Penjungkirbalikan!

Girisonta, Sabtu Malam Paskah, 20 April 2019

Misa Sabtu malam Paskah di Girisonta malam ini dipimpin oleh Romo Priyo, SJ (Serikat Yesus, suatu ordo dalam agama Katolik). Terus terang begitu tahu bahwa Romo Priyo yang akan memimpin misa, saya sudah menunggu bagian homili ini, sehingga tidak heran kalau beliau memulai dengan sebuah cetar! Tidak sampai membahana, tapi cetarannya sudah sangat menggugah.

Homili atau kotbah di tengah misa diawali seperti biasa dengan membahas injil bacaan malam itu dari injil Lukas mengenai bagaimana dua malaikat memberi kabar kepada murid-murid Yesus bahwa Yesus telah bangkit. Tidak mungkin(!) pikir mereka. Sama seperti kita manusia jaman sekarang kalau diberitahu bahwa ada orang yang bangkit dari kematiannya, maka reaksi pertama mereka adalah tidak percaya. Mustahil! Dengan kata lain, pemahaman mereka, dunia mereka dengan seketika DIJUNGKIRBALIKKAN oleh para malikat itu. Apa yang terjadi pada murid-murid selanjutnya, apakah mereka kemudian percaya atau tidak, tulisan saya ini bukan berfokus pada itu. Mari kita lanjut.

Romo kemudian mengaitkan peristiwa penjungkirbalikan yang dialami oleh para murid dengan keadaan pasca-kebenaran di Indonesia saat ini, bagaimana fenomena memutarbalikkan, menjungkirbalikkan kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran, membuat berita bohong, sangat mudah terjadi. Tapi maaf, INI juga bukan fokus tulisan saya sekarang. Dan saya rasa ini juga bukan fokus dari homili malam itu. Wong yang hadir di misa itu orang-orang waras semua kok! Kami tidak perlu diingatkan mengenai keadaan pasca-kebenaran.

Tidak, masih bukan itu fokus tulisan ini. Jadi apa toh sebenarnya yang ingin saya fokuskan?

Setelah dua bagian di atas, Romo akhirnya masuk ke bagian yang menceritakan mengenai pengalaman pribadinya sendiri yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Romo menceritakan bagaimana dia mengunjungi sahabatnya, Romo Henk, SJ, yang waktu itu sedang diopname di salah satu RS. Romo Henk berusia 90 tahun dan saat ini adalah romo SJ tertua di Indonesia. Romo Priyo mempersiapkan diri untuk menemukan keadaan Romo Henk sesuai dengan apa yang banyak orang bayangkan bila seseorang dalam usia seperti itu dan sedang dirawat di rumah sakit. Yah, mungkin saya pun akan membayangkan orang itu akan terkapar di tempat tidur, lemah, tidak bersemangat, dll. Tapi apa yang dia lihat saat membuka pintu kamar Romo Henk?

Siulan lagulah yang menyambut kedatangannya saat dia membuka pintu itu. Siulan itu dikumandangkan oleh Romo Henk sendiri, yang sedang duduk di kursi roda, tak terlihat tanda-tanda seseorang yang sakit, lemah, tidak bersemangat, dll itu. Sebaliknya tersenyum, sehat, dan yah gitulah, tanda-tanda seseorang yang menikmati hidup! Tapi yang paling mengesankan bagi Romo Priyo adalah lagu yang disiulkan dan dinyanyikan itu. Sebelum selesai mengatakan judul lagunya di depan kami, Romo Henk — yang saat itu sedang duduk di depan gereja juga, tidak jauh dari Romo Priyo — sudah mulai mengumandangkan duluan lagunya cukup keras, yang membuat kami yang mendengarkan tersenyum.

Lagunya adalah Ibu Pertiwi. Tahu kan Anda semua lagunya?

 

Kulihat Ibu Pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini Ibu sedang susah

Merintih dan berdoa

 

Ini sebuah lagu yang sudah lama tidak kudengar, tapi tahukah Anda semua bahwa ini aslinya adalah lagu nasrani dengan judul What a Friend We Have in Jesus yang lirik lagunya diciptakan oleh Joseph M. Scriven pada tahun 1855 dan iramanya diciptakan oleh Charles C. Converse pada tahun 1868? Yah, saya juga baru tahu malam itu saat diberitahukan oleh Romo. Lagu itu asalnya adalah Christian song, sehingga tidak heran Romo Henk menyanyikannya saat itu, walaupun sebenarnya Romo Henk juga sudah lama di Indonesia. Malah mungkin hidupnya lebih banyak dihabiskan di Indonesia (daripada di tanah asalnya) sebagai romo misionaris dan sekarang sudah menjadi WNI .

