A Prayer for Healing

Kusut. Tak tahu mau menulis apa, tapi aku ingat tekad yang sudah aku ikrarkan di awal minggu ini, yaitu menulis setiap hari. Maka, kubiarkan jemariku menari sendiri di atas tuts. Aku percaya pikiran akan melok dengan sendirinya.

Sejak siang tadi pikiran sudah kusut. Padahal aku ingat tadi saat bangun pagi terasa lebih ringan. Pertama kalinya dalam minggu ini merasa sedikit lebih enteng. Aku agak kecewa dengan diriku sendiri sebenarnya. Siang tadi mendapatkan kabar mengenai keadaan seorang teman yang ternyata sudah cukup lama sakit. Sakitnya mungkin sudah sebulan lebih, dan aku baru tahu siang tadi. Itupun secara tidak sengaja karena teman kerja yang lain mengatakan sesuatu mengenai teman kerja yang sedang sakit ini. Kami memang tidak bekerja di unit yang sama, dan malah tidak di lokasi yang sama walaupun saya cukup sering mengunjungi lokasinya teman itu. Tapi karena tempatnya berada di sisi gedung yang lain, kami akhirnya memang jarang ketemu. Sewaktu mendengar mengenai keadaannya, baru aku tersadar bahwa sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatnya di lokasi tempat kerjanya. Aku juga baru sadar bahwa di bulan Maret kemarin, tempat kerja kami mengadakan rapat kerja pimpinan dan mestinya dia juga ikut di raker itu. Waktu itu pikirku mungkin dia berhalangan yang bersifat biasa saja. Tidak menyangka bahwa dia mungkin sudah mulai sakit waktu itu.

Sebenarnya, ada alasan mengapa banyak yang tidak tahu-menahu mengenai keadaannya, termasuk aku juga. Berdasarkan sedikitnya informasi yang aku dapatkan, aku menangkap bahwa mungkin temanku ini awalnya sakit di fisiknya, tapi kemudian merambat ke psikisnya. Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti, tapi sepertinya merujuk ke depresi. Depresi itu juga mungkin saja membuat fisiknya bertambah lemah dan penyakitnya bertambah parah.

Tidak banyak yang tahu, termasuk rekan-rekan di unit kantornya. Aku dan rekan di unit kantorku mencoba untuk bertanya kepada beberapa orang di unitnya temanku itu. Hampir semuanya mengatakan tidak tahu. Aku harus bertanya ke salah satu atasan di kantor itu baru bisa mendapatkan sedikit jawaban. Dan aku sungguh kaget. Tidak menyangka kalau temanku ini sedang mengalami depresi yang ikut menggerogoti tubuh dan mentalnya. Ada bagian dari diriku yang menyesal kenapa tidak mengetahui perihal sakitnya lebih awal. Dan untuk  membuat moodku lebih menurun lagi, sorenya aku menerima update bahwa temanku sudah dibawa ke kota asalnya di luar kota yang berada cukup jauh dari kotaku, sehingga kemungkinan untuk menjenguk menjadi sulit. Padahal, aku dan beberapa orang sudah berencana untuk menjenguk di awal minggu depan.

Depresi. Kenapa aku harus dihadapkan dengan kata itu lagi? Kata itu seperti menamparku hari ini. Aku merasa ada sesuatu yang ironis di sini. Kami berdua sedang mengalaminya bersama, tapi tanpa saling mengetahui. Depresinya pastilah lebih parah kalau sampai ia sudah tidak bisa masuk kerja lagi. Bukan cuma tidak bisa masuk kerja, tapi juga menolak masuk kerja. Sudah tidak mampu lagi menghadapi dunia kerjanya. Episode depresiku kali ini aku tahu tidak separah episodeku yang sebelumnya, tapi aku ingat juga momen dalam hidupku di mana aku tidak bisa bekerja selama setahun. Tidak bisa mencari pekerjaan baru juga selama hampir setahun. Benar-benar tidak berkutik dan hanya mengurung diri di rumah. Keluar rumah hanya untuk mencari pertolongan ke terapis, ke gereja dan sekali-sekali ke supermarket untuk belanja makanan. Itupun kadang-kadang sambil menangis terisak sendirian di mobil selama perjalanan. Jadi aku tahu dan bisa membayangkan keadaan temanku saat ini. Bedanya adalah, saat ini temanku juga sedang sakit secara fisiknya. Dan itu yang membuat mentalnya juga drop. Sepemahamanku, dia juga sedang mengalami stres yang tinggi sebelum jatuh sakit.

Dan semua ini hanya menambah penyesalanku. Hanya penyesalan dan kesedihan yang aku rasakan. Sepertinya aku selama ini terlalu berfokus pada keadaanku sendiri dan melupakan orang lain. Aku terlalu berpusat pada kebutuhanku, keinginanku, keegoisanku, dan melupakan bahwa ada orang lain yang jauh lebih menderita dariku dan yang mungkin membutuhkan bantuanku.

Jujur, temanku yang satu ini bisa dikatakan bukanlah teman yang dekat sekali denganku. Bukan sosok teman yang mungkin akan aku cari pertama untuk curhat mengenai masalahku. Bukan seperti itu. Kami juga baru menjadi dekat belum sampai setahun. Sebelumnya, aku cuma tahu namanya dan di bagian mana unit kerjanya. Tapi, aku yakin kita semua pernah bertemu dengan orang-orang yang sejak pertama kita ketemu, langsung klik. Spirit-nya itu langsung terasa cocok. Terasa seperti bisa saling menyambung saat berbicara dan saling mengerti. Itulah sosok temanku. Rendah hati, humoris, baik hati, dan memperhatikan. Hatinya juga peka, peduli pada orang lain, taat dalam beragama, dan punya iman yang kuat.

Hatinya sepertinya memang peka dan sensitif. Itu aku tahu sejak pertama mengenalinya. Dia tidak mungkin menjadi orang yang sangat ringan tangan dalam membantu orang lain kalau bukan seseorang yang hatinya sensitif. Pelayanannya kepada masyarakat sangat tinggi. Dan sekarang, setelah aku mengingat-ingat lagi, mungkin dalam kepekaan itulah tersimpan bibit-bibit yang memungkinkan dia sampai mengalami depresi berat yang mungkin ia alami sekarang. Karena tidak semua orang yang mengalami apa yang ia alami akan sedemikian berat pengaruhnya terhadap keadaan psikisnya. Kecuali kalau yang ia alami sekarang bukan hanya depresi saja tapi juga masalah neuropsikologis lainnya yang belum diketahui.

Maafkan aku yang kurang memperhatikan, yang egois berfokus pada diriku sendiri. Semoga Tuhan melindungi dan memberkati temanku. Semoga dia kuat menanggung beban dan deritanya. Semoga imannya terus diteguhkan sehingga dia kuat dan tabah menanggung sakitnya. Berkah Dalem, Pak.

earth has no sorrow that heaven cannot heal.jpg