Akhir

20170511_171000-1.jpg

 

Kisah ini berawal di suatu hari yang cerah….

Kubuka dua hadiah pagi itu–kedua mataku
dan kaupun melangkah masuk
sadarkah kau tajamnya matamu telah membelahku, meniadakanku
jalanku berbelok arah mengikuti angin sejak itu

Kubuka sebuah hadiah lain pagi itu
juga dari Bapaku–untukmu
masih merah, mentah, tersentak bangun dari tidur yang panjang
terkoyak godaan sebuah keinginan, harapan

Namun sang pemimpi bertopengkan angan melawan kerapuhan
dengan berkendara waktu, berserah pada angin sebagai penentu arah
akhirnya terdampar di suatu tempat di mana lelah mencabik luka lama
dan mata pun mau tak mau berserah, tak lagi kuat

…..dan berakhir di suatu hari yang cerah juga.

Hai Kawan (2)

Kenangan

Ibarat sebuah lukisan
dengan kuas yang sudah disiapkan oleh Sang Pencipta
setiap kali kau menyapa fajar,
lukisan seperti apa yang ingin kau hasilkan
di atas kanvas putih hati yang baru?

Pasti ada cerita di balik setiap gambar,
mungkin lukisanmu ternoda kekecewaan atau tangisan getir
atau kuasmu tergerak tawa dan canda
apapun itu, lukislah dengan hati
bukti kau pernah menapakkan jejak di dunia ini

##Kenangan

Aku dan Dunia Maya

Dunia maya, cyber world, dunia yang penuh misteri menurutku. Banyak hal yang biasanya tidak terjadi di dunia nyata, bisa terjadi di dunia maya. Manusia bisa terlihat berbeda di dunia itu, jauh berbeda dibanding di dunia nyata. Terlihat lebih segalanya — lebih cantik, tampan, keren, bahagia, berhasil, dan seterusnya. Pesan apa yang ingin manusia sampaikan ke seluruh dunia, cukup ditampilkan dalam sebuah foto yang saat diklik mampu menggambarkan pesan dan kesan yang diinginkan. Pesan itu bisa juga disampaikan dalam bentuk sebuah status tertulis di media sosial — status yang menggambarkan kepintaran, kecanggihan, kehebohan, keberhasilan orang itu. Aku rasa hampir semua orang yang dalam kehidupan sehari-harinya bersentuhan dengan dunia gadget pasti sudah mengalami ini, termasuk aku sendiri. Foto, status, video link, bahkan tulisan seperti inipun, I have been guilty as well.

Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasakan kemuakan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya mengenai dunia maya. Aku sudah merasa menjadi budak dari dunia maya, merasa menjadi bergantung pada dunia maya untuk bisa berhubungan dengan orang lain atau mengetahui keadaan dan keberadaan orang lain, dan itu membuatku sebenarnya tidak nyaman, terlebih lagi karena apa yang aku temukan di dunia maya itu ternyata sering tidak membuatku bahagia. Aku menjadi semakin tidak bahagia, semakin terikat. Dunia maya menjadi semacam “kebutuhan”, bukan lagi untuk sarana komunikasi atau for fun.

Mengapa bisa demikian? Banyak yang sudah aku refleksikan sendiri. Dunia maya telah membuatku menjadi hilang kepercayaan diri sebenarnya, menjadi tersesat, hilang arah atas apa yang sebenarnya aku inginkan. Bukannya membuatku menjadi stabil dan kuat, tapi malah menghancurkan rasa percaya diriku, memporak-porandakan fondasiku, membuatku mempertanyakan mengenai eksistensi diriku sendiri. Padahal, aku sendiri tahu bahwa tidak ada yang kurang mengenai diriku. AKU CUKUP. I am good enough. Cukup dalam segala hal, termasuk tidak ada yang salah dengan kekuranganku. Tapi level “tahu” memang tidak sama dengan level “sadar”. Aku menyadari bahwa dunia maya telah membuatku membandingkan diriku dengan orang lain, kemudian menyalahkan orang lain atas kekuranganku. Dan apa hasil dari semua itu? Tidak lain adalah kepercayaan diri yang semakin terpuruk.

