Infinity

pexels-photo-396158

 

Tulisan berikut adalah hasil penelusuranku dalam dunia infinity, walaupun untuk sesaat. Aku tidak berencana membuat hasil karya tulisan di bawah ini. Benar-benar kubiarkan pikiran dan jariku berjalan sendiri. Dan inilah hasilnya. Tulisan dibuat di sebuah warung kopi (dengan wifi tentu saja).

__________________________________________

Tidak sulit sebenarnya untuk menghilang secara emosional di tengah orang banyak. Bagiku, cukup dibutuhkan musik, headset, laptop atau buku. Tempat itu tidak perlu sebuah tempat yang sunyi. Bisa sebuah tempat umum, asalkan punya ruangan di mana aku bisa duduk sendirian — mungkin di pojok atau di tengah ruangan, tidak masalah, asalkan tidak ada yang mengganggu. Dan aku bisa melayang ke duniaku sendiri. di mana jari jemariku bebas menari dengan luwesnya di atas keyboard. Atau mataku bisa dengan santainya menelusuri baris per baris dalam sebuah dunia yang ditawarkan oleh buku di depanku. Untuk sementara, aku bisa menghilang ke dunia yang berbeda. Tak ada yang mencari, tak ada yang peduli. Bebas sendirian dengan pemikiran, keinginan, pilihanku. Aku bisa berbincang dengan pikiran apa saja yang muncul — memilah antara mana yang mau kutemani atau tinggalkan.

Seperti yang aku alami, kau pun pasti akan mendengarkan suara-suara lain di sekelilingmu. Bagaikan lebah, mendengung, mendengking, mencekik, seakan berjoget ria di atas kepalamu. Suara-suara yang lain itu…mereka menguntit, mengganggu, ingin masuk ke duniamu, tapi jangan biarkan. Karena duniamu adalah milikmu sendiri. Hari ini, saat ini, duniamu adalah milikmu, batasan antara nyata dan angan, garis ujung antara kewajiban dan kebebasan, pemisah antara dunia penuh beban dan dunia tanpa akhir. Dunia itu, saat ini, sayangnya akan berakhir suatu waktu. Maka nikmatilah saat ini itu, hasil ciptaanmu, sebelum berakhir.

Hanya satu saranku. Sambil menikmati, tetap waspada. Hati-hati untuk tak sampai terjebak terlalu dalam di dunia itu. Semakin dalam engkau melangkah masuk, semakin sulit buatmu untuk kembali. Tetaplah sadar bahwa walaupun melangkah ke dunia itu adalah suatu bentuk kenyamanan, yang di sana itu tidak nyata. Yang nyata adalah yang akan membangunkanmu esok pagi dari tidur yang panjang. Dunia itu memang nyaman, nikmat, AMAN. Hasil kreasi sendiri pasti aman. Tak ada rasa sakit, tak ada kritikan, beban. Tak perlu sampai berlinangan air mata. Indah memang…imaginasi itu. Tapi jangan terlalu terbuai.

Terletak kebebasan yang luar biasa memang dalam situasi itu, tapi juga kesedihan. Yah, sedih. Tidakkah kau lihat bahwa kau sendirian dalam dunia itu? Suara-suara yang lain itu, mereka ingin masuk tapi sebenarnya tidak bisa masuk. Sadarkah engkau bahwa dunia itu milikmu sendiri? Tak ada lain yang bisa masuk. Memang itu milikmu sendiri, engkau bebas ingin melakukan apa pun di situ…tapi sendirian.

Bila engkau siap, kembalilah. Telusuri jalan yang sama yang membawamu masuk ke situ. Kembalilah sebelum duniamu yang di sini, yang menantimu, telah berubah karena engkau pergi terlalu lama. Mereka yang mencintaimu, ada di sini, tak lekang oleh waktu, tetap mencintaimu. Tapi mereka juga punya hak untuk berubah, dan mereka memang telah berubah. Tak ada yang sama. Tak ada yang statis di dunia ini.

Pergi dan kembalilah. Jangan tersesat.

