Reflection


The word travel now sounds distant

Left peculiar taste in my mouth

Trying my best to keep my ground

What other choices do I have?

Seems the key here to remember

Is not to ask “when” in question

But free our mind from deception

Was our past world ever normal?

So life sends message we’re mortal

A good place to start reflection


Ronovan Writes Decima Poetry Challenge Prompt No. 55 – GROUND in the B rhyme line

For those who are not familiar with Decima, it is not a 10-line poetry with 8 syllables per line and following a rhyme set of ABBAACCDDC or two stanzas of ABBA/ACCDDC

Tuesday Writing Prompt Challenge April 27, 2020 from Go Dog Go Cafe: key, travels, choices

#NaPoWriMo2021 – Day 28 : write a poem that poses a series of questions

Meaning of Peace

Photo by Jamie Saw from Pexels

Tiptoeing ‘round the house
at its most quiet,
everyone asleep during those lonely hours,
should have been peaceful, yet
it stirred emptiness

I have gnawing fears too
like everyone else,
getting older, the future, to name a few,
cramped thoughts that could cripple
giving no freedom

What does peace mean to me
has transformed with age,
lately it has been accepting weaknesses,
one day make peace with them
no longer a foe

This poem follows the Double Ennead form of poetry. Ennead means 9, so Double Ennead here means double 9 or 99. Here’s an explanation below from Saddle Up Saloon: Colleen’s Double Ennead Challenge No.3 and while there, try the challenge too. The challenge is up for one month. For this month’s challenge, make the Double Ennead a rhymed poem. Mine above was an attempt of ababx, but still a bit choppy I think.

The Double Ennead comprises five lines with a syllable count of 6/5/11/6/5, (33 SYLLABLES per stanza) 3 STANZAS EACH = 99 SYLLABLES, NO MORE, NO LESS! Punctuation and rhyme schemes are optional and up to the poet.

Tuesday Writing Prompt Challenge April 20, 2021 from Go Dog Go Cafe: Write a poem on what Peace means to you

#NaPoWriMo2021 – Day 25

Balance (a senryu)

Photo by Pixabay on Pexels.com

When life’s unbalanced

I seek for the essentials…

gratitude and hope


I realize today that I don’t always need prompts from other people in order to write. I can search for a prompt from inside, from my own experience, which I have plenty of to pick. And I thank God for a day like today. He talked to me through everyone He sent down my way, which I’m thankful.

#NaPoWriMo2021 – Day 15 (no prompt)

Awal dari Peziarahan Batin Selama 3 Minggu ke Depan

Keputusan untuk menutup tempat kerja dan bekerja dari rumah pun akhirnya sampai ke tempat kerjaku. Saya bekerja di suatu universitas. Perkuliahan untuk mahasiswa memang sudah dipindahkan ke online semua minggu ini dan mahasiswa sudah dilarang untuk datang ke kampus, tapi kami para dosen dan karyawan masih masuk kerja minggu ini untuk menyelesaikan beberapa hal. Namun, instruksi terakhir dari pimpinan universitas hari ini akhirnya adalah kerja dari rumah tanpa pengecualian dan kampus akan ditutup selama minimum 3 minggu ke depan (sampai Paskah).

Saat ini mendekati jam 5 sore. Semua kerjaan sudah selesai untuk hari ini dan mestinya saya juga sudah pulang. Tapi saat sedang berkemas-kemas untuk pulang, di tengah-tengah kesibukan memikirkan apa saja yang perlu dibawa pulang untuk kerja 3 minggu ke depan, tiba-tiba terasa suatu serbuan emosi yang sedikit memaksa untuk diperhatikan. Sambil terduduk menatap layar komputer sebelum dimatikan, kusempatkan sebentar untuk mengenali perasaan apa itu yang muncul. Dan akhirnya, tulisan ini pun terciptalah.

