Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Aku dan Dunia Maya

Dunia maya, cyber world, dunia yang penuh misteri menurutku. Banyak hal yang biasanya tidak terjadi di dunia nyata, bisa terjadi di dunia maya. Manusia bisa terlihat berbeda di dunia itu, jauh berbeda dibanding di dunia nyata. Terlihat lebih segalanya — lebih cantik, tampan, keren, bahagia, berhasil, dan seterusnya. Pesan apa yang ingin manusia sampaikan ke seluruh dunia, cukup ditampilkan dalam sebuah foto yang saat diklik mampu menggambarkan pesan dan kesan yang diinginkan. Pesan itu bisa juga disampaikan dalam bentuk sebuah status tertulis di media sosial — status yang menggambarkan kepintaran, kecanggihan, kehebohan, keberhasilan orang itu. Aku rasa hampir semua orang yang dalam kehidupan sehari-harinya bersentuhan dengan dunia gadget pasti sudah mengalami ini, termasuk aku sendiri. Foto, status, video link, bahkan tulisan seperti inipun, I have been guilty as well.

Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasakan kemuakan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya mengenai dunia maya. Aku sudah merasa menjadi budak dari dunia maya, merasa menjadi bergantung pada dunia maya untuk bisa berhubungan dengan orang lain atau mengetahui keadaan dan keberadaan orang lain, dan itu membuatku sebenarnya tidak nyaman, terlebih lagi karena apa yang aku temukan di dunia maya itu ternyata sering tidak membuatku bahagia. Aku menjadi semakin tidak bahagia, semakin terikat. Dunia maya menjadi semacam “kebutuhan”, bukan lagi untuk sarana komunikasi atau for fun.

Mengapa bisa demikian? Banyak yang sudah aku refleksikan sendiri. Dunia maya telah membuatku menjadi hilang kepercayaan diri sebenarnya, menjadi tersesat, hilang arah atas apa yang sebenarnya aku inginkan. Bukannya membuatku menjadi stabil dan kuat, tapi malah menghancurkan rasa percaya diriku, memporak-porandakan fondasiku, membuatku mempertanyakan mengenai eksistensi diriku sendiri. Padahal, aku sendiri tahu bahwa tidak ada yang kurang mengenai diriku. AKU CUKUP. I am good enough. Cukup dalam segala hal, termasuk tidak ada yang salah dengan kekuranganku. Tapi level “tahu” memang tidak sama dengan level “sadar”. Aku menyadari bahwa dunia maya telah membuatku membandingkan diriku dengan orang lain, kemudian menyalahkan orang lain atas kekuranganku. Dan apa hasil dari semua itu? Tidak lain adalah kepercayaan diri yang semakin terpuruk.

Aku memutuskan akhirnya untuk beristirahat dari beberapa media sosial untuk mencoba mencari diriku lagi. Facebook aku deactivate. Instagram tidak bisa aku tutup karena tidak tahu bagaimana caranya, tapi akun itu sudah menjadi ghost account karena sudah tidak bisa di-manage lagi. Username dan password sudah tidak aku ketahui lagi. Hilang, gone. Siapapun yang menjadi temanku di Instagram masih bisa melihat semua foto, tapi aku sendiri sebagai pemiliknya tidak bisa lagi mengatur dan mengakses semua foto-foto itu. Tapi tidak apa. Ini semua adalah bagian dari latihanku untuk berhenti…tapi sebenarnya berhenti melakukan apa?

Pertanyaan itu membawaku ke pertanyaan berikutnya yang sempat aku renungkan lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan akses ke Facebook dan Instagram, yaitu apa sebenarnya yang kita cari di media sosial? Apa yang kebanyakan manusia cari dari tempat-tempat semu dan palsu seperti itu? Aku katakan palsu karena semua itu adalah image, dan ada agenda tersembunyi (atau tidak tersembunyi) di balik pemajangan foto dan status itu. Ada tujuan di baliknya. Bahkan akun Facebook milik pemimpin negara dan gubernur Jakarta pun yang aku percaya tidak palsu, punya tujuan dan agenda mengapa menunjukkan gambar dan pesan tertentu. Tidak ada yang salah atau palsu dengan itu karena itu adalah suatu bentuk promosi dan penyampaian pesan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa merekapun punya tujuan. Dengan kata lain, apapun yang ditaruh di media sosial punya agenda, dan apakah kita semua sudah mewaspadai itu?

