita korbankan untuk menunjukkan bahwa kita menghargai orang itu? Pengorbanan — benarkah cinta kasih itu mengenai pengorbanan? Menurut para pembaca, bagaimana? Bila setuju, pengorbanan apa yang telah kita lakukan demi orang yang kita kasihi itu dan demi keberlangsungan hubungan kita?

Kasih sayang, menurut pendapat pribadi saya, adalah suatu perasaan, yang didasari oleh hubungan yang mana tercipta kedekatan dan kenyamanan yang kita alami dengan seseorang yang spesial, yang setelah berjalannya waktu (sehingga ada unsur familiaritas) akhirnya menghasilkan kepedulian dan kepekaan terhadap keadaan, keinginan dan kebutuhan orang itu. Terdapat unsur sosial dalam rasa kasih sayang. Kasih sayang bukan sesuatu yang disimpan di hati saja. Bila kita merasakan cinta dan kasih sayang kepada seseorang, secara alami timbul keinginan untuk menunjukkannya dan harapan untuk sesuatu tercipta — mungkin harapan akan adanya perasaan timbal balik dari orang itu. Bila tidak, kita sendiri yang akan merasakan konflik dalam batin kita, sehingga untuk mengatasi konflik batin itu, ada 2 pilihan yang bisa kita lakukan yaitu menunjukkan rasa kasih sayang itu, atau pilihan kedua, secara perlahan mematikan atau mengurangi rasa kasih sayang itu. Dengan kata lain, menyerah terhadap harapan yang masih ada. Ini mungkin terjadi karena si orang lain itu juga tidak memberikan kasih sayang sesuai keinginan kita, sehingga tidak ada motivasi untuk melanjutkannya. Kasih sayang, dengan kata lain, perlu dikeluarkan bila ingin berlanjut. Bila sudah tidak memungkinkan untuk berlanjut, rasa itu akan perlahan pudar. Di sinilah hubungan suatu pasangan akan mulai pecah karena unsur kepedualian dan kasih sayang itu sudah perlahan pudar. Demi keberlangsungan (survival) kedua belah pihak, keduanya perlu move on dan biasanya masing-masing akan mencari kasih sayang di tempat yang lain, apakah itu dari seorang pasangan hidup berikutnya yang kita pilih, atau dari teman, keluarga, dan siapa saja yang bisa memberikan kasih sayang demi keberlangsungan hidup kita. Manusia pada umumnya, secara alamiah, membutuhkan cinta kasih demi keberlangsungan hidupnya.

Dengan demikian, kasih sayang perlu pengorbanan, usaha, keberanian, dan kadang malah kreativitas juga supaya bisa terus hidup dan berlanjut. Kasih sayang tidak bisa dipaksakan, sehingga meminta seseorang untuk menunjukkannya saat orang itu belum siap atau tidak mau melakukannya, tidak ada gunanya. Kasih sayang perlu dipupuk untuk bisa berkembang terus, perlu diperhatikan. Bila tidak, saya rasa kasih sayang itu akan mati juga akhirnya, atau cuma satu pihak dari hubungan itu saja yang memupuknya dan lama kelamaan pihak itu akan kelelahan bila tidak ada timbal balik dalam hubungan itu sesuai dengan standar keinginannya. Tapi itulah indahnya hubungan cinta kasih. Ibarat timbangan tempo dulu yang dipakai untuk menimbang emas, kadang satu sisi akan kelelahan dan menjadi berat sebelah, sehingga sisi yang satunya perlu bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan timbangan lagi…dan seterusnya. Hidup suatu relasi menurutku seperti itu. Kedua belah pihak perlu bekerja sama dalam komitmennya supaya timbangan itu mampu terus seimbang. Komitmen itu, saudara-saudari yang aku kasihi, perlu dilakukan setiap hari, bukan hanya di hari Valentine saja.

