Hope · Poem · Relationship

Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Love · Relationship

Arti Hari Valentine

Sekali lagi, hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang telah tiba. Banyak harapan yang menggantung di udara hari ini, banyak impian, keinginan. Tidak semuanya akan terkabulkan, tapi aku berdoa semoga banyak yang bisa merasakan kebahagiaan pada hari ini. Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar mengerti arti hari Valentine dan mengapa hari ini menjadi hari yang ramai dirayakan?

Kita tidak usah membahas lagi mengenai siapa yang membuat hari ini ramai dan menjadi sekomersial ini. Aspek komersial dari hari Valentine ini mungkin tidak terlalu terlihat di Indonesia, tapi di dunia barat sana, ini adalah hari yang tidak bisa dihindari lagi keberadaannya. Setiap toko, supermarket, mall, sampai toserba kecil-kecilan semacam modelnya Indo Maret di luar sana pasti akan menunjukkan secara besar-besaran bahwa ini adalah hari Valentine sehingga tidak bisa dipungkiri lagi kenyataan bahwa hari yang dinanti-nantikan para pasangan dan hari yang dimimpiburukkan oleh para jomblo (guyon tok, jangan dianggap serius) telah tiba. Di Indonesia, untungnya, bagian ini masih belum seramai di negara barat. Malah dilarang di beberapa tempat karena dianggap membawa pengaruh buruk dan perilaku bebas bagi para kaum muda berdasarkan surat edaran yang sempat saya baca mengenai larangan merayakan hari Kasih Sayang di sekolah-sekolah di Indonesia.

Entah kenapa aku terfokus bukan pada pernyataan di surat edaran untuk melarang merayakan Hari Kasih Sayang, tapi terhadap kata-kata “Hari Kasih Sayang” itu. Saya sampai sekarang tidak bisa mengerti mengapa manusia sampai perlu menetapkan suatu hari khusus untuk memberikan dan menunjukkan rasa kasih sayang. Mengapa kita manusia merasa perlu ada hari khusus untuk diberikan ijin untuk melakukan sesuatu yang istimewa kepada orang yang dikasihi dan dicintai? Lantas apa yang kita lakukan di hari-hari yang lain? Aneh menurutku bahwa kita perlu suatu ALASAN, yaitu Hari Kasih Sayang atau hari Valentine, untuk menunjukkan kasih sayang kita. Setiap hari bisa kita tunjukkan kasih sayang itu melalui hal-hal kecil, melalui pemberian perhatian, waktu, energi kita bagi orang yang dikasihi.

Apa sebenarnya arti Kasih Sayang itu? Setiap orang mungkin punya jawaban sendiri-sendiri mengenai arti kasih sayang. Banyak waktu yang bisa habis terpakai untuk bertanya kepada orang mengenai arti dan definisi kasih sayang, tapi saya rasa itu cuma membuang waktu saja. Pertanyaan yang menurutku lebih tepat dan mengena adalah apa sudah kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita mengasihi seseorang? Menurutku itu lebih penting. Sudahkah kita memberikan yang terbaik dari waktu kita di dunia ini kepada orang yang kita kasihi itu? Tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk menunjukkan itu? Sudah benarkah kita selama ini dalam menunjukkan rasa kasih sayang itu dan bukannya menyia-nyiakan orang yang kita kasihi itu? Sudahkah kita menghargai orang itu dan apakah kita sudah menunjukkan dengan segala usaha bahwa kita menghargainya? Apa yang telah kita korbankan untuk menunjukkan bahwa kita menghargai orang itu? Pengorbanan — benarkah cinta kasih itu mengenai pengorbanan? Menurut para pembaca, bagaimana? Bila setuju, pengorbanan apa yang telah kita lakukan demi orang yang kita kasihi itu dan demi keberlangsungan hubungan kita?

