Human Connection · Journey · Life · Poem

Hai Kawan (2)

Kenangan

Ibarat sebuah lukisan
dengan kuas yang sudah disiapkan oleh Sang Pencipta
setiap kali kau menyapa fajar,
lukisan seperti apa yang ingin kau hasilkan
di atas kanvas putih hati yang baru?

Pasti ada cerita di balik setiap gambar,
mungkin lukisanmu ternoda kekecewaan atau tangisan getir
atau kuasmu tergerak tawa dan canda
apapun itu, lukislah dengan hati
bukti kau pernah menapakkan jejak di dunia ini

##Kenangan

Feelings · Humanity · Poem · Struggles

Hai Kawan

emptiness.jpg
Image berjudul A Feeling of Emptiness oleh Jeff Masamori (diambil dari artlimited.net)

 

gelap warnamu,
menyeringai tak karuan dari balik muka yang kusut
bayanganmu, terlalu pekat
bahkan –
tak segelintir anginpun mau mengabari kedatanganmu
bila kau ingin datang,
tak ada yang bisa menahan

seperti biasa,
teriakan protesku tercekik oleh laraku sendiri
terjebak dalam putaran hasrat yang tak kunjung usai
dan akhirnya, di penghujung malam yang panjang,
hanya hampa yang tersisa,
menemani dalam kesunyian, mengisi waktu yang terputus

hai kawan,
kedatanganmu, membawa tangis
kepergianmu, keletihan

###Gundah

Hope · Poem · Relationship

Perjalanan

I.

pertunjukan telah usai
panggung terlihat sepi
lampu sudah dimatikan
saat itulah sang aktor perlahan mulai bernapas lagi
dan menyapa heningnya malam, sendiri

dalam hidup
ada waktunya bermain peran
dan ada saatnya persona perlu ditanggalkan
hari sulit pasti akan dijumpai
demikian juga senyum di sela airmata, di akhir penantian

tak ada perjalanan yang mudah dan singkat
tapi akan indah bila kita tahu arah tujuan, dan
berpegang pada Tuhan sebagai kompas
jalan setapak mana yang akan dipilih
ada di genggaman sang empunya iman

II.

perjalanan yang panjang dan berliku
hari berganti malam yang kelam
desah angin malam pun menjadi kelu
menanti embun pagi yang tak kunjung tiba

lidah memang brutal
bila membawa pesan hanya dari hati
tak pernah sempat menunggu datangnya fajar
sebelum air mata terlanjur mengalir

saat pagi tiba dan matahari menyapa
kumencarimu, mengharapkan jawaban
kutemukan kesendirian menyapa, bukan kesepian
bayanganmu mewarnai hari, menemani perjalanan

Poem

Antara Bayangan Waktu

bayanganmu selalu mengganggu langkah

namun hanya keheningan yang kau bentangkan di hadapanku

tak ada ruang untuk menyanggah

suaraku hilang ditelan lengang isi hatimu

 

deru angin menyentak senyapnya angan

bawa pesan bagi sang empunya hati

berbisik, sudah waktunya pulang

lepaskan pelukanmu terhadap sepi

 

kadang harapan harus terenggut sampai ke akar

untuk berikan ruang bagi penggantinya

wahai hati yang rapuh

tumbuhlah bebas dan indah

 

 

 

Poem

Rapuh

Picture

Image taken from montendo.deviantart.com berjudul Analogi Sebuah Pohon
kecongkakan dan kebodohan
kadang kala terpisah tipis
tingginya hati terbang lepas di angkasa
tak sebanding dengan
kemampuan berpikir
yang sedangkal kolam ikankuingin bertanya pada dunia
mampukah manusia terus berjalan
sendirian
di tengah derasnya arus harta duniawi?
mampukah manusia menerjang kabut kehampaan
yang semakin tebal setiap detik
dengan gencarnya janji-janji omong kosong?
mampukan manusia
melawan ketakutannya sendiri?

peganganmu apa,
pijakanmu mana,
wahai makhluk lugu?
tidakkah kalian sadar kalau kaki kalian
sudah lama tidak menyentuh bumi?
tapi percuma,
pijakanmu sudah lama hangus
terbakar oleh tanganmu sendiri

tidakkah kalian sadar
kalau pintu menuju ke hatimu sudah lama terkunci?

mungkin bila kalian mau membuka mata
ada secercah sinar yang sudah lama ingin masuk
melalui celah kecil di pintumu
tahukah kalian bahwa matahari sedang bersinar di luar
tapi ia tak akan bisa masuk
sebelum kau sodorkan tanganmu
berikan ia kesempatan
karena hanya beliaulah sang penawar racun,
racun yang sudah lama merantau di sukmamu

Originally published in June 2016.
Poem

Menguak Misteri

PictureImage is titled “Loneliness” by Orzz, from DeviantArt.com

jari-jari pucat muncul dari balik pintu kayu itu
perlahan tapi pasti, pintu mulai terkuak
tapi tarikan pintu bergerak terlalu pelan
seakan menggoda,
berpacu dengan detak jantung yang tak sabar menunggu
ada apa di balik pintu?
keingintahuan, ketakutan dan ketidaksabaran
bertarung di dalam pikiran
dan setelah sekian detik menahan napas —
— yang terasa seperti seabad,
daun pintu pun akhirnya terbuka penuh
entah apa yang dahulu terbayangkan
namun sejauh mata memandang,
yang terlihat hanyalah hamparan padang rumput datar,
malah tampak biasa saja, membosankan,
tak sebanding dengan imajinasi sebelumnya,
imajinasi yang terpancing oleh bayangan dari balik pintu,
yang sepertinya mengundang
kakipun mulai melangkah masuk, perlahan
memijak rumput basah yang pasrah untuk diinjak,
tapi sebelum melangkah lebih lanjut,
ku menoleh sebentar ke balik daun pintu
masih ada suatu keingintahuan yang perlu dipuaskan,
jari-jari pucat tadi secara perlahan maju dari balik pintu,
mulai menunjukkan rupanay,
dan melihat wajah itu – oh Gusti!
seakan tertampar oleh kenyataan
andaikan aku sedang melihat ke cermin
maka itulah yag aku lihat dari mata yang balik menatapku saat itu,
hanya tatapannya saja yang berbeda makna,
bukan ketakutan dan keingintahuan yang tercerminkan di mata itu,
melainkan suatu pertanyaan
namun tak ada kata yang perlu terucapkan
karena aku sudah tahu apa yang ingin dikatakan
mengapa begitu lama?
ternyata,
bayangan yang selama ini hidup di dunia yang aku takuti itu,
yang hidup sendirian di balik pintu,
yang terkucilkan,
yang telah lama menungguku untuk berani berkunjung,
adalah sosokku sendiri,
tawananku
pintu itu tak pernah terkunci
namun itu tak kusadari,
sosok itu tidak pernah bisa keluar dari belenggunya
karena aku yang memerintahkannya untuk bertahan di situ
dan itu juga tak kusadari,
ia yang setia menungguku selama ini
untuk mengunjunginya,
untuk menenemani,
ternyata selama ini menanti hanya satu hal —
— menanti pembebasan
dariku.
Originally published in July 2016.