Ada perasaan kehilangan yang pasti kurasakan. Apa yang hilang itu, aku juga belum tahu pasti. Butuh waktu biasanya untuk mengetahui ini. Mungkin rasa kehilangan ini muncul karena akan hilangnya kebiasaan rutin yang biasanya aku lakukan setiap hari dan mulai minggu depan tidak bisa lagi aku lakukan? Ataukah yang terasa hilang itu adalah kebebasan? Kehilangan kebebasan apa? Kebebasan ruang lingkup untuk bergerak? Kehilangan kebersamaan?

Sedih, itu yang sedang kurasakan. Sedih karena situasi di Indonesia akhirnya sampai ke keputusan yang dibuat oleh universitas hari ini, walaupun aku paham dan mendukung mengapa keputusan harus dibuat. Ini juga belum total lockdown. Aku tidak bisa bayangkan total lockdown itu seperti apa. Sempat juga terpikirkan betapa rendahnya posisi kita manusia bila dihadapkan dengan kenyataan alam yang Tuhan ciptakan.

Ah, itu dia satu lagi perasaan yang kurasakan, perasaan tak berdaya.

Tapi perasaan tak berdaya kurang membantu saat ini karena bila perasaan tak berdaya terus bertambah, bisa perlahan mengarah ke depresi ringan ke depannya. Perlu waspada terhadap perasaan yang satu ini.

Mungkin yang lebih baik adalah mengubah perspektifku untuk melihat keadaan sekarang ini sebagai cara Tuhan untuk menyapa kita umat manusia, bahwa sebanyak-banyaknya perencanaan yang kita lakukan, setinggi-tingginya keinginan yang kita inginkan, di atas semua itu masih ada kuasa Tuhan. Bayangkan betapa banyak perencanaan dari umat manusia yang sudah batal dalam dua bulan terakhir dan beberapa bulan ke depan. Kita diingatkan, saya diingatkan, bahwa saya bisa merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.

Hari ini, Jumat 20 Maret, 2020, adalah hari terakhir untuk masuk kerja sebelum masuk dalam tahap kerja dari rumah selama 3 minggu. Tiga minggu ini juga hanyalah sebuah perencanaan. Apakah hanya akan sampai 3 minggu atau perlu lebih? Kita lihat juga apa yang akan terjadi dalam 3 minggu ini.

Saya belum pernah tinggal di dalam rumah sendirian, seharian, tanpa aktivitas bekerja selama 3 minggu. Ini tantangan besar buatku. Bagaimana saya akan melalui semua ini? Entahlah. Apakah saya akan keluar dari masa ini sama seperti sebelum saya yang sebelumnya atau berbeda?

Pemikiranku, perasaanku, waktunya untuk lebih mawas diri. Olah raga, olah rasa, olah pemikiran, olah iman…inilah retretku selama minimum 3 minggu ke depan. Inilah peziarahanku untuk berani masuk ke dalam diriku sendiri karena aku yakin, 3 minggu adalah waktu yang sangat sangat sangat panjang untuk melakukan soul searching.

Sertailah aku dalam peziarahan internalku ini, Tuhan. Amin.

Kelekatan Duniawiku

 

Akhir-akhir ini aku banyak membaca tulisan-tulisan dari internet untuk membantu pemahaman diri. Ada satu artikel yang paling mengusikku dan membuat jari-jariku ingin menari lagi di atas laptop. Artikel itu mengenai non-attachment atau letting go, melepaskan kelekatan-kelekatan duniawi yang selama ini mengikat kita dalam bentuk keinginan-keinginan. Misalnya, keinginan untuk selalu sukses dan berhasil dalam pekerjaan, atau keinginan untuk diperlakukan sedemikian rupa dari pasangan. Saya ingin berfokus pada apa yang barusan ini saya alami terkait hubunganku dengan seseorang. Ini bukan tulisan yang mudah bagiku dan banyak orang yang tidak tahu mengenai ini, tapi aku akan mencoba untuk menyalurkan keluar apa yang aku alami sebisaku.

Salah satu kelekatan duniawiku adalah keinginan untuk dicari, diinginkan, dibutuhkan, diperhatikan. Tulisan ini bukan untuk memahami apa yang menyebabkan kelekatan itu padaku karena penyebab itu sudah pernah aku tuangkan di sarana lain dan juga karena penyebab itu personal buatku. Untuk saat ini, melalui tulisanku aku hanya bisa jujur mengenai kelekatan duniawiku, kerapuhanku.