Kasih sayang, menurut pendapat pribadi saya, adalah suatu perasaan, yang didasari oleh hubungan yang mana tercipta kedekatan dan kenyamanan yang kita alami dengan seseorang yang spesial, yang setelah berjalannya waktu (sehingga ada unsur familiaritas) akhirnya menghasilkan kepedulian dan kepekaan terhadap keadaan, keinginan dan kebutuhan orang itu. Terdapat unsur sosial dalam rasa kasih sayang. Kasih sayang bukan sesuatu yang disimpan di hati saja. Bila kita merasakan cinta dan kasih sayang kepada seseorang, secara alami timbul keinginan untuk menunjukkannya dan harapan untuk sesuatu tercipta — mungkin harapan akan adanya perasaan timbal balik dari orang itu. Bila tidak, kita sendiri yang akan merasakan konflik dalam batin kita, sehingga untuk mengatasi konflik batin itu, ada 2 pilihan yang bisa kita lakukan yaitu menunjukkan rasa kasih sayang itu, atau pilihan kedua, secara perlahan mematikan atau mengurangi rasa kasih sayang itu. Dengan kata lain, menyerah terhadap harapan yang masih ada. Ini mungkin terjadi karena si orang lain itu juga tidak memberikan kasih sayang sesuai keinginan kita, sehingga tidak ada motivasi untuk melanjutkannya. Kasih sayang, dengan kata lain, perlu dikeluarkan bila ingin berlanjut. Bila sudah tidak memungkinkan untuk berlanjut, rasa itu akan perlahan pudar. Di sinilah hubungan suatu pasangan akan mulai pecah karena unsur kepedualian dan kasih sayang itu sudah perlahan pudar. Demi keberlangsungan (survival) kedua belah pihak, keduanya perlu move on dan biasanya masing-masing akan mencari kasih sayang di tempat yang lain, apakah itu dari seorang pasangan hidup berikutnya yang kita pilih, atau dari teman, keluarga, dan siapa saja yang bisa memberikan kasih sayang demi keberlangsungan hidup kita. Manusia pada umumnya, secara alamiah, membutuhkan cinta kasih demi keberlangsungan hidupnya.

Dengan demikian, kasih sayang perlu pengorbanan, usaha, keberanian, dan kadang malah kreativitas juga supaya bisa terus hidup dan berlanjut. Kasih sayang tidak bisa dipaksakan, sehingga meminta seseorang untuk menunjukkannya saat orang itu belum siap atau tidak mau melakukannya, tidak ada gunanya. Kasih sayang perlu dipupuk untuk bisa berkembang terus, perlu diperhatikan. Bila tidak, saya rasa kasih sayang itu akan mati juga akhirnya, atau cuma satu pihak dari hubungan itu saja yang memupuknya dan lama kelamaan pihak itu akan kelelahan bila tidak ada timbal balik dalam hubungan itu sesuai dengan standar keinginannya. Tapi itulah indahnya hubungan cinta kasih. Ibarat timbangan tempo dulu yang dipakai untuk menimbang emas, kadang satu sisi akan kelelahan dan menjadi berat sebelah, sehingga sisi yang satunya perlu bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan timbangan lagi…dan seterusnya. Hidup suatu relasi menurutku seperti itu. Kedua belah pihak perlu bekerja sama dalam komitmennya supaya timbangan itu mampu terus seimbang. Komitmen itu, saudara-saudari yang aku kasihi, perlu dilakukan setiap hari, bukan hanya di hari Valentine saja.

Di akhir kata, mohon maaf, saya tidak merayakan hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Bila saya menyayangi seseorang, dan memang benar saya menyayangi dan mencintai seseorang yang spesial, saya tidak perlu hari Kasih Sayang untuk menunjukkannya. Kasih sayang itu bisa saya berikan kapan saja, dengan catatan: (1) Bukan cuma usaha dan waktu saya saja yang habis terpakai, (2) Orang yang saya sayangi dan cintai itu juga siap untuk membuka dirinya terhadap apa yang akan saya berikan karena saya tidak akan segan-segan untuk memberikannya (itulah kepribadian saya), sehingga bila mau menerima apa yang saya berikan, orang itu juga perlu siap menerima segala konsekuensi yang timbul dari komitmen yang bersifat timbal balik ini. Itulah relasi/hubungan cinta kasih yang matang, dewasa dan tidak takut terhadap komitmen.

***Selamat merayakan Cinta dan Kasih Sayang setiap hari***

Poem

To Love a Shadow

one day she ask, how to love
a shadow?
why you ask, I say
but she answer none

so then I offer these words,

don’t love a shadow
but find the light
the only one that could pull the shadow out from his cocoon
the one that dances with him, anytime
under the night canopy

don’t love a shadow
but find its master
the one with a face and eyes

stare into those eyes
shine light on them
find what you’re looking for
and if you find it
then you can love the shadow

why the question, I ask again,

because on some days
shadow is the only one I have, said she

Essay · Love

Cinta itu Tai Kucing (?)