Aku memutuskan akhirnya untuk beristirahat dari beberapa media sosial untuk mencoba mencari diriku lagi. Facebook aku deactivate. Instagram tidak bisa aku tutup karena tidak tahu bagaimana caranya, tapi akun itu sudah menjadi ghost account karena sudah tidak bisa di-manage lagi. Username dan password sudah tidak aku ketahui lagi. Hilang, gone. Siapapun yang menjadi temanku di Instagram masih bisa melihat semua foto, tapi aku sendiri sebagai pemiliknya tidak bisa lagi mengatur dan mengakses semua foto-foto itu. Tapi tidak apa. Ini semua adalah bagian dari latihanku untuk berhenti…tapi sebenarnya berhenti melakukan apa?

Pertanyaan itu membawaku ke pertanyaan berikutnya yang sempat aku renungkan lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan akses ke Facebook dan Instagram, yaitu apa sebenarnya yang kita cari di media sosial? Apa yang kebanyakan manusia cari dari tempat-tempat semu dan palsu seperti itu? Aku katakan palsu karena semua itu adalah image, dan ada agenda tersembunyi (atau tidak tersembunyi) di balik pemajangan foto dan status itu. Ada tujuan di baliknya. Bahkan akun Facebook milik pemimpin negara dan gubernur Jakarta pun yang aku percaya tidak palsu, punya tujuan dan agenda mengapa menunjukkan gambar dan pesan tertentu. Tidak ada yang salah atau palsu dengan itu karena itu adalah suatu bentuk promosi dan penyampaian pesan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa merekapun punya tujuan. Dengan kata lain, apapun yang ditaruh di media sosial punya agenda, dan apakah kita semua sudah mewaspadai itu?

Akun yang aku maksudkan di atas adalah akun yang mempunyai tujuan yang jelas, pesan yang jelas dan membawa pesan positif. Banyak sebenarnya akun-akun seperti itu, dan itulah sebenarnya tujuan asli dari mengapa media sosial dibentuk, yaitu untuk memberikan suatu pesan positif secara cepat dan luas, dan untuk membentuk jaringan dengan orang-orang lain yang sepemahaman dan sekiranya dapat membantu usaha itu. Namun yang akhirnya membuatku sangat muak akhir-akhir ini adalah banyak sarana media sosial sudah tidak membantuku lagi secara personal untuk menjadi lebih baik. Aku juga sudah muak melihat berita-berita yang muncul yang hanya menimbulkan perasaan, pemikiran dan tindakan yang bersifat negatif. Aku muak melihat orang-orang yang bukannya menyampaikan pesan positif, tapi akhirnya hanya menyampaikan pesan negatif. Aku muak dengan orang-orang yang memakai sarana media sosial untuk mempromosikan diri sendiri dan sudah tidak memberikan dampak positif lagi bagi lingkungannya. Tidak ada lagi pesan positifnya, tidak ada lagi fungsi positif bagi keluarganya atau masyarakat sekitar. Kontennya hanyalah murni mengenai diri sendiri. Untuk apa? Apa yang mereka cari dengan perilaku itu? Sudah begitu miskinnyakah kita manusia dengan memberikan dan mendapatkan perhatian di dunia nyata sampai kita harus lari ke dunia maya untuk memberikan perhatian dan mendapatkan perhatian? Sudah sedemikian terputus-putusnyakah kita manusia dalam relasi sosial kita sehingga kita harus lari ke dunia maya untuk mendapatkan semacam perasaan “terkoneksi” dan “eksistensi”? Apakah dunia maya jawaban dari kehampaan dalam diri kita?