Di akhir kata, mohon maaf, saya tidak merayakan hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Bila saya menyayangi seseorang, dan memang benar saya menyayangi dan mencintai seseorang yang spesial, saya tidak perlu hari Kasih Sayang untuk menunjukkannya. Kasih sayang itu bisa saya berikan kapan saja, dengan catatan: (1) Bukan cuma usaha dan waktu saya saja yang habis terpakai, (2) Orang yang saya sayangi dan cintai itu juga siap untuk membuka dirinya terhadap apa yang akan saya berikan karena saya tidak akan segan-segan untuk memberikannya (itulah kepribadian saya), sehingga bila mau menerima apa yang saya berikan, orang itu juga perlu siap menerima segala konsekuensi yang timbul dari komitmen yang bersifat timbal balik ini. Itulah relasi/hubungan cinta kasih yang matang, dewasa dan tidak takut terhadap komitmen.

***Selamat merayakan Cinta dan Kasih Sayang setiap hari***

To Love a Shadow

one day she ask, how to love
a shadow?
why you ask, I say
but she answer none

so then I offer these words,

don’t love a shadow
but find the light
the only one that could pull the shadow out from his cocoon
the one that dances with him, anytime
under the night canopy

don’t love a shadow
but find its master
the one with a face and eyes

stare into those eyes
shine light on them
find what you’re looking for
and if you find it
then you can love the shadow

why the question, I ask again,

because on some days
shadow is the only one I have, said she

Cinta itu Tai Kucing (?)

Apa sih sebenarnya cinta itu? Sudah terlalu banyak tulisan, cerita, puisi, lagu yang dibuat untuk mendeskripsikan apa itu cinta, dan ini hanyalah satu tulisan tambahan lagi mengenai topik lama tapi favorit ini.

Kali ini perspektif cinta datang dari pembicaraan antara kaum religius Katolik dan kaum awam. Percakapan khusus mengenai cinta ini terjadi dalam perjalanan lima orang dalam satu mobil menuju stasiun kereta api Tawang, Semarang. Kelompok terdiri dari 2 Romo, 1 Suster, dan 2 orang awam (saya salah satunya). Pembicaraan diawali dengan salah satu dari kaum awam di mobil (catatan: bukan saya!) menceritakan pengalaman hidupnya sebelum menjadi seorang suami. Tidak tahu bagaimana rinciannya tapi kemudian sharing itu berangsur menuju ke arah topik perkawinan dan cinta. Antara mendengarkan dan melamun sambil melihat pemandangan di luar jendela, sayup-sayup telinga ini menangkap kata-kata berikut: ‘cinta itu tai kucing’. Kata-kata itu sepertinya terlontarkan keluar begitu saja dan dalam tempo beberapa detik, suasana di dalam mobil yang tadinya tenang dengan hanya 1 orang saja yang berbicara untuk mengisi waktu perjalanan, tiba-tiba menjadi panas dan penuh dengan antusiasme saat 4 orang membuat keputusan untuk berbicara bersamaan. Lamunanku pun terpaksa terhentikan sejenak. Secara otomatis, tanganku bergerak untuk mengeluarkan handphone untuk merekam pembicaraan itu. Ada firasat muncul di benakku yang mengatakan bahwa pembicaraan sedang menuju ke arah yang…menarik.

Dan memang benar, pembicaraan yang berlangsung sekitar 10 menit itu menjadi SANGAT menarik.

Salah satu Romo, sebutlah Romo M, menunjukkan ketidakpuasannya mendengar istilah ‘cinta itu tai kucing’ dengan bertanya, “Jatuh cinta itu apa sih artinya?” yang kemudian dijawab secara spontan oleh yang lainnya.

“Terpeleset,” kata Suster.

“Jatuh itu ya…tibo (tibo=jatuh, dalam bahasa Jawa),” kata Pak K yang sebelumnya menginisiasi istilah kramat ‘cinta itu tai kucing’.

“Jatuh cinta itu adalah afeksinya,” kata Romo M menjelaskan. “Cinta yang sesungguhnya adalah komitmen dan tanggung jawab yang selama ini Bapak lakukan. Jadi tidak bisa dibilang cinta itu tai kucing.”