*****

Advertisements

Ajaib (2)

Perlahan kami berdua keluar dari balik pintu depan gedung. Jalan terlihat sepi tapi tidak jelas apakah aman atau tidak. Samar-samar kami mendengar suara dari jarak jauh, suara teriakan seseorang. Bukan teriakan lagi sebenarnya, lebih mirip suara menjerit yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarkan pasti berdiri. Seluruh tubuhku merinding. Yang lebih sulit diatasi sebenarnya detak jantung yang seperti sedang berlari sprint. Aku sendiri kurang yakin apakah kaki ini masih bisa diajak bekerja sama untuk membawaku pergi dari tempat ini secepat mungkin. Teman yang di sampingku ini juga aku ragukan bisa melakukan hal yang sama, tapi kami tidak punya pilihan lain. Aku tidak tahu siapa dia atau siapa namanya, wajahnya pun tidak aku kenal, walaupun sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi tidak masalah siapapun dia dan identitasnya. Yang penting, sekarang tinggal kami berdua, dan mau tidak mau kami harus saling membantu sebisa mungkin.

Dengan beringsut-ingsut, kami mulai bergerak ke arah jalan kecil di depan rumah makan sambil terus menengok kanan dan kiri. Seluruh kemampuan pendengaran kami sepertinya sedang dalam posisi siap siaga. Suara sekecil apapun, bahkan dengingan dari kepakan sayap kecoa pun bisa kami dengarkan saat itu.

“Ayo cepetan!” desisku kepada teman di belakangku, agak tidak sabar melihat caranya yang menurutku terlalu pelan.

“Kita harus bergerak cepat dan lari begitu sampai di jalan,” bisikku sekali lagi, yang dibalas dengan anggukan samar-samar darinya.

Aku sempat menangkap tatapan matanya, dan tak ada satu kata yang perlu ia katakan. Tatapan itu sudah cukup. Kami berdua bisa membaca pikiran masing-masing. Warna muka kami berdua mungkin sudah sama dengan cat putih tembok rumah yang sekarang menjadi latar belakang kami. Tanpa banyak tanaman di sekeliling, sebenarnya kami memposisikan diri di tempat yang rawan, terlalu mudah terdeteksi….tentu saja bila mereka bisa melihat. Namun berdasarkan apa yang kami lihat tadi, mereka sepertinya lebih bergantung pada penciuman. Penciuman terhadap apa? Tidak jelas juga, mungkin penciuman terhadap rasa takut? Apakah itu dari keringat, atau deru napas kami yang menderu-deru, entahlah. Pokoknya, mereka tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui lokasi kami tadi. Tidak bisa dipungkiri lagi, mereka tidak bergantung pada penglihatan. Dengan muka tercabik-cabik seperti itu, kami yakin tidak melihat satu bola mata pun pada setiap wajah (kalau itu masih bisa dikatakan wajah) yang mengejar kami tadi.

“Siap?” tanyaku sambil memberikan isyarat melalui tatapan mata.

Temanku cuma bisa mengangguk. Akupun memberi kode dengan jari, 1, 2,…3! Dan dengan secepat kekuatan seekor kijang yang penuh ketakutan kamipun melesat lari ke arah yang berlawanan dari datangnya suara jeritan tadi. Lari, lari dan lari. Cuma itu yang bisa kami lakukan. Tak ada lagi yang ada dalam pikiran kami kecuali lari secepat mungkin ke tempat yang kami harap lebih aman. Sambil berlari kucoba memasang pendengaranku. Apakah ada langkah-langkah lari mengikuti di belakang kami? Apakah kami masih sendirian? Ada keinginan untuk menoleh, tapi hati sudah tak kuat lagi. Kami harus mencapai tujuan kami, tapi entah kenapa, tujuan itu sudah menjadi tak jelas lagi. Kami hanya tahu bahwa kami harus terus berlari dan berlari.

________________________________________

Cuplikan skenario di atas hanyalah suatu bagian kecil saja dari keseluruhan mimpi yang kualami semalam. Yah, hanya sebuah mimpi memang. Sebuah mimpi dengan kekuatan dahsyat, cukup untuk membuatku terbangun dalam keadaan seperti tidak pernah tidur sedetikpun. Dan itu cuma cuplikan yang ringan saja. Bagian-bagian yang penuh lumuran darah tidak perlu saya jabarkan di sini. 

Ada yang bisa tebak itu mimpi apa? Benar, mimpi mengenai zombie. Seumur hidupku belum pernah mengalami mimpi yang terkait dengan zombie. Jangankan mimpi, yang namanya bacaan atau film terkait zombie pun bukan sesuatu yang aku sukai, apalagi saat sendirian.