Dan bagaimana dengan kita yang lainnya yang ikut turun tangan untuk membuat dunia maya itu semakin heboh, semakin negatif dengan berapa klik “like” yang kita berikan terhadap foto, status, berita di dunia maya yang sudah tidak membangun lagi? Apanya yang membangun dari foto seseorang yang memperlihatkan foto close-up wajahnya dari segala sudut pandang, atau foto yang memperlihatkan hampir sebagian besar kulitnya, tapi semua foto-foto itu tidak ditunjukkan dengan tujuan mempromosikan suatu barang (seperti misalnya seseorang dengan profesi sebagai foto model yang bekerja untuk mencari uang dengan meminjamkan wajah dan tubuhnya untuk penjualan suatu alat). Tidak, foto-foto itu memang sengaja dipajang untuk mempromosikan diri sendiri. Memang benar melakukan semua itu adalah hak orang itu, tapi sudahkah kita bertanya apa pentingnya ini bagi orang lain? Sudah sedemikian dangkalnyakah kita dengan berlomba-lomba mempromosikan diri kita, tapi tanpa tujuan yang jelas selain untuk kepuasan diri semata? Kemudian, peran kita yang lainnya yang melihat itu apa? Kita semua yang hidup di dunia maya punya peran, dan peran itu kadang bisa semudah meng-klik saja. Suatu gerakan tangan yang kecil sebenarnya, tapi percayalah, dampaknya bisa tinggi karena kita ikut membantu menjual promosi diri orang itu, yang sebenarnya menurutku adalah sesuatu yang salah secara etika hidup. Apa tanggung jawab kita? Dan bagaimana dengan berita dan status terkait dengan politik akhir-akhir ini misalnya? Para partisipan dunia maya berlomba-lomba ingin mengatakan sesuatu untuk itu. Komentar beterbangan di sana-sini, semuanya punya pendapat sendiri-sendiri dan berani untuk membeberkannya. Tapi hampir semua komentar itu lupa akan 1 hal: pemahaman dan pertanggungjawaban atas apa yang dikatakan dan dilakukan di dunia maya. Kan gampang? Bisa bersembunyi di balik akun, di balik komputer. Tidak perlu pertanggungjawaban, tidak perlu susah-susah, semuanya bisa dilakukan di rumah saja. Tapi tindakan itu sudah membantu menyebarkan sesuatu yang negatif.

Apa yang sebenarnya kita cari di dunia maya? Apa yang kita ingin dapatkan dari dunia maya? Sementara itu, yang kita miliki di depan, di samping kita, di sekeliling kita, disia-siakan karena perhatian berfokus kepada dunia maya. Aku tidak bisa menjawab bagi orang lain. Bagiku sendiri, secara jujur yang aku cari di dunia maya dulu adalah eksistensi juga, ingin dilihat, mencari afirmasi atas keberadaan dan kemampuanku. Anehnya, hasilnya tidak seperti yang aku bayangkan. Pertama, ada semacam rasa ketidakpuasan yang mengikuti, seperti ingin lebih lagi, ingin mendapatkan lebih banyak klik like, ingin lebih banyak komentar untuk tulisanku, pokoknya lebih lebih lebih. Kedua, bukannya menjadi lebih baik, aku malah menjadi lebih terpuruk, berjalan mundur. Kreativitas dan keaktifanku berkurang, rasa percaya diriku menurun, dan sayangnya, pengetahuanku tidak bertambah. Aneh bin ajaib.

Bila aku berefleksi lebih dalam lagi, aku mencari jawaban apa yang aku inginkan di hidup ini dari tempat yang salah. Aku mencarinya ke luar (eksternal) dan bukannya ke dalam (internal).

Mari, teman-teman, kita berefleksi lagi dengan tujuan kita menggunakan dunia maya. Bila kita bisa menyadari bahwa kita tidak menjadi budak dalam penyampaian pesan-pesan negatif atau membantu orang lain untuk menjadi budak juga dalam ketergantungan mereka untuk eksis di dunia maya, maka teruslah menggunakan media sosial. Bila kita sendiri tidak menjadi bergantung pada dunia maya untuk mencari eksistensi diri sendiri dan melupakan orang-orang di sekitar kita yang jauh lebih berarti, maka teruslah menggunakan media sosial. Saya menyimpulkan bahwa dunia maya bisa berbahaya, bisa menghancurkan hubungan relasi di dunia nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memang bisa mendekatkan dua orang yang berjauhan tempat tinggalnya, asalkan dengan catatan bahwa penguatan dengan teman jarak jauh itu tidak mengorbankan relasi dengan orang yang dicintai. Mari kita lebih bijak menggunakan media sosial.