Jadi pada saat itu, Romo Henk berhasil menjungkirbalikkan Romo Priyo dengan caranya menyambut Romo Priyo. Tapi sebentar, cerita ini belum selesai, saudara-saudaraku. Romo Priyo kemudian bercerita bagaimana dia menemani Romo Henk ke kegiatan pemulihan di suatu ruangan lain. Mohon maaf saya lupa detailnya pemulihan seperti apa, tapi intinya ada beberapa perawat dan ahli medis lainnya di ruangan itu yang biasanya mendampingi Romo Henk. Mungkin semacam physical therapy, tapi saya tidak yakin sepenuhnya mengenai itu.

Intinya adalah, saat mereka ke ruangan itu, Romo Priyo mengalami sekali lagi episode penjungkirbalikan! Semua ahli medis yang bekerja di ruangan itu menyambut Romo Henk dengan siulan lagu yang sama!

Mari sejenak kita bayangkan Romo Henk dengan keterbatasan fisiknya yang ‘mestinya’ sedang sakit, tapi masih mampu menyalurkan energinya, pengaruhnya, soul-nya kepada orang-orang lain di sekitarnya. Suka cita itu mengalir, tersalur dengan begitu indahnya kepada orang-orang lain. Dan saya yakin, hanya suka cita yang didasari oleh cinta kasih, semangat hidup, kerendahan hati, dan penerimaan apa adanya, yang bisa menjangkiti orang lain dengan mudahnya. Sungguh, tanpa disadari mata ini sudah berkaca-kaca. Sambil melihat ke arah Romo Henk, aku menelan ludah tapi tenggorokan terasa kering. Akupun merasa seperti tertampar. Usia 90, badan sudah mulai menunjukkan kejujurannya dalam mengutarakan kekurangan fisik seseorang yang berada di usia itu, maka mau tidak mau siapapun itu, pasti akan menyadari betapa dekatnya mereka dengan yang namanya akhir hidup.

TAPI…yang aku lihat dengan mataku sendiri, yang aku dengar dari kesaksian Romo Priyo, tidak ada tanda-tanda kegentaran dari Romo Henk. Maka, aku mengatakan sekarang, aku pun pantas untuk merasa dijungkirbalikkan juga.

Terima kasih sudah menjangkitiku dengan sukacitamu dan menjungkirbalikkanku, Romo Henk.

Terima kasih sudah berbagi kisah inspiratif, Romo Priyo.

Selamat Paskah, anak-anak Tuhan.

 

__________________________________________________________

Bagi yang ingin mendengarkan lagu What a Friend We Have in Jesus, saya berikan link youtube-nya  di sini. Selamat menikmati.

 

Advertisements

Struggling to Find Inspiration

b-2480x1840

I’m struggling with writing lately. As you can see, I’ve been trying to write regularly again in the past one week after being absent for many many months (maybe even a year). There has been an itch again to write that I felt a week ago. I want to write, but I don’t know if anyone can see through my writings lately that I’m actually struggling. I really don’t know WHAT to write.

I’ve visited those pages that give prompts, trying to get an inspiration on what to write, and still no impact. I used to be able to write on nothing in the past. I remember writing about eating ice cream and how the act of eating ice cream reminds me of going through a vacation…they both end too fast. Now, I can’t even feel the inspiration to write. Ideas came and went in my head, but I didn’t have any interest to write any of them.

I know it is best to keep on going, just type something. If I stop now, this block may get worse. See, I think the desire to write is there, the passion is also there, which is why I’m sticking to this task. But what I’m lacking is…the inspiration.

What to write?

Help. I think I’m experiencing creativity block.

 

Border

https://www.maxpixel.net/Night-Flashlight-Trees-Forest-Winter-Moonlight-1245875

Night Flashlight Trees Forest Winter Moonlight

between past and present

moving along shadows

in between moon and stars

there was a thin line

where they stood across from each other,

him and her

staring,

and despite everything she’d tried

everything she’d dare to imagine

she knew better

never cross that line!