Selama sekitar dua tahun terakhir ini aku menjalin hubungan dengan seseorang yang menurutku suatu hubungan roller-coaster, penuh naik dan turun, penuh gelombang, gejolak, tarik-menarik, kebimbangan, ketidakpastian. Mungkin bisa dikatakan bukan suatu hubungan yang sehat bagi kami berdua. Selalu ada yang mengganjal hubungan kami, seperti ada suatu ruang di tengah kami yang memisahkan. Saat berada di ruang kami sendiri-sendiri, maka kami baik-baik saja. Tapi begitu aku mencoba mendekati dan mulai masuk ke ruang yang di tengah kami itu, maka aku masuk ke ranah roller-coaster itu, naik turun, jatuh bangun, bagaikan sedang berada di tengah laut yang bergejolak dengan gelombang ombak yang besar menggoncang kami.

Bila aku telaah lagi dan melihat ke belakang, yang aku lihat menonjol dari sisiku adalah kelekatan-kelekatan yang aku sebut di atas itu, yang dengan berjalannya waktu berwujud tuntutan-tuntutan baginya. Dan karena cara kami berelasi dan juga mungkin karena kepribadian kami, entah bagaimana awalnya, pokoknya aku merasa keinginan-keinginanku itu tidak terkabulkan, dan itu malah tambah memicu lagi kekuatan dari kelekatan itu. Penafsiranku waktu itu adalah aku ditolak oleh dia, aku tidak diinginkan, aku tidak dibutuhkan, tidak diperhatikan, dan seterusnya. Parahnya, karena ini adalah suatu kelekatanku terhadap keinginan itu, yang terjadi bukannya aku pergi dan meninggalkan hubungan itu, aku malah bersikeras untuk lanjut terus dan kelekatanku juga semakin menjadi-jadi. Mungkin hampir mirip semacam obsesi jadinya bagiku di awal hubungan kami. Itu menjadi dance-ku dengannya selama mungkin dua tahun lebih. Aku bolak-balik antara menyalahkan diriku sendiri dan dia. Selama proses itu memang aku mencoba terus untuk menyadari diri, memperbaiki diri, dan seterusnya. Bacaan demi bacaan aku lahap, retret demi retret aku ikuti, dan memang aku merasa ada perubahan dalam diriku, bahwa aku menjadi lebih baik dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, aku merasa tidak bisa memperbaiki diri lebih baik lagi bila terus berada dalam posisi dimana aku terus diingatkan akan kelekatanku.

Barusan ini aku diingatkan lagi betapa lemahnya aku dengan kerapuhanku. Masih banyak yang masih perlu aku pahami dan terus upayakan untuk belajar memahami diri dan memperbaiki diri. Jujur, aku kadang merasa sangat sangat lelah dengan semua proses ini. Jauh lebih mudah mungkin untuk menyerah saja, pergi saja, tinggalkan dia, tinggalkan semuanya. Tapi ada bagian dari diriku yang membisikkan untuk jangan menyerah, karena pasti ada makna indah dari semua ini. Hanya harapan itu yang bisa aku ingatkan diriku terus supaya tidak menyerah.

Apa yang akan terjadi dengan hubungan kami ini, entahlah. Sebagai bagian dari proses melepaskan kelekatan duniawi ini, aku juga mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak bisa aku kontrol, termasuk keinginannya dan keinginanku yang sepertinya tidak cocok. Belajar melepaskan, bukankah itu kuncinya? Maka apa yang akan terjadi, terjadilah. Ini sudah pernah aku katakan kepada diriku sebelumnya, tapi mungkin bedanya antara perkataanku yang dulu dan yang sekarang adalah…sekarang ini aku lelah sekali. Aku sudah capek jatuh terus. Aku capek kecewa terus. Aku capek karena kepalaku terbentur terus karena memilih untuk berjalan secara buta. Aku capek karena memilih untuk terus berada dalam posisi “menginginkan” dan berharap dia akan menerimaku, menginginkanku, mencariku, dst. Mungkin kelelahan inilah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ini saatnya bagiku untuk melepaskan semua harapan itu, karena semua kelekatan itu menjadi sumber ketidakbahagiaanku.