Setelah sekian panjang perdebatan bolak-balik antara kedua kubu yang awalnya terdengar seperti bertentangan, ternyata hasil akhir dari diskusi adalah kesadaran bahwa mereka sebenarnya sepaham kalau jatuh cinta itu berbeda dengan cinta. Kesepakatan akhir adalah bahwa bukan cinta yang tai kucing, tapi proses jatuh cintanya. Suster malah menambahkan bahwa bagi kaum remaja, tai kucing itu bisa terasa enak seperti coklat, sehingga timbullah istilah baru ‘tai kucing terasa coklat’ karena sedang jatuh cinta.

Yah, apapun cinta itu, mau tai kucing atau tai domba, mau rasa coklat atau stroberi, tidak masalah. Banyak makna yang bisa didapatkan dari pembicaraan di atas. Satu kesepakatan lain yang didapatkan kelompok adalah cinta itu sebenarnya mengenai komitmen, tanggung jawab, dan itulah seharusnya yang menjadi dasar dalam berkeluarga.

Pengorbanan. ‘Esensi cinta itu pengorbanan’ adalah hasil yang bisa saya petik dari diskusi hangat itu. Dalam pengorbanan kita harus berani mengambil langkah awal, keluar dari zona nyaman kita, mencoba sesuatu yang baru, dan menanggung risiko untuk terluka. Memang benar bahwa kadang dalam menjalani kehidupan sehari-hari bersama orang yang kita cintai, yang namanya afeksi itu tidak terlihat atau terperhatikan lagi. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh Pak K di awal pembicaraan, bahwa afeksi itu tidak penting dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. Tapi ada yang kurang tepat dalam pemikiran Pak K ketika ia menyamakan afeksi itu sebagai cinta, sehingga terlontar perkataan ‘cinta itu tai kucing!’. Pemikiran itu sudah dibenarkan di akhir diskusi.

Benar bahwa cinta itu jauh lebih mendalam dari hanya menunjukkan afeksi. Saya setuju dengan perkataan itu. Akan tetapi menurutku, memperlihatkan afeksi seperti dua orang yang masih saling jatuh cinta itu tidak ada salahnya. Malah saya akan mengatakan bahwa sikap itu diperlukan dalam suatu hubungan. Dalam menunjukkan afeksi terhadap pasangan, terjalin ikatan emosional antara dua orang, terjadi suka cita, timbul semacam kehangatan, keakraban. Saat afeksi mulai ditinggalkan, menurutku relasi itu menjadi kering. Kalau relasi antara dua orang itu diibaratkan sebuah tanaman bunga, tanaman itu bisa saja tumbuh dengan hanya disirami air. Air itu melambangkan hal-hal jasmaniah yang kita butuhkan setiap hari, seperti makanan, minuman, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan dasar yang membuat kita mampu untuk terus hidup, survive. Tapi andaikan kita bisa memberikan perhatian yang lebih bagi tanaman itu, misalnya secara rutin merawat akarnya, melap daun-daunnya, mempertimbangkan letak tanaman terkait sinar matahari, dan bahkan berbicara pada tanaman itu, saya yakin tanaman itu akan mampu tumbuh jauh lebih baik dibandingkan yang tidak diberikan perhatian lebih. Mungkin perbedaan bisa terlihat pada warna bunganya, tinggi tanaman, dan kesegaran daun.

Dalam hal hubungan antara dua orang yang saling mencintai, perhatian dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk hidup itulah air yang diberikan pada tanaman, dan perhatian dalam bentuk afeksi itu adalah pemenuhan kebutuhan psikologis yang menurutku mampu membuat siapapun berkembang menjadi jauh lebih indah lagi — sama seperti sebuah tanaman yang diberikan perhatian yang lebih dengan harapan orang itu bisa tumbuh dan berkembang sesuai kapasitas dan potensinya.

