Aku dan Dunia Maya

Dunia maya, cyber world, dunia yang penuh misteri menurutku. Banyak hal yang biasanya tidak terjadi di dunia nyata, bisa terjadi di dunia maya. Manusia bisa terlihat berbeda di dunia itu, jauh berbeda dibanding di dunia nyata. Terlihat lebih segalanya — lebih cantik, tampan, keren, bahagia, berhasil, dan seterusnya. Pesan apa yang ingin manusia sampaikan ke seluruh dunia, cukup ditampilkan dalam sebuah foto yang saat diklik mampu menggambarkan pesan dan kesan yang diinginkan. Pesan itu bisa juga disampaikan dalam bentuk sebuah status tertulis di media sosial — status yang menggambarkan kepintaran, kecanggihan, kehebohan, keberhasilan orang itu. Aku rasa hampir semua orang yang dalam kehidupan sehari-harinya bersentuhan dengan dunia gadget pasti sudah mengalami ini, termasuk aku sendiri. Foto, status, video link, bahkan tulisan seperti inipun, I have been guilty as well.

Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasakan kemuakan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya mengenai dunia maya. Aku sudah merasa menjadi budak dari dunia maya, merasa menjadi bergantung pada dunia maya untuk bisa berhubungan dengan orang lain atau mengetahui keadaan dan keberadaan orang lain, dan itu membuatku sebenarnya tidak nyaman, terlebih lagi karena apa yang aku temukan di dunia maya itu ternyata sering tidak membuatku bahagia. Aku menjadi semakin tidak bahagia, semakin terikat. Dunia maya menjadi semacam “kebutuhan”, bukan lagi untuk sarana komunikasi atau for fun.

Mengapa bisa demikian? Banyak yang sudah aku refleksikan sendiri. Dunia maya telah membuatku menjadi hilang kepercayaan diri sebenarnya, menjadi tersesat, hilang arah atas apa yang sebenarnya aku inginkan. Bukannya membuatku menjadi stabil dan kuat, tapi malah menghancurkan rasa percaya diriku, memporak-porandakan fondasiku, membuatku mempertanyakan mengenai eksistensi diriku sendiri. Padahal, aku sendiri tahu bahwa tidak ada yang kurang mengenai diriku. AKU CUKUP. I am good enough. Cukup dalam segala hal, termasuk tidak ada yang salah dengan kekuranganku. Tapi level “tahu” memang tidak sama dengan level “sadar”. Aku menyadari bahwa dunia maya telah membuatku membandingkan diriku dengan orang lain, kemudian menyalahkan orang lain atas kekuranganku. Dan apa hasil dari semua itu? Tidak lain adalah kepercayaan diri yang semakin terpuruk.

Aku memutuskan akhirnya untuk beristirahat dari beberapa media sosial untuk mencoba mencari diriku lagi. Facebook aku deactivate. Instagram tidak bisa aku tutup karena tidak tahu bagaimana caranya, tapi akun itu sudah menjadi ghost account karena sudah tidak bisa di-manage lagi. Username dan password sudah tidak aku ketahui lagi. Hilang, gone. Siapapun yang menjadi temanku di Instagram masih bisa melihat semua foto, tapi aku sendiri sebagai pemiliknya tidak bisa lagi mengatur dan mengakses semua foto-foto itu. Tapi tidak apa. Ini semua adalah bagian dari latihanku untuk berhenti…tapi sebenarnya berhenti melakukan apa?

Pertanyaan itu membawaku ke pertanyaan berikutnya yang sempat aku renungkan lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan akses ke Facebook dan Instagram, yaitu apa sebenarnya yang kita cari di media sosial? Apa yang kebanyakan manusia cari dari tempat-tempat semu dan palsu seperti itu? Aku katakan palsu karena semua itu adalah image, dan ada agenda tersembunyi (atau tidak tersembunyi) di balik pemajangan foto dan status itu. Ada tujuan di baliknya. Bahkan akun Facebook milik pemimpin negara dan gubernur Jakarta pun yang aku percaya tidak palsu, punya tujuan dan agenda mengapa menunjukkan gambar dan pesan tertentu. Tidak ada yang salah atau palsu dengan itu karena itu adalah suatu bentuk promosi dan penyampaian pesan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa merekapun punya tujuan. Dengan kata lain, apapun yang ditaruh di media sosial punya agenda, dan apakah kita semua sudah mewaspadai itu?

Akun yang aku maksudkan di atas adalah akun yang mempunyai tujuan yang jelas, pesan yang jelas dan membawa pesan positif. Banyak sebenarnya akun-akun seperti itu, dan itulah sebenarnya tujuan asli dari mengapa media sosial dibentuk, yaitu untuk memberikan suatu pesan positif secara cepat dan luas, dan untuk membentuk jaringan dengan orang-orang lain yang sepemahaman dan sekiranya dapat membantu usaha itu. Namun yang akhirnya membuatku sangat muak akhir-akhir ini adalah banyak sarana media sosial sudah tidak membantuku lagi secara personal untuk menjadi lebih baik. Aku juga sudah muak melihat berita-berita yang muncul yang hanya menimbulkan perasaan, pemikiran dan tindakan yang bersifat negatif. Aku muak melihat orang-orang yang bukannya menyampaikan pesan positif, tapi akhirnya hanya menyampaikan pesan negatif. Aku muak dengan orang-orang yang memakai sarana media sosial untuk mempromosikan diri sendiri dan sudah tidak memberikan dampak positif lagi bagi lingkungannya. Tidak ada lagi pesan positifnya, tidak ada lagi fungsi positif bagi keluarganya atau masyarakat sekitar. Kontennya hanyalah murni mengenai diri sendiri. Untuk apa? Apa yang mereka cari dengan perilaku itu? Sudah begitu miskinnyakah kita manusia dengan memberikan dan mendapatkan perhatian di dunia nyata sampai kita harus lari ke dunia maya untuk memberikan perhatian dan mendapatkan perhatian? Sudah sedemikian terputus-putusnyakah kita manusia dalam relasi sosial kita sehingga kita harus lari ke dunia maya untuk mendapatkan semacam perasaan “terkoneksi” dan “eksistensi”? Apakah dunia maya jawaban dari kehampaan dalam diri kita?