Apa sih sebenarnya cinta itu? Sudah terlalu banyak tulisan, cerita, puisi, lagu yang dibuat untuk mendeskripsikan apa itu cinta, dan ini hanyalah satu tulisan tambahan lagi mengenai topik lama tapi favorit ini.

Kali ini perspektif cinta datang dari pembicaraan antara kaum religius Katolik dan kaum awam. Percakapan khusus mengenai cinta ini terjadi dalam perjalanan lima orang dalam satu mobil menuju stasiun kereta api Tawang, Semarang. Kelompok terdiri dari 2 Romo, 1 Suster, dan 2 orang awam (saya salah satunya). Pembicaraan diawali dengan salah satu dari kaum awam di mobil (catatan: bukan saya!) menceritakan pengalaman hidupnya sebelum menjadi seorang suami. Tidak tahu bagaimana rinciannya tapi kemudian sharing itu berangsur menuju ke arah topik perkawinan dan cinta. Antara mendengarkan dan melamun sambil melihat pemandangan di luar jendela, sayup-sayup telinga ini menangkap kata-kata berikut: ‘cinta itu tai kucing’. Kata-kata itu sepertinya terlontarkan keluar begitu saja dan dalam tempo beberapa detik, suasana di dalam mobil yang tadinya tenang dengan hanya 1 orang saja yang berbicara untuk mengisi waktu perjalanan, tiba-tiba menjadi panas dan penuh dengan antusiasme saat 4 orang membuat keputusan untuk berbicara bersamaan. Lamunanku pun terpaksa terhentikan sejenak. Secara otomatis, tanganku bergerak untuk mengeluarkan handphone untuk merekam pembicaraan itu. Ada firasat muncul di benakku yang mengatakan bahwa pembicaraan sedang menuju ke arah yang…menarik.

Dan memang benar, pembicaraan yang berlangsung sekitar 10 menit itu menjadi SANGAT menarik.

Salah satu Romo, sebutlah Romo M, menunjukkan ketidakpuasannya mendengar istilah ‘cinta itu tai kucing’ dengan bertanya, “Jatuh cinta itu apa sih artinya?” yang kemudian dijawab secara spontan oleh yang lainnya.

“Terpeleset,” kata Suster.

“Jatuh itu ya…tibo (tibo=jatuh, dalam bahasa Jawa),” kata Pak K yang sebelumnya menginisiasi istilah kramat ‘cinta itu tai kucing’.

“Jatuh cinta itu adalah afeksinya,” kata Romo M menjelaskan. “Cinta yang sesungguhnya adalah komitmen dan tanggung jawab yang selama ini Bapak lakukan. Jadi tidak bisa dibilang cinta itu tai kucing.”

Setelah sekian panjang perdebatan bolak-balik antara kedua kubu yang awalnya terdengar seperti bertentangan, ternyata hasil akhir dari diskusi adalah kesadaran bahwa mereka sebenarnya sepaham kalau jatuh cinta itu berbeda dengan cinta. Kesepakatan akhir adalah bahwa bukan cinta yang tai kucing, tapi proses jatuh cintanya. Suster malah menambahkan bahwa bagi kaum remaja, tai kucing itu bisa terasa enak seperti coklat, sehingga timbullah istilah baru ‘tai kucing terasa coklat’ karena sedang jatuh cinta.

Yah, apapun cinta itu, mau tai kucing atau tai domba, mau rasa coklat atau stroberi, tidak masalah. Banyak makna yang bisa didapatkan dari pembicaraan di atas. Satu kesepakatan lain yang didapatkan kelompok adalah cinta itu sebenarnya mengenai komitmen, tanggung jawab, dan itulah seharusnya yang menjadi dasar dalam berkeluarga.

Pengorbanan. ‘Esensi cinta itu pengorbanan’ adalah hasil yang bisa saya petik dari diskusi hangat itu. Dalam pengorbanan kita harus berani mengambil langkah awal, keluar dari zona nyaman kita, mencoba sesuatu yang baru, dan menanggung risiko untuk terluka. Memang benar bahwa kadang dalam menjalani kehidupan sehari-hari bersama orang yang kita cintai, yang namanya afeksi itu tidak terlihat atau terperhatikan lagi. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh Pak K di awal pembicaraan, bahwa afeksi itu tidak penting dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. Tapi ada yang kurang tepat dalam pemikiran Pak K ketika ia menyamakan afeksi itu sebagai cinta, sehingga terlontar perkataan ‘cinta itu tai kucing!’. Pemikiran itu sudah dibenarkan di akhir diskusi.