Symbol of Freedom

(Scroll down for Indonesian translation – Turun ke bawah untuk versi terjemahan Bahasa Indonesia)

I read an article today about a book review. It doesn’t matter what the title of the book is or who wrote it, but there is a line in that review that caught my attention. It says that the story protagonist’s symbol of freedom is a swing in front of her house. Perhaps it means that whenever the character sits on the swing, she feels free.

That line made me asked myself, what is my own symbol of freedom?

I’ve been racking my brain trying to find the answer to that question and nope, still haven’t found one yet. I tried to remember when was the last time I felt that feeling of freedom, of feeling very very free. Or even times in the past whenever I felt free. That’s when I found one.

For sure every time I went on a trip in the past, I felt that feeling, especially a long trip that involved a little bit feeling of adventure. I think the last time I felt like that was on my trip to Germany in 2018. I went on that trip on my own from Surabaya, Indonesia to Hannover, Germany, and when I arrived in Hannover, it was almost midnight. I had to take a train from the airport to the hotel downtown with no clue how to get to the hotel, so had to ask some people. I completely remember the thought and emotion that came to me as I was walking out of the train station to the hotel dragging my suitcase. I looked around me, saw how there were only very few people on the street, and thought, “This would never happen to me in my country. I doubt I could travel ALONE in the middle of a very quiet night going to some place I’ve never been to and not feeling afraid at all.” Yes, I did not feel afraid at all. Instead, I felt free! For a person like me growing up in a country where freedom like that for women and feeling safe is very very rare, so I treasured that moment. I remember stopped my walk for a few minutes, sat down at a bench nearby, and then just inhaled-exhaled my surroundings.

In other words, my personal definition of freedom is to be able to do something that I otherwise could not do because of social restrictions that are often put up by society for women in my country. Other people may have their own definition of freedom, but this is mine, based on my story above.

But I haven’t answered my question about symbol of freedom, have I?

I guess I don’t have a specific symbol. For me, it’s more about the ACTION, being able to do something that I normally could not do. The reason for me not being able to do it is not necessarily because there is a rule restricting it, but it’s more because of my perception, influenced by the cultures that I absorb consciously or unconsciously throughout my life.

Since I don’t have that many symbol of freedom in the form of action that I can think of, perhaps my next task is to discover more ACTION where I can feel that sense of freedom. I’m sure I have more. I just have to redefine them also as actions of freedom.

_____________________________________________________________________________________________

Terjemahan Indonesia:

Saya membaca suatu artikel hari ini tentang ulasan buku. Tidak masalah apa judul buku itu atau siapa penulisnya, tetapi ada suatu kalimat dalam ulasan itu yang menarik perhatian. Dikatakan bahwa simbol kebebasan bagi tokoh protagonis di buku itu adalah ayunan di depan rumahnya. Mungkin yang dimaksud adalah setiap kali si protagonis duduk di ayunan, dia merasa bebas.

Kalimat itu membuat saya bertanya pada diri sendiri, apa simbol kebebasanku?

Saya sudah memeras otak untuk menemukan jawaban pertanyaan itu dan masih belum menemukan. Saya mencoba mengingat kapan terakhir kali saya merasakan perasaan kebebasan itu, merasa sangat sangat bebas, atau bahkan kapan saja di masa lalu setiap kali saya merasa bebas. Saat itulah saya menemukan satu cerita.

Yang pasti setiap kali saya melakukan perjalanan di masa lalu, saya merasakan perasaan itu, terutama perjalanan panjang yang melibatkan sedikit perasaan petualangan. Rasanya terakhir kali saya merasa seperti itu waktu dalam perjalanan ke Jerman pada tahun 2018. Saya melakukan perjalanan itu sendiri dari Surabaya, Indonesia, ke Hannover, Jerman, dan sudah hampir tengah malam ketika tiba di Hannover. Saya harus naik kereta api dari bandara ke hotel di pusat kota tanpa petunjuk bagaimana menuju ke hotel, jadi saya harus bertanya kepada beberapa orang. Masih benar-benar jelas di ingatan mengenai pikiran dan emosi yang saya alami ketika berjalan keluar dari stasiun kereta ke hotel sambil menyeret koper. Saya menoleh kiri-kanan, melihat bagaimana hanya ada sedikit orang di sekeliling, dan berpikir, “Ini tidak akan pernah aku alami di negaraku. Saya ragu bisa bepergian ke suatu tempat yang baru sendirian di tengah malam yang sangat sunyi dan TIDAK MERASA TAKUT sama sekali. ” Ya, saya tidak merasa takut sama sekali. Sebaliknya, saya merasa bebas! Untuk orang seperti saya yang masa kecilnya tumbuh dan berkembang di negara yang kebebasan dan rasa aman seperti itu untuk wanita sangat jarang, saya jadi sangat menghargai momen itu. Saya ingat waktu itu menghentikan langkahku selama beberapa menit, duduk di sebuah bangku di dekat situ, dan kemudian menghembuskan nafas lega.