Dan bagaimana dengan kita yang lainnya yang ikut turun tangan untuk membuat dunia maya itu semakin heboh, semakin negatif dengan berapa klik “like” yang kita berikan terhadap foto, status, berita di dunia maya yang sudah tidak membangun lagi? Apanya yang membangun dari foto seseorang yang memperlihatkan foto close-up wajahnya dari segala sudut pandang, atau foto yang memperlihatkan hampir sebagian besar kulitnya, tapi semua foto-foto itu tidak ditunjukkan dengan tujuan mempromosikan suatu barang (seperti misalnya seseorang dengan profesi sebagai foto model yang bekerja untuk mencari uang dengan meminjamkan wajah dan tubuhnya untuk penjualan suatu alat). Tidak, foto-foto itu memang sengaja dipajang untuk mempromosikan diri sendiri. Memang benar melakukan semua itu adalah hak orang itu, tapi sudahkah kita bertanya apa pentingnya ini bagi orang lain? Sudah sedemikian dangkalnyakah kita dengan berlomba-lomba mempromosikan diri kita, tapi tanpa tujuan yang jelas selain untuk kepuasan diri semata? Kemudian, peran kita yang lainnya yang melihat itu apa? Kita semua yang hidup di dunia maya punya peran, dan peran itu kadang bisa semudah meng-klik saja. Suatu gerakan tangan yang kecil sebenarnya, tapi percayalah, dampaknya bisa tinggi karena kita ikut membantu menjual promosi diri orang itu, yang sebenarnya menurutku adalah sesuatu yang salah secara etika hidup. Apa tanggung jawab kita? Dan bagaimana dengan berita dan status terkait dengan politik akhir-akhir ini misalnya? Para partisipan dunia maya berlomba-lomba ingin mengatakan sesuatu untuk itu. Komentar beterbangan di sana-sini, semuanya punya pendapat sendiri-sendiri dan berani untuk membeberkannya. Tapi hampir semua komentar itu lupa akan 1 hal: pemahaman dan pertanggungjawaban atas apa yang dikatakan dan dilakukan di dunia maya. Kan gampang? Bisa bersembunyi di balik akun, di balik komputer. Tidak perlu pertanggungjawaban, tidak perlu susah-susah, semuanya bisa dilakukan di rumah saja. Tapi tindakan itu sudah membantu menyebarkan sesuatu yang negatif.

Apa yang sebenarnya kita cari di dunia maya? Apa yang kita ingin dapatkan dari dunia maya? Sementara itu, yang kita miliki di depan, di samping kita, di sekeliling kita, disia-siakan karena perhatian berfokus kepada dunia maya. Aku tidak bisa menjawab bagi orang lain. Bagiku sendiri, secara jujur yang aku cari di dunia maya dulu adalah eksistensi juga, ingin dilihat, mencari afirmasi atas keberadaan dan kemampuanku. Anehnya, hasilnya tidak seperti yang aku bayangkan. Pertama, ada semacam rasa ketidakpuasan yang mengikuti, seperti ingin lebih lagi, ingin mendapatkan lebih banyak klik like, ingin lebih banyak komentar untuk tulisanku, pokoknya lebih lebih lebih. Kedua, bukannya menjadi lebih baik, aku malah menjadi lebih terpuruk, berjalan mundur. Kreativitas dan keaktifanku berkurang, rasa percaya diriku menurun, dan sayangnya, pengetahuanku tidak bertambah. Aneh bin ajaib.

Bila aku berefleksi lebih dalam lagi, aku mencari jawaban apa yang aku inginkan di hidup ini dari tempat yang salah. Aku mencarinya ke luar (eksternal) dan bukannya ke dalam (internal).

Mari, teman-teman, kita berefleksi lagi dengan tujuan kita menggunakan dunia maya. Bila kita bisa menyadari bahwa kita tidak menjadi budak dalam penyampaian pesan-pesan negatif atau membantu orang lain untuk menjadi budak juga dalam ketergantungan mereka untuk eksis di dunia maya, maka teruslah menggunakan media sosial. Bila kita sendiri tidak menjadi bergantung pada dunia maya untuk mencari eksistensi diri sendiri dan melupakan orang-orang di sekitar kita yang jauh lebih berarti, maka teruslah menggunakan media sosial. Saya menyimpulkan bahwa dunia maya bisa berbahaya, bisa menghancurkan hubungan relasi di dunia nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memang bisa mendekatkan dua orang yang berjauhan tempat tinggalnya, asalkan dengan catatan bahwa penguatan dengan teman jarak jauh itu tidak mengorbankan relasi dengan orang yang dicintai. Mari kita lebih bijak menggunakan media sosial.

Untukku sendiri, aku memilih untuk berhenti sejenak dari beberapa media sosial. Whatsapp dan Line masih aku pertahankan karena tujuan pemakaian dua sarana itu adalah untuk komunikasi terkait dunia kerja. Kalaupun suatu hari aku muak dengan dua sarana itu dan menghentikannya sejenak, aku rasa orang-orang yang dekat denganku tahu bagaimana cara mencapaiku, yaitu dengan menggunakan sarana tempo doeloe, jaman purbakala, yang sudah jarang digunakan…

…menelpon.

Arti Hari Valentine

Sekali lagi, hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang telah tiba. Banyak harapan yang menggantung di udara hari ini, banyak impian, keinginan. Tidak semuanya akan terkabulkan, tapi aku berdoa semoga banyak yang bisa merasakan kebahagiaan pada hari ini. Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar mengerti arti hari Valentine dan mengapa hari ini menjadi hari yang ramai dirayakan?

Kita tidak usah membahas lagi mengenai siapa yang membuat hari ini ramai dan menjadi sekomersial ini. Aspek komersial dari hari Valentine ini mungkin tidak terlalu terlihat di Indonesia, tapi di dunia barat sana, ini adalah hari yang tidak bisa dihindari lagi keberadaannya. Setiap toko, supermarket, mall, sampai toserba kecil-kecilan semacam modelnya Indo Maret di luar sana pasti akan menunjukkan secara besar-besaran bahwa ini adalah hari Valentine sehingga tidak bisa dipungkiri lagi kenyataan bahwa hari yang dinanti-nantikan para pasangan dan hari yang dimimpiburukkan oleh para jomblo (guyon tok, jangan dianggap serius) telah tiba. Di Indonesia, untungnya, bagian ini masih belum seramai di negara barat. Malah dilarang di beberapa tempat karena dianggap membawa pengaruh buruk dan perilaku bebas bagi para kaum muda berdasarkan surat edaran yang sempat saya baca mengenai larangan merayakan hari Kasih Sayang di sekolah-sekolah di Indonesia.