Mimpi, dalam dunia ilmu psikologi, adalah indikasi suatu bentuk pemikiran atau keinginan yang terjadi di alam bawah sadar dan terbawa dalam mimpi, sehingga ada yang namanya interpretasi mimpi. Terbangun dalam keadaan ketakutan, tanpa berpikir panjang (karena memang masih kusut dari bangun tidur yang penuh gejolak itu), aku langsung mencari Oom Google untuk bertanya tentang makna mimpi zombie. Demi tujuan berbagi, ini beberapa yang aku dapatkan mengenai arti mimpi zombie dalam bahasa Inggris.

Zombies in dreams are a sign that you are not thinking independently or objectively. It also suggests that you are giving up your ability to make independent choices because a person or situation has you in a “trance.” Someone or something else is influencing your decision making. To dream of running away from zombies represents your wish to avoid a person or situation that you feel is jealous of what you have. Avoiding an annoying follower. You may fear losing what you have to someone else’s jealousy. You may also fear losing something special because someone jealous is desperate to pull you down with them. (http://www.dreambible.com/search.php?q=Zombies)

To dream that you are attacked by zombies indicate that you are feeling overwhelmed by forces beyond your control. You are under tremendous stress in your waking life. Alternatively, the dream represents your fears of being helpless and overpowered. (http://www.dreammoods.com/dreamdictionary/z.htm)

Zombie symbolizes aggressive and unwelcome intrusion into your psyche, your soul. There is such a concept as “zombieing”. Perhaps someone is trying to program and zombie your mind to manipulate you for own purposes. You need to analyze your circle of contacts, to identify these people, and to protect yourself from their presence in your life. It is possible that together with the revival of the dead, revived your fears and complexes, unpleasant situations, bad habits, negative emotions and stress. A dreaming about zombies is a sign that in real life you take a step back, returning to the forgotten period that was long time forgotten. One of the unfinished business and troubles may suddenly reappear and remind about itself. If you dream as if zombies attack you, it bodes that you will once again go through the previous errors. It is too bad if you have started new business in reality, because a dream about zombies limits its potential. It would seem like someone forcibly takes away all your power and energy. (http://globe-views.com/dreams/zombie.html)

Interpretasi mana yang paling tepat menurutku sendiri untuk menjelaskan arti mimpiku? Itu adalah tugas refleksi malam ini. Tapi yang pasti, ini adalah suatu pengalaman baru. Aku ingat bahwa sempat terungkap di posting blog sebelumnya keinginan untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman ‘ajaib’ sebagai bahan ide untuk menulis blog, tapi tidak pernah menduga ini jawabannya. Semoga pengalaman ajaib berikutku tidak seheboh ini lagi. 

Seingatku, mengalami mimpi di mana aku dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan baru terjadi dua kali. Pertama kalinya itu terjadi saat aku barusan pindah tempat tinggal ke suatu negara lain dengan pengalaman proses adaptasi ke budaya baru yang termasuk sulit, tapi bukan dikejar oleh zombie dalam mimpi itu. Mengapa di kali kedua ini yang dipilih oleh otakku adalah zombie, itu masih belum sempat aku dalami lagi. Untuk saat ini, sudah cukup banyak yang perlu aku cerna. Mengapa misalnya aku bermimpi seperti ini? Ada apa dengan diriku sekarang? Dan seterusnya… 

Terimakasih sudah menyimak. Selamat malam, selamat beristirahat, dan selamat bermimpi.

Aku dan Dunia Maya

Dunia maya, cyber world, dunia yang penuh misteri menurutku. Banyak hal yang biasanya tidak terjadi di dunia nyata, bisa terjadi di dunia maya. Manusia bisa terlihat berbeda di dunia itu, jauh berbeda dibanding di dunia nyata. Terlihat lebih segalanya — lebih cantik, tampan, keren, bahagia, berhasil, dan seterusnya. Pesan apa yang ingin manusia sampaikan ke seluruh dunia, cukup ditampilkan dalam sebuah foto yang saat diklik mampu menggambarkan pesan dan kesan yang diinginkan. Pesan itu bisa juga disampaikan dalam bentuk sebuah status tertulis di media sosial — status yang menggambarkan kepintaran, kecanggihan, kehebohan, keberhasilan orang itu. Aku rasa hampir semua orang yang dalam kehidupan sehari-harinya bersentuhan dengan dunia gadget pasti sudah mengalami ini, termasuk aku sendiri. Foto, status, video link, bahkan tulisan seperti inipun, I have been guilty as well.

Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasakan kemuakan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya mengenai dunia maya. Aku sudah merasa menjadi budak dari dunia maya, merasa menjadi bergantung pada dunia maya untuk bisa berhubungan dengan orang lain atau mengetahui keadaan dan keberadaan orang lain, dan itu membuatku sebenarnya tidak nyaman, terlebih lagi karena apa yang aku temukan di dunia maya itu ternyata sering tidak membuatku bahagia. Aku menjadi semakin tidak bahagia, semakin terikat. Dunia maya menjadi semacam “kebutuhan”, bukan lagi untuk sarana komunikasi atau for fun.

Mengapa bisa demikian? Banyak yang sudah aku refleksikan sendiri. Dunia maya telah membuatku menjadi hilang kepercayaan diri sebenarnya, menjadi tersesat, hilang arah atas apa yang sebenarnya aku inginkan. Bukannya membuatku menjadi stabil dan kuat, tapi malah menghancurkan rasa percaya diriku, memporak-porandakan fondasiku, membuatku mempertanyakan mengenai eksistensi diriku sendiri. Padahal, aku sendiri tahu bahwa tidak ada yang kurang mengenai diriku. AKU CUKUP. I am good enough. Cukup dalam segala hal, termasuk tidak ada yang salah dengan kekuranganku. Tapi level “tahu” memang tidak sama dengan level “sadar”. Aku menyadari bahwa dunia maya telah membuatku membandingkan diriku dengan orang lain, kemudian menyalahkan orang lain atas kekuranganku. Dan apa hasil dari semua itu? Tidak lain adalah kepercayaan diri yang semakin terpuruk.

Aku memutuskan akhirnya untuk beristirahat dari beberapa media sosial untuk mencoba mencari diriku lagi. Facebook aku deactivate. Instagram tidak bisa aku tutup karena tidak tahu bagaimana caranya, tapi akun itu sudah menjadi ghost account karena sudah tidak bisa di-manage lagi. Username dan password sudah tidak aku ketahui lagi. Hilang, gone. Siapapun yang menjadi temanku di Instagram masih bisa melihat semua foto, tapi aku sendiri sebagai pemiliknya tidak bisa lagi mengatur dan mengakses semua foto-foto itu. Tapi tidak apa. Ini semua adalah bagian dari latihanku untuk berhenti…tapi sebenarnya berhenti melakukan apa?

Pertanyaan itu membawaku ke pertanyaan berikutnya yang sempat aku renungkan lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan akses ke Facebook dan Instagram, yaitu apa sebenarnya yang kita cari di media sosial? Apa yang kebanyakan manusia cari dari tempat-tempat semu dan palsu seperti itu? Aku katakan palsu karena semua itu adalah image, dan ada agenda tersembunyi (atau tidak tersembunyi) di balik pemajangan foto dan status itu. Ada tujuan di baliknya. Bahkan akun Facebook milik pemimpin negara dan gubernur Jakarta pun yang aku percaya tidak palsu, punya tujuan dan agenda mengapa menunjukkan gambar dan pesan tertentu. Tidak ada yang salah atau palsu dengan itu karena itu adalah suatu bentuk promosi dan penyampaian pesan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa merekapun punya tujuan. Dengan kata lain, apapun yang ditaruh di media sosial punya agenda, dan apakah kita semua sudah mewaspadai itu?