Benar bahwa cinta itu jauh lebih mendalam dari hanya menunjukkan afeksi. Saya setuju dengan perkataan itu. Akan tetapi menurutku, memperlihatkan afeksi seperti dua orang yang masih saling jatuh cinta itu tidak ada salahnya. Malah saya akan mengatakan bahwa sikap itu diperlukan dalam suatu hubungan. Dalam menunjukkan afeksi terhadap pasangan, terjalin ikatan emosional antara dua orang, terjadi suka cita, timbul semacam kehangatan, keakraban. Saat afeksi mulai ditinggalkan, menurutku relasi itu menjadi kering. Kalau relasi antara dua orang itu diibaratkan sebuah tanaman bunga, tanaman itu bisa saja tumbuh dengan hanya disirami air. Air itu melambangkan hal-hal jasmaniah yang kita butuhkan setiap hari, seperti makanan, minuman, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan dasar yang membuat kita mampu untuk terus hidup, survive. Tapi andaikan kita bisa memberikan perhatian yang lebih bagi tanaman itu, misalnya secara rutin merawat akarnya, melap daun-daunnya, mempertimbangkan letak tanaman terkait sinar matahari, dan bahkan berbicara pada tanaman itu, saya yakin tanaman itu akan mampu tumbuh jauh lebih baik dibandingkan yang tidak diberikan perhatian lebih. Mungkin perbedaan bisa terlihat pada warna bunganya, tinggi tanaman, dan kesegaran daun.

Dalam hal hubungan antara dua orang yang saling mencintai, perhatian dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk hidup itulah air yang diberikan pada tanaman, dan perhatian dalam bentuk afeksi itu adalah pemenuhan kebutuhan psikologis yang menurutku mampu membuat siapapun berkembang menjadi jauh lebih indah lagi — sama seperti sebuah tanaman yang diberikan perhatian yang lebih dengan harapan orang itu bisa tumbuh dan berkembang sesuai kapasitas dan potensinya.

Topik cinta itu memang sangat dalam dan luas. Tulisan ini hanya melihat satu sisi kecilnya saja, terpancing oleh diskusi yang hangat dalam perjalanan menuju perpisahan bagi kami berlima di mobil itu. Kedengarannya seperti pembicaraan biasa, sepele, tapi bagiku hal-hal yang kelihatannya sepele itulah yang indah. Dan memang setelah memikirkannya lagi lebih mendalam, pembicaraan kecil itu terbukti menarik.

Tidak ada yang tai kucing mengenai cinta, atau jatuh cinta. Keduanya dibutuhkan. Masing-masing memiliki kekuatan sendiri. Cinta sejati dalam bentuk pengorbanan adalah salah satu bagian dari pembangunan kehidupan keluarga, tapi perilaku afeksi seperti dua orang yang sedang jatuh cinta bisa dikatakan yang membantu rumah itu untuk hidup, bergairah, indah, menyenangkan–tidak kering, membosankan.

 

Essay · Poem

What is to Forget?

Picture

Image is titled “Remind.her to remember” by sophiaazhou from DeviantArt.com

I responded to a writing prompt. It asked me to write two lists. The first list is about things that I want to forget. The second one is about things that I want to remember. Guess what, the results came back almost the same.

In order to get rid of memories involving people and situations that I want to forget, I would run the risk of deleting the same people and possibly situations that I want to keep in my memory too.

Why are we humans so complicated? We create this complicated wants, needs, hates, dislikes on our own. We continue to push ourselves to get something that we want, to chase something in order to feel happy, belonged, loved, but then let them go once we get tired of them. Therefore, we continuously create a dual-impact in every single person and situation that we come across. We love a person, then we hate that person. We need a person, then we push that person away. We strive to be part of a group, later we quit. We find ourselves in a bad situation, but then we learn from it and become a better person. We let go a person, then we desire that person again. We make a decision to move to another place, then we miss it. And so on. It’s a dance of life that we make into a perfection as we move along in life.

Why does it have to be a double perspective to every single thing that we go through? Why can it be much simpler. I hate complication, but I always find myself getting caught in one. Is there a lesson in all of these messes?