Untukku sendiri, aku memilih untuk berhenti sejenak dari beberapa media sosial. Whatsapp dan Line masih aku pertahankan karena tujuan pemakaian dua sarana itu adalah untuk komunikasi terkait dunia kerja. Kalaupun suatu hari aku muak dengan dua sarana itu dan menghentikannya sejenak, aku rasa orang-orang yang dekat denganku tahu bagaimana cara mencapaiku, yaitu dengan menggunakan sarana tempo doeloe, jaman purbakala, yang sudah jarang digunakan…

…menelpon.

Keberadaanmu, Keberadaanku

makna kehidupan.jpg

Hidup memberikan kita banyak kesempatan untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Kesempatan itu datang biasanya dalam situasi-situasi terkait perkembangan kehidupan, misalnya kelahiran seorang anak, upacara pernikahan, atau kematian. Malam ini aku mengikuti upacara agama Katolik untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan seorang Romo yang dikenal dengan nama Romo Senti. Romo Senti meninggal dua hari yang lalu secara tiba-tiba.

Misa requiem atau misa arwah untuk mendoakan kepergian Romo Senti dilakukan di kapel kecil di asrama seminari tempat para frater yang dibimbing oleh Romo tinggal. Banyak umat Katolik yang berdatangan dari banyak tempat, bukan hanya dari Surabaya saja, karena Romo Senti sudah pernah berkarya dan melayani umat di beberapa tempat di Jawa Timur. Seminari malah tidak menyangka akan kedatangan sebegitu banyak umat, sehingga pada menit-menit terakhir kursi-kursi dari ruang kelas dan kamar para fraterpun dikerahkan.

Aku duduk di suatu sudut dan mengamati semua yang berlangsung di sekelilingku. Terlintas suatu pikiran kagum atas karya dan pelayanan Romo Senti sehingga banyak yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir baginya. Tak terhindari, terlontar beberapa pertanyaan di benak, bagaimanakah nanti pada saat waktuku untuk pergi dari dunia ini? Apa yang aku inginkan terjadi saat kepergianku nanti? Akankah sebegini banyak orang yang hadir juga? Apa yang ingin aku tinggalkan untuk diingat oleh orang-orang di sekitarku yang mengenaliku? Pemikiran-pemikiran seperti ini sebenarnya cukup logis. Banyak orang menurutku yang berpikiran demikian saat menghadiri acara-acara seperti ini, apapun upacara agama yang dipakai untuk mengiringi kepergian seseorang.

Aku tidak kenal Romo Senti sebenarnya. Mungkin ada yang bertanya mengapa aku datang bila demikian? Apalagi aku datang sendirian, tanpa ada yang menemani. Aku mencoba merenungkan beberapa kesempatan sebelumnya di mana kami berdua (saya dan Romo) pernah saling berpapasan. Sebenarnya, kami saling bertemu itu hanyalah saat berada dalam…lift. Iya benar, lift. Kami berdua bekerja dalam satu institusi pendidikan. Beliau mengajar di Fakultas Filsafat dan aku di Fakultas Psikologi. Kantor kami cuma berbeda 1 lantai saja; beliau di lantai 8 dan aku di lantai 9, sehingga waktu kami untuk bertemupun hanyalah di lift selama ini. Saling berpapasan, mata bertemu, saling menyebar senyum dan ucapan salam yang hangat, ditutup dengan anggukan dan kadang jabatan tangan. Sudah. Itu saja. Waktu mendengar bahwa beliau meninggal, aku malah harus mengingat-ingat yang mana orangnya. Saat melihat pengumuman misa dan fotonya, baru aku tersadar. Kawan se-liftku ternyata. Cukup kaget juga, karena memang kepergian beliau terjadi secara tiba-tiba.