Akun yang aku maksudkan di atas adalah akun yang mempunyai tujuan yang jelas, pesan yang jelas dan membawa pesan positif. Banyak sebenarnya akun-akun seperti itu, dan itulah sebenarnya tujuan asli dari mengapa media sosial dibentuk, yaitu untuk memberikan suatu pesan positif secara cepat dan luas, dan untuk membentuk jaringan dengan orang-orang lain yang sepemahaman dan sekiranya dapat membantu usaha itu. Namun yang akhirnya membuatku sangat muak akhir-akhir ini adalah banyak sarana media sosial sudah tidak membantuku lagi secara personal untuk menjadi lebih baik. Aku juga sudah muak melihat berita-berita yang muncul yang hanya menimbulkan perasaan, pemikiran dan tindakan yang bersifat negatif. Aku muak melihat orang-orang yang bukannya menyampaikan pesan positif, tapi akhirnya hanya menyampaikan pesan negatif. Aku muak dengan orang-orang yang memakai sarana media sosial untuk mempromosikan diri sendiri dan sudah tidak memberikan dampak positif lagi bagi lingkungannya. Tidak ada lagi pesan positifnya, tidak ada lagi fungsi positif bagi keluarganya atau masyarakat sekitar. Kontennya hanyalah murni mengenai diri sendiri. Untuk apa? Apa yang mereka cari dengan perilaku itu? Sudah begitu miskinnyakah kita manusia dengan memberikan dan mendapatkan perhatian di dunia nyata sampai kita harus lari ke dunia maya untuk memberikan perhatian dan mendapatkan perhatian? Sudah sedemikian terputus-putusnyakah kita manusia dalam relasi sosial kita sehingga kita harus lari ke dunia maya untuk mendapatkan semacam perasaan “terkoneksi” dan “eksistensi”? Apakah dunia maya jawaban dari kehampaan dalam diri kita?

Dan bagaimana dengan kita yang lainnya yang ikut turun tangan untuk membuat dunia maya itu semakin heboh, semakin negatif dengan berapa klik “like” yang kita berikan terhadap foto, status, berita di dunia maya yang sudah tidak membangun lagi? Apanya yang membangun dari foto seseorang yang memperlihatkan foto close-up wajahnya dari segala sudut pandang, atau foto yang memperlihatkan hampir sebagian besar kulitnya, tapi semua foto-foto itu tidak ditunjukkan dengan tujuan mempromosikan suatu barang (seperti misalnya seseorang dengan profesi sebagai foto model yang bekerja untuk mencari uang dengan meminjamkan wajah dan tubuhnya untuk penjualan suatu alat). Tidak, foto-foto itu memang sengaja dipajang untuk mempromosikan diri sendiri. Memang benar melakukan semua itu adalah hak orang itu, tapi sudahkah kita bertanya apa pentingnya ini bagi orang lain? Sudah sedemikian dangkalnyakah kita dengan berlomba-lomba mempromosikan diri kita, tapi tanpa tujuan yang jelas selain untuk kepuasan diri semata? Kemudian, peran kita yang lainnya yang melihat itu apa? Kita semua yang hidup di dunia maya punya peran, dan peran itu kadang bisa semudah meng-klik saja. Suatu gerakan tangan yang kecil sebenarnya, tapi percayalah, dampaknya bisa tinggi karena kita ikut membantu menjual promosi diri orang itu, yang sebenarnya menurutku adalah sesuatu yang salah secara etika hidup. Apa tanggung jawab kita? Dan bagaimana dengan berita dan status terkait dengan politik akhir-akhir ini misalnya? Para partisipan dunia maya berlomba-lomba ingin mengatakan sesuatu untuk itu. Komentar beterbangan di sana-sini, semuanya punya pendapat sendiri-sendiri dan berani untuk membeberkannya. Tapi hampir semua komentar itu lupa akan 1 hal: pemahaman dan pertanggungjawaban atas apa yang dikatakan dan dilakukan di dunia maya. Kan gampang? Bisa bersembunyi di balik akun, di balik komputer. Tidak perlu pertanggungjawaban, tidak perlu susah-susah, semuanya bisa dilakukan di rumah saja. Tapi tindakan itu sudah membantu menyebarkan sesuatu yang negatif.

Apa yang sebenarnya kita cari di dunia maya? Apa yang kita ingin dapatkan dari dunia maya? Sementara itu, yang kita miliki di depan, di samping kita, di sekeliling kita, disia-siakan karena perhatian berfokus kepada dunia maya. Aku tidak bisa menjawab bagi orang lain. Bagiku sendiri, secara jujur yang aku cari di dunia maya dulu adalah eksistensi juga, ingin dilihat, mencari afirmasi atas keberadaan dan kemampuanku. Anehnya, hasilnya tidak seperti yang aku bayangkan. Pertama, ada semacam rasa ketidakpuasan yang mengikuti, seperti ingin lebih lagi, ingin mendapatkan lebih banyak klik like, ingin lebih banyak komentar untuk tulisanku, pokoknya lebih lebih lebih. Kedua, bukannya menjadi lebih baik, aku malah menjadi lebih terpuruk, berjalan mundur. Kreativitas dan keaktifanku berkurang, rasa percaya diriku menurun, dan sayangnya, pengetahuanku tidak bertambah. Aneh bin ajaib.