Entah kenapa aku terfokus bukan pada pernyataan di surat edaran untuk melarang merayakan Hari Kasih Sayang, tapi terhadap kata-kata “Hari Kasih Sayang” itu. Saya sampai sekarang tidak bisa mengerti mengapa manusia sampai perlu menetapkan suatu hari khusus untuk memberikan dan menunjukkan rasa kasih sayang. Mengapa kita manusia merasa perlu ada hari khusus untuk diberikan ijin untuk melakukan sesuatu yang istimewa kepada orang yang dikasihi dan dicintai? Lantas apa yang kita lakukan di hari-hari yang lain? Aneh menurutku bahwa kita perlu suatu ALASAN, yaitu Hari Kasih Sayang atau hari Valentine, untuk menunjukkan kasih sayang kita. Setiap hari bisa kita tunjukkan kasih sayang itu melalui hal-hal kecil, melalui pemberian perhatian, waktu, energi kita bagi orang yang dikasihi.

Apa sebenarnya arti Kasih Sayang itu? Setiap orang mungkin punya jawaban sendiri-sendiri mengenai arti kasih sayang. Banyak waktu yang bisa habis terpakai untuk bertanya kepada orang mengenai arti dan definisi kasih sayang, tapi saya rasa itu cuma membuang waktu saja. Pertanyaan yang menurutku lebih tepat dan mengena adalah apa sudah kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita mengasihi seseorang? Menurutku itu lebih penting. Sudahkah kita memberikan yang terbaik dari waktu kita di dunia ini kepada orang yang kita kasihi itu? Tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk menunjukkan itu? Sudah benarkah kita selama ini dalam menunjukkan rasa kasih sayang itu dan bukannya menyia-nyiakan orang yang kita kasihi itu? Sudahkah kita menghargai orang itu dan apakah kita sudah menunjukkan dengan segala usaha bahwa kita menghargainya? Apa yang telah kita korbankan untuk menunjukkan bahwa kita menghargai orang itu? Pengorbanan — benarkah cinta kasih itu mengenai pengorbanan? Menurut para pembaca, bagaimana? Bila setuju, pengorbanan apa yang telah kita lakukan demi orang yang kita kasihi itu dan demi keberlangsungan hubungan kita?

Kasih sayang, menurut pendapat pribadi saya, adalah suatu perasaan, yang didasari oleh hubungan yang mana tercipta kedekatan dan kenyamanan yang kita alami dengan seseorang yang spesial, yang setelah berjalannya waktu (sehingga ada unsur familiaritas) akhirnya menghasilkan kepedulian dan kepekaan terhadap keadaan, keinginan dan kebutuhan orang itu. Terdapat unsur sosial dalam rasa kasih sayang. Kasih sayang bukan sesuatu yang disimpan di hati saja. Bila kita merasakan cinta dan kasih sayang kepada seseorang, secara alami timbul keinginan untuk menunjukkannya dan harapan untuk sesuatu tercipta — mungkin harapan akan adanya perasaan timbal balik dari orang itu. Bila tidak, kita sendiri yang akan merasakan konflik dalam batin kita, sehingga untuk mengatasi konflik batin itu, ada 2 pilihan yang bisa kita lakukan yaitu menunjukkan rasa kasih sayang itu, atau pilihan kedua, secara perlahan mematikan atau mengurangi rasa kasih sayang itu. Dengan kata lain, menyerah terhadap harapan yang masih ada. Ini mungkin terjadi karena si orang lain itu juga tidak memberikan kasih sayang sesuai keinginan kita, sehingga tidak ada motivasi untuk melanjutkannya. Kasih sayang, dengan kata lain, perlu dikeluarkan bila ingin berlanjut. Bila sudah tidak memungkinkan untuk berlanjut, rasa itu akan perlahan pudar. Di sinilah hubungan suatu pasangan akan mulai pecah karena unsur kepedualian dan kasih sayang itu sudah perlahan pudar. Demi keberlangsungan (survival) kedua belah pihak, keduanya perlu move on dan biasanya masing-masing akan mencari kasih sayang di tempat yang lain, apakah itu dari seorang pasangan hidup berikutnya yang kita pilih, atau dari teman, keluarga, dan siapa saja yang bisa memberikan kasih sayang demi keberlangsungan hidup kita. Manusia pada umumnya, secara alamiah, membutuhkan cinta kasih demi keberlangsungan hidupnya.

Dengan demikian, kasih sayang perlu pengorbanan, usaha, keberanian, dan kadang malah kreativitas juga supaya bisa terus hidup dan berlanjut. Kasih sayang tidak bisa dipaksakan, sehingga meminta seseorang untuk menunjukkannya saat orang itu belum siap atau tidak mau melakukannya, tidak ada gunanya. Kasih sayang perlu dipupuk untuk bisa berkembang terus, perlu diperhatikan. Bila tidak, saya rasa kasih sayang itu akan mati juga akhirnya, atau cuma satu pihak dari hubungan itu saja yang memupuknya dan lama kelamaan pihak itu akan kelelahan bila tidak ada timbal balik dalam hubungan itu sesuai dengan standar keinginannya. Tapi itulah indahnya hubungan cinta kasih. Ibarat timbangan tempo dulu yang dipakai untuk menimbang emas, kadang satu sisi akan kelelahan dan menjadi berat sebelah, sehingga sisi yang satunya perlu bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan timbangan lagi…dan seterusnya. Hidup suatu relasi menurutku seperti itu. Kedua belah pihak perlu bekerja sama dalam komitmennya supaya timbangan itu mampu terus seimbang. Komitmen itu, saudara-saudari yang aku kasihi, perlu dilakukan setiap hari, bukan hanya di hari Valentine saja.