Dengan kata lain, definisi pribadi saya tentang kebebasan adalah kemampuan untuk dapat melakukan sesuatu yang biasanya tidak dapat dilakukan karena batasan sosial yang sering dibuat oleh masyarakat untuk perempuan di negara saya. Orang lain mungkin memiliki definisi berbeda tentang kebebasan, tetapi ini milik saya, berdasarkan kisah saya di atas.

Tetapi saya belum menjawab pertanyaan saya tentang simbol kebebasan.

Sepertinya saya tidak memiliki suatu simbol khusus. Bagi saya, ini lebih tentang TINDAKAN, bisa melakukan sesuatu yang biasanya tidak bisa saya lakukan. Alasan saya tidak bisa melakukannya belum tentu karena ada aturan yang melarang, tetapi lebih karena persepsi saya, yang dipengaruhi oleh budaya yang saya serap secara sadar atau tidak sadar sepanjang hidupku.

Karena saya tidak memiliki banyak simbol kebebasan dalam bentuk tindakan yang dapat saya pikirkan, mungkin tugas saya selanjutnya adalah menemukan lebih banyak lagi TINDAKAN di mana saya dapat merasakan rasa bebas itu. Saya yakin punya lebih banyak. Mungkin hanya perlu mere-definisikan kembali tindakan-tindakan itu sebagai wujud kebebasan.

Kelekatan Duniawiku

 

Akhir-akhir ini aku banyak membaca tulisan-tulisan dari internet untuk membantu pemahaman diri. Ada satu artikel yang paling mengusikku dan membuat jari-jariku ingin menari lagi di atas laptop. Artikel itu mengenai non-attachment atau letting go, melepaskan kelekatan-kelekatan duniawi yang selama ini mengikat kita dalam bentuk keinginan-keinginan. Misalnya, keinginan untuk selalu sukses dan berhasil dalam pekerjaan, atau keinginan untuk diperlakukan sedemikian rupa dari pasangan. Saya ingin berfokus pada apa yang barusan ini saya alami terkait hubunganku dengan seseorang. Ini bukan tulisan yang mudah bagiku dan banyak orang yang tidak tahu mengenai ini, tapi aku akan mencoba untuk menyalurkan keluar apa yang aku alami sebisaku.

Salah satu kelekatan duniawiku adalah keinginan untuk dicari, diinginkan, dibutuhkan, diperhatikan. Tulisan ini bukan untuk memahami apa yang menyebabkan kelekatan itu padaku karena penyebab itu sudah pernah aku tuangkan di sarana lain dan juga karena penyebab itu personal buatku. Untuk saat ini, melalui tulisanku aku hanya bisa jujur mengenai kelekatan duniawiku, kerapuhanku.

Selama sekitar dua tahun terakhir ini aku menjalin hubungan dengan seseorang yang menurutku suatu hubungan roller-coaster, penuh naik dan turun, penuh gelombang, gejolak, tarik-menarik, kebimbangan, ketidakpastian. Mungkin bisa dikatakan bukan suatu hubungan yang sehat bagi kami berdua. Selalu ada yang mengganjal hubungan kami, seperti ada suatu ruang di tengah kami yang memisahkan. Saat berada di ruang kami sendiri-sendiri, maka kami baik-baik saja. Tapi begitu aku mencoba mendekati dan mulai masuk ke ruang yang di tengah kami itu, maka aku masuk ke ranah roller-coaster itu, naik turun, jatuh bangun, bagaikan sedang berada di tengah laut yang bergejolak dengan gelombang ombak yang besar menggoncang kami.

