Laungan Hati

can_you_hear_me scream____by_ha91.jpg

Image titled Can You Hear Me… by HA91, from deviantart.com

hitam kelam warnamu terawangi jagadku
memaksa pergi senja indah berjingga — membisu
kokoh, mematung bak gunung berasap di depanmu
hatimu tertutup mendung

ingin, ingin, betapa kehendak sudah bersuara lantang!
telinga ini semakin tuli oleh laungan hati sendiri
senyapmu itu, tinggallah pergi
dan biarkan kumerayap kembali kepada malam

tak ada isak lagi dalam lengang
berserah, ketenangan kuajak berlabuh dalam dada
tapi seriak angan masih bebal berderu di kepala, enggan beranjak
harapanku, tak pernah kubiarkan terenggut oleh sengitnya ombak

Perjalanan Penyair Amatir

moon light at night

Image taken from shutterstock.com

 

Malam masih muda, matahari barusan terbenam sejam yang lalu. Seperti biasa, perempuan itu terlihat melakukan kebiasaannya di malam hari. Sambil berjalan tanpa tergesa-gesa, ia terlihat benar-benar meresapi ketenangan suasana di perumahan tempatnya tinggal. Keheningan hanya kadang-kadang terusik oleh suara tawa dan jeritan dari anak-anak yang sepertinya masih sedang bermain. Untungnya suara itu datangnya dari gang di sebelah. Ia bisa menikmati kesendiriannya dengan aman.

Jalan-jalan malam memang indah, apalagi kalau sesekali ditemani oleh sang empunya malam di atas sana, seperti malam ini. Dan memang, sosok itu bagaikan seorang malaikat jelita yang duduk dengan anggunnya di singgasananya, sosok malam yang selalu ia nantikan setiap bulan. Harapan untuk mendapatkan langit yang lengang dari awan, bersih dari hambatan pandangan apapun, sehingga mendapatkan kesempatan untuk melihat pesona itu sangat langka.

Tapi malam itu, dahaganya terpuaskan. Tak pernah sekalipun ia merasa dikecewakan setiap kali bisa menatap bulatan cahaya itu. Keberadaan sahabatnya terlihat kokoh, megah, tak gentar terhadap angin malam, berani menghadapi alam sendirian. Setiap kali melihat sosok menawan itu, napasnya seperti berhenti. Ada keinginan untuk berbagi perasaan yang memuncak itu kepada siapa saja setiap kali bertatapan dengan paras elok itu, namun hanya helaan napas yang terdengar dari mulutnya. Andaikan ia punya kamera jutaan rupiah yang bagus dan lensa yang kuat, pasti sudah akan ia awetkan pemandangan di depannya. Sayangnya, semua itu hanya mampu ia rekam dalam ingatan saja.

Tapi sebentar, sepertinya sedang terjadi suatu perubahan pada perempuan itu. Lihat, betapa wajahnya tiba-tiba menjadi berseri-seri. Tampak ia berlari-lari kecil kembali ke dalam rumah. Selang beberapa detik kemudian, ia sudah muncul lagi dengan kertas dan pulpen di tangan. Tanpa membuang waktu, ia duduk di depan rumah sambil menengadah untuk melihat sosok sahabat setianya itu sejenak sebelum seluruh perhatian kembali terfokus ke kertas kosong di hadapannya. Tapi kertas itu tidak berlanjut kosong dalam waktu yang lama. Perempuan itu terlihat menulis sesuatu dengan penuh semangat, tenggelam dalam konsentrasi tingkat tinggi.

Ternyata yang ia tulis adalah sebuah puisi; puisi tentang keindahan yang sedang mengorek batinnya itu, puisi tentang seorang sahabat lama. Namun, terlebih lagi, keindahan itu kali ini ia kaitkan dengan seseorang yang sedang berada dalam pikiran dan hatinya, seseorang istimewa, seseorang yang mulai menempati suatu ruang khusus dalam nuraninya. Kali ini, ia memang memiliki seseorang untuk berbagi! Betapa pas! Kalau itu digambarkan dalam bentuk suara, mungkin yang akan terdengar adalah pekikan anak-anak seperti yang terdengar dari gang sebelah sebelumnya.