Di akhir kata, mohon maaf, saya tidak merayakan hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Bila saya menyayangi seseorang, dan memang benar saya menyayangi dan mencintai seseorang yang spesial, saya tidak perlu hari Kasih Sayang untuk menunjukkannya. Kasih sayang itu bisa saya berikan kapan saja, dengan catatan: (1) Bukan cuma usaha dan waktu saya saja yang habis terpakai, (2) Orang yang saya sayangi dan cintai itu juga siap untuk membuka dirinya terhadap apa yang akan saya berikan karena saya tidak akan segan-segan untuk memberikannya (itulah kepribadian saya), sehingga bila mau menerima apa yang saya berikan, orang itu juga perlu siap menerima segala konsekuensi yang timbul dari komitmen yang bersifat timbal balik ini. Itulah relasi/hubungan cinta kasih yang matang, dewasa dan tidak takut terhadap komitmen.

***Selamat merayakan Cinta dan Kasih Sayang setiap hari***

Keinginan: Kunci Kebahagiaan dalam Berelasi?

Sebuah pertanyaan terlontar ke hadapanku hari ini yang mau tidak mau menjadi topik perenungan panjang dalam perjalanan kereta yang tidak kalah panjangnya pada malam hari yang tidak INGIN kalah panjangnya dalam menyelimuti kekelaman hati untuk mencari suatu jawaban. Sebenarnya yang dilontarkan kepadaku itu lebih berupa suatu pernyataan yang kemudian kuubah menjadi pertanyaan. Pernyataan itu berbunyi seperti ini, “Memang tidak mudah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.” Pertanyaan yang muncul di benak kemudian adalah apa perbedaan antara kebutuhan dan keinginan?

Otomatis kupanggillah yang namanya Oom Google lagi, si oom yang sok tahu itu. Dan seperti dugaanku, tak ada jawaban yang memuaskan yang bisa kudapatkan. Akan tetapi, hampir semua bacaan yang kudapatkan sepakat untuk mengatakan bahwa yang namanya kebutuhan itu lebih bersifat untuk keberlangsungan hidup, survival, sedangkan keinginan bisa dikatakan lebih bersifat ‘perasaan’, yang bila tidak adapun sebenarnya kita akan baik-baik saja.

Berdasarkan pijakan definisi ringan dan singkat di atas, aku membuat kesimpulan sendiri berarti apa yang selama ini aku lakukan dalam hampir semua relasiku adalah keinginan sebenarnya. Hanya keinginan saja — keinginan-keinginan yang kemudian ternyata membuatku sering tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini disebabkan oleh aku sendiri ternyata. Sampai di sini aku MENYADARInya dengan sesadar-sadarnya.

Seperti biasanya saat aku mulai memasuki dunia perenungan, satu pertanyaan selalu akan membawa ke pertanyaan berikutnya. Pertanyaan logis berikutnya adalah kalau kita manusia dalam berelasi selalu menginginkan sesuatu, dan apabila keinginan itu tidak tercapai/terkabulkan, apakah akan selalu berakhir dengan ketidakbahagiaan? Kunci dari kebahagiaan atau ketidakbahagiaan dalam berelasi dengan orang lain, apakah itu dengan teman, keluarga, pasangan hidup yang kita cintai, adalah keinginan? Aku paham bahwa bila ingin bahagia dalam berelasi, kita perlu menerima orang lain apa adanya. Menerima orang lain apa adanya itu apakah berarti membebaskan diri kita dari segala keinginan juga? Dengan kata lain, apakah sebaiknya dalam berelasi itu kita membersihkan pikiran kita dari suatu keinginan mengenai orang itu? Itukah kunci dari kebahagiaan?

(Kan sudah kubilang kalau satu pertanyaan akan menghasilkan pertanyaan lain… Welcome to the web of my mind. 😀 )

Bebas dari keinginan bisa dikatakan adalah kunci jawaban dari suatu kebahagiaan dalam menjalin hubungan. Sudah tepatkah? Aku ingin memberikan suatu alternatif sudut pandang. Bagaimana kalau kunci dari kebahagiaan dalam menjalin hubungan itu bukan mengenai membebaskan diri dari keinginan, tapi mengenai mendapatkan seseorang yang bisa memuaskan keinginan-keinginan itu. Jadi pendapat yang kedua ini adalah mendapatkan orang yang tepat, yang cocok, yang sependapat, yang memahami, yang soul-nya sejalan, sepadan, dan seterusnya. (Wow, cukup kedengaran agak sedikit idelistik menurutku.)

Bila aku memakai pengalamanku sendiri sebagai sumber refleksi dan menoleh ke masa laluku, untuk setiap pasangan yang pernah kuserahkan rasa percaya dan hatiku, sepertinya ada keinginan yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Pada saat aku bertemu pasangan yang baru, biasanya aku bersyukur karena dia tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sering tidak aku sukai di pasangan yang sebelumnya. Akan tetapi, perasaan euphoria itu kemudian suatu saat akan berakhir juga saat aku menemukan bahwa pasangan yang baru ini ternyata punya kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak aku sukai, sehingga timbullah keinginan-keinginan baru yang terkait khusus hanya untuk orang yang baru ini. Dan roda kehidupan berelasi pun terus berputar.

Dengan kata lain, alternatif kedua yang baru saja aku cetuskan di atas telah aku bantah sendiri. Kalau begitu, kita kembali lagi ke rumus yang pertama, yaitu bebas dari segala keinginan. Tapi sekarang aku juga ingin menyampaikan argumentasiku untuk rumus yang pertama ini. Sebenarnya, aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki keinginan terhadap seseorang yang dekat dengan kita? Bagaimana rasanya untuk hidup bebas di hati? Hidup free itu, bagaimana toh rasanya itu? K edengarannya indah. Tapi apakah memang selalu indah untuk hidup bebas dari keinginan? Bebas dari keinginan menurutku akan sering terjadi di mana kita mengalah, dan bagaimana itu rasanya? Bukankah itu juga bisa menjadi sesuatu yang berat? Akan bahagiakah hidup yang seperti itu? Seseorang yang bebas dari keinginan dalam hidup berelasi, benarkah orang itu bahagia?