Picture

Image is titled “Remember Me Too” by laughsofgreed from DeviantArt.com

 

(a poem)

what does it mean to forget?
for a person who has seen the secret beauties of this world,
who knows how a rainbow frames the sky with its colors,
or that trees would wear their best autumn dress and
dancing until no more leaves are left on their naked limbs,
or when the sky sprinkles its first snow
coloring the ground in shiny white,
oh and what about the magnificent sunset,
the view that we tirelessly waited
day after day,
how can a person forget all of those?

when we no longer have what we used to have
shall we forget them then?
when we no longer want what we used to chase
shall we forget them too?
is it the same as letting go?
and will it always involve a goodbye?
how painful it must be then to let go
the more your heart insists to toss ’em,
the more it aches and
the more your mind frantically grabs to hold on,
it haunts you even in your waking dreams
like a nightmare, but a never ending one


but do you ever wonder why it’s so
damn hard to forget?

have you ever laughed so hard
that you happily wipe tears from your eyes?
have you ever excitedly anticipating something so delightful that you want to shout your joy to the world?
do you remember those…
…moments?
see, before there was pain, joy was there
before there was yearning, excitement was there
before there was loathing, love was there
hurt and happiness,
they come from one root

what then?
what should a person do?
begging the heart to stop?
force hope out of the head?
it is hope’s fault, you convince yourself
just make it die please, you whimper in your sleep
you’re so desperate for anything
any prescription that can
stop what you no longer want–
stop what was once desired
and would die for

my dear, you’re asking wrong questions,
you can’t stop the wheel that is already
in motion since the day you took your first breath,
you can’t throw what is already a part of you,
you can’t cut a thread
that is binding you to the memory,
have you ever wondered
perhaps
you are not supposed to forget?
you’re not allowed to pick what to forget
because that is the universe’s job,
not yours

your task is,
to learn to accept, that
to forget means to continue to remember,
and to deny it means to live in pain,
the past is a gift, a blessing,
so remember them,
accept them,
breathe,
live,
love!

Fiction

A Valentine Short Story

This short story was my attempt for writing fiction in a form of short-story prose. I originally wrote them into two parts and published them within few days apart on my other blog. Enjoy it.

Part 1:

Sunday morning on one February day…

Sun has been up and about for about an hour by the time his eyes reluctantly open on that gray morning, and as soon as he tries so, the knocking in his head starts too.

How long have I been sleeping? God, the pounding, what’s with this pounding? I feel like I’m getting hundred days older every time I wake up in the morning.

All of those thoughts seem to add more to the pounding. Grudgingly, he starts to stir and see if there’s any other protest from different parts of his body. Goodness gracious, none. He knows he has to wake up. Has an important job to do today, his only job, a yearly job. A job that is a source of everyone’s envy. Huh! Sure, he thought. For once after doing this job for many years, he’s actually considering how nice would it feel to have a replacement today.

What is wrong with me today? Did I have something unusual before I went to bed? What did I have, anyway?

Shaking his head now, he finally pushes himself out of bed. One leg first, then the other, rolling now to one side, then literally…out of bed, as in falling off. But at least he’s out of bed.

The getting out of bed is the hardest part, and he got that taken care of at least. The rest is easier. He doesn’t need that much time to get ready for his job. Just some basic things to do. Comb? Nope, not even needed. Clothes? Well, just some basic minimum on that one. Breakfast? Optional. Shower? Now that would be tricky, so he prefers not to. In a weird way, it’s better for him not to shower. He’s better off that way.

Five minutes later, he’s out the door, with his equipment. Time to go to work. Whispering to himself,

My job, make me proud today!

As he starts his day, he finds himself whistling and humming a song under his breath. Look at him! He’s actually feeling excited. But he always feels excited in the beginning part of his job. Whether he finds himself exhausted later on or not is another story. It is an exhausting, but also a fun job. It carries an important meaning to him and he’s proud of it of course. After all, he’s making a difference in people’s life.

He finally gets himself a nice position where he can have a good view. This job requires a grand view, it requires patience to find a perfect place. And a perfect place truly makes the difference.

All right, man. You can do this. Let’s get it over with. I can’t wait to have a drink after this.

He takes a deep breath. Then takes his aim.

TO BE CONTINUED

 

Part 2:

Meanwhile, at a different place on that same morning…

The phone has been making a noise ever since it woke her up about an hour ago. As usual, it’s what happens when there’s an emergency at work and she’s being called in. Whenever there’s an emergency at work, it always causes a havoc on her private world too.

Sometimes all I need is a peaceful morning to wake up. Why is it so hard to have that?

