Ajaib (2)

Perlahan kami berdua keluar dari balik pintu depan gedung. Jalan terlihat sepi tapi tidak jelas apakah aman atau tidak. Samar-samar kami mendengar suara dari jarak jauh, suara teriakan seseorang. Bukan teriakan lagi sebenarnya, lebih mirip suara menjerit yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarkan pasti berdiri. Seluruh tubuhku merinding. Yang lebih sulit diatasi sebenarnya detak jantung yang seperti sedang berlari sprint. Aku sendiri kurang yakin apakah kaki ini masih bisa diajak bekerja sama untuk membawaku pergi dari tempat ini secepat mungkin. Teman yang di sampingku ini juga aku ragukan bisa melakukan hal yang sama, tapi kami tidak punya pilihan lain. Aku tidak tahu siapa dia atau siapa namanya, wajahnya pun tidak aku kenal, walaupun sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi tidak masalah siapapun dia dan identitasnya. Yang penting, sekarang tinggal kami berdua, dan mau tidak mau kami harus saling membantu sebisa mungkin.

Dengan beringsut-ingsut, kami mulai bergerak ke arah jalan kecil di depan rumah makan sambil terus menengok kanan dan kiri. Seluruh kemampuan pendengaran kami sepertinya sedang dalam posisi siap siaga. Suara sekecil apapun, bahkan dengingan dari kepakan sayap kecoa pun bisa kami dengarkan saat itu.

“Ayo cepetan!” desisku kepada teman di belakangku, agak tidak sabar melihat caranya yang menurutku terlalu pelan.

“Kita harus bergerak cepat dan lari begitu sampai di jalan,” bisikku sekali lagi, yang dibalas dengan anggukan samar-samar darinya.

Aku sempat menangkap tatapan matanya, dan tak ada satu kata yang perlu ia katakan. Tatapan itu sudah cukup. Kami berdua bisa membaca pikiran masing-masing. Warna muka kami berdua mungkin sudah sama dengan cat putih tembok rumah yang sekarang menjadi latar belakang kami. Tanpa banyak tanaman di sekeliling, sebenarnya kami memposisikan diri di tempat yang rawan, terlalu mudah terdeteksi….tentu saja bila mereka bisa melihat. Namun berdasarkan apa yang kami lihat tadi, mereka sepertinya lebih bergantung pada penciuman. Penciuman terhadap apa? Tidak jelas juga, mungkin penciuman terhadap rasa takut? Apakah itu dari keringat, atau deru napas kami yang menderu-deru, entahlah. Pokoknya, mereka tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui lokasi kami tadi. Tidak bisa dipungkiri lagi, mereka tidak bergantung pada penglihatan. Dengan muka tercabik-cabik seperti itu, kami yakin tidak melihat satu bola mata pun pada setiap wajah (kalau itu masih bisa dikatakan wajah) yang mengejar kami tadi.

“Siap?” tanyaku sambil memberikan isyarat melalui tatapan mata.

Temanku cuma bisa mengangguk. Akupun memberi kode dengan jari, 1, 2,…3! Dan dengan secepat kekuatan seekor kijang yang penuh ketakutan kamipun melesat lari ke arah yang berlawanan dari datangnya suara jeritan tadi. Lari, lari dan lari. Cuma itu yang bisa kami lakukan. Tak ada lagi yang ada dalam pikiran kami kecuali lari secepat mungkin ke tempat yang kami harap lebih aman. Sambil berlari kucoba memasang pendengaranku. Apakah ada langkah-langkah lari mengikuti di belakang kami? Apakah kami masih sendirian? Ada keinginan untuk menoleh, tapi hati sudah tak kuat lagi. Kami harus mencapai tujuan kami, tapi entah kenapa, tujuan itu sudah menjadi tak jelas lagi. Kami hanya tahu bahwa kami harus terus berlari dan berlari.

________________________________________

Cuplikan skenario di atas hanyalah suatu bagian kecil saja dari keseluruhan mimpi yang kualami semalam. Yah, hanya sebuah mimpi memang. Sebuah mimpi dengan kekuatan dahsyat, cukup untuk membuatku terbangun dalam keadaan seperti tidak pernah tidur sedetikpun. Dan itu cuma cuplikan yang ringan saja. Bagian-bagian yang penuh lumuran darah tidak perlu saya jabarkan di sini. 