Menurutku, kebebasan itu adalah ilusi. Angan-angan. Tidak ada yang namanya hidup yang bebas di dunia ini — bebas dari belenggu keinginan. Apakah benar ada orang yang benar-benar bebas? Malah ironisnya adalah hidup manusia itu sebenarnya hidup yang sosial, yang berarti kita selalu membutuhkan orang lain. Dengan demikian, selama kita masih membutuhkan orang lain, berarti akan ada semacam keterikatan, suatu perasaan. Semakin dalam keterikatan itu, semakin erat hubungan itu, semakin dalam juga perasaan dan emosi yang terjalin. Bila ada emosi, perasaan, berarti kita kembali lagi ke pertanyaan awal dari essay ini, yaitu ada suatu harapan yang kita inginkan dari hubungan itu biarpun harapan itu mungkin suatu harapan yang kecil. Harapan sekecil apapun berarti akan tetap ada suatu keinginan. Keinginan bisa dikatakan sudah kodrat manusia, bagian dari kemanusiaan, humanity. Tanpa adanya harapan dan keinginan, apakah kita masih manusia?

Sampai di sini, sudah sama bingungnyakah anda semua pembaca denganku karena aku baru saja menyanggah kedua hipotesis yang aku ungkapkan di tulisan ini. Bila anda belum menyadarinya, aku akan sampaikan sekarang, yaitu aku juga tidak punya jawaban dari semua pertanyaan di tulisan ini, terutama pertanyaan kunci kebahagiaan dari hubungan itu sebenarnya apa. Tulisan ini memang tidak bertujuan untuk memberikan jawaban, tapi mengajak untuk berpikir dan mungkin juga bertukar pikiran. Monggo, diskusinya bisa dimulai. Siapa tahu bisa memberikanku pencerahan juga.

Antara Mengetahui, Memahami, dan Menyadari

IMG_20170128_142612_953.jpg

 

Pada akhir pekan ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tangan para malaikatnya untuk menemukan banyak pemahaman baru. Salah satu pemahaman baru itu adalah perbedaan antara mengetahui, memahami, dan menyadari, dengan mengetahui sebagai level yang terendah dan menyadari sebagai level kognitif yang tertinggi. Bila bertanya pada kamus Bahasa Indonesia, ketiga kata itu mungkin bisa menjadi sinonim antara satu dengan yang lain. Misalnya, kita bertanya pada Oom Google apa sinonim dari mengetahui, maka kata-kata yang akan muncul salah duanya adalah memahami dan menyadari. (Silakan dibuktikan sendiri).

Selama 3 bulan terakhir, saya menggumuli suatu kenyataan mengenai diriku yang menurut pemikiranku sebelum saya memulai pergumulan ini adalah sesuatu yang sudah selesai saya gumulkan dan gulati sampai jatuh bangun, keringat basah kuyup, babak belur selama bertahun-tahun dalam perjalanan hidupku. Oh, betapa dangkalnya pemikiranku. Ternyata, kenyataan yang pikirku sudah tuntas itu belum selesai. Paling tidak belum selesai sepenuhnya. Pada akhir pekan ini, Tuhan membimbing saya untuk menyadari bahwa level proses perubahan di pemikiranku itu mungkin hanya mencapai level memahami saja — belum sampai pada level menyadari. Kalau level mengetahui itu ibarat membaca suatu kutipan kata-kata mutiara yang sering kita lihat akhir-akhir ini di media sosial dalam bentuk foto atau gambar yang disertai dengan kata-kata yang membuat kita kagum dan menggumamkan, “Oh, bagus ini” sehingga tergeraklah jari kita untuk memencet Like di bawah foto itu, memahami atau mengerti itu adalah pemahaman yang menggerakkan kepala kita untuk manggut-manggut karena kita mampu mengaitkan apa yang kita baca itu dengan dunia sehari-hari kita. Mungkin saat membaca kata-kata itu kita mengingat suatu kejadian yang kita lihat atau alami, sehingga tergeraklah hati kita untuk men-sharingkan kata dan gambar itu di wall media sosial kita juga. Akan tetapi, sudah benar-benar sadarkah kita mengenai arti kata-kata itu? Akan menimbulkan perubahankah dalam hidup kita sekarang sesudah membaca kata-kata itu?

Menyadari dalam arti yang sesungguhnya bagi saya adalah saat seperti tertampar. Hari ini dan kemarin, wajah saya ditampar oleh suatu kesadaran yang bukan hanya membuatku manggut-manggut saja, tapi juga malu. Iya, malu. Malu karena baru menyadari betapa selama ini saya sudah mengetahui dan memahami semua yang baru saja saya sadari, tapi membutuhkanku waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) untuk akhirnya sampai pada tahap hidupku sekarang di mana aku baru bisa menggabungkan semua yang sudah aku dapatkan menjadi SATU pemahaman keseluruhan. Menurutku, inilah yang namanya level KESADARAN. Sadar sepenuhnya tanpa ada lagi keraguan, kebohongan terhadap diri sendiri, ketidakpastian, penyangkalan. Kesadaran dalam arti melihat keseluruhan kehidupanku dan diriku sendiri tanpa ada batasan lagi. Menelanjangi diriku sendiri, sampai semua bagian dari kepribadianku, tabiatku yang jelek, yang tidak kusukai, yang memalukanku, yang menghantuiku, kulihat semua. Tak ada lagi pembatas. Tak ada lagi denial, atau benteng-benteng yang lain. Ini adalah kesadaran yang tidak lagi membuat kita menunggu untuk kapan akan memulai perubahan. Ini adalah kesadaran yang dapat membuat kita segera melakukan tindakan untuk memulai perubahan. Agak sedih juga sebenarnya saat menyadari bahwa semua perjalan hidupku sampai ke tahap menyadari ini “hanya” membutuhkanku 44 tahun saja 😀 Yah, tapi lebih baik 44 tahun daripada tidak sama sekali.

Apa itu yang aku sadari bukan fokus dari tulisan ini. Setiap individu mempunyai “apa” yang perlu disadari. Bagian “apa” ini akan berbeda-beda antara satu sama lain. Bagian yang mau saya fokuskan adalah mengenai “bagaimana”. Yang pertama, seperti yang sudah saya lukiskan di atas, ini bisa dimulai dengan mencoba membayangkan seseorang yang sudah jatuh bangun beberapa kali, babak belur, dan keringat membasahi tubuhnya setelah berlari ke sana dan ke mari selama bertahun-tahun tanpa tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dikejar, dan akhirnya merasakan lelah yang luar biasa. Beberapa dari kita manusia di dunia ini mungkin sudah sangat beruntung untuk pernah mengalami skenario di atas. Berbahagialah dan bersyukurlah sudah pernah mengalaminya karena hanya dengan dorongan yang seperti itu — dan disertai keinginan dan harapan untuk teruas bertanya dan mencari dengan meminta bantuan Tuhan — saya yakin suatu saat kita akan sampai pada tahap menyadari ini. Dengan kata lain, jalannya mungkin akan panjang dan berliku, tapi dengan iman dan keinginan untuk mau selalu menjadi lebih baik lagi, semuanya akan ada waktu dan tempatnya untuk sampai ke tempat yang Tuhan sudah sediakan buat kita.