Apakah aku masih mencintainya? Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku bingung, tidak tahu sebenarnya alasan aku berpegang terus padanya dan hubungan itu — apakah karena aku memang mencintainya atau karena tidak ingin melepaskan rasa ingin menguasai hubungan itu yang dipengaruhi oleh ketakutanku untuk ditinggal atau ditolak. Saat ini, aku sadar bahwa selama ini yang lebih kuat mempengaruhi keputusanku untuk terus lanjut adalah alasan kedua, yaitu tidak ingin melepaskan. Ketakutanku akan “kesendirian” tanpa ada yang mencintai dan menerimaku jauh lebih kuat selama ini. Tapi, dalam beberapa hari ini dengan lebih banyak waktu untuk merenung, yah, aku menyadari memang ketakutan itu ada dan sudah aku temukan dan bawa ke alam sadarku. Akan tetapi, aku juga menyadari masih ada rasa sayang yang tersisa. Apakah itu cinta? Mungkin. Apakah itu akan cukup kuat untuk bertahan dan dengan berjalannya waktu akan semakin kuat untuk mengalahkan kerapuhanku? Hanya waktu yang bisa menjelaskan.

Namaste.

index
Image was taken from https://themindsjournal.com/im-practicing-non-attachment-2/

 

Tulisan di atas terinspirasi oleh: The Art of Non-Attachment: How to Let Go and Experience Less Pain by Lachlan Brown di Hackspirit.com

 

 

Mencari Sahabat

Bersahabat dengan waktu, mungkinkah itu?

Entahlah. Akhir-akhir ini aku terus bergulat dengan topik ini. Apakah itu waktu yang terus mengejarku — setidaknya terasa seperti itu — atau apakah sebenarnya aku yang mengejar-ngejar waktu karena waktu sepertinya selalu berlari jauh lebih cepat di depan. Kenapa aku dan waktu tidak bisa berjalan bersama, selevel, seperti dua kawan lama yang berjalan sambil mengobrol? Kenapa selalu perlu ada acara kejar-kejaran?

Anehkah buatku untuk bertanya mengenai ini? Tapi aku memang akhir-akhir ini merasa level stresku bertambah, merasa seperti selalu lelah, tidak tenang, selalu ada yang perlu diingat, dilakukan, dan masalahnya, kadang yang perlu dilakukan itu harus segera pula dilakukan. Jangan tanya mengapa aku memakai kata ‘harus’ di sini, tapi yah untuk saat ini, itulah kenyataannya.

Lantas, mengapa aku hidup seperti ini?

Mungkin lebih tepatnya, mengapa aku merasa terjebak di tempat ini? Tahukah aku dulu saat membuat suatu keputusan besar dalam hidupku bahwa aku sedang memilih hidup yang seperti ini? Penyesalankah ini yang sedang berbicara?

Sebenarnya tidak. Ini bukan penyesalan yang berbicara, tapi keingintahuan. Ingin tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Tapi yah dalam hidup kadang kita memang tidak akan selalu tahu apa yang akan terjadi di masa depan, iya kan?

Bagaikan seorang pengelana di padang gurun yang sedang sangat kehausan, aku haus sekali akan kesempatan untuk hening. Hening itu tidak mesti berarti kesendirian, karena sebenarnya aku punya cukup waktu untuk sendirian setiap hari, tapi lebih kepada kondisi atau keadaan di mana aku bisa merasakan…yah seperti yang aku katakan di atas, berjalan selevel bersama dengan waktu.