Bila aku telaah lagi dan melihat ke belakang, yang aku lihat menonjol dari sisiku adalah kelekatan-kelekatan yang aku sebut di atas itu, yang dengan berjalannya waktu berwujud tuntutan-tuntutan baginya. Dan karena cara kami berelasi dan juga mungkin karena kepribadian kami, entah bagaimana awalnya, pokoknya aku merasa keinginan-keinginanku itu tidak terkabulkan, dan itu malah tambah memicu lagi kekuatan dari kelekatan itu. Penafsiranku waktu itu adalah aku ditolak oleh dia, aku tidak diinginkan, aku tidak dibutuhkan, tidak diperhatikan, dan seterusnya. Parahnya, karena ini adalah suatu kelekatanku terhadap keinginan itu, yang terjadi bukannya aku pergi dan meninggalkan hubungan itu, aku malah bersikeras untuk lanjut terus dan kelekatanku juga semakin menjadi-jadi. Mungkin hampir mirip semacam obsesi jadinya bagiku di awal hubungan kami. Itu menjadi dance-ku dengannya selama mungkin dua tahun lebih. Aku bolak-balik antara menyalahkan diriku sendiri dan dia. Selama proses itu memang aku mencoba terus untuk menyadari diri, memperbaiki diri, dan seterusnya. Bacaan demi bacaan aku lahap, retret demi retret aku ikuti, dan memang aku merasa ada perubahan dalam diriku, bahwa aku menjadi lebih baik dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, aku merasa tidak bisa memperbaiki diri lebih baik lagi bila terus berada dalam posisi dimana aku terus diingatkan akan kelekatanku.

Barusan ini aku diingatkan lagi betapa lemahnya aku dengan kerapuhanku. Masih banyak yang masih perlu aku pahami dan terus upayakan untuk belajar memahami diri dan memperbaiki diri. Jujur, aku kadang merasa sangat sangat lelah dengan semua proses ini. Jauh lebih mudah mungkin untuk menyerah saja, pergi saja, tinggalkan dia, tinggalkan semuanya. Tapi ada bagian dari diriku yang membisikkan untuk jangan menyerah, karena pasti ada makna indah dari semua ini. Hanya harapan itu yang bisa aku ingatkan diriku terus supaya tidak menyerah.

Apa yang akan terjadi dengan hubungan kami ini, entahlah. Sebagai bagian dari proses melepaskan kelekatan duniawi ini, aku juga mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak bisa aku kontrol, termasuk keinginannya dan keinginanku yang sepertinya tidak cocok. Belajar melepaskan, bukankah itu kuncinya? Maka apa yang akan terjadi, terjadilah. Ini sudah pernah aku katakan kepada diriku sebelumnya, tapi mungkin bedanya antara perkataanku yang dulu dan yang sekarang adalah…sekarang ini aku lelah sekali. Aku sudah capek jatuh terus. Aku capek kecewa terus. Aku capek karena kepalaku terbentur terus karena memilih untuk berjalan secara buta. Aku capek karena memilih untuk terus berada dalam posisi “menginginkan” dan berharap dia akan menerimaku, menginginkanku, mencariku, dst. Mungkin kelelahan inilah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ini saatnya bagiku untuk melepaskan semua harapan itu, karena semua kelekatan itu menjadi sumber ketidakbahagiaanku.

Apakah aku masih mencintainya? Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku bingung, tidak tahu sebenarnya alasan aku berpegang terus padanya dan hubungan itu — apakah karena aku memang mencintainya atau karena tidak ingin melepaskan rasa ingin menguasai hubungan itu yang dipengaruhi oleh ketakutanku untuk ditinggal atau ditolak. Saat ini, aku sadar bahwa selama ini yang lebih kuat mempengaruhi keputusanku untuk terus lanjut adalah alasan kedua, yaitu tidak ingin melepaskan. Ketakutanku akan “kesendirian” tanpa ada yang mencintai dan menerimaku jauh lebih kuat selama ini. Tapi, dalam beberapa hari ini dengan lebih banyak waktu untuk merenung, yah, aku menyadari memang ketakutan itu ada dan sudah aku temukan dan bawa ke alam sadarku. Akan tetapi, aku juga menyadari masih ada rasa sayang yang tersisa. Apakah itu cinta? Mungkin. Apakah itu akan cukup kuat untuk bertahan dan dengan berjalannya waktu akan semakin kuat untuk mengalahkan kerapuhanku? Hanya waktu yang bisa menjelaskan.