Saat di misa arwah tadi, aku melihat semua frater (calon romo) yang menjadi anak-anak didikan beliau. Aku kenal sebagian besar frater itu karena banyak dari mereka yang pernah aku ajar juga dalam kelas psikologi yang wajib diikuti oleh mereka. Kuucapkan salam belasungkawa karena Romo Senti adalah dosen pendidik dan bapak pendamping bagi mereka. Saat menyetir mobil sepulangnya dari misa, sempat terpikir bagaimana perasaan para frater itu. Kehilangan figur yang banyak menemani pergulatan dunia studi dan panggilan mereka untuk menjadi romo pastilah bukan sesuatu yang mudah. Sempat terasakan suatu perasaan sedih juga. Jangankan mereka sebagai frater yang bertemu dengan Romo Senti mungkin tiap hari, aku yang bertemu dengan Romo hanya di lift saja sudah (anehnya) merasa sedikit rasa kehilangan.

Memang aneh menurutku karena aku tidak tahu beliau, tidak pernah berbicara dengannya. Romo Senti menurutku adalah seseorang yang pendiam, terlihat sedikit pemalu, tipe orang yang lebih banyak bekerja di belakang layar, bukan yang berada di depan, sehingga dia bukan tipe yang banyak berbicara. Kami tidak pernah bertukar pikiran. Kami hanya diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sering berbagi waktu dan ruang di lift kecil gedung kami, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa ada sesuatu yang hilang dengan kepergiannya.

Bila direfleksikan lebih mendalam lagi, sungguh luar biasa sebenarnya bagaimana tanpa kita sadari kita mungkin telah menyentuh hati orang lain hanya dengan keberadaan kita. Kehadiran kita, tanpa memerlukan kata-kata, sudah cukup untuk memberikan suatu dampak tertentu bagi orang lain. Dampak itu mungkin tidak langsung dipahami oleh orang itu. Kesadaran itu mungkin baru akan muncul di kemudian hari saat kita tidak ada lagi. Kehadiran kita, keberadaan kita, senyum, sapaan, anggukan kecil, sudah cukup untuk memberikan sesuatu bagi orang lain — apakah itu rasa keakraban, kebiasaan, kenyamanan, atau rasa bahwa kita bersama-sama menjadi bagian dari suatu kelompok. Apapun itu, jangan pernah memandang enteng keberadaan kita.

Hari ini…Tuhan mengingatkanku mengenai itu melalui Romo Senti. Terimakasih, Romo. Terimakasih akan kehadiranmu selama ini di hidup banyak orang, di hidupku. Beristirahatlah dengan tenang. Biarkan kami yang meneruskan membawa cahaya bagi orang lain. Semoga karyamu terus berlanjut di kehidupan selanjutnya. Amin.

Suara Kehidupan

Minggu pagi yang suram, segelap hati. Mendung, kelabu, tanpa ditemani sinar matahari yang biasanya menyapaku nyaring dari jendela kamar. Hanya air hujan yang tak kian berhenti menghantam bumi dengan gusarnya sejak subuh tadi. Hati ini mencari, walau tak yakin apa yang sedang dicari sebenarnya. Hanya mencari dan mencari saja yang akhirnya tidak membantu menyelesaikan rasa gelisah. Akhirnya aku memilih untuk duduk di depan laptop, menutup mata sejenak, dan mencoba meditasi.

Yah, meditasi. Sudah lama tidak melakukan ini. Hening, mencoba (dengan sangat) melepaskan pikiran-pikiran sampah busuk tadi. Pikiran-pikiran yang menjatuhkan, menyesatkan, menggelisahkan. Aku tidak butuh semua itu.