Akan tetapi, saya juga ingin mengingatkan diriku sesuatu supaya tidak membuat keputusan yang mungkin kurang tepat hanya karena mengikuti suara/keadaan hatiku saat ini, bahwa aku sudah pernah mengalami keadaan-keadaan di mana aku diberi kesempatan untuk hening itu. Dan tahu apa yang terjadi? Keheningan itu malah membuatku tidak tahan. Keheningan itu malah sangat mengusik, tidak nyaman, malah membuatku kesepian dan gelisah. Bagaimana tidak gelisah kalau dihadapkan dengan titik-titik kelemahan?

Dengan kata lain, berada di sisi yang berlawanan dari keadaanku sekarang ini belum tentu sebenarnya akan membantu atau membuatku lebih bahagia. Belum tentu. Bisa saja sesampai di sana aku malah ingin kembali ke sini. Rumput tetangga memang selalu lebih indah ya? Apakah kita manusia memang selalu tidak merasa puas? Saya tidak ingin juga terjebak di keadaan hati yang seperti itu, selalu tidak puas. Pasti tidak nyaman.

Kalau begitu, apa yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini?

Saya sebenarnya ingin menjadi manusia yang lebih mampu menerima, lebih ikhlas, rendah hati. Ada bagian dari diriku yang memang selalu ingin sesuatu yang lebih untuk hal-hal tertentu yang menjadi kelemahanku. Yah, aku rasa semua orang juga mengalami hal ini — kodrat kita sebagai manusia — yaitu punya kelemahan dan menginginkan sesuatu. Saya ingin lebih bisa memahami kelemahanku itu, apa yang aku inginkan, rindukan dan kemudian menerimanya, bahkan berteman dengannya. Saya tidak ingin dikuasai oleh kelemahan itu.

Tapi sebentar, kenapa bisa sampai ke sini yah pembicarannya? Bukannya tadi diawali berbicara mengenai si waktu? Loh, lantas kemana si waktu ini? Kok ini bukan lagi ngomong mengenai waktu?

Ah, ternyata ujung-ujungnya ini mengenai diriku sendiri toh? Sorry yah, waktu, ternyata ini bukan mengenaimu. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, maafkan aku. Ini ternyata mengenaiku. Aku yang perlu berteman dengan diriku sendiri.

Amin.

tumblr_o6eodtWh351qcvheoo1_540
I’m still learning to love the parts of me that no one claps for.” 
Rudy Francisco

Art by the amazing Kate Louise Powell, taken from http://theglasschild.tumblr.com/post/143611893134/im-still-learning-to-love-the-parts-of-me-that

 

Getting to Know Our Thinking Pattern

Pay attention to the image below and list some words that might come to your mind triggered by the image or that you are projecting onto the image.

photo-1423882503395-8571951e45cc

Done? Remember, try to list some words before scrolling down.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

 

Most people will probably say words such as busy, bustling life, the future, working people, and so on. Some adjectives would probably be energized, inspiring, or even alive(!).

My guess is that most people will list words that are leaning towards the positive side, but I may be wrong.

How many of you wrote lonely or loneliness?

I did.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

We often think of loneliness as a feeling that comes out when we are alone. A person who lives alone, for example, may be thought of as being lonely because living in such a lone existence. The assumption might perhaps be true, but not always be the case.

An important aspect of loneliness that matters the most is not the low quantity or the zero amount of people we have around us, but the quality we have with those people. Have you ever been in the middle of a crowded union of people in a public place where folks are bustling in and out the building, minding their own business, like the picture above? I have, and in the midst of such environment, I felt it.

A surrounding like the picture above can serve as a trigger, inviting the feeling to slowly resurfacing. How? In my case, the lack of connection I experience to anyone around me in a public place always puzzles me. In a room so crowded where you have to watch your step without bumping into someone or being elbowed by someone, how can I, or anyone, feel so detached? I could disappear in that crowd and no one would notice or care. It seems that the more people in the room, the more unostentatious, hidden, and muted I could become.

Lacking connection or feeling unable to build connection with anyone is the key. Many reasons to explain why a person can lack a feeling of connection to anyone in a crowded environment. It could be a lack of confidence that has prevented a person from striking a conversation, or it could be a lack of warmth and openness from the environment, or both. Either way, something is preventing that person from making a connection.