Yang kedua, ternyata selama ini saya tidak pernah sendirian. Kalau saya perhatikan secara seksama, Tuhan sudah menyediakan malaikat-malaikatnya untuk menemani dan menuntunku. Hanya saya yang buta selama ini. Waktunya juga tepat untuk kapan malaikat-malaikat itu datang dan masuk ke dalam hidupku. Saya yang belajar bahwa kehadiran malaikat-malaikat yang berwujud manusia itu memang datang tanpa saya sadari dan campur-tangan mereka juga terjalin dengan alaminya tanpa saya sadari. Itulah indahnya hidup ini menurutku. Semuanya diawali dengan ketidaksadaran, dan saat kita sampai pada tahap kesadaran, luar biasa tamparan itu. Kejutan itu memang mengagetkan, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang indah. Bagaikan mendapatkan hadiah yang selama ini kita impikan dan sekarang hadiah itu tiba-tiba ada di hadapan kita. Surprise!

Bagian “bagaimana” untuk sampai ke tahap kesadaran inilah yang menurutku sangat indah. It was worth it to wait all this time, to hope all this time. Jangan menyerah dalam harapan untuk bisa sampai pada tahap menyadari ini. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

Hello

Hello.
Hello to you walking in the garden. What a nice day to take a walk, isn’t it? Please give my regards to the grass under your feet, to the birds singing above you, to the bench you’re sitting on, and to that crispy air of January. Better keep your sweater on, sir. It’s still quite chilly out there. By the way, love that bike!

Hello.
Hello to you with coffee in your hand. My oh my, the pile is high, my friend. My sympathy to you. Looks like you need that cup of bliss. Have you been having enough rest? Don’t forget to go home. Your loved ones miss you. And don’t forget to smile to them, bro. Oh, and nice coffee. Can smell it from out here. Arabica isn’t it?

Hello.
Hello to you up there. It’s been so rare to see you lately. Something must be in the way for us to see you. Is it lonely there? What a burden it must be to carry on your shoulders. Oh forgive me, I mean what an honor it must be. All I know is that I miss you. Life has been pretty dark down here lately. Shall we dance? Yes, of course under you. So light us please. Stay wild!

Hello.
Hello to you, growling one. Look at you, how cute! Awww, and you know it too, don’t you? Catch! Oh, that is smart. Yeah? Again? Okay. Catch! That a boy! Now give me a five!

Hello.
Hello to you, tall ones. Nice shade you’re giving me. Feel that fresh air, thanks to you. I can feel all my senses are alive! Can’t help to feel at awe standing small underneath you. This is indeed a very humbling experience. So sorry we haven’t been giving you enough appreciation that you deserve. Instead, we’ve been taking advantage of you. How wrong have we been!

And hello.
Hello to you whom I really want to say hello actually. It’s been a while since I last heard your voice. What have you been up to? What I would do to hear your stories again, to be in your company. Has the world drowned you again? Life may beat you upside down again and you may fall, but prevail, my dear. Stay with me and I’ll stay with you. In there. Yes, inside you. You got it. I’ll be — where you need me.

 

extending-hand

**This writing has been inspired by a writing prompt about hello. The instruction was simple. Write a story or a poem that starts with “hello.” Got it!**

Keluar dari Zona Nyaman

Kesempatan untuk menyicipi suatu pengalaman baru yang sangat mengesankan muncul di depan mataku beberapa hari yang lalu. Beberapa mahasiswa di fakultasku membentuk suatu komunitas baru, yaitu komunitas teater. Mereka menamakan komunitasnya “Seniman 15 Menit.” Nama itu didapatkan karena pertama kali kelompok itu terbentuk (sebelum menjadi komunitas) adalah karena mengikuti lomba drama di suatu ajang perlombaan nasional antarfakultas psikologi se-Indonesia dan waktu yang diberikan untuk pentas adalah 15 menit. Jadilah inspirasi untuk nama Seniman 15 Menit. Kelompok ini awalnya tidak terlalu aktif. Beberapa bulan kemudian mereka sempat melakukan pentas kecil-kecilan di depan mahasiswa baru pada acara pengenalan kampus dengan tema perkuliahan di fakultas psikologi kami. Kelompok ini tidak pernah mengikuti latihan dan bimbingan teater, dan jarang sekali melakukan latihan sendiri karena tidak ada yang bisa melatih mereka. Untunglah, dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa, pada bulan Oktober 2016 mereka tergerak untuk membentuk suatu komunitas teater secara resmi karena kehadiran seorang pelatih yang mau membimbing mereka secara tidak resmi. Walaupun tidak resmi, tapi keberadaan sang pelatih ini dalam beberapa kesempatan yang tercipta sudah membantu banyak dalam membangun semangat dan motivasi mereka untuk berlatih secara teratur. Tantangan dan kesempatan untuk berkembang juga muncul saat mereka ditawarkan untuk pentas di hadapan masyarakat umum dalam suatu acara perayaan Natal yang diselenggarakan oleh RRI Surabaya. Nama naskah mereka adalah “Om Toleransi Om.” Suatu pengalaman yang luar biasa mengesankan buat mereka…dan bagiku juga. Aku rasa harapan bagi kami semua yang terlibat dalam acara itu sangat simple sebenarnya, bahwa kami berharap kesempatan pentas itu semoga menjadi suatu awal baru bagi komunitas Seniman 15 Menit yang dapat membangun kreativitas dan pengembangan diri mahasiswa. Terimasih yang mendalam kepada pelatih mereka, Pak Retmono Adi (yang lebih akrab dipanggil Pak Didik), yang sudah mau memberikan waktunya untuk datang ke Surabaya dan melatih mahasiwa yang pentas. Tanpa dukungannya, kebersamaan dan keberhasilan di pentas Om Toleransi Om ini tidak dapat tercipta. Kesempatan bisa saja ada, passion dan keinginan bisa saja tinggi, tapi tanpa dukungan dan bimbingan, siapapun itu tidak akan mampu memberikan karyanya yang terbaik.