Akun yang aku maksudkan di atas adalah akun yang mempunyai tujuan yang jelas, pesan yang jelas dan membawa pesan positif. Banyak sebenarnya akun-akun seperti itu, dan itulah sebenarnya tujuan asli dari mengapa media sosial dibentuk, yaitu untuk memberikan suatu pesan positif secara cepat dan luas, dan untuk membentuk jaringan dengan orang-orang lain yang sepemahaman dan sekiranya dapat membantu usaha itu. Namun yang akhirnya membuatku sangat muak akhir-akhir ini adalah banyak sarana media sosial sudah tidak membantuku lagi secara personal untuk menjadi lebih baik. Aku juga sudah muak melihat berita-berita yang muncul yang hanya menimbulkan perasaan, pemikiran dan tindakan yang bersifat negatif. Aku muak melihat orang-orang yang bukannya menyampaikan pesan positif, tapi akhirnya hanya menyampaikan pesan negatif. Aku muak dengan orang-orang yang memakai sarana media sosial untuk mempromosikan diri sendiri dan sudah tidak memberikan dampak positif lagi bagi lingkungannya. Tidak ada lagi pesan positifnya, tidak ada lagi fungsi positif bagi keluarganya atau masyarakat sekitar. Kontennya hanyalah murni mengenai diri sendiri. Untuk apa? Apa yang mereka cari dengan perilaku itu? Sudah begitu miskinnyakah kita manusia dengan memberikan dan mendapatkan perhatian di dunia nyata sampai kita harus lari ke dunia maya untuk memberikan perhatian dan mendapatkan perhatian? Sudah sedemikian terputus-putusnyakah kita manusia dalam relasi sosial kita sehingga kita harus lari ke dunia maya untuk mendapatkan semacam perasaan “terkoneksi” dan “eksistensi”? Apakah dunia maya jawaban dari kehampaan dalam diri kita?

Dan bagaimana dengan kita yang lainnya yang ikut turun tangan untuk membuat dunia maya itu semakin heboh, semakin negatif dengan berapa klik “like” yang kita berikan terhadap foto, status, berita di dunia maya yang sudah tidak membangun lagi? Apanya yang membangun dari foto seseorang yang memperlihatkan foto close-up wajahnya dari segala sudut pandang, atau foto yang memperlihatkan hampir sebagian besar kulitnya, tapi semua foto-foto itu tidak ditunjukkan dengan tujuan mempromosikan suatu barang (seperti misalnya seseorang dengan profesi sebagai foto model yang bekerja untuk mencari uang dengan meminjamkan wajah dan tubuhnya untuk penjualan suatu alat). Tidak, foto-foto itu memang sengaja dipajang untuk mempromosikan diri sendiri. Memang benar melakukan semua itu adalah hak orang itu, tapi sudahkah kita bertanya apa pentingnya ini bagi orang lain? Sudah sedemikian dangkalnyakah kita dengan berlomba-lomba mempromosikan diri kita, tapi tanpa tujuan yang jelas selain untuk kepuasan diri semata? Kemudian, peran kita yang lainnya yang melihat itu apa? Kita semua yang hidup di dunia maya punya peran, dan peran itu kadang bisa semudah meng-klik saja. Suatu gerakan tangan yang kecil sebenarnya, tapi percayalah, dampaknya bisa tinggi karena kita ikut membantu menjual promosi diri orang itu, yang sebenarnya menurutku adalah sesuatu yang salah secara etika hidup. Apa tanggung jawab kita? Dan bagaimana dengan berita dan status terkait dengan politik akhir-akhir ini misalnya? Para partisipan dunia maya berlomba-lomba ingin mengatakan sesuatu untuk itu. Komentar beterbangan di sana-sini, semuanya punya pendapat sendiri-sendiri dan berani untuk membeberkannya. Tapi hampir semua komentar itu lupa akan 1 hal: pemahaman dan pertanggungjawaban atas apa yang dikatakan dan dilakukan di dunia maya. Kan gampang? Bisa bersembunyi di balik akun, di balik komputer. Tidak perlu pertanggungjawaban, tidak perlu susah-susah, semuanya bisa dilakukan di rumah saja. Tapi tindakan itu sudah membantu menyebarkan sesuatu yang negatif.

Apa yang sebenarnya kita cari di dunia maya? Apa yang kita ingin dapatkan dari dunia maya? Sementara itu, yang kita miliki di depan, di samping kita, di sekeliling kita, disia-siakan karena perhatian berfokus kepada dunia maya. Aku tidak bisa menjawab bagi orang lain. Bagiku sendiri, secara jujur yang aku cari di dunia maya dulu adalah eksistensi juga, ingin dilihat, mencari afirmasi atas keberadaan dan kemampuanku. Anehnya, hasilnya tidak seperti yang aku bayangkan. Pertama, ada semacam rasa ketidakpuasan yang mengikuti, seperti ingin lebih lagi, ingin mendapatkan lebih banyak klik like, ingin lebih banyak komentar untuk tulisanku, pokoknya lebih lebih lebih. Kedua, bukannya menjadi lebih baik, aku malah menjadi lebih terpuruk, berjalan mundur. Kreativitas dan keaktifanku berkurang, rasa percaya diriku menurun, dan sayangnya, pengetahuanku tidak bertambah. Aneh bin ajaib.