Ada yang bisa tebak itu mimpi apa? Benar, mimpi mengenai zombie. Seumur hidupku belum pernah mengalami mimpi yang terkait dengan zombie. Jangankan mimpi, yang namanya bacaan atau film terkait zombie pun bukan sesuatu yang aku sukai, apalagi saat sendirian.

Mimpi, dalam dunia ilmu psikologi, adalah indikasi suatu bentuk pemikiran atau keinginan yang terjadi di alam bawah sadar dan terbawa dalam mimpi, sehingga ada yang namanya interpretasi mimpi. Terbangun dalam keadaan ketakutan, tanpa berpikir panjang (karena memang masih kusut dari bangun tidur yang penuh gejolak itu), aku langsung mencari Oom Google untuk bertanya tentang makna mimpi zombie. Demi tujuan berbagi, ini beberapa yang aku dapatkan mengenai arti mimpi zombie dalam bahasa Inggris.

Zombies in dreams are a sign that you are not thinking independently or objectively. It also suggests that you are giving up your ability to make independent choices because a person or situation has you in a “trance.” Someone or something else is influencing your decision making. To dream of running away from zombies represents your wish to avoid a person or situation that you feel is jealous of what you have. Avoiding an annoying follower. You may fear losing what you have to someone else’s jealousy. You may also fear losing something special because someone jealous is desperate to pull you down with them. (http://www.dreambible.com/search.php?q=Zombies)

To dream that you are attacked by zombies indicate that you are feeling overwhelmed by forces beyond your control. You are under tremendous stress in your waking life. Alternatively, the dream represents your fears of being helpless and overpowered. (http://www.dreammoods.com/dreamdictionary/z.htm)

Zombie symbolizes aggressive and unwelcome intrusion into your psyche, your soul. There is such a concept as “zombieing”. Perhaps someone is trying to program and zombie your mind to manipulate you for own purposes. You need to analyze your circle of contacts, to identify these people, and to protect yourself from their presence in your life. It is possible that together with the revival of the dead, revived your fears and complexes, unpleasant situations, bad habits, negative emotions and stress. A dreaming about zombies is a sign that in real life you take a step back, returning to the forgotten period that was long time forgotten. One of the unfinished business and troubles may suddenly reappear and remind about itself. If you dream as if zombies attack you, it bodes that you will once again go through the previous errors. It is too bad if you have started new business in reality, because a dream about zombies limits its potential. It would seem like someone forcibly takes away all your power and energy. (http://globe-views.com/dreams/zombie.html)

Interpretasi mana yang paling tepat menurutku sendiri untuk menjelaskan arti mimpiku? Itu adalah tugas refleksi malam ini. Tapi yang pasti, ini adalah suatu pengalaman baru. Aku ingat bahwa sempat terungkap di posting blog sebelumnya keinginan untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman ‘ajaib’ sebagai bahan ide untuk menulis blog, tapi tidak pernah menduga ini jawabannya. Semoga pengalaman ajaib berikutku tidak seheboh ini lagi. 

Seingatku, mengalami mimpi di mana aku dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan baru terjadi dua kali. Pertama kalinya itu terjadi saat aku barusan pindah tempat tinggal ke suatu negara lain dengan pengalaman proses adaptasi ke budaya baru yang termasuk sulit, tapi bukan dikejar oleh zombie dalam mimpi itu. Mengapa di kali kedua ini yang dipilih oleh otakku adalah zombie, itu masih belum sempat aku dalami lagi. Untuk saat ini, sudah cukup banyak yang perlu aku cerna. Mengapa misalnya aku bermimpi seperti ini? Ada apa dengan diriku sekarang? Dan seterusnya… 

Terimakasih sudah menyimak. Selamat malam, selamat beristirahat, dan selamat bermimpi.

Akhir

20170511_171000-1.jpg

 

Kisah ini berawal di suatu hari yang cerah….

Kubuka dua hadiah pagi itu–kedua mataku
dan kaupun melangkah masuk
sadarkah kau tajamnya matamu telah membelahku, meniadakanku
jalanku berbelok arah mengikuti angin sejak itu

Kubuka sebuah hadiah lain pagi itu
juga dari Bapaku–untukmu
masih merah, mentah, tersentak bangun dari tidur yang panjang
terkoyak godaan sebuah keinginan, harapan

Namun sang pemimpi bertopengkan angan melawan kerapuhan
dengan berkendara waktu, berserah pada angin sebagai penentu arah
akhirnya terdampar di suatu tempat di mana lelah mencabik luka lama
dan mata pun mau tak mau berserah, tak lagi kuat

…..dan berakhir di suatu hari yang cerah juga.