Aku belajar banyak dari apa yang aku lihat dan alami selama mendampingi para mahasiswa dalam proses persiapan pentas Om Toleransi Om barusan ini. Melihat proses perubahan dari awal latihan sampai saat pementasan itu sungguh luar biasa. Semangat, kegembiraan, kebersamaan, kesederhaan berpikir, kerendahan hati, dan ke-kreatifan yang saling mereka bagikan itu mengharukan. Terus terang, aku sendiri tidak menyangka bahwa mereka akan bisa melangkah sampai sejauh ini. Pemikiran seperti itu muncul bukan karena aku meragukan kemampuan mereka, tapi karena perubahan yang terjadi menurutku cukup cepat dan itu tidak terbayangkan sebelumnya olehku yang naif dan buta mengenai dunia teater. Sungguh tak menyangka perkembangan mereka bisa secepat itu. Kredit juga perlu diberikan kepada pelatih mereka yang mampu mendorong anak-anak untuk keluar dari zona nyaman mereka dalam waktu yang cepat. Dorongan yang diberikan oleh Pak Didik memang tegas, kadang keras kadang lembut, diselingi dengan banyak diskusi dan refleksi, dan kadang dilengkapi dengan shock therapy juga, tapi mungkin karena itulah perkembangan mereka bisa menjadi terlihat cepat.

Momen paling menyenangkan bagiku adalah pada malam terakhir sebelum hari pentas. Sore itu mereka barusan kembali dari gladi bersih di Ruang Auditorium RRI Surabaya dan lanjut dengan latihan lagi sebelum ditutup dengan makan malam bersama di kantorku. Saat duduk makan malam bersama, kami mengobrol dengan hangatnya. Mereka bercerita tentang pengalaman gladi bersih siang tadi, suka duka dari pengalaman persiapan dan latihan selama ini, dan seterusnya. Sebagaimana biasanya ruang rapat, meja-meja diatur dalam keadaan melingkar sehingga kami semua bisa saling melihat.

Di tengah-tengah perbincangan itu, salah satu dari mahasiswa secara iseng mengambil gelas aqua di depannya. Sejenak dia melihat gelas aqua itu sedemikian rupa seakan mempelajarinya, memutar-mutar gelas aqua itu di tangannya, dan kemudian memeragakan sesuatu dengan memakai gelas aqua itu sebagai alat peraga. Beberapa mahasiswa lain kemudia menebak apa yang diperagakan. Hahaha…mereka berbagi tertawa bersama karena apa yang diperagakan itu memang lucu. Tidak ingin kalah, mahasiswa yang di sampingnya kemudian mengambil gelas aqua yang sama dari mahasiswa sebelumnya dan memeragakan sesuatu juga, diiringi dengan teriakan tebakan dari yang lainnya dan tawa lepas. Untunglah waktu sudah di atas jam kerja (sudah jam 6 malam lewat), sehingga tidak ada satu manusiapun lagi di kantor yang sedang bekerja. Suasana mulai menghangat. Gelas aqua itu kemudian bergilir dari satu orang ke orang berikutnya, termasuk aku.

Pertamanya aku tidak bisa berpikir apa-apa. Kepala ini rasanya kosong, dan juga, ada sedikit rasa malu dan sungkan karena aku tidak terbiasa melakukan hal demikian di depan orang lain. Aku memang tipe orang yang kaku dan sering merasa sungkan saat seperti ini, yaitu saat melakukan sesuatu yang membutuhkan kreativitas dan keluar dari zona nyamanku memainkan peran tertentu di depan mahasiswaku. Aku sudah terbiasa dengan suatu peran dan untuk memerankan peran lain butuh upaya untuk masuk ke situ. Gelas aqua itu akhirnya aku oper dulu ke orang berikutnya di giliran pertama, tapi begitu sampai pada giliran kedua, mahasiswa menolak untukku melakukan hal yang sama. Setengah memaksa 🙂 Tapi anehnya, di dalam hatiku sebenarnya sudah terjadi konflik. Di satu sisi, rasa sungkan dan tidak nyaman itu cukup kuat, tapi ada bagian dari dalam diriku juga yang ingin ikut berpartisipasi. Aku merasa penasaran sebenarnya karena ada keinginan untuk berbaur, tertawa bersama. Akhirnya secara sadar, aku melawan perasaan dan pemikiran takut dan cemasku. Aku mencoba akhirnya.

Awalnya terasa canggung, kagok, tidak nyaman, tapi setelah putaran kedua, ketiga, mulai terasa okay. Aku teruskan. Saat susah mendapatkan suatu ide untuk berbuat apa dengan gelas aqua itu, aku berhenti sebentar dan mencoba mengambil waktu untuk mencari ide. Aku tidak ingin menyerah. Aku beranikan diri untuk memperagakan hal-hal yang sedikit lebih sulit, yang membutuhkanku untuk berdiri dari tempat duduk, dan ternyata aku bisa. Iya, aku bisa. Muncul perasaan senang dan puas, walaupun masih tersisa perasaan canggung. Namun, aku juga perlahan-lahan sadar, bahwa sebenarnya mungkin tidak ada yang tahu, atau tidak ada yang peduli, kalau aku merasa canggung. Cuma aku saja yang peduli sebenarnya. Merekapun mungkin juga merasa canggung, dan aku mana tahu itu? Pemikiran itulah yang akhirnya mendorongku untuk terus saja melakukan, biarpun kadang yang lain tidak bisa menebak apa yang aku peragakan, seperti saat aku memeragakan topi melayang di cerita Harry Potter. Toh ini bukan mengenai kemampuan memeragakan untuk bisa ditebak secara tepat. Ini mengenai bermain bersama, berbagi suatu momen yang indah bersama, tertawa bersama. Dan memang, pengalaman indah itu sungguh sangat menancap di dalam hatiku. Bertahun-tahun kemudian mungkin aku tidak dapat mengingat secara pasti kejadian malam itu, tapi aku akan selalu bisa mengingat perasaan nyaman dan indah yang aku rasakan bersama mereka.