Namaste.

 

Tulisan di atas terinspirasi oleh: The Art of Non-Attachment: How to Let Go and Experience Less Pain by Lachlan Brown di Hackspirit.com

 

 

Mencari Sahabat

Bersahabat dengan waktu, mungkinkah itu?

Entahlah. Akhir-akhir ini aku terus bergulat dengan topik ini. Apakah itu waktu yang terus mengejarku — setidaknya terasa seperti itu — atau apakah sebenarnya aku yang mengejar-ngejar waktu karena waktu sepertinya selalu berlari jauh lebih cepat di depan. Kenapa aku dan waktu tidak bisa berjalan bersama, selevel, seperti dua kawan lama yang berjalan sambil mengobrol? Kenapa selalu perlu ada acara kejar-kejaran?

Anehkah buatku untuk bertanya mengenai ini? Tapi aku memang akhir-akhir ini merasa level stresku bertambah, merasa seperti selalu lelah, tidak tenang, selalu ada yang perlu diingat, dilakukan, dan masalahnya, kadang yang perlu dilakukan itu harus segera pula dilakukan. Jangan tanya mengapa aku memakai kata ‘harus’ di sini, tapi yah untuk saat ini, itulah kenyataannya.

Lantas, mengapa aku hidup seperti ini?

Mungkin lebih tepatnya, mengapa aku merasa terjebak di tempat ini? Tahukah aku dulu saat membuat suatu keputusan besar dalam hidupku bahwa aku sedang memilih hidup yang seperti ini? Penyesalankah ini yang sedang berbicara?

Sebenarnya tidak. Ini bukan penyesalan yang berbicara, tapi keingintahuan. Ingin tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Tapi yah dalam hidup kadang kita memang tidak akan selalu tahu apa yang akan terjadi di masa depan, iya kan?

Bagaikan seorang pengelana di padang gurun yang sedang sangat kehausan, aku haus sekali akan kesempatan untuk hening. Hening itu tidak mesti berarti kesendirian, karena sebenarnya aku punya cukup waktu untuk sendirian setiap hari, tapi lebih kepada kondisi atau keadaan di mana aku bisa merasakan…yah seperti yang aku katakan di atas, berjalan selevel bersama dengan waktu.

Akan tetapi, saya juga ingin mengingatkan diriku sesuatu supaya tidak membuat keputusan yang mungkin kurang tepat hanya karena mengikuti suara/keadaan hatiku saat ini, bahwa aku sudah pernah mengalami keadaan-keadaan di mana aku diberi kesempatan untuk hening itu. Dan tahu apa yang terjadi? Keheningan itu malah membuatku tidak tahan. Keheningan itu malah sangat mengusik, tidak nyaman, malah membuatku kesepian dan gelisah. Bagaimana tidak gelisah kalau dihadapkan dengan titik-titik kelemahan?

Dengan kata lain, berada di sisi yang berlawanan dari keadaanku sekarang ini belum tentu sebenarnya akan membantu atau membuatku lebih bahagia. Belum tentu. Bisa saja sesampai di sana aku malah ingin kembali ke sini. Rumput tetangga memang selalu lebih indah ya? Apakah kita manusia memang selalu tidak merasa puas? Saya tidak ingin juga terjebak di keadaan hati yang seperti itu, selalu tidak puas. Pasti tidak nyaman.

Kalau begitu, apa yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini?

Saya sebenarnya ingin menjadi manusia yang lebih mampu menerima, lebih ikhlas, rendah hati. Ada bagian dari diriku yang memang selalu ingin sesuatu yang lebih untuk hal-hal tertentu yang menjadi kelemahanku. Yah, aku rasa semua orang juga mengalami hal ini — kodrat kita sebagai manusia — yaitu punya kelemahan dan menginginkan sesuatu. Saya ingin lebih bisa memahami kelemahanku itu, apa yang aku inginkan, rindukan dan kemudian menerimanya, bahkan berteman dengannya. Saya tidak ingin dikuasai oleh kelemahan itu.

Tapi sebentar, kenapa bisa sampai ke sini yah pembicarannya? Bukannya tadi diawali berbicara mengenai si waktu? Loh, lantas kemana si waktu ini? Kok ini bukan lagi ngomong mengenai waktu?