Bila aku berefleksi lebih dalam lagi, aku mencari jawaban apa yang aku inginkan di hidup ini dari tempat yang salah. Aku mencarinya ke luar (eksternal) dan bukannya ke dalam (internal).

Mari, teman-teman, kita berefleksi lagi dengan tujuan kita menggunakan dunia maya. Bila kita bisa menyadari bahwa kita tidak menjadi budak dalam penyampaian pesan-pesan negatif atau membantu orang lain untuk menjadi budak juga dalam ketergantungan mereka untuk eksis di dunia maya, maka teruslah menggunakan media sosial. Bila kita sendiri tidak menjadi bergantung pada dunia maya untuk mencari eksistensi diri sendiri dan melupakan orang-orang di sekitar kita yang jauh lebih berarti, maka teruslah menggunakan media sosial. Saya menyimpulkan bahwa dunia maya bisa berbahaya, bisa menghancurkan hubungan relasi di dunia nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memang bisa mendekatkan dua orang yang berjauhan tempat tinggalnya, asalkan dengan catatan bahwa penguatan dengan teman jarak jauh itu tidak mengorbankan relasi dengan orang yang dicintai. Mari kita lebih bijak menggunakan media sosial.

Untukku sendiri, aku memilih untuk berhenti sejenak dari beberapa media sosial. Whatsapp dan Line masih aku pertahankan karena tujuan pemakaian dua sarana itu adalah untuk komunikasi terkait dunia kerja. Kalaupun suatu hari aku muak dengan dua sarana itu dan menghentikannya sejenak, aku rasa orang-orang yang dekat denganku tahu bagaimana cara mencapaiku, yaitu dengan menggunakan sarana tempo doeloe, jaman purbakala, yang sudah jarang digunakan…

…menelpon.

Menguak Misteri

PictureImage is titled “Loneliness” by Orzz, from DeviantArt.com

jari-jari pucat muncul dari balik pintu kayu itu
perlahan tapi pasti, pintu mulai terkuak
tapi tarikan pintu bergerak terlalu pelan
seakan menggoda,
berpacu dengan detak jantung yang tak sabar menunggu
ada apa di balik pintu?
keingintahuan, ketakutan dan ketidaksabaran
bertarung di dalam pikiran
dan setelah sekian detik menahan napas —
— yang terasa seperti seabad,
daun pintu pun akhirnya terbuka penuh
entah apa yang dahulu terbayangkan
namun sejauh mata memandang,
yang terlihat hanyalah hamparan padang rumput datar,
malah tampak biasa saja, membosankan,
tak sebanding dengan imajinasi sebelumnya,
imajinasi yang terpancing oleh bayangan dari balik pintu,
yang sepertinya mengundang
kakipun mulai melangkah masuk, perlahan
memijak rumput basah yang pasrah untuk diinjak,
tapi sebelum melangkah lebih lanjut,
ku menoleh sebentar ke balik daun pintu
masih ada suatu keingintahuan yang perlu dipuaskan,
jari-jari pucat tadi secara perlahan maju dari balik pintu,
mulai menunjukkan rupanay,
dan melihat wajah itu – oh Gusti!
seakan tertampar oleh kenyataan
andaikan aku sedang melihat ke cermin
maka itulah yag aku lihat dari mata yang balik menatapku saat itu,
hanya tatapannya saja yang berbeda makna,
bukan ketakutan dan keingintahuan yang tercerminkan di mata itu,
melainkan suatu pertanyaan
namun tak ada kata yang perlu terucapkan
karena aku sudah tahu apa yang ingin dikatakan
mengapa begitu lama?
ternyata,
bayangan yang selama ini hidup di dunia yang aku takuti itu,
yang hidup sendirian di balik pintu,
yang terkucilkan,
yang telah lama menungguku untuk berani berkunjung,
adalah sosokku sendiri,
tawananku
pintu itu tak pernah terkunci
namun itu tak kusadari,
sosok itu tidak pernah bisa keluar dari belenggunya
karena aku yang memerintahkannya untuk bertahan di situ
dan itu juga tak kusadari,
ia yang setia menungguku selama ini
untuk mengunjunginya,
untuk menenemani,
ternyata selama ini menanti hanya satu hal —
— menanti pembebasan
dariku.
Originally published in July 2016.