Malam itu, aku keluar dari zona nyamanku. Aku menyalurkan ideku, mengerahkan otak kananku — sesuatu yang mungkin karena tuntutan kerja menjadi sangat jarang untuk aku lakukan. Dan untuk itu, aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengalaminya. Lebih bersyukur lagi, aku mau untuk keluar dari zona nyamanku dan masuk ke zona baru. Pengalaman yang mengesankan. Bahagia itu memang sederhana kok.

 

Keberadaanmu, Keberadaanku

makna kehidupan.jpg

 

Hidup memberikan kita banyak kesempatan untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Kesempatan itu datang biasanya dalam situasi-situasi terkait perkembangan kehidupan, misalnya kelahiran seorang anak, upacara pernikahan, atau kematian. Malam ini aku mengikuti upacara agama Katolik untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan seorang Romo yang dikenal dengan nama Romo Senti. Romo Senti meninggal dua hari yang lalu secara tiba-tiba.

Misa requiem atau misa arwah untuk mendoakan kepergian Romo Senti dilakukan di kapel kecil di asrama seminari tempat para frater yang dibimbing oleh Romo tinggal. Banyak umat Katolik yang berdatangan dari banyak tempat, bukan hanya dari Surabaya saja, karena Romo Senti sudah pernah berkarya dan melayani umat di beberapa tempat di Jawa Timur. Seminari malah tidak menyangka akan kedatangan sebegitu banyak umat, sehingga pada menit-menit terakhir kursi-kursi dari ruang kelas dan kamar para fraterpun dikerahkan.

Aku duduk di suatu sudut dan mengamati semua yang berlangsung di sekelilingku. Terlintas suatu pikiran kagum atas karya dan pelayanan Romo Senti sehingga banyak yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir baginya. Tak terhindari, terlontar beberapa pertanyaan di benak, bagaimanakah nanti pada saat waktuku untuk pergi dari dunia ini? Apa yang aku inginkan terjadi saat kepergianku nanti? Akankah sebegini banyak orang yang hadir juga? Apa yang ingin aku tinggalkan untuk diingat oleh orang-orang di sekitarku yang mengenaliku? Pemikiran-pemikiran seperti ini sebenarnya cukup logis. Banyak orang menurutku yang berpikiran demikian saat menghadiri acara-acara seperti ini, apapun upacara agama yang dipakai untuk mengiringi kepergian seseorang.

Aku tidak kenal Romo Senti sebenarnya. Mungkin ada yang bertanya mengapa aku datang bila demikian? Apalagi aku datang sendirian, tanpa ada yang menemani. Aku mencoba merenungkan beberapa kesempatan sebelumnya di mana kami berdua (saya dan Romo) pernah saling berpapasan. Sebenarnya, kami saling bertemu itu hanyalah saat berada dalam…lift. Iya benar, lift. Kami berdua bekerja dalam satu institusi pendidikan. Beliau mengajar di Fakultas Filsafat dan aku di Fakultas Psikologi. Kantor kami cuma berbeda 1 lantai saja; beliau di lantai 8 dan aku di lantai 9, sehingga waktu kami untuk bertemupun hanyalah di lift selama ini. Saling berpapasan, mata bertemu, saling menyebar senyum dan ucapan salam yang hangat, ditutup dengan anggukan dan kadang jabatan tangan. Sudah. Itu saja. Waktu mendengar bahwa beliau meninggal, aku malah harus mengingat-ingat yang mana orangnya. Saat melihat pengumuman misa dan fotonya, baru aku tersadar. Kawan se-liftku ternyata. Cukup kaget juga, karena memang kepergian beliau terjadi secara tiba-tiba.

Saat di misa arwah tadi, aku melihat semua frater (calon romo) yang menjadi anak-anak didikan beliau. Aku kenal sebagian besar frater itu karena banyak dari mereka yang pernah aku ajar juga dalam kelas psikologi yang wajib diikuti oleh mereka. Kuucapkan salam belasungkawa karena Romo Senti adalah dosen pendidik dan bapak pendamping bagi mereka. Saat menyetir mobil sepulangnya dari misa, sempat terpikir bagaimana perasaan para frater itu. Kehilangan figur yang banyak menemani pergulatan dunia studi dan panggilan mereka untuk menjadi romo pastilah bukan sesuatu yang mudah. Sempat terasakan suatu perasaan sedih juga. Jangankan mereka sebagai frater yang bertemu dengan Romo Senti mungkin tiap hari, aku yang bertemu dengan Romo hanya di lift saja sudah (anehnya) merasa sedikit rasa kehilangan.

Memang aneh menurutku karena aku tidak tahu beliau, tidak pernah berbicara dengannya. Romo Senti menurutku adalah seseorang yang pendiam, terlihat sedikit pemalu, tipe orang yang lebih banyak bekerja di belakang layar, bukan yang berada di depan, sehingga dia bukan tipe yang banyak berbicara. Kami tidak pernah bertukar pikiran. Kami hanya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sering berbagi waktu dan ruang di lift kecil gedung kami, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa ada sesuatu yang hilang dengan kepergiannya.

Bila direfleksikan lebih mendalam lagi, sungguh luar biasa sebenarnya bagaimana tanpa kita sadari kita mungkin telah menyentuh hati orang lain hanya dengan keberadaan kita. Kehadiran kita, tanpa memerlukan kata-kata, sudah cukup untuk memberikan suatu dampak tertentu bagi orang lain. Dampak itu mungkin tidak langsung dipahami oleh orang itu. Kesadaran itu mungkin baru akan muncul di kemudian hari saat kita tidak ada lagi. Kehadiran kita, keberadaan kita, senyum, sapaan, anggukan kecil, sudah cukup untuk memberikan sesuatu bagi orang lain — apakah itu rasa keakraban, kebiasaan, kenyamanan, atau rasa bahwa kita bersama-sama menjadi bagian dari suatu kelompok. Apapun itu, jangan pernah memandang enteng keberadaan kita.

Hari ini…Tuhan mengingatkanku mengenai itu melalui Romo Senti. Terimakasih, Romo. Terimakasih akan kehadiranmu selama ini di hidup banyak orang, di hidupku. Beristirahatlah dengan tenang. Biarkan kami yang meneruskan membawa cahaya bagi orang lain. Semoga karyamu terus berlanjut di kehidupan selanjutnya. Amin.