Akhirnya, setelah beberapa jam, puisi itu selesai. Dibutuhkan waktu beberapa jam karena revisi yang dilakukan berulang-ulang, kemudian semua tulisan itu ditransfer ke dalam foto bulan purnama yang juga sempat ia ambil tadi menggunakan kamera sederhana di hapenya. Gambar yang ia ambil memang terlihat kurang bagus. Dahinya sempat berkerut sebentar tadi melihat hasil foto itu, tapi tidak apalah pikirnya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, puisi singkat dan sederhana miliknya akhirnya ia masukkan ke dalam gambar itu. Dengan langkah ringan dan senyum di wajah, siapapun bisa melihat kalau bukan foto jepretan yang menjadi sumber kebahagiaannya malam itu.

Sambil menunggu waktu untuk mengabarkan hasil karyanya kepada seseorang yang istimewa itu, ia menyibukkan diri dengan rutinitas malam lainnya. Perut perlu diisi, rumah perlu diberesi, tugas-tugas kecil menunggu di sekeliling rumah, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa fokus perempuan itu bukan pada tugas di tangannya. Setelah selesai semuanya tibalah waktunya untuk menghubungi doi lewat WA.

Pembicaraan berjalan dengan baik dan lancar di awal. Menahan detak jantung yang berdebar-debar, akhirnya perempuan itu memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu mengenai puisinya dan kemudian menawarkan untuk mengirim foto itu. Tak terasa ia telah menahan napas selama beberapa detik. Tiba-tiba terbersit keraguan akan tindakannya. Wajahnya sempat memerah sebentar. Sudah sangat lama sejak terakhir ia melakukan hal seperti ini. Bisa dikatakan tindakannya ini mungkin sudah agak lancang dan berani. Tapi sudah terlambat, doi pasti sedang melihat gambar itu, beserta puisi sederhananya. Apa gerangan yang akan dia katakan?

Dan kemudian, mengalirlah respon yang ia nantikan. Belum pernah sebelumnya ada yang memberikan masukan tentang puisi hasil karyanya kepada si penulis amatir itu. Selama ini, puisi adalah sebuah proses pembelajaran otodidak baginya. Tapi malam itu, ia mendapatkan sistem pembelajaran baru, pembelajaran yang luar biasa besar dampaknya. Namun saat itu, perempuan itu belum menyadari kedalaman dan goresan jejak dari dampak itu. Saat itu, ia hanya mampu merasakan.

Puisi telah selamanya berubah makna baginya sejak malam itu.

Akhir

20170511_171000-1.jpg

 

Kisah ini berawal di suatu hari yang cerah….

Kubuka dua hadiah pagi itu–kedua mataku
dan kaupun melangkah masuk
sadarkah kau tajamnya matamu telah membelahku, meniadakanku
jalanku berbelok arah mengikuti angin sejak itu

Kubuka sebuah hadiah lain pagi itu
juga dari Bapaku–untukmu
masih merah, mentah, tersentak bangun dari tidur yang panjang
terkoyak godaan sebuah keinginan, harapan

Namun sang pemimpi bertopengkan angan melawan kerapuhan
dengan berkendara waktu, berserah pada angin sebagai penentu arah
akhirnya terdampar di suatu tempat di mana lelah mencabik luka lama
dan mata pun mau tak mau berserah, tak lagi kuat

…..dan berakhir di suatu hari yang cerah juga.

Hai Kawan (2)

Kenangan

Ibarat sebuah lukisan
dengan kuas yang sudah disiapkan oleh Sang Pencipta
setiap kali kau menyapa fajar,
lukisan seperti apa yang ingin kau hasilkan
di atas kanvas putih hati yang baru?