Anehnya, suasana sekelilingku bukanlah suasana yang kondusif untuk melakukan meditasi. Hari Minggu adalah hari untuk bersama keluarga. Tidak salah kan kalau aku berpendapat seperti itu? Mungkin aku saja yang tidak mengikuti tradisi itu karena situasiku, tapi tidak berarti orang lain tidak berhak melakukannya. Buktinya, tetangga belakang rumah sedari tadi sudah ribut dengan pekerjaan rumah tangga dan senda gurau mereka. Ada suara air berputar di dalam mesin cuci yang bertanding dengan suara guyuran air hujan. Ada suara anak kecil berteriak, mencari mamanya, diikuti dengan suara nyanyian dari…mungkin kakak perempuannya? Lagunya aku kenal..sering dengar di radio, cuma tak tahu judul dan penyanyinya. Oh, dan ada suara burung berkicau juga, walaupun hanya dari dalam sangkar.

Ada suara seseorang yang sedang memasak, gemerincing suara piring beradu dengan sendok, kaki kursi terseret di atas lantai, dan sekali lagi…teriakan girang seorang anak.

Semua suara itu kurekam di benakku, membawa senyum di pagi hari. Senyumku adalah senyum bahagia. Tak tahu kenapa. Senyum itu mestinya getir, bila aku ikuti suasana hatiku. Kali ini, tanpa aku sadari dari mana datangnya, aku merasakan ada suatu rasa keindahan saat aku benar-benar meresapi semua suara itu. Indah karena…itu adalah suara kehidupan. Suara harapan.

Walaupun kadang hidupku hening, tanpa suara, tidak berarti aku tidak mencari suara. Suara-suara itu hadir, tidak tanpa sebab. Kuteguk habis semuanya dengan lahap, karena tak tahu kapan lagi semua ini akan datang menemaniku. Kunikmati apa adanya semua yang akhirnya menginspirasi tulisan ini. Tidak rumit sebenarnya kalau ditelusuri lagi dari awal. Semuanya berawal dari suatu kegelisahan, tertuang dalam meditasi, terwujudkan dalam karya. Apa lagi yang harus kukeluhkan? Membuatku bertanya, adakah yang mengatur semua ini?

Sebentar, konsentrasi menulis lagi terusik. Intermission sejenak. Yang tadinya suara teriakan…sekarang beralih ke tangis. Suara tangisan si anak sepertinya mendorong suara si ibu yang memanggil si anak, mencoba menghibur. Kemudian ada suara lain lagi, suara si kakak menjelaskan mengapa adik menangis…dan seterusnya.

Ah, indahnya musik ciptaanMu, Tuhan. Sungguh, aku bersyukur.

Kurekam semua suara-suara itu, membawa senyum ke bibir, dan tak terasa, ada genangan air di sudut mata.

Terimakasih, Tuhan, aku masih engkau beri kehidupan.

 

combine-wallpapers-pack-16

Rapuh

Picture

Image taken from montendo.deviantart.com berjudul Analogi Sebuah Pohon
kecongkakan dan kebodohan
kadang kala terpisah tipis
tingginya hati terbang lepas di angkasa
tak sebanding dengan
kemampuan berpikir
yang sedangkal kolam ikankuingin bertanya pada dunia
mampukah manusia terus berjalan
sendirian
di tengah derasnya arus harta duniawi?
mampukah manusia menerjang kabut kehampaan
yang semakin tebal setiap detik
dengan gencarnya janji-janji omong kosong?
mampukan manusia
melawan ketakutannya sendiri?

peganganmu apa,
pijakanmu mana,
wahai makhluk lugu?
tidakkah kalian sadar kalau kaki kalian
sudah lama tidak menyentuh bumi?
tapi percuma,
pijakanmu sudah lama hangus
terbakar oleh tanganmu sendiri

tidakkah kalian sadar
kalau pintu menuju ke hatimu sudah lama terkunci?

mungkin bila kalian mau membuka mata
ada secercah sinar yang sudah lama ingin masuk
melalui celah kecil di pintumu
tahukah kalian bahwa matahari sedang bersinar di luar
tapi ia tak akan bisa masuk
sebelum kau sodorkan tanganmu
berikan ia kesempatan
karena hanya beliaulah sang penawar racun,
racun yang sudah lama merantau di sukmamu

Originally published in June 2016.