Ah, ternyata ujung-ujungnya ini mengenai diriku sendiri toh? Sorry yah, waktu, ternyata ini bukan mengenaimu. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, maafkan aku. Ini ternyata mengenaiku. Aku yang perlu berteman dengan diriku sendiri.

Amin.

tumblr_o6eodtWh351qcvheoo1_540

I’m still learning to love the parts of me that no one claps for.” 
Rudy Francisco

Art by the amazing Kate Louise Powell, taken from http://theglasschild.tumblr.com/post/143611893134/im-still-learning-to-love-the-parts-of-me-that

 

Malam yang Pekat

Membasuh luka lama yang tak kunjung kering ditemani bising suara malam,
hampir tak kuat tenaga menahan hati yang terus ingin memberontak.
Sayup-sayup terdengar suara panggilan dari luar yang terus mengganggu,
bahkan menggoda dengan sangat kuatnya,
namun kaki ini terasa berat,
terjebak antara keingnan dan keharusan,
tak mampu lagi melangkah.
Entah mau dibawa ke mana lagi gelisah ini,
biarlah ia tetap di sini berteduh,
bagaimanapun juga, malam di luar terlalu pekat
untuk mencari bayanganmu.

RePress dari Idenera.com: Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Berikut adalah tulisan saya terkait laporan hasil rembuk kerja gerakan yang peduli terhadap hubungan antaretnis di Indonesia, terutama terkait kelompok etnis Tionghoa. Selamat menyimak dengan meng-klik source di bawah.

 

Inti dari gerakan ini adalah penguatan jaringan dengan melibatkan institusi-institusi pendidikan, keagamaan, organisasi sosial lainnya demi terciptanya kegiatan-kegiatan di mana terjadi perjumpaan antara kaum Tionghoa dan non-Tionghoa, terutama bagi kaum muda.

Source: Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Berdoa Dalam Gerakan

Cara berdoa yang dideskripsikan dalam tulisan ini terinspirasi dari pelatihan psikodrama yang pernah saya ikuti. Silakan menyimak. Tulisan lainnya terkait psikodrama bisa diikuti di retmono.wordpress.com milik Retmono Adi. Terimakasih.

retmono

Pagi itu aku bangun dengan suatu misi. Ada suatu hal baru yang akan aku lakukan pagi itu. Persiapan mental sudah aku lakukan sebisaku, tapi pelaksanaannya sendiri masih suatu tanda tanya besar. Untungnya aku bisa tidur cukup nyenyak malam sebelumnya. Mungkin karena aku tahu bahwa lancar atau tidaknya kegiatan yang akan lakukan, aku berada dalam kelompok yang akan menerima semua apa adanya, sehingga tidak ada yang perlu dikuatirkan tapi malah sebaiknya dinikmati saja.

Setelah mandi dan rutin pagi lainnya, sayapun keluar dari kamar. Matahari dan kicauan burung langsung menyambut begitu aku membuka pintu kamar. Begitulah keadaan kamar-kamar di Girisonta, suatu tempat retret dan pembimbingan iman dari kaum religius Katolik yang berlokasi sekitar sejam dari Semarang. Sebuah pekarangan besar menyambut tamu saat masuk ke dalam lokasi retret. Pekarangan itu dikelilingi kamar-kamar tidur, ruang makan, ruang pertemuan, kantor dan sekretariat. Pekarangan itu menjadi fokus dari Girisonta. Bagiku sendiri, entah sudah berapa banyak renungan…

View original post 1,216 more words

Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Pelaksanaan (Bagian 2)

Bagian kedua dari pengalaman memberikan pelatihan dengan menggunakan teknik psikodrama. Bila bagian pertama lebih berfokus pada persiapan, tulisan kali ini lebih mengenai pelaksanaannya. Selamat menyimak. Bila ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai psikodrama, silakan membaca tulisan-tulisan yang lainnya di blog retmono.wordpress.com milik Retmono Adi.

retmono


Sedikit demi sedikit, siswa-siswa SMA peserta seminar mulai memasuki ruangan. Beberapa siswa cowok mengintip masuk ke aula dari balik pintu. Saya langsung mengenali salah satu dari mereka, anak dari atasan saya. Sungguh, pencerahan yang satu ini memang bisa dikatakan bukan kebetulan, tapi mestikah ini terjadi? Haruskah anak itu siswa kelas X di sekolah itu? (Doa bertambah kencang)

View original post 1,317 more words