Topik cinta itu memang sangat dalam dan luas. Tulisan ini hanya melihat satu sisi kecilnya saja, terpancing oleh diskusi yang hangat dalam perjalanan menuju perpisahan bagi kami berlima di mobil itu. Kedengarannya seperti pembicaraan biasa, sepele, tapi bagiku hal-hal yang kelihatannya sepele itulah yang indah. Dan memang setelah memikirkannya lagi lebih mendalam, pembicaraan kecil itu terbukti menarik.

Tidak ada yang tai kucing mengenai cinta, atau jatuh cinta. Keduanya dibutuhkan. Masing-masing memiliki kekuatan sendiri. Cinta sejati dalam bentuk pengorbanan adalah salah satu bagian dari pembangunan kehidupan keluarga, tapi perilaku afeksi seperti dua orang yang sedang jatuh cinta bisa dikatakan yang membantu rumah itu untuk hidup, bergairah, indah, menyenangkan–tidak kering, membosankan.

 

What is to Forget?

Picture

Image is titled “Remind.her to remember” by sophiaazhou from DeviantArt.com

I responded to a writing prompt. It asked me to write two lists. The first list is about things that I want to forget. The second one is about things that I want to remember. Guess what, the results came back almost the same.

In order to get rid of memories involving people and situations that I want to forget, I would run the risk of deleting the same people and possibly situations that I want to keep in my memory too.

Why are we humans so complicated? We create this complicated wants, needs, hates, dislikes on our own. We continue to push ourselves to get something that we want, to chase something in order to feel happy, belonged, loved, but then let them go once we get tired of them. Therefore, we continuously create a dual-impact in every single person and situation that we come across. We love a person, then we hate that person. We need a person, then we push that person away. We strive to be part of a group, later we quit. We find ourselves in a bad situation, but then we learn from it and become a better person. We let go a person, then we desire that person again. We make a decision to move to another place, then we miss it. And so on. It’s a dance of life that we make into a perfection as we move along in life.

Why does it have to be a double perspective to every single thing that we go through? Why can it be much simpler. I hate complication, but I always find myself getting caught in one. Is there a lesson in all of these messes?


Picture

Image is titled “Remember Me Too” by laughsofgreed from DeviantArt.com

 

(a poem)

what does it mean to forget?
for a person who has seen the secret beauties of this world,
who knows how a rainbow frames the sky with its colors,
or that trees would wear their best autumn dress and
dancing until no more leaves are left on their naked limbs,
or when the sky sprinkles its first snow
coloring the ground in shiny white,
oh and what about the magnificent sunset,
the view that we tirelessly waited
day after day,
how can a person forget all of those?

when we no longer have what we used to have
shall we forget them then?
when we no longer want what we used to chase
shall we forget them too?
is it the same as letting go?
and will it always involve a goodbye?
how painful it must be then to let go
the more your heart insists to toss ’em,
the more it aches and
the more your mind frantically grabs to hold on,
it haunts you even in your waking dreams
like a nightmare, but a never ending one


but do you ever wonder why it’s so
damn hard to forget?

have you ever laughed so hard
that you happily wipe tears from your eyes?
have you ever excitedly anticipating something so delightful that you want to shout your joy to the world?
do you remember those…
…moments?
see, before there was pain, joy was there
before there was yearning, excitement was there
before there was loathing, love was there
hurt and happiness,
they come from one root

what then?
what should a person do?
begging the heart to stop?
force hope out of the head?
it is hope’s fault, you convince yourself
just make it die please, you whimper in your sleep
you’re so desperate for anything
any prescription that can
stop what you no longer want–
stop what was once desired
and would die for

my dear, you’re asking wrong questions,
you can’t stop the wheel that is already
in motion since the day you took your first breath,
you can’t throw what is already a part of you,
you can’t cut a thread
that is binding you to the memory,
have you ever wondered
perhaps
you are not supposed to forget?
you’re not allowed to pick what to forget
because that is the universe’s job,
not yours

your task is,
to learn to accept, that
to forget means to continue to remember,
and to deny it means to live in pain,
the past is a gift, a blessing,
so remember them,
accept them,
breathe,
live,
love!