Bila aku berefleksi lebih dalam lagi, aku mencari jawaban apa yang aku inginkan di hidup ini dari tempat yang salah. Aku mencarinya ke luar (eksternal) dan bukannya ke dalam (internal).

Mari, teman-teman, kita berefleksi lagi dengan tujuan kita menggunakan dunia maya. Bila kita bisa menyadari bahwa kita tidak menjadi budak dalam penyampaian pesan-pesan negatif atau membantu orang lain untuk menjadi budak juga dalam ketergantungan mereka untuk eksis di dunia maya, maka teruslah menggunakan media sosial. Bila kita sendiri tidak menjadi bergantung pada dunia maya untuk mencari eksistensi diri sendiri dan melupakan orang-orang di sekitar kita yang jauh lebih berarti, maka teruslah menggunakan media sosial. Saya menyimpulkan bahwa dunia maya bisa berbahaya, bisa menghancurkan hubungan relasi di dunia nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memang bisa mendekatkan dua orang yang berjauhan tempat tinggalnya, asalkan dengan catatan bahwa penguatan dengan teman jarak jauh itu tidak mengorbankan relasi dengan orang yang dicintai. Mari kita lebih bijak menggunakan media sosial.

Untukku sendiri, aku memilih untuk berhenti sejenak dari beberapa media sosial. Whatsapp dan Line masih aku pertahankan karena tujuan pemakaian dua sarana itu adalah untuk komunikasi terkait dunia kerja. Kalaupun suatu hari aku muak dengan dua sarana itu dan menghentikannya sejenak, aku rasa orang-orang yang dekat denganku tahu bagaimana cara mencapaiku, yaitu dengan menggunakan sarana tempo doeloe, jaman purbakala, yang sudah jarang digunakan…

…menelpon.

Keinginan: Kunci Kebahagiaan dalam Berelasi?

Sebuah pertanyaan terlontar ke hadapanku hari ini yang mau tidak mau menjadi topik perenungan panjang dalam perjalanan kereta yang tidak kalah panjangnya pada malam hari yang tidak INGIN kalah panjangnya dalam menyelimuti kekelaman hati untuk mencari suatu jawaban. Sebenarnya yang dilontarkan kepadaku itu lebih berupa suatu pernyataan yang kemudian kuubah menjadi pertanyaan. Pernyataan itu berbunyi seperti ini, “Memang tidak mudah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.” Pertanyaan yang muncul di benak kemudian adalah apa perbedaan antara kebutuhan dan keinginan?

Otomatis kupanggillah yang namanya Oom Google lagi, si oom yang sok tahu itu. Dan seperti dugaanku, tak ada jawaban yang memuaskan yang bisa kudapatkan. Akan tetapi, hampir semua bacaan yang kudapatkan sepakat untuk mengatakan bahwa yang namanya kebutuhan itu lebih bersifat untuk keberlangsungan hidup, survival, sedangkan keinginan bisa dikatakan lebih bersifat ‘perasaan’, yang bila tidak adapun sebenarnya kita akan baik-baik saja.

Berdasarkan pijakan definisi ringan dan singkat di atas, aku membuat kesimpulan sendiri berarti apa yang selama ini aku lakukan dalam hampir semua relasiku adalah keinginan sebenarnya. Hanya keinginan saja — keinginan-keinginan yang kemudian ternyata membuatku sering tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini disebabkan oleh aku sendiri ternyata. Sampai di sini aku MENYADARInya dengan sesadar-sadarnya.

Seperti biasanya saat aku mulai memasuki dunia perenungan, satu pertanyaan selalu akan membawa ke pertanyaan berikutnya. Pertanyaan logis berikutnya adalah kalau kita manusia dalam berelasi selalu menginginkan sesuatu, dan apabila keinginan itu tidak tercapai/terkabulkan, apakah akan selalu berakhir dengan ketidakbahagiaan? Kunci dari kebahagiaan atau ketidakbahagiaan dalam berelasi dengan orang lain, apakah itu dengan teman, keluarga, pasangan hidup yang kita cintai, adalah keinginan? Aku paham bahwa bila ingin bahagia dalam berelasi, kita perlu menerima orang lain apa adanya. Menerima orang lain apa adanya itu apakah berarti membebaskan diri kita dari segala keinginan juga? Dengan kata lain, apakah sebaiknya dalam berelasi itu kita membersihkan pikiran kita dari suatu keinginan mengenai orang itu? Itukah kunci dari kebahagiaan?