If we analyze it deeper, sometimes it is a battle in the mind that acts as a barrier. In my case, for example, I felt “less” than the other people in the room. I compared my life to them and focused on what they had that I didn’t have. No wonder it affected my self-esteem, discouraged me, and left me unhappy — it was a perfect thinking formula to trigger loneliness.

Our thinking pattern therefore, is what we need to be paying attention to, which will take a long term practice to master. Onto what road path our thinking is leading us into, is something that we can be mindful of. For more information about learning to control our thinking pattern, I will refer to an article I read today about Struggling with Overthinking, which I find very useful. How to practice controlling overthinking is a topic that perhaps I will touch upon as a separate writing in the future.

The point for now is, every person can learn NOT to be lonely…by getting to know our own mindset and learning to control it.

So, happy learning.

*****

Day 4: A Story in a Single Image, from the Everyday Inspiration Writing Challenge.

 

Day 2: Life is about Making a List

Really? Is life truly about making a list? When was the list time you made a list? I normally don’t make a list. List and I are not close friends. I consider list as constricting, limiting. I therefore tend to stay away from making a list, but look at me now.

 

coffee-2306471__340
Image taken from pexels.com

It’s day 2 of the Finding Everyday Inspiration challenges. Don’t ask how many more days, but I sure hope I can reach the end without any stopping. God knows how I’m not good with discipline. Well, I guess this is a test. Can I make it to the finish line with this challenge? We shall see.

Today’s topic is Make a List. The challenge gave me four lists to choose, and the rebellious side of me is itchy to come out because I don’t like any of them! I’m supposed to pick one between Things I Like, Things I’ve Learned, Things I Wish, and Things I’m Good At.  And here’s my pick: Things I’d Like to Learn.

Good enough! Let’s do this. *cracking knuckles*

1. To let go. 

Growing up in a household where everyone had a tendency to control things and difficulty to let things happened on their own, I inevitably learned the same style of approaching life. Being a quick learner by observing others, unfortunately I adapted to that thinking style and carried it throughout my childhood and adult life. Only perhaps in the last one year I slowly unlearned that way of thinking…in a hard way. What I mean by hard way is by making a lot of mistakes and then learning from those mistakes. I fell way too many times in my life, but luckily I got up, even with bruises and wound that have never healed completely. This is something that I’m still learning to do. I am seeing an improvement, though. After a while, it’s just exhausting to keep falling down. No more.

2. To love myself. 

Another tough one. Also, because throughout childhood I never learned it. Nobody taught me that it was such a necessary one to have. I realize now that this is especially an important skill for women, and therefore it needs to be taught early in life. Young girls need to learn this mindset and concept in order to be able to survive in the world that, let’s admit it, run by men.

3. To love, instead of to have or to own. 

This is about loving other people or a special person. I’d like to know how it feels to love a person without not thinking that I own him or that he is mine. I think it’s an incredible kind of love. I know it exists, it can exist, and it takes a lot of understanding, self-growing, big heart to be able to accomplish it. I intend to learn it. And don’t you think that it’s a lot easier too? That to have a love like that is so much lighter, happier? To love without a wish, a want, and perhaps hope. If hope does exist in that kind of love, it is not to be together, but to be just it. To be able to continue to love, to be able to continue to feel the love in my heart and never lose it. I own the feeling, the love, but not the person.

 

coffee-2133444__340.jpg
Image taken from pexels.com

While writing the list above, I realized that I have another list I’d like to declare. And I title it Things that I’d Like to Do More Often:

  1. To laugh
  2. To see sunrise
  3. To see sunset
  4. To encourage younger people, especially young children, to read more
  5. To work harder to reach my dream
  6. To give more
  7. To have less, including needs, wants, expectations, and even hope. Keep ’em to a minimum, just the basic ones.
  8. To exercise
  9. To be adventurous
  10. To enjoy music and sing along

 

What a wonderful writing exercise as it turns out. But I think I should stop here. The idea of getting comfortable with making list is a bit too scary.

But I hope you get the message. I guess list is okay, if you use it the right way, which is to get to know yourself more.

Have a joyous journey!

love-myself

*****