Pasti ada cerita di balik setiap gambar,
mungkin lukisanmu ternoda kekecewaan atau tangisan getir
atau kuasmu tergerak tawa dan canda
apapun itu, lukislah dengan hati
bukti kau pernah menapakkan jejak di dunia ini

##Kenangan

Hai Kawan

emptiness.jpg

Image berjudul A Feeling of Emptiness oleh Jeff Masamori (diambil dari artlimited.net)

 

gelap warnamu,
menyeringai tak karuan dari balik muka yang kusut
bayanganmu, terlalu pekat
bahkan –
tak segelintir anginpun mau mengabari kedatanganmu
bila kau ingin datang,
tak ada yang bisa menahan

seperti biasa,
teriakan protesku tercekik oleh laraku sendiri
terjebak dalam putaran hasrat yang tak kunjung usai
dan akhirnya, di penghujung malam yang panjang,
hanya hampa yang tersisa,
menemani dalam kesunyian, mengisi waktu yang terputus

hai kawan,
kedatanganmu, membawa tangis
kepergianmu, keletihan

###Gundah

Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Hello

Hello.
Hello to you walking in the garden. What a nice day to take a walk, isn’t it? Please give my regards to the grass under your feet, to the birds singing above you, to the bench you’re sitting on, and to that crispy air of January. Better keep your sweater on, sir. It’s still quite chilly out there. By the way, love that bike!

Hello.
Hello to you with coffee in your hand. My oh my, the pile is high, my friend. My sympathy to you. Looks like you need that cup of bliss. Have you been having enough rest? Don’t forget to go home. Your loved ones miss you. And don’t forget to smile to them, bro. Oh, and nice coffee. Can smell it from out here. Arabica isn’t it?

Hello.
Hello to you up there. It’s been so rare to see you lately. Something must be in the way for us to see you. Is it lonely there? What a burden it must be to carry on your shoulders. Oh forgive me, I mean what an honor it must be. All I know is that I miss you. Life has been pretty dark down here lately. Shall we dance? Yes, of course under you. So light us please. Stay wild!

Hello.
Hello to you, growling one. Look at you, how cute! Awww, and you know it too, don’t you? Catch! Oh, that is smart. Yeah? Again? Okay. Catch! That a boy! Now give me a five!

Hello.
Hello to you, tall ones. Nice shade you’re giving me. Feel that fresh air, thanks to you. I can feel all my senses are alive! Can’t help to feel at awe standing small underneath you. This is indeed a very humbling experience. So sorry we haven’t been giving you enough appreciation that you deserve. Instead, we’ve been taking advantage of you. How wrong have we been!

And hello.
Hello to you whom I really want to say hello actually. It’s been a while since I last heard your voice. What have you been up to? What I would do to hear your stories again, to be in your company. Has the world drowned you again? Life may beat you upside down again and you may fall, but prevail, my dear. Stay with me and I’ll stay with you. In there. Yes, inside you. You got it. I’ll be — where you need me.

 

extending-hand

**This writing has been inspired by a writing prompt about hello. The instruction was simple. Write a story or a poem that starts with “hello.” Got it!**

Someday

39dfd6504a382d65612cb316a4420a6e-d1lbup3
Image is credited to xMegalopolisx, from Deviantart.com

Someday,
She will feel nothing
Emotions will evaporate
No longer a burden on her being

Someday,
She will care for no words
Words will lose its way
No longer have the power to hurt

Someday,
She will shed no more tears
Empty eyes, left to decay
But free from fears

Someday,
Her journey will cease
And she reaches the end
It is then when she discovers peace

It is then when…
she starts…
living

The Night Dance

She asked me once,

Have you ever met emptiness? Did you talk to it? What does it look like? How does it make you feel?
Have you ever looked at loneliness in the eyes? Stared through those eyes? What do you see behind them?
Have you ever cried so hard ’til your chest hurts, but at the same time,
You knew there’s no point in crying?

Why so, I asked back,
And she answered,

Because the world is not curious about you
Why should the world bother?
Only loneliness listens
In a devoted way
And quietly

Then she turns and walks away,

…..

So life continues
Night then turns to dawn
And soon, comes the night again
Over time, she learns the steps by heart
And she dances her part humbly so, with grace