(Kan sudah kubilang kalau satu pertanyaan akan menghasilkan pertanyaan lain… Welcome to the web of my mind. 😀 )

Bebas dari keinginan bisa dikatakan adalah kunci jawaban dari suatu kebahagiaan dalam menjalin hubungan. Sudah tepatkah? Aku ingin memberikan suatu alternatif sudut pandang. Bagaimana kalau kunci dari kebahagiaan dalam menjalin hubungan itu bukan mengenai membebaskan diri dari keinginan, tapi mengenai mendapatkan seseorang yang bisa memuaskan keinginan-keinginan itu. Jadi pendapat yang kedua ini adalah mendapatkan orang yang tepat, yang cocok, yang sependapat, yang memahami, yang soul-nya sejalan, sepadan, dan seterusnya. (Wow, cukup kedengaran agak sedikit idelistik menurutku.)

Bila aku memakai pengalamanku sendiri sebagai sumber refleksi dan menoleh ke masa laluku, untuk setiap pasangan yang pernah kuserahkan rasa percaya dan hatiku, sepertinya ada keinginan yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Pada saat aku bertemu pasangan yang baru, biasanya aku bersyukur karena dia tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sering tidak aku sukai di pasangan yang sebelumnya. Akan tetapi, perasaan euphoria itu kemudian suatu saat akan berakhir juga saat aku menemukan bahwa pasangan yang baru ini ternyata punya kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak aku sukai, sehingga timbullah keinginan-keinginan baru yang terkait khusus hanya untuk orang yang baru ini. Dan roda kehidupan berelasi pun terus berputar.

Dengan kata lain, alternatif kedua yang baru saja aku cetuskan di atas telah aku bantah sendiri. Kalau begitu, kita kembali lagi ke rumus yang pertama, yaitu bebas dari segala keinginan. Tapi sekarang aku juga ingin menyampaikan argumentasiku untuk rumus yang pertama ini. Sebenarnya, aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki keinginan terhadap seseorang yang dekat dengan kita? Bagaimana rasanya untuk hidup bebas di hati? Hidup free itu, bagaimana toh rasanya itu? K edengarannya indah. Tapi apakah memang selalu indah untuk hidup bebas dari keinginan? Bebas dari keinginan menurutku akan sering terjadi di mana kita mengalah, dan bagaimana itu rasanya? Bukankah itu juga bisa menjadi sesuatu yang berat? Akan bahagiakah hidup yang seperti itu? Seseorang yang bebas dari keinginan dalam hidup berelasi, benarkah orang itu bahagia?

Menurutku, kebebasan itu adalah ilusi. Angan-angan. Tidak ada yang namanya hidup yang bebas di dunia ini — bebas dari belenggu keinginan. Apakah benar ada orang yang benar-benar bebas? Malah ironisnya adalah hidup manusia itu sebenarnya hidup yang sosial, yang berarti kita selalu membutuhkan orang lain. Dengan demikian, selama kita masih membutuhkan orang lain, berarti akan ada semacam keterikatan, suatu perasaan. Semakin dalam keterikatan itu, semakin erat hubungan itu, semakin dalam juga perasaan dan emosi yang terjalin. Bila ada emosi, perasaan, berarti kita kembali lagi ke pertanyaan awal dari essay ini, yaitu ada suatu harapan yang kita inginkan dari hubungan itu biarpun harapan itu mungkin suatu harapan yang kecil. Harapan sekecil apapun berarti akan tetap ada suatu keinginan. Keinginan bisa dikatakan sudah kodrat manusia, bagian dari kemanusiaan, humanity. Tanpa adanya harapan dan keinginan, apakah kita masih manusia?

Sampai di sini, sudah sama bingungnyakah anda semua pembaca denganku karena aku baru saja menyanggah kedua hipotesis yang aku ungkapkan di tulisan ini. Bila anda belum menyadarinya, aku akan sampaikan sekarang, yaitu aku juga tidak punya jawaban dari semua pertanyaan di tulisan ini, terutama pertanyaan kunci kebahagiaan dari hubungan itu sebenarnya apa. Tulisan ini memang tidak bertujuan untuk memberikan jawaban, tapi mengajak untuk berpikir dan mungkin juga bertukar pikiran. Monggo, diskusinya bisa dimulai. Siapa tahu bisa memberikanku pencerahan juga.