“Freedom, here sweetie! Where are you? Time to eat.”

Between getting herself ready and preparing meal for Freedom, her 2-year old beagle, her hands are definitely full. And at the same time, work continues to bug her with the damn text messages. Letting out a deep and long sigh, she can only hope that the day won’t turn out any tougher.

After doing the quickest shower anyone could possibly imagine, she’s on her way out, leaving Freedom staring from behind the window. Something is odd in Freedom’s stare. She has to take a double take and stare back at him. The dog tilts his head a bit now to the right, but keeps the eye contact. And no barking. She is hesitant now.

What’s wrong with him? Why is he staring at me like this? He’s never done this before. Not even a sound?

“Oh well. I’m sorry, can’t stay and play with you. Gotta go, bud.”

As she’s locking the front door, she takes a peek through the window.

Damn dog is still sitting at the same place! And still staring at me too! How odd.

But she has no time to investigate. Mixing between jogging and walking, she takes the usual route to her workplace. Streets are not that crowded that morning. Well, rightfully so because it’s a Sunday morning. Half of the town is probably still laying comfortably underneath their blanket, snuggling. That’s okay, she thought. It’s the price of working in a health field. Practically on call every day. She knew the consequences when she took this path some years ago.

Right when she’s about to turn at the next block, she feels that someone’s just brushing her right arm. At least she thinks that way. She also hears something hitting the pavement. Looking down by her feet, oddly she can’t find anything that could have made that sound she just heard.

Well, that’s weird. I knew I heard something fell. I’m positive about that.

Looking up now, she then looks for the person who just brushed her arm, but then realizing something odd. There’s nobody around that stands about less than 5 feet from her. There are people around, but they stand to her left, waiting for a bus. She could have sworn that the person who brushed her didn’t go to the left but straight forward.

That person can’t be walking that fast? I only looked down for a second. Where is he?

Feeling very puzzled now, but she quickly brushes the thought away and continues to walk. People are waiting for her at work as soon as possible, so she can’t waste time.

She arrives at work 10 minutes later and goes straight to her station to start with the preparation. Being an experienced emergency unit nurse, she has to work fast and be efficient on the floor, so wearing comfortable shoes, nice warm socks, and comfortable clothes underneath her nurse outfit are important. Not wasting time too much time with changing, she is out on the floor within less than 15 minutes since she entered the building.

The whole emergency unit is already bustling with doctors and nurses, and also paramedics who brought the victims in from the multi-vehicle accidents in the near tollway. Thanks to one drunk driver, many people are hurt and a few are fighting for their lives. She’s a bit confused at first about where to start, but she’s not standing there for too long. A holler from behind her quickly snaps her back to the present moment,

“Hey, you! I need help here! Do you mind go sleep somewhere else and bring me another nurse if you’re just going to fall asleep there?”

Great! Good fucking morning to you too, doc.

So, there goes the wish for a better day. She’s about to assist the most foul-mood doctor in the whole hospital, but also the most senior and best one. The morning can’t get any better than that for her.

As she’s approaching the patient’s bed to assist, she suddenly feels a strong need to sneeze. And so it comes out. A wild one! The strongest sneeze that she ever lets out, as if there’s a surplus of energy from the deepest part of her body pushing that big gushing of air out of her small framed body. Everybody around her is turning to look at her now, including the patient. Embarrassed now, she looks up from behind her hands that are covering her mouth, and…oh. Something catches her attention and at the same time, she feels a slight stirring inside her chest. It’s as if…but words are escaping her mind now.

She finds herself staring straight into the sharpest stare she ever set eyes on.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Taking a deep breath, he stirs from his hiding position.

Finally. Got that one done. But damn, that was tricky. Does she always have to walk that fast? Can’t believe I missed my first aim. I need to practice my aiming more. It’s getting rusty.

And I can’t believe I have to follow her all the way into inside that smelly building. Geesh, never never never will I go into that damn building again. Too many enemies there.

Stretching his arms out, he feels a bit relieved now. One down, but many more to go. Long day is still ahead so he has to hurry before the day is over.

And then he’s done for now, for this year. Until next VALENTINE.

 

The End.

 

HAPPY VALENTINE’S DAY, SUNDAY, FEBRUARY 14, 2016.
MAY YOUR EVERY DAY BE FILLED with LOVE and AFFECTION.

This author would like to thank the following picture meme that has inspired this short story.